
Anak-anak dokter Sofyan menepati janji nya untuk menginap dirumah ayahnya pada saat akhir pekan. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu bersama di rumah ketimbang bermain dengan teman-temannya di luar.
Sore hari mereka tengah berkumpul semua di depan ruang keluarga, "Lek ada yang mau ibu sampaikan."
"Ngeh buk,"
"Bapak sama ibuk sudah berbincang semalam, kami rasa saat ini kita memang harus menerima kenyataan bahwa status mu sudah menjadi duda."
"Alangkah baiknya jika kamu kembali mencari pendamping hidup karena ibuk dan bapak tahu usiamu tidak lagi muda, bahkan sudah memasuki usia paruh baya. Bapak dan ibuk juga sudah sepuh lek."
"Ibuk juga sudah bicara dengan anak-anakmu dan mereka Alhamdulillah setuju."
Dokter Sofyan terdiam ia tidak menyangka orang tuanya secepat ini memilihkan jalan hidupnya.
Hanya dalam waktu satu malam orang tuanya sudah memutuskan hal yang diluar dugaannya. Tapi lidahnya tak mampu untuk membantah perkataan orangtuanya.
"Kamu ingat lek bude Santi tetangga lama kita di kampung dulu, dia pernah cerita ke ibuk kalau ponakannya ada yang tinggal di kota ini. Nah waktu itu dia pernah bilang ke ibuk kalo ponakannya itu lagi cari jodoh, usianya sekitar 30 an lek."
"Kami sempat bertukar nomer telepon dulu, semalam bapak sama ibuk sudah menghubunginya dan memastikan bahwa ponakannya itu masih belum menikah lek.
"Ibuk sudah buat janji dengan kedua orang tuanya, nanti malam bada isya kita menuju ke sana yah lek."
"Mereka dari keluarga baik-baik lek, orang tua dan keluarga besar bude santi setuju lek dengan niat baik kita."
"Pie? toh kamu boleh kan setelah perceraian langsung menikah,"
"Ibuk harap kamu setuju yah nak."
Dokter Sofyan benar-benar terkejut, baginya niat orang tuanya diluar dari nalarnya, ia menoleh ke anak-anaknya anehnya dengan wajah teduh kedua anaknya menganggukkan kepala tanda setuju dengan niat eyang mereka.
"Tapi buk belum tentu wanita itu mau menerima saya dan anak-anak saya buk."
"Sudah-sudah tidak usah terlalu khawatir. Kamu siap-siap kita bada isya langsung menuju kesana yah."
Tanpa perlawanan dokter Sofyan mengikuti kemauan orang tuanya.
Mereka menggunakan mobil Alphard agar seluruh anggota keluarga muat dalam satu mobil
__ADS_1
......................
Sesampainya di tujuan mereka telah ditunggu dan disambut dengan hangat oleh keluarga bude Santi. Bude Santi dan suaminya pun telah menunggu disana.
Saat menerima kabar dari orang tua dokter Sofyan bude Santi langsung terbang sekeluarga untuk mengurus segala persiapan.
"Assalamualaikum, Maaf kami sedikit terlambat."
"Waalaikumussalam mbak Ratna, lama tak jumpa."
Setelah beramah tamah mereka sekeluarga berkumpul untuk membicarakan niat kedatangannya.
"Begini ibuk bapak, saya beserta keluarga ingin menyampaikan niat yang baik. Kami ingin menyambung tali persaudaraan kita yang sudah lama terjalin agar lebih erat."
"Seperti yang sudah kami sampaikan sebelumnya, Kami mohon maaf jika ini terkesan mendadak. Tapi alangkah baiknya jika niat baik ini kita segerakan."
Ayah Dokter Sofyan memulai pembicaraan dengan baik.
"Bismillah, kami berniat melamar putri bapak untuk anak kami Sofyan. Kami akan sangat bahagia jika lamaran kami ini dapat diterima oleh keluarga besar disini."
