Dosenku Menikahiku

Dosenku Menikahiku
Yash kepoin laptop Pak Arga


__ADS_3

Beberapa hari lalu, pria itu melamarku. Entah darimana dia berasal. Entah darimana dia datang. Aku hanya terduduk dengan wajah tertunduk tanpa berani menatap siapapun disekitarku.


Aku perempuan 22 tahun. Saat ini harusnya aku sedang menanti wisudaku kalau saja skripsiku bisa ku tuntaskan.


Aku terdiam dan hanya pasrah saat pria itu mengucapkan ijab kabulnya dihadapan ayahku.


Aku tak sekalipun melihat paras dari laki-laki yang saat ini menikahiku. Aku tak punya sedikit keberanian untuk menatapnya. Dia yang kini sudah sah menjadi suamiku sudah sangat berbesar hati dengan menerima keadaanku. Aku yang tengah mengandung.


Aku tidak pernah sekalipun berbuat tidak senonoh dengan pria manapun. Bahkan sampai saat ini aku belum pernah berpacaran. Malam naas itulah yang membuatku berbadan dua seperti saat ini. Malam saat rumahku kemasukan seorang pencuri. Namun saat itu hanya ada aku saja didalam rumah. Orang tuaku sedang pergi keluar kota untuk menghadiri undangan pernikahan saudara. Aku yang saat itu sedang sibuk menyusun bab awal skripsiku sengaja tak ikut karena ada janji dengan dosen pembimbing esok harinya.


Malam itu belum terlalu larut, namut cukup membuatku sangat mengantuk dan merebahkan tubuh dikasur empukku. Laptop dan semua buku-buku yang baru ku gunakan masih ku biarkan berantakan diatas meja belajarku. Sejenak aku terlelap, sampai suara itu terdengar dan membuatku terbangun.


Aku membuka telinga lebar-lebar memastikan suara apa yang tadi membuatku meninggalkan mimpi yang hampir indah. Samar namun jelas suara itu menggelitik telinga. Memang tak seberisik tadi, kali ini suaranya pelan saja. Kalau tadi seperti durian yang jatuh dari pohon, sekarang suaranya masih ada namun seperti langkah kaki.


Aku kaget, aku takut. Pasti ada pencuri yang masuk kerumah. Seketika aku mencari hp yang sedang diisi daya di atas meja belajarku. Lampu kamar yang tadi sudah ku matikan sengaja tak ku nyalakan lagi, supaya pencuri itu tidak mengetahui aku yang tengah siaga.


Tubuhku menggigil ketakutan, dirumah ini hanya ada aku seorang. Kalaupun aku berniat melawan, itu hanya akan percuma. Bagaimana kalau mereka berdua atau bertiga atau bahkan lebih banyak lagi. Perlahan aku merangkak mencoba mengambil gawai yang belum terisi penuh daya.


Butiran bening berjatuhan tak terbendung lagi, aku panik. Begitupun tubuhku yang mulai lembab nyaris basah terguyur peluh menegangkan. Langkah itu terdengar semakin dekat. Lalu aku harus berbuat apa?


Gawai yang masih tercantol ku cabut paksa dari pengisi daya, selanjutnya ku sembunyikan tubuh ini dibawah ranjang tidurku. Nafasku seperti diburu, peluh dengan butiran tak beraturan semakin deras bercucuran begitupun air mata ini yang terus mengalir. Tuhan, semoga langkah kaki itu tidak tertuju kemari. Aku bukan superwomen yang sanggup mengadapi situasi genting seperti ini. Biarkan aku berdamai ditempat persembunyianku tuhan.


Terus hati ini bergumam sambil sesekali berdoa untuk keselamatanku sendiri.


Sejenak nafasku agak lega, langkah itu seperti menjauh dari kamarku. Dan nyaris tak terdengar. Namun tak sedikitpun keberanian menghampiriku. Aku masih bersembunyi dibawan twmpat tidur.


Entah apa yang mereka ambil dan lakukan diluar sana. Mungkin mereka sedang berada dikamar tidur orang tuaku. Aku beralih ke gawai yang ku pegang dan mengirimi ayahku sebuah pesan bahwa rumah kami kemasukan maling.

__ADS_1


Pesanku terkirim. Dan seketika balasan pesan ku terima. Gawaiku berbunyi. Tuhan, aku lupa mematikan volume nya.


