Dikejar Om Om

Dikejar Om Om
Salah Siapa


__ADS_3

"Tiara, apa kau sudah punya pacar?"


Apa yang harus kukatakan? Apa jawaban yang benar. Ini tak pernah diajarkan di mata pelajaran apapun di sekolah.


"Gak ada om. Tiara ga mau pacaran sebelum kerja." Semoga jawaban ini benar kataku dalam hati.


"Om, kita mau nonton apa mau ngomong sendiri sih. Tiara ga konsen. Ga ngerti ceritanya."


"Ok, ok. Kita nonton." Om Alfred tertawa sambil menepuk nepuk pahaku.


Jengkel, iya. Ingin nangis, iya. Harusnya aku gak mau diajak nonton tanpa Tante Ratna. Seandainya tante bilang kalau tak bisa ikut nonton.


Setelah itu aku diam, berusaha fokus pada film yang sedang tayang walaupun aku tahu, si om sedang menatapku.


Film berakhir, dan lampu di nyalakan. Semua penonton segera turun. Om Alfred memegang tanganku, menahanku.


"Beri mereka kesempatan untuk turun dulu. Kita tidak sedang tergesa-gesa bukan?"


Dan aku kembali duduk.


Pengunjung terakhir turun, ketika aku berdiri. Om Alfred ikut berdiri, memegang bahuku untuk berjalan turun dan keluar dari ruangan pertunjukan.


"Tiara, sudah jam enam nih. Sekalian kita makan yuk. Om pingin sushi nih."


"Oke om. Habis itu kita langsung pulang ya, aku harus belajar, om. Besok ujian."


"Iya. Habis ini kita langsung pulang."


Tak banyak kejadian di resto sushi. Jadi aku skip saja ya. Setelah itu dia menepati janjinya. Kita pulang.


"Tiara, kamu mau gak jadi pacar om." kata Om Alfred di tengah perjalanan pulang.


Aku menoleh padanya. Memang, harus di akui. Om Alfred termasuk dalam kriteria cowok tampan. Tubuhnya tinggi langsing, dengan kulitnya yang putih bersih. Di usianya yang matang, dia terlihat tidak sesuai usianya. Ya, dia terlihat lebih muda. Siapa yang akan menolak lelaki tampan yang cukup mapan.


Tapi aku harus sadar. Dia kekasih Tante Ratna. Bagaimanapun usianya separuh usiaku.


Tiba-tiba Om Alfred menghentikan dan memarkir mobilnya di pinggir jalan.


Dia menepuk pahaku.


"Kenapa kau tidak menjawab, Tiara."


"Om, tidak seharusnya om memintaku jadi pacar om. Karena om adalah kekasih Tante Ratna. Sedangkan aku adalah keponakan kekasih om."


"Tiara, Tante Ratna hanya teman kantor om. Kita teman dekat. Dan om sukanya sama kamu."


"Tapi om, usia om sama aku kan jauh."


"Tiara, usia bukan ukuran manusia untuk saling mencintai. Kita jalan saja ya."

__ADS_1


"Tiara mau pulang saja, om. Udah malam. Mana belum belajar pula."


Om Alfred kembali mengendalikan mobilnya ke arah rumahku. Ah, entah kenapa aku terlibat situasi seperti ini.


"Om, makasih ya udah traktir nonton dan makan sushi."


"Iya, sama-sama. Besok om telpon lagi ya, adik gedhe." kata Om Alfred.


Aku langsung ngelonyor masuk rumah, tanpa jawaban. Tauk ah, aku mau belajar. Ogah mikirin om.


"Tiara dari mana barusan?" tanya mama


"Tante Ratna sama Om Alfred nraktir nonton, ma. Tapi tantenya gak bisa ikut. Kata om sih lembur gitu."


"Lain kali kalau mau keluar ijin dulu ya. Biar mama ga bingung cari kamu."


"Lah tadi kan Tiara udah bilang kalo mau nonton. Mama gak dengar, kali. Tadi pamitnya pas mama masak di dapur, ma."


"Tadi Tiara bilang, pulangnya ga malam kok ma, soalnya Tiara mesti belajar, besok ada ujian. Terus mama bilang, iya gitu."


"Ya sudah, ya sudah. Belajar sana. Kamu sudah makan?"


"Sudah ma."


Aku segera masuk ke kamarku.


Ting!


