Dosenku Menikahiku

Dosenku Menikahiku
Ternyata, yang menikahi Yash adalah Pak Arga, dosennya sendiri


__ADS_3

Impian pernikahan yang selama ini aku hayalkan musnah sudah. Anganku kandas. Sesak rasa didada ini benar-benar memuncak. Kesalahan apa yang aku perbuat sehingga aku mengalami hal seperti ini. Terlebih, aku sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengetahui pria bejat yang menodaiku. Menodaiku dalam ketidaksadaranku, menghancurkan hidupku dalam ketidak mampuanku, dan membunuhku dalam nafas.


Andai bisa, aku ingin berlari kebukit tertinggi dan berteriak sekencang mungkin. Namun tidak. Selesai ijab kabul, aku hanya langsung menarik diri membenamkan semua rasa yang bergumul seakan membakar setiap sel tubuh ini. Air mata yang mengalir deras, menghapus make up ku malam itu seperti semua yang terjadi padaku kini. Karena nila setitik, rusaklah masa depanku.


Semakin pikiranku menerawang pada kejadian tiga bulan terakhir itu, semakin berat apa yang ku rasa. Langit seakan runtuh, menimbunku dalam ketidakpastian. Hingar bingar diluar sana hanya memekakan telinga. Tawa mereka seakan ejekan untukku. Entahlah, aku hancur.


Malam berlanjut larut, energiku menipis. Kemarahan dan semua rasa didada menguras semuanya. Aku terlelap tanpa peduli lagi apa yang akan esok aku hadapi. Harapku, semoga ini semua hanya mimpi buruk yang akan berakhir saat aku terbangun nanti.


*****


Suara adzan subuh yang nyaring terdengar ditelinga, menjadi alarm rutin yang tak perlu aku stel. Aku mencoba bangkit, namun tubuhku terasa amat lemas. Sejenak ku kumpulkan energi dan kembali mencoba bangkit. Langkah perlahan ku ayun menuju kamar mandiku. Basuhan air wudhu terasa sejuk memberikan kesegaran yang seakan merecharge lagi kekuatanku untuk kembali menjalani hidup.


Aku keluar kamar mandi dan berjalan menuju lemari dimana mukenaku biasa tersimpan rapi. Namun di tempat biasa aku bersimpuh, ada seseorang yang sedang menunaikan hal yang sama. Nalarku membawa keperistiwa semalam. Mungkin dialah yang telah mempersuntingku.


Ku ambil mukena dan menuju ke mushola rumah. Disana ada ayah dan ibuku yang baru saja akan melaksanakan kewajiban subuhnya, dan aku ikut serta.


Lepas melaksanakan sholat subuh. Ibu dan ayah tak banyak bertanya. Ibu hanya memintaku untuk membantunya di dapur menyiapkan sarapan untuk kami santap pagi ini, sedangkan ayah menuju kedepan menyiram tanaman sambil menunggu tukang koran seperti biasanya.


Di dapur aku memberanikan diri bertanya pada ibuku. Siapa yang kulihat sedang sholat dikamar tadi, maksudku siapa laki-laki yang menikahiku semalam. Mendengar pertanyaanku itu, ibu hanya menatapku dalam dan memintaku untuk membuat secangkir teh hangat lalu menyuruhku untuk membawanya ke kamar.


"Bawa ini, kamu akan tahu nanti." ucap ibuku kemudian.


Aku membawa teh hangat itu menuju kamar tidurku. Mungkinkah dia seorang lekaki tua yang tak kunjung menikah sehingga dia bersedia menikahiku, ataukah hanya pria bayaran yang mau menikahiku setelah mendapat uang dari orang tuaku? Sepertinya yang kedua tidak mungkin, karena itu sangat bertolak belakang dengan prinsip orang tuaku.


Entahlah siapun itu, yang pasti aku cukup deg-degan menghadapinya. Pria itu tahu tentang keadaanku. Apa yang akan aku katakan padanya, pacaran pun aku belum pernah. Dan kini aku harus berbagi tempat tidur dengan pria yang sama sekali tidak aku kenal.


