Dosenku Menikahiku

Dosenku Menikahiku
Yash, pergi ke kampus bersama Pak Arga


__ADS_3

Aku berpamitan pada orang tuaku. Walau terlihat tidak mengijinkan, toh mereka tak bisa menolak keinginanku ini.


Aku mengerti alasan mereka tak ingin aku pergi ke kampus. Tak banyak yang tau keadaanku, begitupun pernikahanku. Hanya dua orang sahabatku Alifa dan Hasna yang tau, selebihnya tak ada.


Untuk pertama kalinya aku naik mobil Pak Arga, duduk disampingnya. Kami hanya terdiam di sepanjang perjalanan menuju kampus dan sialnya jalan yang kami lalui pun terkena macet parah. Pak Arga terlihat fokus pada setirnya, dan aku hanya bisa melempar pandangan keluar jendela mobil.


Ku lihat ada ibu-ibu penjual surabi. Rasanya aku jadi ingin makan surabi, surabi dengan toping oncom dimakan panas-panas.


Mataku tak beranjak dari bakulan surabi sambil sesekali aku menelan ludah ngiler. Seakan aku bisa menghabiskan semua surabi yang tersusun di angkringan sampai aku tak sadar kalau Pak Arga mulai memperhatikanku.


Tanpa bertanya, Pak Arga memarkirkan mobilnya tepat di depan bakulan surabi. Dia terlihat membungkus sekantong penuh surabi yang sudah siap disantap. Aku jadi malu. Tapi seneng juga sih, punya suami siaga. Andai saja. Aku hanya bisa menghela nafas panjang.


Kami melanjutkan perjalanan. Dan sampai di parkiran kampus.


"Kamu mau ikut kedalam atau mau gabung sama teman-teman kamu aja?" tanya pak Arga setelah kami turun dari mobil.


Ku putuskan untuk menghubungi teman-temanku saja. Ga enak kalo aku ikut Pak Arga, apalagi dia pasti sibuk.


Ku telpon Hasna dan Alifa yang ternyata sedang berada ditaman kampus. Ku susul, dan bergabung.


Acara hari ini sangat seru. Favorit ku adalah bedah buku dan kulinernya pasti. Setelah ikut acara bedah buku, aku berkeliling ke pameran. Ada beberapa buku yang ku beli. Dan tak ketinggalan, berkuliner ria menyatroni setiap booth makanan dan minuman yang memanjakan mataku yang rakus walau ujungnya aku hanya icip sedikit saja tiap makanan yang ku order.


Aku bersenang-senang. Sebulan lamamya aku tak menginjakkan kakiku di tempat yang menyenangkan ini. Saat sedang haha hihi dengan sahabat-sahabatku, tetiba ada yang memanggil namaku.


"Yash." panggil seorang pemuda yang tak asing bagiku.


"Bilal?" tanyaku meyakinkan. Dia mengangguk.


Bilal adalah teman SMA ku, kalo tidak salah dia tidak kuliah disini, tapi di kampus sebelah. Lalu sedang apa ya dia disini?


Aku dan Bilal cukup akrab waktu SMA. Orang tua Bilal punya kedai bakso yang sangat terkenal di sekitaran sekolah. Selain rasanya yang enak, harganya pun sangat bersahabat. Aku yang penggemar bakso pasti mampir ke kedainya kalo pulang sekolah.

__ADS_1


Ku perkenalkan Bilal pada Alifa dan Hasna. Kami lanjut berbincang mengenang masa-masa dulu.


Ditengah obrolan kami yang melumer, mataku tertuju kepada seseorang di ujung sana. Seseorang yang sedang berdiri di samping pohon palem depan ruang olah raga. Dia terlihat memperhatikan kami dari jauh. Tak lama, dia pun pergi.


Apa yang dilakukan pak Arga disana? Entahlah. Biarkan saja, mungkin dia sedang menunggu seseorang.


Aku kembali berbincang. Bilal seperti teringat pada makanan kesukaanku, bakso dari kedainya. Dia buka booth disini. Booth nya cukup rame, tidak heran karena baksonya memang sangat enak.


Bilal membawakanku satu mangkok. Tak lupa dia pun menawari Alifa dan Hasna.


Sudah ga sabar rasanya ingin mencicipi bakso fenomenal yang menjadi favoritku itu.


Baru mencium aroma gurih dari baksonya, perutku tiba-tiba mual. Keinginanku memakan bakso tak sejalan dengan tubuhku yang seakan menolak. Baunya familiar tapi mendadak aneh dihidungku.


