Dikejar Om Om

Dikejar Om Om
Pak Guru Vs Siswanya


__ADS_3

Namaku Mutiara Mirzani. Eit eit... bukan. Aku tidak ada hubungan sama sekali dengan artis papan atas itu. Aku hanya seorang gadis biasa. Kata orangtuaku, nama itu berarti mutiara yang terlihat. Indah bukan.


Mengenai sekolahku, aku bukanlah siswa populer dengan nilai menonjol. Aku juga tidak mengikuti kegiatan berorganisasi seperti OSIS dan sebangsanya. Dengan kata lain. Aku hanya gadis biasa saja. Ya. Aku sangat biasa saja.


Seperti sore itu, aku sedang bersama dengan teman-temanku yang juga bukan siswa populer, membahas tentang seorang guru di sekolah kami.


"Masa sih? Pak Ardi?" tanyaku.


"Iya. Guru bahasa Indonesia." kata Martha.


"Gimana katanya, Mar?" tanya Shella.


"Kekasihnya adalah murid sekolah ini juga." kata Martha.


"Trus trus?", tanya Shella sambil menyikutku.


"Katamya dia pernah mengantarnya pulang. Trus pernah belikan kosmetik dan baju juga. Siapa ya kira-kira?" tanya Martha.


"Tak tahulah. Tokoh fiktif, kali." Shella tertawa terkekeh sambil kembali menyikutku.


Aku ikut tertawa dengan tak nyaman. Ah, membicarakan orang itu ga baik. Apalagi mengorek info seperti ini. Semakin tak nyaman rasanya.


Ibu Shella mengeluarkan menu andalannya, es sirup cocopandan. Wah suegarr. Ibu Shella ikut mendengar celoteh anak-anak SMA ini menjawab, "Sudah. Di segarin dulu otaknya nih, jangan ngomongin guru melulu. Ga baik."


"Iya tante. Barangkali Pak Ardi cuma memberikan contoh karangan fiksi, ya tan." jawabku yang akhirnya mendapat serangan cubitan dari Shella dan Martha.


...


Pak Ardi adalah guru bahasa Indonesia di sekolah kami. Dia juga adalah guru ekstrakurikuler theater di sekolah kami. Tapi dia tidak mengajar di kelasku. Hanya kebetulan aku mengikuti ekskul itu.


Seperti sore ini. Pak Ardi memulai ekskul dengan doa. Setelah itu kami mulai dengan latihan vokal.


"Ayo keluarkan suara kalian. A a a a!" seru Pak Ardi.


"A a a a a, "


"A i u e o," lanjutnya.


"A i u e o."


"Lemaskan otot kalian. Senam mulut! 3 menit!"


Ah... demi nilai. Ya, saat itu aku bingung mau memilih ekskul apa. Basket, voli dan sebangsanya aku kurang mahir. Hahaha...


"Minggu depan kita akan pembagian peran. Naskahnya akan saya bagikan. Dipelajari karakter perwatakannya."


"Shella coba kau baca. Baris ketiga, percakapan Andini." kata Pak Ardi.


"Ja.. jangan sentuh. Pergilah. Jangan ganggu aku!" kata Shella berusaha maksimal.


"Sekarang coba Mutiara."


"Ja.. jangan sentuh! Pergilah... Jangan ganggu aku."


"Cukup bagus. Besok harus lebih bagus. Sekarang coba Monica."

__ADS_1


"Ja.. jangan sentuh! Pergilah! Dan jangan ganggu aku!"


"Ya seperti itu. Berlatih lagi di rumah. Coba minggu depan kita pembagian peran untuk pementasan acara perpisahan."


"Ya pak!"


"Tiara, kamu tadi sudah bagus. Lebih dilatih lagi. Supaya bisa dapat peran bagus nantinya." tiba-tiba dia menghampiriku.


"Ah, kaget. Iya pak." kataku sambil tertawa santai. Ya santailah. Kan sudah bubar, sudah pulang.


"Untuk tes vokal tadi. Suara kamu sudah ok. Keras. Saya rasa se aula bisa mendengar suaramu." katanya sambil menuntun motornya di sampingku.


"Iya pak. Eh, pak silahkan kalau mau pulang gapapa. Jangan sungkan sama saya pak."


"Iya. Bukan sungkan. Memangnya rumahmu dimana? Kok jalan kaki?"


"Rumah saya dekat pak. Dekat sini."


"Oh, kalau begitu saya temani sebentar."