Damar? Ya itulah bedanya, siswa dan yang sudah kerja. Secinta apapun dan sesetia apapun Damar, tak akan bisa ngalahin Om Alfred. Damar masih dengan jatah dari orang tua, dan dia juga harus fokus pada nilai sekolahnya.


***


Di sekolah.


"Tiara, ada kabar." kata Shella berlari menghampiriku.


"Kabar apa? Tenang Shel. Ambil napas dulu."


"Pak Anwar dan ayah Damar. Ayah Damar ke sekolah. Dia marah besar tadi. Aku dengar, Damar ga kerasan di sekolah ini karena Pak Aldi."


"Jelas saja marah, dia baru masuk sekolah ini, sudah bayar mahal. Eh dibuat ga kerasan."


"Lah terus?"


"Terus ya kita tunggu nasib Pak Ardi dan Damar."


"Aku rasa dewi fortuna lagi berpihak padamu, Tiara. Pak Anwar pasti jadi percaya sama kata-katamu. Karena sudah terbukti, Damar saja jadi ga kerasan karena Pak Ardi."


"Hahaha, dewi fortuna apaan. Bisa aja. Jangan terlalu puitis. Ntar disuruh buat puisi juga sama Pak Ardi."

__ADS_1


"Nggak lah ya, aku mah apa gitu." elak Shella.


"Lah terus, Shel. Damarnya dimana sekarang?"


"Dih, tumben perhatian. Damarnya mogok sekolah. Atau sebenarnya bukan karena Pak Ardi ya. Mungkin karena putus asa ngejar cintamu, tapi ga dapat dapat." kata Shella yang langsung dapat upah cubitan dariku.


"Kamu ini, sukaaa banget ngerjain aku. Tapi apa iya ya?"


"Shel. Perasaan, Damar ga pernah bilang suka atau minta aku jadi pacarnya, deh."


"Sayang, kamu kok ga peka ya. Ada orang yang cinta tapi ga bisa ungkapkan dengan kata-kata. Tapi dia lakukan dengan segala perhatian dan perbuatan. Ada pula yang cuma omdo. Omong doang. Bisa ngomong tapi ga bisa buktikan. Nah ada pula yang bisa ngomongin perasaannya dan sesuai sama perbuatannya. Spesies terakhir ini yang langka dan perlu dilestarikan."


"Kayak badak bercula satu dong." kataku tergelak.


"Top banget kau Shel. Penuh dengan pengalaman. Good mentor." lanjutku dengan bertepuk tangan yang langsung dihadiahi jitak pelan di kepalaku.


"Shel. Aku jadi takut nih. Gimana coba, kalau Pak Ardinya tahu kalau aku yang buat keluhan."


"Hush. Harus pikir positif. Papanya Damar yang protes. Ga ada hubungannya sama kamu."


"Lah terus apa yang aku lakukan kalau ketemu sama dia?"


"Udahlah. Kamu ini anak theater. Harusnya kamu bisa dong memainkan peran polos ga tahu apa apa."


"Oh gitu ya. Apa aku bisa ya?"


Dan benar. Saat pulang sekolah, sebuah sepeda motor mengikuti dari belakangku. Lalu menyapaku.


"Tiara! Apa kabar." om-om itu membuka helmnya.


"Baik pak."


"Sepertinya sebentar lagi kita ga akan ketemu lagi." kata Pak Ardi.


"Lah kenapa pak?"


"Bapak akan pindah mengajar di kota lain. Bapak mendapat panggilan mengajar di kota kelahiran bapak."


"Oooh..."


"Kamu belajar yang baik ya. Jangan malas. Dan kembangkan terus bakatmu."


"Siap pak. Saya lanjut jalan ya pak. Panas." aku langsung ngelonyor karena rumahku sudah sangat dekat dan matahari pukul dua bersinar terik.


Ternyata Pak Ardi mengejarku. Di parkirnya motornya di pinggir jalan.


"Mutiara, tunggu. Ini buku puisimu. Aku kembalikan."


"Tidak pak. Tidak usah. Pak Ardi boleh bawa sebagai kenang-kenangan. Tiara sudah pakai buku yang baru kok."

__ADS_1


"Kalau begitu kemarilah. Bapak juga mau kasih kamu kenang-kenangan, Tiara. Kamu suka baca novel kan?" kata pak guru itu sambil menyodorkan sebuah novel dengan gambar sampul seorang wanita dan tulisan besar "Cinta Tak Pernah Salah"


__ADS_2