"Baik bapak, perkenalkan saya Kamarul adik dari mbak Santi. Sekaligus ayah dari Melani humaira putri. Kami selaku keluarga besar sangat bahagia menyambut niat baik bapak dan ibuk."
"Kami mohon izin bapak ibuk untuk memanggil anak kami,"
"Maa syaa Allah, dengan senang hati pak. Kami juga ingin melihat wajah calon putri kami In syaa Allah."
Perlahan pintu kamar di ujung ruangan terbuka dengan perlahan. Sosok Melani yang di dampingi oleh ibunya berjalan dengan gaun putih indah yang di baluti kerudung putih panjang tampak indah dipandang mata. ditambah hiasan mahkota di kepalanya menambah anggunnya paras Melani. Semua mata tertuju pada wanita itu.
Melani duduk tepat di samping ayahnya. Dengan lembut ayahnya bertanya "Melani apakah kamu menyetujui pinangan ini?"
Seketika ruangan hening tak bergeming. Melani perlahan mengangkat wajahnya menoleh ke arah kedua orang tua dokter Sofyan dan anak-anaknya lalu membalas menoleh ke arah kedua orang tuanya.
Dengan lembut ia menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Alhamdulillah." ucap orang tua dokter Sofyan.
Ucapan itu sontak mengejutkan lamunan dokter Sofyan yang sedari tadi menunduk tanpa berkata sepatah kata apapun.
__ADS_1
Ia tersadar bahwa ia sama sekali tidak memiliki kuasa untuk melawan kehendak orang tuanya.
"Berhubung Melani sudah menyetujui perjodohan ini, saya rasa kita harus melangkah ke jenjang berikutnya." timpal ayah dokter Sofyan.
"Ibuk bapak dan seluruh keluarga besar Melani. Kami berniat melangsungkan pernikahan antara anak kami Sofyan dan Melani malam ini juga. Kami juga sudah membawa mas kawin sebagai mahar."
"Bagaimana menurut bapak dan ibuk, untuk urusan surat menyurat nanti akan kami limpahkan kepada pengacara kami dalam pengurusannya."
Ayah Melani tampak tidak terkejut karena memang semua sudah direncakan oleh orang tua dokter Sofyan dan bude Santi sebelumnya.
Hanya dokter Sofyan yang sama sekali tidak mengetahui secara rinci agenda pertemuan malam ini.
Sontak dokter Sofyan terkejut mendengar ucapan ayahnya. Untungnya ibunya langsung menggenggam tangan anaknya pertanda bahwa semua akan baik- baik saja.
"Kami dari pihak perempuan mengikut saja pak buk, cuman apakah nak Sofyan menyetujui niat ini."
Dokter Sofyan terlihat kikuk kebingungan tidak tahu arah, belum habis trauma yang dibuat oleh mantan istrinya ia harus dihadapkan dengan pernikahan yang serba mendadak ini.
"Sofyan bagaimana nak? calon mertuamu meminta persetujuanmu."
Ibu dokter Sofyan tahu persis siapa anaknya, ia akan menurut apapun keputusan orang tuanya apalagi menyangkut masa depannya.
"Sa...yaa setuju pak."
Walaupun usia calon mertua laki-laki dirasa tidak terpaut jauh darinya tapi suasana ini membuat semua terlihat sangat formal.
"Baiklah.. Untuk mempersingkat waktu mari kita mulai ijab qabulnya."
"Sofyan saya nikahkan Melani Humaira Putri anak kandung saya dengan maharnya 25 emas dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya anak kandung bapak Melani Humaira Putri dengan maharnya 25 emas dibayar tunai."
"Sah.. sah..sah..."
"Alhamdulillah"
sontak seluruh orang dalam ruangan itu mengucap syukur ijab qabulnya mampu berjalan lancar dengan satu lafaz.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...