"Ya ampun nih orang." jeritku dalam hati.


"Oh iya, Tiara. Kau suka membuat karya sastra apa saja?" lanjutnya.


"Suka coret-coret buat puisi pak. Soalnya orang susah menebak isi pikiran saya kalau saya nulisnya puisi."


"Ya bener sih."


"Eh udah ya pak. Saya udah sampai."


"Ya, kalau sempat buat puisi ya. Saya ingin baca puisi-puisimu."


...


Minggu depannya.


"Shella. Pokoknya nanti kita pulangnya barengan loh ya. Kalau gak, awas." ancamku.


"Ciee... yang ga pingin berduaan." goda Shella.


"Dih, ampun. Ga level, ga level."


"Eh eh.. tuh cowok dari sekolah mana. Ngapain di sini." kata Shella.


"Hai. Kenalin nih Damar, dari sekolah tetangga. Hahaha. Mau liat cewek-cewek sini katanya." kata Tirta, kontan membuat Damar wajahnya bersemu merah.


"Ala, Tirta mah emang gitu orangnya. Biasanya mah dia yang suka kelayaban ke sekolah tetangga cari cewek." kata Shella.


"Iya nih. Aku penasaran ada cewek yang sering di ceritakan Tirta. Katanya cewek itu cuakeeep ga ketulungan."


"Wah. Ada ya? Kalo ada ya udah di sikat sama Tirta." jawabku dengan tertawa terkekeh. Memang temanku yang satu ini super duper lucu.


Prit...


"Semua berkumpul. Ayo kita mulai latihan kita."

__ADS_1


Dan seperti biasanya, diawali dengan latihan vokal yang cukup lama dan senam wajah. Setelah itu dimulailah pembagian peran.


Yang akhirnya pemeran utama diperoleh Monica. Ya... selain itu hanya sebagai pendukung.


Jangan tanya. Kenapa bukan aku. Karena aku hanya gadis biasa saja.


"Shella, jadikan?"


"Iya, ayo. Tahu gak, gara-gara nemenin kamu pulang, jarak ke rumah aku lebih jauh, tahu."


"Aih... sahabatku tersayang, jangan manyun dong. Senyumanmu begitu indah."


"Hai... sudah mau pulang." tiba-tiba Pak Ardi sudah di belakang kami. Begitu menakutkan, seperti film horor, muncul tiba-tiba.


"Iya pak. Pulang. Nanti di cari sama orang sekampung kalau ga pulang."


kata Shella.


"Pak, memang kenapa motornya, pak kok di dorong? Motor bagus masak sih mogok?" Shella berpura-pura bodoh.


"Hahaha, tidak - tidak mogok. Saya cuma mau menyapa kalian. Hati-hati di jalan ya." lamgsung starter motornya dan kabur.


"Yes!"


"Memang kamu sahabat yang bisa diandalkan." kataku mengangkat kedua jempolku.


"Waduh. Minggu depan aku di booking lagi dong ceritanya. Buat nemenin pulang." kata Shella.


"Halah... banyak amal banyak rejeki, Shel."


"Noh, kamu aja yang banyak amal ke Pak Ardi." jawab Shella sambil ketawa terkekeh.


"Dih amit-amit."


"Gih, sana gih, cari pacar aja, biar ga bikin susah aku. Kalau kamu punya pacar, mungkin dia ga akan ngejar terus." kata Shella.


"Apa benar sih, Shel?"


"Di coba aja lah. Tuh, Damar tadi malah bisik-bisik. Katanya Monik ga cantik, biasa aja. Malah dia pingin kenalan sama kamu. Gimana?"


"Dicoba apa ya? Tapi aku ga pingin pacaran sih." jawabku.


"Ya udah, PHP in aja. "


"Maksudmu Shel?"


"Ya cuma biar ga di kejar terus sama Pak.Ardi, neng."


"Oh, jadinya jahat dong aku. Kasihan dong Damar."


"Yaa, kalau gak mau gitu ya serius saja sama si Damar." kata Shella menggodaku yang langsung kuhadiahi cubitan di pipi nya.


"Ih suka deh ngerjain orang."


"Ya, aku kan mencoba membantu cara praktis buatmu menolak Pak Ardi.

__ADS_1


Hahaha."


"Baiklah aku coba. Ga ada salahnya juga nambah teman. Tapi teman aja kali ya. Hanya, pura-pura lebih dari teman di depan Pak Ardi." batinku.


__ADS_2