Lama sekali langkah ini terayun. Dapur yang jaraknya hanya beberapa meter menuju jamar tidur terasa jauh sekali. Walau akhirnya aku sampai juga didepan pintu kamarku.


Perlahan, pintu kamar ku buka. Mataku menyisir mengelilingi ruangan yang sudah rapi itu. Tak ada seorang pun yang terlihat. Bantal dan selimut yang tadi berada di sofa kamarkupun sudah tersimpan rapi keatas tempat tidurku. Perlahan aku masuk dan terhenti manakala seseorang keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Pak Arga?" ucapku setengah kaget.


Tubuhku mematung seketika tatkala melihat sosok pria dihadapanku, tanganku seperti licin dan tak bertenaga. Seketika cangkir putih berisi teh panas itu jatuh ke lantai. Prankkkkkk. Suaranya membuat aku sendiri kaget, apalagi cipratan teh panasnya mengenai kakiku.


Pria dihadapanku itu sontak memintaku menjauh dari serpihan-serpihan cangkir itu. Dia mengambil lap dan membereskan serta menyapunya.


Aku yang berpindah ke atas sofa hanya bisa melihat tanpa sepatah katapun.


"Kamu tidak apa-apa?" itulah kata yang keluar dari mulut pria yang bernama Arga, yang tak lain dan tak bukan adalah dosenku sendiri.


Pak Arga adalah dosen pembimbingku. Sebenarnya usia beliau tidak terpaut jauh dariku. 28tahun. Semenjak kuliah S1, dia sudah menjadi asdos. Dan saat menempuh S2, dia sudah diangkat menjadi dosen di kampus sampai saat ini.


Aku yang setengah terbengong tersadar oleh suara ibu dan ayah yang datang setelah mendengar kebisingan yang ku buat. Ibu memintaku untuk kembali ke dapur menemaninya, ayah sendiri mengajak Pak Arga kedepan untuk mengobrol dan meminta ibu membuatkan teh untuk mereka.


Ibu hanya mengusap-usap punggungku dan memberiku segelas air. Aku seperti orang linglung hari ini. Aku seperti tidak mengerti apa-apa.


Ibuku kembali dari mengantar teh. Dan melanjutkan pekerjaannya.


"Apa yang menikahiku semalam itu Pak Arga bu?" tanyaku memecah kesunyian.


Ibuku hanya fokus pada sayuran yang hendak dia olah. Tak ada jawaban keluar dari mulutnya. Ku tebak jawabannya iya. Dan kembali ku lemparkan pertanyaan padanya.


"Bagaimana bisa dia. Apa yang kalian katakan sehingga dia mau menikahiku?"


"Aku tau pak Arga ada saat aku pingsan dan di vonis hamil, karena beliau yang membantu membawaku ke klinik. Tapi...."


Belum sempat ku selesaikan kalimatku, ibu lalu merintih kesakitan. Tangannya teriris pisau. Aku kaget dan beranjak dari tempat dudukku lalu mengambilkan kotak obat. Setelah ku balut lukanya, aku meminta ibu untuk duduk dan aku yang menyelesaikan pekerjaannya.


Aku memang tidak pandai masak seperti ibu, tapi aku sering membantunya di dapur. Sedikit banyak aku bisa mengolah beberapa jenis makanan. Tentunya dengan arahan dari ibuku.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya aku membuat sarapan dan untuk pertama kalinya pula suamiku akan mencicipi masakanku. Entahlah seperti mimpi rasakanya kini aku telah bersuami dan suamiku adalah dosenku sendiri. Namun aku tahu, bahwa pernikahanku ini bukanlah keiginan kami. Aku juga tidak tahu, kesepakatan apa yang orang tuaku buat dengan pak Arga sehingga dia mau membantu keluarga kami dengan menikahiku. Tapi dari apa yang terjadi pada ibu, aku tahu bahwa aku tidak perlu tahu apapun alasan pak Arga mau menikahiku.


****


Mulai hari ini aku tidak pergi ke kampus. Skripsiku ku susun dirumah saja, tentunya dengan bantuan dari pak Arga. Suamiku. Dia adalah dosen pembimbingku, seperti biasa dia bukanlah orang yang pilih kasih. Kalau ada yang harus di refisi, ya aku harus refisi. Aku tidak tahu, hal seperti ini dibolehkan atau tidak. Aku ikuti saja alurnya.


