Dilema Cinta SangDokter

Dilema Cinta SangDokter
Sp.An


__ADS_3

Selamat datang Dokter Melani, wah wajah dokter cerah sekali hari ini." Sapa salah seorang tim bedah diruangan itu.


"Maa syaa Allah, Bapak bisa aja, cuaca hari ini juga bagus sekali ya pak,." timpal melani


"Dokter ... apa ia seorang dokter? apa ini pekerjaan yang ia maksud. kenapa selama ini aku tidak pernah tahu ia tergabung dalam tim ini."


Tentu saja pernikahan yang berlangsung begitu cepat membuat Sofyan tidak sempat menelusuri latar belakang dan pekerjaan istrinya.


Ia melihat sekilas di berkas siapa saja daftar dokter penanggung jawab hari ini yang bertugas.


"Dr Melani humaira putri Sp.An. ternyata dia seorang dokter spesialis anastesi."


Sofyan sedikit kikuk ia benar-benar tidak mengetahui latar belakang istrinya.


Kebingungan dokter Sofyan pun tertangkap oleh Melani, istrinya pun hanya mampu tersenyum kecil melihat tingkah suami barunya.


......................


Setelah hampir 45 Menit operasi selesai dilakukan dengan baik dan selamat.


"Baiklah terimakasih semua untuk kerja samanya, bayi dan ibu sehat. Saya mohon diri untuk melanjutkan kegiatan hari ini. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam dok, jawab seluruh tim diruangan itu "


Sofyan pergi tanpa menoleh kembali pada Melani yang tengah sibuk mempersiapkan kepindahan pasien untuk kembali ke ruang rawatan.


Begitulah awal pengenalan sepasang suami istri ini dalam diam. Sofyan tidak menyadari bahwa ia menikahi rekan kerjanya yang entah dari kapan ada di sekelilingnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 Melani bergegas menuju pintu khusus untuk kembali ke kediaman Sofyan. Ia ingin saat Sofyan sudah berada di rumah ia sudah terlebih dahulu menyiapkan makan malam dan kebutuhan suaminya.


Pas pukul 17.30 Seperti biasa Sofyan pulang kerumah dan mengucapkan salam saat keluar dari lift.


Dirumah saat ini hanya tinggal kedua orang tua Sofyan karena kedua anaknya telah lebih dulu pamit pagi-pagi untuk kembali ke asrama.


"Sudah selesai lek kerja nya.? Istrimu sudah masak makan malam, siap-siap yah lek kita makan malam bersama."


"Ngeh buk."


Melani langsung mengambil jas dokter Sofyan yang berada di tangan kirinya dan tas kerja suaminya. Dan mencium lembut tangan suaminya.


Ia benar-benar melayani sofyan dengan ramah.


Melani bahkan menyiapkan baju ganti dan handuk diatas tempat tidur, Ia juga meletakkan teh jahe hangat di atas meja kerja suaminya.

__ADS_1


Sofyan benar-benar dibuat terkejut dari mana istri barunya tahu semua kebiasaannya.


......................


Saat makan malam keluarga terlihat orang tua Sofyan begitu cepat akrab dengan Melani. Tapi berbeda dengan Sofyan masih canggung dan diam seribu bahasa.


"Lek besok bapak dan ibuk berencana balek ke kampung. kasihan ayam kampung bapak sama tanaman ibuk ndak ada yang ngurusin yah buk."


"Bener lek, ibuk berdoa semoga rumah tangga kamu langgeng yah, adem ndak ada masalah apapun. Aamiin."


"Ngeh buk, nanti malam saya akan urus tiket kepulangan ibuk."


"Mungkin besok saya ada jadwal operasi jam 09.00 pagi, ibuk diantar supir saja boleh yah. Atau ibuk mau diantar sama Melani?"


"Yo ndak toh lek, kalo kamu ada jadwal operasi berarti Melani juga ada jadwal besok toh lek, kamu itu pie sih lek."


"Jadi ibuk dan bapak tahu kalau Melani kerja di Klinik saya?"


"Hahah..hahaha la iyo toh lek, mana mungkin ibuk sama bapak ndak tahu latar belakang menantu ibuk."


