
"Damar minta pindah sekolah sama ayahnya!" kata Shella.
"Terus gimana, Shel? Respon ayahnya?"
"Ya tentu saja ayahnya setuju. Dulu ayahnya ga setuju dia memilih SMA Citra Bangsa. Ayahnya menyuruhnya masuk SMA kita ini, tapi Damar menolak. Menurut dia, masuk sekolah favorit dengan guru killer pasti sangat menyiksanya." kata Shella.
Tiba-tiba dia tersenyum, "Mutiara, asik dong. Bisa ketemu tiap hari sama pujaan hati."
"Ya ampun Shella!" kataku sambil mencubit pinggangnya.
"Ya. Tiara, mulai besok dia akan berada di sini."
Benar apa perkataan Shella. Ternyata Damar benar-benar muncul di sekolah keesokan harinya.
"Hai Mutiara!" kata Danar pagi itu menyapaku.
"Hai. Masuk kelasnya siapa?" tanyaku.
"Pak Ardi."
"Gapapa. Orangnya terkenal sabar kok." kataku.
"Cie cie," Shella mulai menggoda.
"Apa, Shell?" kata Damar sambil tersenyum.
"Akhirnya, temanku ini mau bertobat dan kembali ke jalan yang benar." kata Shella yang spontan mendapat tonjokan pelan di atas kepalanya.
"Ih. Memangnya, sekolah lamaku jalan sesat ya? Dasar nih anak." Damar cuma geleng-geleng kepala.
"Eh, bukan toh. Tapi di jalan benar itu banyak malaikat-malaikat cantik, Dam. Seperti malaikat-malaikat manis di dekatmu ini." kata Shella sambil mengerjap kerjap matanya dengan usil.
"Kamu mah, malaikat maut Shel, buat Damar. Cuma Mutiara malaikat di hatinya." Tirta tiba-tiba muncul.
"Gak kompak ih, Tirta. Awas ya." kata Shella mencubit punggung Tirta.
"Aduh, ampun sakit sayangku. Kamu kan malaikatnya aku." kata Tirta.
Aku hanya tertawa melihat mereka bercanda. Suka? Sebenarnya ada beban di hatiku. Bagaimana kemudian caraku menolak Damar yang sudah sangat baik bagiku.
"Tiara, kamu sudah dengar beritanya."
"Berita apaan, Mar?"
"Damar. Kasihan anak itu."
"Memang kenapa sama dia? Sakit?"
Martha teman yang satu ini berbeda dengan Shella yang hobinya bercanda. Martha paket lengkap infotainment buat aku yang termasuk kudet. Hahaha...
Memang aku seorang siswa pendiam di sekolah.
"Hari pertama masuk sekolah. Dihukum di luar kelas sama Pak Ardi! Eh, besoknya dihukum lagi karena gak bisa jawab soal."
"Kasihan banget ya." kata Shella sambil menyenggol tanganku.
"Iya. Susah bener ya, soalnya? Kok sampai gak bisa jawab." tanyaku.
"Enggak sih. Tak tahulah. Tumben bener sih, Pak Ardi pakai acara menghukum." sahut Martha.
__ADS_1
Shella melihat ke arahku sambil mengerutkan alis matanya.
"Sebegitukah dampaknya?"
Sore itu tante Ratna, adik ibuku berkunjung ke rumah. Tante Ratna sangat dekat denganku. Aku memanggilnya Mami Ratna. Seorang yang cantik, sabar dan baik hati. Sayang, sampai usianya yang ke 35 tahun, ia belum juga menikah.
"Mami Ratna, lama sekali sih ga kemari. Tiara kangen banget deh sama mami." kataku sambil memeluk tanteku itu.
"Dih. Udah SMA juga masih kayak anak kecil." kata tante Ratna.
"Biarin, sama mami sendiri juga."
"Tiara, mami dateng sama Om Alfred nih. Kenalan gih." kata tante Ratna.
"Halo om Alfred. Apa kabar." kataku sambil nyengir kuda.
"Halo Ratna. Baik. Anak yang manis." kata om Alfred sambil mengacak-acak rambut pendekku.
"Tahu gak, Al. Tiara ini ga cocok sama namanya. Anaknya pendiam, tomboy. Semua hal bisa dia kerjain." tante Ratna terkekeh.
Aku cuma cemberut dikatain tomboy.
"Eh bentar. Ratna mau cari kak Marisa. Tiara mana mama?"
"Dibelakang mi. Lagi masak buat makan malam. Nanti makan malam di sini aja, mi. Jangan buru-buru pulang." kataku.