Kami tinggal serumah bahkan satu kamar. Tapi asal kalian tahu kami tidak tidur bersama dalam satu tempat tidur. Pak Arga membiarku tidur ditempat tidurku seperti biasa, sedangkan dia tidur di sofa.


Setiap malam tanpa dia sadari aku sering memperhatikannya. Akhir-akhir ini hampir setiap malam dia tidur lewat tengah malam. Selain mengajar, dia juga menulis buku. Selain buku modul, yang ku tahu dia juga seorang penulis novel. Mungkin kesibukan itu yang dia kerjakan sampai larut malam.


Sama seperti sekarang. Dia tidur larut lagi. Hari ini dia pulang tidak seperti biasanya. Hujan deras dan dia belum pulang. Aku sebenarnya khawatir, tapi tak berani menunjukan apalagi kami bukanlah suami istri sesungguhnya. Dia hanya pria baik yang mau mengorbankan waktu dan segalanya untuk membantu aku dan keluargaku.


Pukul 22: 15 ku lihat jam ditangan saat ku dengar suara mobil yang sudah mulai familiar ditelingaku. Iya itu mobilnya pa Arga. Dia baru pulang.


Aku bergegas kedepan berniat membukakan pintu sebelum akhirnya kuurungkan tatkala melihat ayah sudah mendahuluiku. Sepertinya ayah juga menanyakan apa yang ingin aku tanyakan. Ku dengar dia pulang larut karena ada pekerjaan lain yang harus dia selesaikan hari ini.


Pintu rumahku biasa terkunci dari pukul delapan malam, karena orang tuaku termasuk aku terbiasa tidur awal kecuali kalau ada kegiatan lain. Jadi kalau ada yang pulang kerumah lewat dari jam itu, termasuknya sudah larut sekali.


Aku kembali ketempat tidur dan berpura-pura sudah lelap. Dia menyimpan tas nya dan masuk ke kamar mandi. Tak lama setelah dia keluar dari kamar mandi, dia duduk di meja kerja dan membuka laptopnya. Pria itu yang terbiasa ku lihat mengenakan kemeja lengan panjang dengan celana bahan serta menenteng tas kerjanya kini tampak berbeda.


Kaos oblong berwarna putih dengan celana pendek dan rambut yang hanya diacak-acak dengan tangan itu membuat dia terlihat berbeda. Terlihat santai. Dan tampan.


Dari samping nampak siluet wajah yang menawan. Hidungnya yang mancung, bulu matanya yang sedikit lentik dan bibir kecilnya terlihat apik dimataku. Sesekali dia menggeliat menghempas pegal sedikit menonjolkan otot-otot yang tersembunyi.


Entah dari kapan aku mulai memperhatikannya. Tapi akhir-akhir ini aku sering melakukan itu. Terkadang aku mencuri pandang saat dia sholat, berolah raga di halaman belakang, makan, atau saat dia mengerjakan pekerjaannya seperti saat ini. Ada desiran halus yang merasuk disanubari seperti disetrum, sedikit mengejutkan.


Setelah hampir pukul setengah dua dini hari, dia baru menutup laptopnya dan merebahkan tubuhnya di sofa. Suara dengkuran yang biasanya tak ku dengar, kini ku dengar. Seperti nya dia kelewat cape sampai-sampai dia mengeluarkan suara dengkuran yang cukup keras.


Ku yakinkan diriku bahwa dia sudah terlelap, perlahan aku bangun dan duduk sambil memandanginya yang terlelap dalam tidur. Dia merubah posisi tidurnya mengadap ke arahku. Sempat kaget, namun aku kembali tersenyum. Kini aku bisa melihat wajahnya yang manis. Ku bangkit dan menyelimutinya dengan selimut yang lebih tebal.

__ADS_1


Kami jarang sekali berkomunikasi. Dirumahpun hanya membahas skripsi saja. Tak ada yang lain.


__ADS_2