
"Iya, nanti sore kita kumpul di rumah Martha. Jangan lupa. Teman-teman kita pas lagi pada nganggur minta ketemu." kata Shella menjelang pulang sekolah.
"Iya. Aku juga pas ga ada kegiatan. Ntar aku pasti kesana."
Ya, rumah Martha seperti basecamp untuk kami. Keluarganya sangat welcome pada teman-teman putrinya. Martha bukanlah anak tunggal dia anak ketiga dari empat bersaudara.
Jam 4 sore, ketika aku sampai di sana, Shella, Martha, Roy, Tirta dan Damar sudah ada di sana.
Aku tahu, sepertinya mereka mulai berusaha mencomblangiku. Aku tertawa dalam hati. Tetap kokoh dengan pendirianku. Selama sekolah, aku tidak akan pacaran!
"Mutiara, Damar mengajak kita touring nih." kata Martha.
"What? Touring. Memang kalian-kalian pengendara motor ber SIM?"
"Hahaha, Ga punya SIM. Kita cari jalan tikus aja. Gimana?" Damar tertawa.
Shella menyeretku menjauh dari yang lain. "Udah. Ikutan aja. Pendekatan. Toh kita cuman bonceng. Kuncinya saling menjaga dan kompak."
"Oke lah. Tapi ga terlalu malam ya. Kita sore udah harus pulang." kataku.
"Yess!!", entah kenapa mereka begitu kompak dan senang atas keputusanku.
Ternyata benar, itu cara mereka mendekatkan aku pada Damar. Ya, tentu saja aku dipasangkan berboncengan dengan Damar!
Martha dengan Roy yang notabene adalah kekasihnya, Shella dengan Tirta dan aku dengan Damar!
Okelah. Gapapa kan cuma teman. Bahkan orang lain bisa berboncengan dengan abang gojek. Pikirku sederhana sekali.
Kami menikmati jalan-jalan kami. Keluar masuk jalan tikus secara beriringan.
Akhirnya motor berhenti di suatu tempat yang sepi, kami berenam turun menikmati pemandangan, bercanda, menghabiskan makanan kecil yang dibawa oleh Martha.
"Udah, kamu cerita saja sama Damar kalau Pak Ardi lagi ngejar kamu. Biar dia ikut bantu."
"Nggak ah. Tambah runyam kalau semua pada tahu." jawabku.
"Sudahlah cerita saja. Dia ga mungkin ember. Dia pasti jaga perasaan kamu. Lah dia suka kok sama kamu." Shella berusaha meyakinkan.
"Shel. Ini sama tak mudahnya dengan masalah kamu dan Tirta."
"Lah kok jadi aku sama Tirta?"
"Apa kamu sudah menjawab pernyataan Tirta? Dan apa bisa kamu jujur mengatakan kalau kamu suka dengan cowok lain." balasku sambil tersenyum. Rahasia tetap rahasia.
"Beda. Kalau aku, tidak ada masalah. Dia tidak mengejarku secara terang-terangan. Sedang kamu, benar-benar butuh bantuan."
Kuhela napas dalam-dalam sebelum kuputuskan. "Baiklah. Hanya kita bertiga yang tahu, ya."
Shella tertawa. "Aku tak bisa berjanji hanya kita bertiga. Mungkin akhirnya kita berenam yang tahu."
"Damar, sepertinya Tiara butuh bantuanmu." kata Shella. Sambil menarik tanganku kembali bergabung dengan rombongan.
"Ah, jadi yang dimaksud Pak Ardi itu kamu, Tiara?" kalimat Martha membuat semua menatap padaku.
"Tapi itu ga benar. Dia gak pernah beliin aku ini itu. Kalau ngejar mah iya. Tapi, dih ogah ah."
"Oke, jadi apa yang bisa aku bantu?"
"Kamu datang aja pas waktu ekskul seperti biasa. Antar dan jemput Mutiara. Jangan sampai terlihat dia sendirian." Shella menjelaskan strateginya.
Aku cukup bersyukur mempunyai teman-teman, sahabat yang solid seperti mereka.
__ADS_1
"Oke. Siap." kata Damar dengan tangan di letakkan di dahi memberi hormat.
Tapi ini adalah ternyata adalah awal tak menyenangkan bagi Damar!
Benar, Damar datang setiap kami latihan. Dengan setia mengantar, menjemput bahkan menunggu kami latihan sampai pulang.
Dia mendapat pandangan tak nyaman dari Pak Ardi. Tapi diabaikannya.
