Dikejar Om Om

Dikejar Om Om
Terpesona


__ADS_3

Kamu suka baca novel kan?" kata pak guru itu sambil menyodorkan sebuah novel dengan gambar sampul seorang wanita dan tulisan besar "Cinta Tak Pernah Salah".


"Buku ini buatku, pak?"


"Iya. Kamu baca saja. Pasti kamu suka ceritanya."


"Tapi pak,"


"Sudah ini, ambil. Bapak mau pulang." Pak Ardi menarik tanganku, dan menaruh buku di tanganku.


Aku hanya diam, bengong tanpa bisa menolak. Sedangkan Pak Ardi sudah kembali menstarter motornya yang terparkir di jalanan.


Aku masuk ke dalam rumah. Berganti pakaian dan memeriksa dawaiku. Ada beberapa pesan masuk.


Damar : "Mutiara, aku perlu bicara denganmu."


Damar : "Segera hubungi aku."


Damar : "Aku tunggu."


Aih, apa dia pikir ini hari libur. Dia tidak bersekolah karena mogok. Tapi aku kan tetap sekolah.


Aku tekan nama Damar pada dawai. Dan nada menghubungkan berbunyi.


"Halo, ini Damar?"


"Iya Tiara. Aku ga masuk sekolah hari ini. Pak Ardi terasa ga welcome ke aku. Setiap ada pertanyaan sulit selalu panggil namaku. Selalu memberi porsi lebih tugas padaku. Dan kesalahan sekecil apapun, dia menyuruhku keluar kelas. Seperti tidak ingin aku ada di kelasnya dan mencari cara untuk mengeluarkan aku."


Aku hanya mendengarkan keluh kesahnya.


"Tiara, kau masih di sana?"


"Iya, Damar. Tadi papamu mengunjungi Pak Anwar sepertinya membicarakan hal ini."


"Papa?"


"Iya. Lalu sampai kapan kau akan mogok sekolah?"


"Entahlah, mungkin dua atau tiga hari. Sampai ada keputusan. Setidaknya pindahkan kelas atau apapun."


"Kau akan ketinggalan pelajaran, Damar."


"Jangan khawatir. Aku mempunyai tutor yang baik di sini. Papa mencarikan aku guru di rumah."


"Baiklah, semoga berhasil Damar."


"Tiara."


"Ya, Damar."


"Kita akan tak bertemu beberapa saat, tapi aku sudah rindu kebersamaan saat kita istirahat." kata Damar sambil tertawa.


"Rindu keramaian ya. Kalo gitu batalin saja aksi mogoknya. Biar kita bisa makan bakso lagi di kantin bareng-bareng." jawabku juga dengan tertawa.


"Sudah ah, perutku sudah protes minta diisi. Yuk, bye Damar"


"Bye Tiara."


Ting.


Ada pesan masuk lain. Dari si om.


"Tiara, sudah pulang sekolah?"

__ADS_1


"Adik gedhe istirahat dulu ya. Ntar sore om telpon."


Aku mengacuhkan pesan itu. Beranjak ke meja makan dan membuka tudung saji.


"Hmm, wanginya. Ayam goreng, sambal lalapan." kataku pada mama yang sedang asik melakukan perhitungan pengeluaran bulanan.


"Iya. Sana cuci tangan dulu sebelum makan." katanya seperti acuh tetap fokus pada buku kasnya.


"Ma," kataku sambil cuci tangan di washtafel dekat meja makan.


"Hmm,"


"Aku kan ga cantik ya ma, biasa-biasa saja kan? Napa juga ya ada guru yang naksir aku. Bikin illfeel."


Rupanya kata-kataku membuat mamaku gagal fokus. Dia langsung meletakkan alat tulisnya dan menutup bukunya. Lalu memandang aku yang telah kembali duduk siap mengeksekusi ayam goreng.


"Guru? Siapa, Tiara?"


"Pak Ardi, ma."


"Lalu apa yang kau lakukan?"


"Aku menceritakannya pada kepala sekolah. Pak Anwar ma." kataku sambil mencolek sambal dan mengemas lalapan ke dalam mulutku.


"Huhah... pedas ma. Mana minum, minum." kataku berlari mengambil gelas di dapur.


"Hati-hati, awas kesedak."


"Uhuk... uhuk... ." aku menepuk nepuk dadaku sendiri.


"Tuh kan. Pelan-pelan minumnya."


"Trus ma, papanya Damar, teman aku, tadi ke sekolah juga, nemui Pak Anwar. Soalnya anaknya dibuat ga kerasan di sekolah. Padahal pindahan. Tiap hari dihukum sama Pak Ardi," lanjutku. "Damarnya mogok, ga masuk sekolah."


