Dia Kekasihku

Dia Kekasihku
3. Anak Bos


__ADS_3

Entahlah aku yang memang udik atau norak, tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau kamar pembantu yang di tunjuk oleh Bik Uti sebagai kamar ku adalah sebuah ruangan berukuran 4x5 dengan sebuah single bad dan lemari, juga tv lengkap dengan meja dan kursi.


Wow, Amazing!


Sama sekali gak bisa di percaya kalo kamar untuk pembantu rumah tangga  sekelas orang kaya akan memiliki fasilitas kamar semewah ini.


Aku bahkan tadi mengira, kalau kamar ku akan berukuran kecil dan berlapis kasur tipis yang sudah lapuk.


Besoknya aku sudah mulai bekerja, Bik Uti sudah menjelaskan semua jobdesk ku dan satu hal yang paling terlarang di lakukan di sini adalah ‘kesalahan’.


Sebisa mungkin lakukan lah pekerjaan mu dengan sempurna. No cacat.


Hm,, serem amat. Bukankah manusia itu tempatnya salah. Lebih tepatnya tidak ada yang sempurna selain Tuhan sang pencipta.


Lalu kenapa mereka menuntut kesempurnaan?


Dan hari pertama bekerja adalah memasak sarapan pagi.


Dan aku benar-benar bingung, biasanya orang kaya itu sarapannya pasti yang ringan-ringan. Seperti roti misalnya.


Tapi entah kenapa kali ini aku malah ingin mencoba memasak nasi goreng teri Medan.


Bahannya ada di kulkas. Jadi pastilah mereka pernah makan kan?


Sejak sampai di sini, aku baru hanya mengenal wanita itu saja, yang bahkan namanya pun aku belum tau, tapi pagi ini setelah selesai sarapan aku baru sadar kalau di rumah ini ada orang lain.


Semua orang duduk di meja makan. Di ujung sana ada seorang pria paru baya yang pastinya adalah kepala keluarga.


Di samping kirinya duduk sang nyonya rumah yang sepagi ini sudah berdandan cetar membahana.


Di samping kanan seorang pria yang juga sudah rapi dengan jasnya, dan di depannya seorang pria berpakaian SMA. Dan satu lagi seorang gadis berkuncir kuda berpakaian SMP.


Hm,, benar-benar sebuah keluarga yang harmonis.


Saat masih terpesona dengan pemandangan keluarga harmonis di depan ku , aku merasa seseorang menarik tangan ku ke belakang.


“Aduhh.. Bik Uti kenapa?”


“Kamu tuh, kok malah bengong di situ? Lagi cari mati. Untung aja mereka gak ngeliat kamu.”


“Hah? Emang salah ya Bik, kalo liatin mereka.”


“Ya gak cuma salah lagi, salah besar!" Bi Uti melotot marah. "Kamu mau apa di pecat di hari pertama kamu kerja?” omel Bu Uti lagi dengan logat jawa yang kental.


“Ya enggaklah Bik. Amit-amit. Aku masih butuh kerja.”


“Yasudah kerja yang benar. Jangan cari masalah.”


Pukul tujuh pagi rumah sudah terlihat sepi. Hanya ada nyonya yang masih duduk santai di sofa ruang tamu.


Aku berjalan mendekat mencoba menawarkan sesuatu padanya.

__ADS_1


“Gak usah.” tolaknya dengan mata tetap fokus ke majalah.


“Baik nyonya.”


“Tunggu!”


Aku kembali berbalik.


“Iya nyonya?”


“Sebentar lagi teman saya mau jemput ke sini. Mau arisan.”


Lalu?


“Kamu sini.”


Aku berjalan mendekat.


“Kamu bisa pakein kutek gak?”


“Bisa nyonya.”


“Nih, bikin yang rapih ya. Saya gak sempat ke salon gara-gara mesti jemput kamu ke desa.”


Aku sedikit geli mendengarnya.


“Hm, lumayan juga hasil kerja kamu.” Ujarnya puas begitu melihat hasil karyaku.


“Kayaknya besok-besok saya gak usah ke salon buat bikin kutek. Mending di pasang sama kamu.”


Malam hari setelah selesai memasak untuk makan malam, semua orang kembali berkumpul.


Minus si pria berjas yang masih belum terlihat batang hidungnya.


Kemana dia? bukannya tadi sudah pulang?


Si pria SMA sesekali mencomot  bistik sapi yang ku buat, si gadis SMP asyik dengan ponselnya dan dua orang tua sedang mengobrol.


Apa mereka memang seperti ini? akan mulai makan setelah semuanya berkumpul?


Hm,, benar-benar keluarga yang punya aturan. Dan entah mengapa aku senang melihatnya.


“Lisa, ngapain di sana?!”


Mampus! Aku langsung tersentak kaget mendengar nada ketus itu.


“Panggilin anak saya ke atas sana.” perintahnya yang entah mengapa membuat ku lega. Setidaknya dia tidak mengomel karena aku sudah ketahuan memperhatikan mereka.


Begitu sampai di lantai atas aku mencoba mencari-cari dimana gerangan kamar si pria berjas itu berada.


Apa di kamar yang ujung itu, atau yang di pojok sebelah sini. Atau jangan-jangan yang di tengah?

__ADS_1


Ceklek.


“Siapa kamu?” pria berjas itu sepertinya kaget dan bingung melihat ku.


Sama bos, saya juga kaget liat anda tiba-tiba keluar dari balik pintu.


“Saya Lisa tuan.”


“Lisa siapa? Ngapain kamu berdiri di depan kamar saya?”


Aduh, galak amat sih!


“Sa..saya di suruh nyoya buat manggil.._”


“Kamu pembantu baru?”


“Iya Tuan.”


“Oh.”


Dia berjalan melenggang begitu saja. Ya wajar lah dia kan anak bos. Gak papalah sombong.


“Ngapain kamu masih di depan kamar saya?”


Astaga!!!


Ni cowok kok ya demen bikin orang kaget ya.


“Maaf Tuan.”


“Turun. Saya gak mau ambil resiko kehilangan barang-barang di kamar saya.”


Entah mengapa aku sedikit kesal mendengar perkataannya barusan. Tapi kembali lagi ke statement awal.


Dia kan anak bos. Gak papalah sombong.


***


Malam semakin larut, tapi aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata barang sedikit pun. tidak terasa sudah hampir dua minggu aku berkerja di rumah mewah ini.


Dan sejauh ini, Nyonya besar sama sekali tidak mengeluh apapun.


Itu berarti aku bisa bekerja sesuai harapannya. Benar-benar melegakan.


Tapi, setiap kali melihat kebersamaan mereka, aku akan kembali teringat dengan keadaan keluarga ku si kampung. Mamak, kakak, dan juga adek.


Mereka pasti bingung karena sudah satu bulan lebih aku tidak ada kabar.


Aku menangis tapi tidak tau harus berbuat apa.


Hape, dompet dan semuanya hilang. Aku tidak tau bagaimana cara menghubungi mereka.

__ADS_1


Aku menyesal kenapa tidak menghapal nomor telepon keluarga ku. Aku memang payah.


Lalu jika sudah seperti ini aku harus apa?


__ADS_2