Dikejar Om Om

Dikejar Om Om
Pacar


__ADS_3

"Apa kau benar-benar akan mendukungku, Shella. Apapun yang akan aku perbuat untuk menyelesaikan maaalah ini?"


"Aku akan maju ke Pak Andre, guru BP kita, atau ke Pak Anwar, kepala sekolah kita. Menurutmu, siapa yang lebih baik aku temui?"


"Apa kau gila? Apa kau bisa menceritakan segalanya dari awal hingga akhir?" mata Shella terbelalak. "Apa mereka akan percaya?"


"Tapi Shel. Itu satu-satunya jalan menurutku."


"Terus terang, aku tak yakin mereka akan mempercayaimu," kata Shella.


"Aku akan mencobanya Shel. Ga ada salahnya di coba,"


"Tapi. Apa kau tak memikirkan apa yang akan terjadi padamu sendiri?"


Aku mengangkat bahu, dan kedua alisku. "Semoga mereka mempercayaiku."


"Ya udah. Good luck deh, Tiara."


Siang itu, saat istirahat sekolah.


"Selamat siang, pak."


"Iya selamat siang. Duduklah. Ada apa ini. Tumben kamu kemari. Ada masalah apa?"


"Ehm... Pak Anwar, aku ga pernah buat masalah kan pak? Sekarang aku sedang terlibat masalah pak."


Bapak kepala sekolah yang sedang asik membubuhkan nilai pada tumpukan buku itu, tiba-tiba mengangkat kepalanya, menatap kedua mata Mutiara.


"Kau terlibat masalah, Tiara?" tanyanya mengulang perkataan Tiara seakan tidak percaya.


Tiara mengangguk.


"Masalah apa, saya akan mendengarkanmu."


Aku menatap bapak kepala sekolahku itu, "Tapi sebenarnya saya takut mengatakan ini, pak. Takut seandainya bapak memilih tidak percaya pada perkataanku."


"Kenapa bisa seperti itu? Ceritakanlah. Biar aku dapat menilai apakah dapat mempercayai ceritamu."


Aku diam. Berpikir.


"Ini tentang Pak Ardi. Dia bukan guru pengampu di kelas saya, pak. Hanya saja, saya mengikuti ekskul bimbingannya."


"Saya merasa risih, dia selalu membayangi saya. Memberikan perhatian lebih pada saya, dan membuat teman-teman terdekat saya menjadi tak nyaman."


"Berikan contoh perhatiannya padamu yang tidak dilakukan pada siswa yang lain."


"Aku tak yakin, bapak akan mempercayaiku."


"Katakan saja, biar bapak yang memutuskan untuk percaya atau tidak."


"Lebih penting lagi, kau harus percaya pada bapak, untuk menyampaikan fakta yang kau alami."


"Tentu pak. Saya percaya bapak, itu alasannya saya memberanikan diri kemari menceritakannya pada bapak, daripada yang lainnya." kataku tak mau kalah.


"Pak Ardi selalu berjalan menggandeng motornya setelah ekskul bubar. Beberapa kali dia mengejarku saat pulang sekolah. Seperti itu pak."

__ADS_1


"Saya tidak ingin terjadi lebih dari ini, pak. Saya ingjn fokus sekolah." kataku.


"Baiklah. Kamu kembali ke kelas. Saya akan menanganinya."


"Dan Pak Anwar, saya harap bapak tidak membawa nama saya dalam proseanya. Saya khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi."


"Selamat siang pak. Saya akan kembali ke kelas."


Aku menganggukkan kepala dan undur diri keluar meninggalkan Pak Anwar yang tercengang. Entah apa yang ada di pikirannya.


Pulang sekolah, aku kembali dengan kegemaranku, membaca digital novel. Aku pencet logo kotak biru di layar androidku. Memilih novel yang kemarin belum selesai kubaca.


Lima menit aku membaca, ketika ponselku berbunyi.


"Hai.. Tiara."


"Hai ini siapa ya?"


"Adik kecil, ini om. Kemarin kan kita baru ketemu."


"Oh, om Alfred toh. Kenapa om?"


"Enggak. Ini loh, di bioskop lagi diputar film action bagus. Aku jadi inget adik kecil."


"Dih.. om. Mutiara udah gedhe, om."


"Oke, oke. Adik gedhe kalau gitu."


"Ini om udah beli tiket buat kamu, Tiara."


"Lah om. Kok tahu-tahu di beliin sih."