Belum sempat ku buka pesan balasannya, langkah kaki itu kembali mendekat dan berhenti tepat didepan pintu kamarku. Spontan aku matikan saja gawaiku agar tak berbunyi lagi karena panik.


Aku membekap mulutku sendiri agar tak mengeluarkan suara apapun. Mulutku gemetar, badanku ikut menggigil. Getaran yang dihasilkan tak dapat aku kendalikan, tubuhku seperti terserang gempa bumi disekujur tubuh.


Tak lama terdengar suara pintu kamarku terbuka. Sreeeeetttt. Pelan namun membelah kesunyian. Ada seseorang mulai melangkah masuk, menyalakan lampu kamar dan langkah pelan menyisir setiap sudut diruang tidurku ini.


Ku pastikan tak ada bunyi yang bisa membuat orang itu berniat melongo kebawah tempat tidur. Langkahnya bergerilya kesetiap sudut dan mulai mendekat kearah pintu. Dan berhenti dua langkah dari daun pintu. Aku tertegun, tubuhku semakin tak menentu ku rasa. Gemetar dan panas dingin.


Air mata yang sudah deras semakin membanjiri pipiku. Baju tidurkupun sudah basah karena peluh. Mulutku terus berkomat kamit. Mataku sudah tak sanggup terbuka. Aku takut setakut takutnya. Ku pejamkan mata, mulutku tetap ku bekap dengan tanganku sendiri. Tuhan tolong aku kali ini saja, aku takut. Gumamku dalam hati.


Sreeeekkk. Pintu kamarku tertutup. Sepasang kaki itu tak nampak lagi disana. Tubuhku lemas. Aku tak sanggup lagi terus berada disini. Aku harus keluar, aku rasa pencuri itu hanya sendiri. Karena tak ada suara lain selain sepasang kaki tadi.


Aku bergegas menuju jendela kamarku yang langsung menuju taman belakang. Jendela yang semula terkunci, ku buka secara perlahan agar tak menimbulkan bunyi. Perlahan jendelanya terbuka dan tak berfikir lagi aku mencoba keluar.


Dengan mengendap-endap, aku berjalan setengah membungkuk menuju pintu belakang yang langsung terhubung ke dapur. Kalau benar dugaanku, harusnya pencuri itu sedang berada dikamar tidur orang tuaku dan itu akan memudahkanku untuk mencapai pintu depan dan keluar.


Aku kembali masuk ke kamar tidurku, namun saat kaki kananku memanjat melewati jendela kakiku tersandung dan aku terjatuh dengan kepala membentur ujung meja kecil disamping tempat tidurku. Mataku berkunang, dan semua terlihat samar sebelum akhirnya gelap.


Keesokan harinya aku terbangun dengan tubuh yang terbaring ditempat tidur. Bajukupun sudah berganti bukan yang semalam ku pakai. Tak mungkin semua ini hanya mimpi. Kepalaku masih terasa pusing, ada beberapa memar di tubuhku. Tapi terakhir yang ku ingat, aku terjatuh dan tersungkur membentur meja kecil itu. Dan pencuri itu? Aku melihat kesekeliling, jendela yang terbuka menampakan cahaya pagi yang terpancar dari luar sana. Sepertinya sekarang sudah pagi. Tapi siapa yang membaringkanku ke tempat tidur, dan menggantikan bajuku semalam,?


Pertanyaan itu semakin membingungkan bagiku. Badanku serasa aneh. Mana mungkin kejadian semalam itu hanya bunga tidurku?


Aku mencoba beranjak dari tempat ku berbaring. Badanku terasa tidak enak dan aneh. Aku keluar, menuju ruang dapur. Terdengar suara ibu dan ayah disana. Aku menghampiri mereka.


Melihatku mendekat, mereka spontan berlari kearah ku. Mereka terlihat panik.

__ADS_1


Jadi apa yang terjadi semalam? Dan apa yang terjadi sama pencuri itu? Banyak sekali pertanyaan dalam benakku, namun tak ada satupun yang terjawab.


Ibu dan ayah tak pernah membahas kejadiaan malam itu, setiap aku bertanya atau menyinggung perihal malam itu pasti langsung mereka alihkan.


