
Setelah proses akad selesai keluarga besar dokter Sofyan menikmati perjamuan yang sudah disiapkan. Tampak kebahagian di raut wajah kedua orang tua dokter Sofyan dan anak-anaknya.
Terkecuali Dokter Sofyan dan Melani. Mereka sama-sama memasang wajah cemas khawatir apa yang akan terjadi setelah ini karena mengingat status mereka yang sebelumnya gadis dan duda telah berganti menjadi pasangan hidup.
Setelah dirasa selesai keluarga besar dokter Sofyan izin pamit.
"Terimakasih banyak kami ucapkan pada keluarga besan yang telah menyambut kami dengan sangat baik. Mulai dari saat ini Melani putri kami dan Sofyan putra bapak. Kami izin membawa putri kami pulang malam ini pak buk."
"Oh dengan senang hati. Kami titip buah hati kami yah Pak Buk, Kami harap Melani mempu menjadi menantu putri sekaligus ibuk yang baik disana."
"Aamiin"
Diperjalananpun Dokter Sofyan diam seribu bahasa. Ia tidak menyangka wanita yang duduk disebelahnya saat ini telah sah menjadi istrinya.
dalam beberapa waktu seluruh hidupnya berubah.
Karena jarak antara klinik Dokter Sofyan dan rumah Melani tidak terlalu jauh tanpa terasa mereka sudah sampai di gerbang depannya.
Dokter Sofyan memberi kode pada karyawannya untuk menurunkan koper Melani.
Karyawan yang bertugas di pintu khusus yang menuju kediaman dokter Sofyan adalah orang kepercayaannya. Karena itu kecil kemungkinan akan timbulnya gosip apapun.
"Masuk sayang.. ibuk yakin kamu pasti lelah, silahkan langsung istirahat yah, Sofyan bawa istrimu masuk kamar."
"Ngeh buk saya pamit," ini kali kedua mereka mendengar suara merdu Melani.
Anak-anak dokter Sofyan langsung merangkul tangan Melani dan menciumnya tanda hormat. Pertanda bahwa Melani benar-benar diterima ditengah keluarga mereka.
"Silahkan masuk, disana sebelah kiri di samping ruang baju ada kamar mandi. Silahkan kalau ingin bersih-bersih."
"Baik pak terimakasih."
"pak... baiklah aku menikahi gadis yang seharusnya menjadi anak menantuku. Ya Allah... "
Dokter Softan tidak habis pikir dengan alur hidupnya.
Melani keluar dengan menggunakan hijab, ia belum terbiasa melepas hijabnya di depan lawan jenis, walaupun ia tahu lelaki itu saat ini adalah suaminya.
Ia menggunakan piyama satin bewarna lembut dengan hijab, ia tampak kikuk apakah ia harus langsung ke tempat tidur atau memulai pembicaraan dengan dokter Sofyan.
Dokter sofyan sudah lebih dulu berganti piyama tidur karena ia menggunakan kamar mandi yang lain agar Melani lebih leluasa untuk bersih-bersih.
saat melani selesai dokter Sofyan sibuk dengan laptopnya karena ada beberapa jadwal yang harus ia atur agar.
__ADS_1
tanpa sadar ia membiarkan melani berdiri selama lebih dari 15 menit.
"Oh maaf, saya sedikit terlena oleh kerjaan."
"Oh ndak apa-apa pak, hmm saya cuma mau tanya saya harus tidur dimana yah pak?"
Sofyan menangkap maksud dari pertanyaan Melani, malam ni bukanlah malam pertama mereka karena malam ini mereka masih harus menyesuaikan satu sama lain.
"Oh iya kamu bisa tidur di kasur saya akan tidur di sofa itu."
Sofyan menunjuk sofa empuk besar yang ukurannya hampir separoh kasur yang ada di kamarnya. Memang Sofyan memiliki selere interior yang mewah.
Jadi untuk malam ini ia aman tidur di sofa empuk yang nyaman.
"Baiklah terimakasih pak., selamat malam."
...****************...
