
Setelah anak-anak Dr Sofyan mengetahui kondisi orang tuanya saat ini ia kembali harus dihadapkan pada kedua orang tuanya.
Mantan istrinya lebih memilih untuk mengasingkan diri bersama selingkuhannya dan meninggalkan setumpuk masalah.
Karena jadwal kerjanya yang begitu sibuk tidak memungkinkan bagi dokter Sofyan melakukan perjalanan luar kota untuk memberitahu masalah keluarganya pada kedua orang tuanya.
Ia akhirnya memutuskan untuk menghubungi dan mengundang orang tuanya kekediamannya agar ia bisa secepatnya memberitahu hal ini.
"Bapak maaf saya menggangu di jam segini, apa bapak dan ibuk sudah istirahat.?"
"Belum lek, bapak sama ibuk masih santai-santai di depan tivi, toh masih jam setengah sembilan malam."
"Oh ngeh pak..hmmm begini pak, saya sudah pesankan tiket pesawat pagi untuk bapak dan ibuk. Saya harap bapak dan ibuk bersedia datang kesini karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan."
"Hal penting?" ibunya langsung menjawab karena memang panggilan itu dalam mode speaker.
"Kenapa lek? apa ada masalah sama anak-anakmu?"
"Bukan buk, cuman ada beberapa hal yang perlu saya bahas sama ibuk dan bapak, sekalian juga kan bapak sama ibuk sudah lama ndak ketemu sama Rayhan dan Rifki.
"Benar juga lek, ibuk sudah kangen sama mereka juga, yo pak."
"Baik lah besok bada subuh kami siap-siap yah lek, bapak sama ibuk ndak bisa bawa oleh apa-apa lo, wong kamu ngasih tahu ya dadakan gini."
"Ndak papa pak, yang penting bapak sama ibuk janji sampai sini saja anak-anak sudah pasti senang."
"Oh iya bilang sama istrimu ndak usah masak atau bikin makanan banyak-banyak yah, ndak usah repot- repot kasihan dia nanti kecapekan. Istrimu kebiasaan kalo ibu disana selalu dibikinkan makanan sing akeh."
"Oh iya buk baik. Ya sudah yah bu. Sampai ketemu besok pak buk, Assalamualaikum."
Hati dokter Sofyan seketika hancur berkeping-keping mengingat betapa istrinya selama ini begitu menyayangi orang tuanya seperti orang tuanya kandungnya sendiri.
"Rahasia apa ini Tuhan... bantu hamba melalui ini semua."
Sebelum istirahat dokter Sofyan sudah berpesan pada supir pribadinya untuk menjemput kedua orang tuanya di bandara.
Keesokan paginya dokter Sofyan selesai melakukan visit ke kamar pasien, hari ini juga tidak ada jadwal operasi melahirkan. saat ia melihat hari sudah menunjukkan pukuk 11.35 ia merasa orang tuanya sudah sampai di kediamannya.
Baru saja ia hendak melangkah teleponnya berdering,
"Lek bapak sudah di rumahmu... kamu dimana lek?"
"Oh iya pak saya langsung ke atas yah pak."
__ADS_1
Lift untuk menuju kediaman dokter Sofyan memang berbeda dari lift lainnya, hanya ia dan keluarganya yang bisa mengakses lift khusus itu.
Termasuk asisten rumah tangganya harus menggunakan lift yang lain. Dokter Sofyan memang terkenal menjaga privasi kehidupan pribadinya.
Saat keluar dari ruangannya ada pintu khusus yang langsung terhubung ke lift pribadinya. Tombol tujuan di lift itupun hanya memiliki satu nomor yaitu lantai 9.
Saat keluar dari lift langsung dihadapkan dengan ruang keluarga yang Luas serta disebelah kiri jalan dihiasi dengan kolam ikan kecil yang dipenuhi oleh taman kecil dan bunga-bunga indah yang menambah kesan teduh di ruangan itu. Cahaya matahari yang masuk pun cukup untuk membuat ruangan itu semakin hangat.
"Bapak ibuk, sudah dari tadi?"