Masa ia, semua hanya halusinasiku saja. Tapi yang aku rasakan seakan nyata. Dan satu lagi, pesan yang sempat ku kirim itu pun benar adanya.


Dua bulan sudah berlalu. Aku kembali ke rutinitasku. Aku pergi ke kampus dan mengurus persiapan skripsiku yang sudah memasuki bab 1. Seiring kesibukanku yang cukup menguras waktu dan tenaga itu, tubuhkupun terasa menjadi sedikit terpengaruh. Pikiranku yang terlalu di forsir untuk skripsiku membuatku cepat lelah bahkan sesekali aku pingsan.


Tak ada yang aneh dari itu semua, orang-orang terdekatku hanya mengingatkanku untuk lebih banyak beristirahat.


Hari ini aku ikut bimbingan bersama dosenku. Kali ini aku hanya bimbingan seorang diri, karena di pertemuan sebelumnya aku tidak bisa hadir jadi ku atur ulang dengan meminta bimbingan lain khusus untukku hari ini agar aku tidak tertinggal. Beruntung dosenku itu teramat baik.


Menuju bab dua, tubuhku semakin melemah. Aku pingsan diarea kampus sampai dilarikan kesebuah klinik terdekat dari kampusku. Alifa dan Hasna yang saat itu ku lihat setelah siuman, tak lama dosenku masuk bersama dokter yang merawatku.


Terlihat mereka setengah berbisik sebelum akhirnya orang tuaku datang. Ibuku menangis khawatir begitupun ayah yang menunjukan raut kesedihan yang sama. Aku mencoba menenangkan mereka, bahwa aku baik-baik saja.


Alifa dan Hasna pamit, hanya ibu saja yang kini menemaniku. Sementara ayah dan dosenku pergi keluar untuk berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan.


Sementara, ibu yang menemaniku mencoba mengatakan sesuatu yang kemudian aku sendiri tak bisa mempercayainya. Awalnya aku pikir mereka sedang membuat suatu lelucon, namun penyataan mereka dibenarkan oleh dokter yang merawatku. Aku hamil.


Semenjak saat itu, ayah dan ibuku tidak membiarkanku pergi ke kampus. Skripsiku ditunda. Dan ayahku sudah menyiapkan pernikahanku. Seorang anak perempuan yang tengah mengandung tak mungkin di biarkan begitu saja. Anakku nanti butuh seorang ayah. Namun aku sendiri tidak tahu siapa ayah dari anakku ini. Pikiranku melayang pada kejadian malam itu, pencuri itu. Dan entahlah. Aku sendiri tak mengerti.


Kini aku hanya bisa pasrah menerima pernikahan ini bersama pria yang tak pernah aku kenal namun bersedia menikahiku walau orang tuaku mengatakan kalau pria itu sudah mengetahui keadaanku.


Impian pernikahan yang selama ini aku hayalkan musnah sudah. Anganku kandas. Sesak rasa didada ini benar-benar memuncak. Kesalahan apa yang aku perbuat sehingga aku mengalami hal seperti ini. Terlebih, aku sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengetahui pria bejat yang menodaiku. Menodaiku dalam ketidaksadaranku, menghancurkan hidupku dalam ketidak mampuanku, dan membunuhku dalam nafas.


Andai bisa, aku ingin berlari kebukit tertinggi dan berteriak sekencang mungkin. Namun tidak. Selesai ijab kabul, aku hanya langsung menarik diri membenamkan semua rasa yang bergumul seakan membakar setiap sel tubuh ini. Air mata yang mengalir deras, menghapus make up ku malam itu seperti semua yang terjadi padaku kini. Karena nila setitik, rusaklah masa depanku.

__ADS_1


Semakin pikiranku menerawang pada kejadian tiga bulan terakhir itu, semakin berat apa yang ku rasa. Langit seakan runtuh, menimbunku dalam ketidakpastian. Hingar bingar diluar sana hanya memekakan telinga. Tawa mereka seakan ejekan untukku. Entahlah, aku hancur.


Malam berlanjut larut, energiku menipis. Kemarahan dan semua rasa didada menguras semuanya. Aku terlelap tanpa peduli lagi apa yang akan esok aku hadapi. Harapku, semoga ini semua hanya mimpi buruk yang akan berakhir saat aku terbangun nanti


__ADS_2