"Yah, om. Mutiara lagi ada ulangan om. Gimana dong."


"Ntar mubazir loh tiketnya. Udah, nonton aja. Paling juga dua jam selesai. Trus pulang deh."


"Dih si om maksa."


"Siap-siap deh. Nanti jam setengah empat om jemput ya. Jangan lupa mandi. Ntar orang sekitarmu mabuk kebauan."


"Aish. Mana ada. Mutiara kan selalu harum mewangi sepanjang hari."


"Hahaha... iya deh. Harum. Harum. Nyerah deh om kalau debat sama adik kecil."


"Yah... kecil lagi deh."


"Hahaha, iya adik besar." Si om ketawa.


"Udah ah, Tiara mau baca lagi. Tutup om. Tutup telponnya."


"Oke adik gedhe, sampai ketemu nanti sore." Klik suara telpon di tutup.


Aku kembali membaca digital novelku. Tapi waktu cepat belalu. Tiba-tiba hari menjadi sore. Yah, membaca memang sangat menyenangkan, membuat waktu tak terasa berlalu.


Aku segera mandi bersiap nonton bersama om dan tante. Setidaknya saat ini, itu pemikiranku. Aku memakai celana jeans pendekku dan kaos favoritku. Bergambar dua tupai, Chip and Dale.

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul 15.00 ketika mobil Mitshubisi Xpander om Alfred sudah menunggu di depan pagar rumah.


Om Alfred membuka kaca mobilnya yang gelap. "Naiklah!"


Aku membuka pintu belakang lalu duduk disana.


"Tante Ratna mana om?"


"Tante lagi lembur. Om disuruh berangkat. Lagi pula tante gak suka film action."


"Oh."


"Kamu pindah depan gih. Nanti dikiranya om supir Grab."


Aku tertawa, sambil berpindah posisi ke depan. Mobil itu cukup luas bagiku untuk langsung melangkahkan kaki berpindah ke depan. Apalagi dengan badan kurusku.


"Kamu kelas berapa, Tiara?"


"Sebelas om."


" Umur kamu?"


"Enam belas om. Napa? Kecil?"


Om Alfred tertawa.


"Kalo om umur berapa?" tanyaku asal.


"Om tiga puluh lima, Tiara."


"Wah, beneran kecil deh Tiara. Cuma dapat separuh pengalaman om."


Om Alfred tertawa, "Om juga masih harus banyak belajar, Tiara."


Entah kenapa perasaanku tidak enak. Mata si om yang lagi nyetir, sering kali ke arah kakiku. Duh, rasa benar-benar tak nyaman bagiku. Untunglah kita segera sampai. Om Alfred kembali fokus pada setirnya karena lahan parkir yang berada di lantai atas gedung mall.


Setelah menemukan tempat parkir, aku turun. Dan masuk ke area mall, menuju lantai paling atas. Tiba-tiba tangan Om Alfred menggenggam tanganku. Dia menggandengku!


Aku berusaha melepaskannya. Dia menoleh padaku, "Aku tak mau adik gedhe ketinggalan langkah om. Ayo kita buru-buru. Filmnya segera diputar, Tiara."


Aku menyerah. Dia memberikan alasan yang cukup wajar. Dan aku tidak ingin dikira merasa sok cantik atau terlalu ge er dan sebangsanya.


Om Alfred bergegas memesan beberapa cemilan untum dikirimkan oleh petugas, dan bersamaku masuk ke dalam ruangan pertunjukan.


Om Alfred tak melepaskan tangannya dari aku. Sungguh, aku berasa malu ketika beberapa orang melirik ke arahku. Entah apa pikiran mereka.


Saat petugas snack datang, barulah dia melepaskan tanganku. Ah, lega rasanya.


"Film yang bagus bukan?", Om Alfred berbisik padaku. Begitu dekat, sampai napasnya terasa di leherku. "Apa kau tidak kedinginan, AC nya terlalu dingin bukan?"


"Eh, iya om." kataku sekenanya.


Tiba-tiba tangan Om Alfred mendarat di bahuku. Merengkuh aku seperti hendak memeluk supaya tidak kedinginan.


"Om Alfred, aku gak kenapa-kenapa. Gak terlalu dingin, kok."

__ADS_1


Aih, jawabanku jadi masalah buat aku. Aku harus berhati-hati atas jawabanku berikutnya.


"Tiara, apa kau sudah punya pacar?"


__ADS_2