"Ndak lek, tadi ibuk mampir beli sesuatu di jalan makanan buat dua cucu sholeh ibuk."
" Mana mereka? belum pulang sekolah?
"Iyah buk nanti sekitar jam 5 sore mereka baru balik."
timpal dokter Sofyan
"Istrimu mana lek? bapak sama ibuk ndak lihat dari tadi."
Dokter Sofyan langsung membimbing mereka menuju kursi tamu perlahan sambil berjalan dokter Sofyan menghela nafas panjang. Baginya lebih cepat orang tuanya tahu lebih baik.
"Begini pak bu, saya minta maaf sebelumnya sudah mengundang bapak ibuk secara mendadak seperti ini. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Saya rasa kabar ini sebaiknya harus diutarakan langsung tidak melalui telepon."
"Lek semua baik-baik saja kan?"
ibunya langsung menggenggam tangan dokter Sofyan.
"Saya dan Arita sudah bercerai buk."
"Astagfirullah apa lek? bapak tidak salah dengar kan?"
"Ya Allah Ya Rabb... lekkk... kenapa ini?"
Bapaknya langsung berdiri terkejut serasa tidak percaya anak semata wayangnya yang sudah memasuki usia paruh baya malah mengalami kemelut rumah tangga yang seperti ini."
"Bapak tidak percaya, kenapa bisa jadi seperti ini?"
Ibunya benar-benar terkejut dengan ucapan dokter Sofyan, air matanya jatuh tanpa terasa dan ia menunduk sambil menghela nafas panjang, ia tahu betul siapa anaknya. Ini bukanlah keputusan atau jalan hidup yang akan dipilih oleh anaknya.
"Saat ini saya tidak bisa memberitahu alasan apapun pak, karena jujur saya juga masih berat menerima semua ini."
"Saya harap bapak dan ibuk mengerti semoga ini keputusan terbaik untuk kami, bagi saya Arita dan anak-anak."
__ADS_1
Bagi dokter Sofyan memberi tahu alasan perceraiannya sama saja dengan membuka aib mantan istrinya. Biarlah ini menjadi
rahasia yang harus ia jaga. Walaupun lambat laun kehamilan Arita pasti akan terbongkar.
"Ibuk paham lek, ibuk yakin kamu sudah berusaha menjadi suami dan bapak yang baik, tapi Qadarullah ini sudah menjadi ketentuan Allah Azza Wa Jalla."
Mereka sadar saat ini yang dibutuhkan anaknya hanya dukungan dan kehangatan dari keluarganya.
"apa anak-anakmu sudah tahu.?"
walaupun ayah dokter Sofyan tidak terima dengan keputusan ini tapi ialah yang paling mengerti tentang kehancuran hati putranya.
" Sudah pak, mereka Alhamdulillah sangat paham."
In syaa Allah masalah ini akan cepat berlalu seiring berjalannya waktu.
"Ya sudah lek, kamu masih ada jadwal kerja kan, silahkan dilanjutkan ibuk sama bapak mau istirahat sebentar sambil nunggu cucu-cucu ibuk."
"Baik buk., saya pamit kebawah yah buk, kalau bapak ibuk butuh apa-apa ada mbak darmi yang siap bantu yah."
"Ngeh..."
Dokter Sofyan merasakan kekecewaan orang tuanya.
......................
Pukul 17.30 dokter Sofyan sudah kembali ke kediamannya setelah menyelesaikan praktek dan konsultasi kehamilan.
ia pun mendapati anak-anak sedang bersenda gurau dengan orang tuanya. Ia teringat kembali beberapa saat lalu ia masih memiliki keluarga yang utuh dan harmonis.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumussalam" jawab mereka serentak, anak-anaknya pun langsung menyusul dokter Sofyan keluar dari liftnya.
"Papa... " Mereka secara bergantian mencium tangan ayahnya dan memeluk ayahnya.
"Bapak ibuk sudah makan kah?"
"Tadi sudah lek siang, ibuk sama mbak darmi tadi sudah masak semur udang kesukaan mu. Kamu bersih-bersih yah lek kita shalat berjamaah terus makan malam sama-sama."
"Ngeh buk."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1