Aku benar-benar mual dan berlari kekamar mandi. Ku muntahkan apa yang bisa ku muntahkan. Mungkinkah ini efek dari kehamilanku?


Aku kembali menghampiri Bilal, ku beri alasan kalo aku sedang tidak enak badan. Mungkin aku masuk angin. Berharap dia tidak tersinggung.


****


Tak terasa hari sudah sore, tapi aku masih betah saja berlama-lama disini. Bertemu dengan teman-teman yang lain. Berbagi cerita, becanda dan banyak lagi yang kami lakukan.


Saat tengah asik, gawaiku tiba-tiba berbunyi. Ada pesan masuk dari pak Arga. Dia mengajakku pulang. Malas rasanya aku pulang, aku masih kangen dengan teman-temanku. Aku serasa kembali kedunia setelah sebulan lamanya mati suri.


Tak ku indahkan pesan itu, namun pesan kedua kembali masuk.


"Ayo pulang, aku di depan lapangan basket. Ditunggu di mobil ya." kira-kira seperti itu isi pesan kedua pak Arga.


Aku menoleh ke arah lapangan basket. Benar saja dia ada disana. Lalu pergi.


Dengan terpaksa aku berpamitan pada yang lain dan menyusul pak Arga kemudian.

__ADS_1


Aku masuk mobil dengan muka yang ditekuk. Dia kan panitia, harusnya pulangnya tuh nanti kalo acara sudah kelar. Ini malah ngajak aku pulang.


Mukaku tetap ku tekuk sepanjang perjalanan. Diam dan sunyi. Hanya hingar bingar jalanan yang terdengar menggelitik telinga.


"Aku akan pergi untuk seminar ke luar kota untuk beberapa hari." tiba-tiba saja dia ucapkan kalimat itu.


Keluar kota? Beberapa hari? Entah apa yang harus ku katakan. Aku hanya menjawab dengan, "owh, iya."


Perjalanan kami kembali berlanjut. Dan setelah 30 menit berlalu, kami sampai kerumah.


Aku tak lantas masuk, tapi teringat surabi yang tadi pagi tak sempat ku makan. Ku bagikan pada seorang pemulung tua yang saat itu ku lihat sedang mengais barang-barang bekas yang bisa dia jual ke pengepul. Ku serahkan sekantong surabi itu pada bapak renta tadi. Dan masuk kerumah setelahnya.


Masuk ke kamar, ku lihat pak Arga sedang sibuk packing barang-barang yang akan dia bawa besok.


Aku ingin membantu, tapi dia tidak memintaku. Ku rebahkan tubuhku. Pinggangku terasa pegal, padahal tadi tidak terasa apa-apa. Ku lirik sekali lagi kearah pak Arga. Aku bangkit dan membantunya.


Kami saling beradu tatap. Cukup lama.


Kadang aku tidak mengerti, kenapa kami begitu canggung kalau kami saling pandang. Padahal dulu semua bisa lebih santai. Bahkan kami bisa berbincang lama saat membahas materi untuk skripsiku atau sekedar diskusi ringan mengenai beberapa hal. Namun kini, seperti ada benteng yang membatasi kami. Ada perasaan lain yang ku rasa saat berada didekatnya. Mungkinkah ini yang dinamakan jatuh cinta?


****


Keesokan harinya.


Hari minggu yang cerah, ibu dan ayah berencana untuk beres-beres gudang tentu saja di bantu pak mukhlis dan jono. Kuli panggul yang biasa membantu kami angkat-angkat barang berat. Ibu baru saja membeli sofa baru untuk di ruang tv. Yang lama sebenarnya masih bagus. Tapi ketinggalan jaman katanya.


Pak Arga sudah take off subuh tadi selepas sholat subuh. Kami tidak mengantarnya sampai bandara. Karena pak Arga berangkat sekitar pukul tiga dini hari. Akupun hanya mengantarnya sampai gerbang rumah. Walau penerbangaannya dijadwalkan pukul setengah lima pagi, pak Arga memilih untuk datang jauh lebih awal.


Sofa lama dimusiumkan ke gudang. Aku ikut melihat prosesi di istirahatkanya sofa lama ku yang biasa menemaniku menonton. Lebay ya. Hihi.


Ada yang menarik yang ku temukan saat membereskan gudang. Peralatan lukisku. Aku senang sekali bisa menemukannya disini. Sudah lama setelah aku lulus SMA rasanya terakhir kali aku menggunakannya.

__ADS_1


__ADS_2