"Iya ma, Pak Ardi mungkin ditegur ya sama Pak Anwar atau ga tahu, lah diapain. Tadi ketemu sama Tiara bilangnya mau pulang kampung, mau ngajar di kotanya."


"Ya, guru kan juga manusia, Tiara. Dan setiap manusia punya perasaan. Siapapun berhak mencintai. Tapi juga berhak menerima dan menolak."


"Iya ma. Tiara ngerti kok."


"Dan ingat, walaupun kamu berhak menolak, tetap harus secara halus. Jangan sampai menyakiti perasaan orang lain."


Mutiara diam, tak menjawab. Dia berpikir apakah cara yang dia pakai adalah cara halus?


"Tapi jika aku pakai cara halus tapi dianya ga merasa, lantas gimana ma?" tanya Mutiara sambil kembali meneguk air putihnya.


"Katakan dengan jelas penolakanmu, dengan kata-kata jelas yang tidak menyinggung perasaannya. Bukan cara halus yang tak jelas, Tiara."


"Oooh... berarti cara Tiara kurang jelas mungkin ya bu." Tiara mengangguk anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Anak mama sudah besar, nih. Mulai banyak yang ngelirik ya." mama tersenyum menggoda. Matanya melirik reaksi datar anak gadisnya yang sedang mencuci tangannya.


"Sudah ah. Mama udah ga serius. Aku ke kamar dulu ya ma, mau lanjut baca novel."


"Iya, kalau capek berhenti. Kasihan sama mata. Ntar gak cantik lagi kalo matanya berkacamata."


"Haha... iya ma. Ntar kalau capek juga, Tiara bawa tidur."


"Hai adik gedhe, gimana kabarnya hari ini."


"Ih. Om, panggilnya Tiara aja. Ga usah adik segala."


"Iya deh. Adik Tiara. Tiara, om ada tempat kuliner asik nih. View-nya asik. Instagramable istilahnya."

__ADS_1


"Oh. Kafe yang baru itu bukan, om? Yang di lereng itu?"


"Iya. Bener. Udah pernah kesana?"


"Belum sih."


"OK. Kita kesana yuk. Ntar om jemput. Siap siap ya."


KLIK


Yaah, ditutup tanpa bisa jawab apa-apa. Tanpa bisa bertanya ataupun menolak. Gerutuku dalam hati.


Tak lama kemudian, muncul kiriman pesan dari aplikasi bersimbol hijau.


Om Alfred : "jam 4 sore ya. Biar ga kemalaman."


Aku tak menanggapi pesan itu, dan tetap asik dengan aplikasi biruku.


Jam 4 sore, aku sudah siap dengan pakaian santaiku. Celana pendek dan kaos kartun mickey-ku.


"Tiara keluar dulu ma," kataku saat melihat mobil Mitshubisi Xpander telah parkir di depan rumah.


"Sama siapa, Tiara. Om Alfred ma." jawabku yang langsung berlalu keluar rumah.


Aku masuk dalam mobil, dan duduk di kursi belakang. Mobil langsung bergerak, ketika aku sadar tak terlihat Tante Ratna.


"Loh om, Tante Ratna ga ikutan?"


"Iya. Tantemu sibuk terus tuh. Kerjaannya lagi numpuk katanya. Gak apa apa ya, kita kesana sendiri saja." kata Om Alfred tersenyum padaku.


"Tapi jangan malam-malam ya om. Ntar Tiara dicari sama mama papa. Apalagi besok ada ujian."


"Iya. Iya. Kamu pindah depan yuk. Ntar om dikira sopir Grab."


"Haha... Tak apalah, om. Pekerjaan sambilan," kataku lalu tertawa terkekeh. Tak urung, aku pindah ke kursi depan.


"Om, main tebak-tebakan yuk. Coba tebak, ikan apa yang jalannya suka macet-macetan."


"Ah mana ada. Semua ikan juga berenang aja. Ga pake macet."


"Udah om, tebak aja. Om ga asik ah."


"Ikan ****** naik mobil tua."


"Hahaha... mana ada kayak gitu om."


"Ikan kena lampu merah!"


"Aih... om ngaco ah."


"Terus apa dong?"


"Ikan paus om. Enak-enak renang, eh di pause." kataku tertawa menang.


"Sudah ah, tebakannya ngaco. Ganti om yang bikin tebakan ya. Apa sebabnya menara pisa miring? Hayo, bisa jawab gak?"


"Ya emang dari sananya miring om."


"Yaelah... mana ada arsitek yang buat bangunannya miring-miring."


"Lah terus kenapa coba, kok bisa miring?"


"Karena terpesona dengan senyumanmu."

__ADS_1


__ADS_2