Sofyan diam seribu bahasa, ia merasa hanya ialah satu-satunya orang yang sama sekali tidak tahu siapa itu pendamping hidupnya.


Melani hanya tersenyum lembut saat mendengar percakapan mereka.


Tapi kali ini Sofyan langsung cepat menangkap gerak Melani, ia mencoba memenuhi rasa ingin tahunya, "Maaf apa kamu baru bergabung dengan tim bedah di klinik?"


"Hmm bisa di bilang baru pak, bulan depan sudah memasuki tahun ke tiga."


"tahun ketika?..." dokter Sofyan langsung terpukau mendengar jawaban polos dari Melani.."


"Apa karena alasan itu kamu tidak menolak pernikahan ini?"


Melani berjalan beberapa langkah dan duduk di ujung kasur sambil menghadap ke meja kerja dokter Sofyan.


"Bukan sepenuhnya juga sih pak, cuman saya juga tidak memiliki alasan yang tepat pada bude Santi dan orang tua saya untuk menolak pernikahan ini."


"Apa bapak terganggu dengan pernikahan ini?"


"Bukan begitu.., saya hanya merasa begitu banyak hal yang saya tidak ketahui, mungkin saya hanya butuh waktu."


"Baiklah pak, saya izin istirahat dulu yah pak."


Sebenarnya Melani sadar akan tanggung jawabnya sebagai istri, tapi ia tidak memiliki keberanian untuk meminta hak nya sebagai istri.

__ADS_1


Akan terasa canggung bila keinginan untuk menjalankan malam pertama mereka berasal dari inisiatifnya sendiri.


Terlebih untuk membuka hijabnya saja ia masih belum mampu dihadapan suaminya.


......................


Pagi hari berlangsung seperti biasanya, tidak terasa pernikahan mereka sudah berlangsung selama 1 bulan.


Melani seperti biasa selalu menyiapkan kebutuhan Sofyan dengan teliti, sarapannya hingga baju kerja yang akan dia gunakan. Anehnya Sofyan seperti nyaman dan terbiasa dengan pilihan Melani.


"Sarapannya sudah saya siapkan di meja kerja pak. Saya permisi siap-siap dulu ya pak."


"Sebentar... apa kamu sudah sarapan.?"


Sofyan berbicara pada Melani sambil berjalan ke arah meja kerjanya.


"Sudah pak tadi, saya tidak terbiasa sarapan dengan roti, jadi tadi saya bikin nasi goreng."


"Besok suruh saja mbak Darmi datang lebih pagi untuk menyiapkan sarapan, agar lebih gampang."


"Maaf pak tapi saya rasa tidak perlu pak, lagian sudah kewajiban saya sebagai istri menjaga kebutuhan rumah dan melayani suami."


"Ohh...Ya sudah kalo begitu, maaf sudah merepotkan kamu."


Sofyan paham bahwa Melani berusaha untuk menjadi istri yang baik. Seketika Ia teringat amplop yang berada di laci kerjanya berisi uang yang sudah ia sediakan untuk nafkah Melani dan kebutuhan rumah tangganya.


"Ini uang kebutuhan rumah tangga dan uang untuk kebutuhan pribadi kamu, jika ada yang kurang kamu bisa beritahu saya."


"Oh iya boleh saya minta nomor rekening kamu? biar lebih gampang kalau-kalau ada kebutuhan mendesak."


"tingg..." Hp Sofyan tiba-tiba berdering.


"Saya sudah mengirimkan nomor telepon saya dan nomor rekening pribadi saya pak."


"Dari mana kamu bisa tahu nomor telepon saya?"


"Saya rasa semua tim dokter yang bekerja di klinik bapak menyimpan nomor telepon direktur Klinik ini pak."


Melani dibuat tersenyum kecil, lagi-lagi karena tingkah lucu suaminya.


"Oh iya saya lupa."


Sofyan langsung menyimpan nomor telepon istrinya, awalnya ia bingung harus memberi nama apa, yang terlintas dibenaknya saat itu hanya Dr Melani Humaira Putri Sp.An

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2