"Baiklah malam ini akan seperti malam-malam sebelumnya, Melani kamu bisa kamu kuat."
Walaupun ini terjadi begitu singkat tapi ia yakin setiap peristiwa pasti ada hikmahnya.
"Dokter Sofyan orang yang baik, kamu tahu itu Melani. Terlepas dari apapun alasan perceraiannya. Saat ini ia suamimu."
Suasana canggung ini berlangsung cukup lama hingga mereka tidak sadar sudah hanyut dalam tidur.
Keesokkan paginya Dokter Sofyan terbangun dan mendapati Melani sudah tidak ada dikamarnya. Ia melihat mukena Melani sudah tersusun rapi di sudut lemari pakaiannya.
Saat dokter Sofyan hendak keluar kamar, bersiap untuk sarapan Melani membawa secangkir susu coklat hangat dan roti.
"Maaf pak saya kira bapak mau sarapan di kamar."
"Oh iya biasanya saya memang sarapan dikamar, silahkan tarok dimeja kerja saya, terimakasih sebelumnya."
Setelah meletakkan sarapan Sofyan, Melani langsung membersihkan tempat tidur dan meletakkan pakaian kotor Sofyan di keranjang kain kotor. Ia seperti sudah tahu apa saja tanggung jawabnya sebagai istri.
"Darimana ia tahu kebiasaan pagi ku." ucap Sofyan membatin.
"Saya izin pamit keluar pak, kalau bapak butuh sesuatu bisa panggil saya,."
"Oh iya baik, terimakasih sebelumnya."
Suasana ini bukannya seperti suasana awal pernikahan malah seperti suasana memiliki assisten pribadi sendiri.
__ADS_1
Melani melangkah keluar kamar, tapi ia menghentikan langkahnya dan ia berbalik menuju Sofyan yang tengah duduk di meja kerjanya.
"Maaf pak sebelumnya, apa boleh saya melanjutkan pekerjaan saya sebelumnya?"
"Pekerjaan? oh boleh silahkan."
tanpa pertanyaan lebih lanjut Sofyan langsung mengiyakan permintaan sang istri barunya.
"Terimakasih banyak pak, In syaa Allah sebelum bapak selesai praktek saya sudah dirumah."
Dengan lembut Sofyan mengiyakan keinginan Melani.
......................
Sesampainya diruangan praktek Sofyan langsung melakukan konsultasi dan di lanjutkan kunjungan rutin bagi pasien-pasiennya yang sedang dirawat.
Ia diberitahu hari ini ia mempunyai 2 jadwal operasi melahirkan dengan kelompok timnya. Satu pukul 10.45 yang satu pukul 14.00.
Saat hari menunjukkan pukul 10.30 ia langsung bersiap menuju ruang operasi karena persiapan operasi akan segera di mulai.
"Assalamualaikum, apa semua sudah berkumpul?" ucapnya pada seluruh tim yang berada di ruangan operasi.
"Sudah dok, persiapannya juga sudah hampir selesai, 5 menit lagi pasien akan memasuki ruangan dok." ucap salah satu perawat.
"Oke baik.. hmm hari ini adalah proses kelahiran kembar dengan usia kandungan 37 minggu 2 hari. Riwayat kesehatan ibunya normal, tekanan darahnya normal. In syaa Allah semua bisa berjalan dengan baik yah.
"Aamiin dok."
Setelah memberi sedikit penjelasan Sofyan langsung bersiap-siap. Tidak selang beberapa lama pasien masuk di dampingi satu perawat dan satu wajah yang kini tak asing baginya.
"Melani.. ya Tuhan apa benar itu melani."
Sofyan begitu terkejut saat melihat sosok yang sedang berjalan menuju arahnya itu ternyata adalah istri yang baru ia nikahi kemaren malam.
"Sedang apa ia disini."
Kebingungan Sofyan tampak jelas saat matanya tak habis-habis memandang Melani.
"Dok..dokter Sofyan.. ini berkas yang harus dokter tanda tangani."
Lamunan terhenti karna penggilan perawatnya.
"Oh baik..,"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...