Sambil terus asik dengan gadgetku.
Tante Ratna masuk ke dalam rumah mencari ibuku. Sementara aku sibuk dengan aplikasi novel berlambang biru ku. Tak kusadari om Alfred sudah berada di belakangku.
"Wah, asik benar baca novelnya. Cerita tentang apa?"
Om Alfred melirik padaku. Melihat tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapan matanya terasa ingin menelanku mentah-mentah.
"Om, om kenapa? Haus? Aku ambilin minum ya bentar." kataku basa basi ingin melarikan diri.
"Eh, enggak. Duduk saja Tiara. Temani om ngobrol."
"Eh iya om."
"Kamu suka nonton, Tiara?"
"Suka om. "
"Suka film yang seperti apa?"
"Film action om. Ga suka film lainnya. Bikin ngantuk kalau isinya ngomong melulu."
"Hahaha, sama dong sama om."
"Kalau banyak dialognya, om suka ketiduran." sahutnya sambil tertawa.
"Kalau film horor?"
"Lihat-lihat om. Kalau horornya sejenis zombie sih aku masih mau lihat. Selain itu semuanya bikin copot jantung. Bikin kaget musiknya." kataku.
"Wah. Bener-bener katamu. Om juga rasa begitu. Ga suka lihat horor." katanya sambil duduk kembali ke kursinya semula.
"Wah, wah. Ngomongin apa sih kok asik sekali." kata tante Ratna yang mendadak keluar sambil membawa nampan berisi es sirup dan sepiring gorengan.
__ADS_1
"Ngomongin film, mami. Ntar kalo ngomongin mami, maminya kesandung dong."
"Hahaha. Keponakan mami ini. Gemes deh. Udah besar juga kayak anak kecil." tante Ratna tertawa sambil memencet ujung hidungku.
"Aduh mi, sesak napas barbie!" kataku.
Saat makan malam tante Ratna dan om Alfred duduk berhadapan denganku dan ibu.
"Jadi Ratna dan Alfred ini teman kerja gitu ya. Sekantor." kata ayahku.
"Ah, jadi inget waktu pacaran sama Marisa. Aku parkir di depan kantornya nunggu dia keluar." kata ayah sambil terkekeh.
"Hush. Didengar sama Tiara pah." kata ibu.
"Gak apa apa ma, Tiara loh sudah besar." kataku.
"Nih, anak kecil. Makan yang banyak biar cepat besar. " tiba-tiba om Alfred mengambil sepotong paha ayam dan menaruhnya di atas piringku.
Tante Ratna tertawa melihat ekspresi wajahku.
"Mami ih. Ketawa." kataku sambil cemberut.
Setelah makan malam, tante Ratna dan om Alfred pulang. Tante Ratna kembali memelukku erat, "Sampai jumpa keponakan centilku."
Om Alfred juga ikut berpamitan, "Banyak makan ya, biar cepat besar." katanya sambil.mengacak acak rambutku.
Kata-kata yang terdengar lucu di telinga orang-orang dewasa di sekitarku sehingga membuat mereka semua tertawa.
* * * * *
Pagi itu Shella menemuiku.
"Tiara. Bagaimana menurut pendapatmu tentang Damar?"
"Tentang apa Shel? Damar dan Pak Ardi?" tanyaku.
Shella mengangguk.
"Suatu hal yang sama sekali tidak lucu bila Damar harus tidak naik kelas atau harus pindah sekolah lagi hanya gara-gara Pak Ardi!" kata Shella.
"Aku punya dua jalan keluar. Tapi kedua-duanya tidak nyaman. Terutama buat Pak Ardi." kataku.
"Bisa kau katakan apa rencanamu?" tanya Shella.
"Akan kupastikan dari kedua jalan ini mana yang paling tepat ku tempuh."
"Karena bukan orang lain yang harus menjalaninya. Harus aku! Aku yang harus mengakhirinya. Tidak boleh ada korban dari antara kawan-kawanku." kataku.
"Katakan rencanamu. Siapa tau aku dapat membantumu, Tiara." kata Shella.
"Aku tahu kau akan selalu membantuku, Shel. Tapi sebaiknya kau tidak terlibat."
"Baik. Sekarang katakan rencanamu. Dan tentu saja aku hanya mendukungmu dari belakang, tanpa ikut campur. Seperti maumu."
kata Shella menyerah.
Aku menghela napas panjang, sebelum menjawabnya.
"Apa kau benar-benar akan mendukungku, Shella. Apapun yang akan aku perbuat untuk menyelesaikan masalah ini?"
__ADS_1