Tentu saja aku selalu aman, tak perlu pulang beriringan dengan Pak Ardi yang mendorong motornya.
Sampai suatu saat, pada jam pulang sekolah, saat aku berjalan cepat-cepat seorang diri di bawah teriknya matahari, seorang om-om memperlambat motornya kemudian berjalan beriringan di sebelahku.
"Mutiara! Sendirian?" katanya sambil membuka kaca helmnya.
"Dih, basi deh. Udah jelas juga jalan sendirian." kataku dalan hati.
"Iya pak."
"Jangan lupa ya. Janjimu memperlihatkan beberapa puisimu."
"Iya pak. Nanti saya bawa. Saya duluan pak. Panas."kataku sambil berjalan lebih cepat.
"Puisi puisi puisi... " Otakku bekerja lebih keras. Puisi apa yang harus aku berikan? Supaya dia tidak lagi menggangguku. Sesuatu yang membuatnya tahu kalau aku terganggu dengannya, mungkin.
Ya. Tentu saja!
Apakah ini cukup menjelaskan perasaanku? Cukup pekakah dia?Baiklah aku coba.
Jam ekskul seperti biasa berlangsung dengan Damar menungguku. Aku sempat melihatnya di pojok sekolah, asik bermain dengan gadget nya.
Shella mencubit lenganku. "Cie, yang lagi jatuh cinta?"
"Ah enggak. Aku masih konsisten dengan keputusanku. No pacar at school. Pacarannya nanti saja, kalau udah kerja." kataku.
Aku tertawa, "Ga mau gambling ah. Ga pacaran aja, nilaiku pas-pasan gini."
"Makanya dicoba. Sapa tahu nilai jadi meningkat." goda Shella.
"Atau tambah hancur." aku tertawa terkekeh, "Memangnya Damar bayar berapa sih, kok kamu gencar banget promonya."
"Aish. Kamu ini." katanya langsung mencubit pinggangku bertubi-tubi.
"Duh, geli. Ampun Shell." aku berlari menjauh. Tapi dikejarnya.
Tapi jujur, dalam hatiku mengakui bahwa Damar memang sangat baik. Dia memang cuek, tapi setia dan sangat perhatian. Entahlah. Apa dia akan bertahan dengan egoku.
PRIIIT ...
Dan latihan dimulai seperti biasanya. Tetap dengan latih vokal, senam wajah dan berlatih untuk pementasan.
"Mutiara, apa kau tak lupa membawa hasil corat-coret puisi buatanmu?" kata Pak Ardi di sela-sela latihan. Saat semua siswa sedang BREAK.
"Iya pak. Ini." Aku serahkan sebuah buku kecil. Yang berisi beberapa coret coret puisiku.
"Baik. Buku ini saya ambil apa tidak apa-apa?"
"Gak kenapa pak. Cuma corat coret iseng kok isinya."
Ya, aku harap kau membacanya sampai akhir dan mengerti isi hatiku sebenarnya. Batinku.
Setelah latihan berakhir, aku sempat bercanda seperti biasa dengan teman-temanku.
__ADS_1
Setelah itu Damar segera menghidupkan mesin motornya dan mengantarku pulang.
* * * * *
Supaya tidak penasaran, ini puisi yang kutujukan untuk Pak Ardi. Tertulis di bagian akhir corat coret puisiku yang tak jelas lainnya.
Mungkin yang diharapkan tentang puisi cinta, bagaimana perasaanku padanya. Tapi sayangnya, bukan itu yang ada.
Dalam pikiranku, semuanya harus segera jelas. Bahkan aku merasa muak dengan perhatiannya. Cukup sudah waktuku terbuang untuk mencari cara menghindarinya.
PENJAGA HATI
Untukmu sang penjaga hati
Terima kasih atas kehadiranmu
Kehadiranmu membuatku merasa berarti
Wahai penjaga hati
Menemaniku walau tanpa arti
Selalu siap dan menanti
Tak peduli apa yang terjadi
Tahukah kau penjaga hati?
Apa yang aku rasakan
Tentu kau tak akan mengerti
Ingin kuterbuka namun tak membuat luka
Aku tak ingin menjadi istimewa
Aku hanya ingin jadi biasa
Bahkan dihatimu
MAAF
Maafkan
Karena aku tak mampu
Bahkan aku tak mungkin
Untuk menerimamu
Ku tahu rasamu
Ku tahu maumu
Ku mengerti asamu
Maaf
Aku tak bisa
Bahkan untuk belajar
__ADS_1
Bahkan untuk berusaha
Maaf aku tak mampu