
Sejenak semua yang ada disekelilingku terabaikan. Aku seperti anak balita yang baru mendapatkan mainan baru. Ku sapu warna demi warna, hampir membentuk sesuatu.
Sesekali senyum tersungging di bibirku. Tanganku bekerja sama dengan kuas yang sudah ku celupkan pada cat. Hampir terlihat seperti wajah seseorang namun masih abstrak.
Keautisanku pada mainan baruku ini membuatku tak menyadari ada seseorang yang memperhatikanku.
"Yashinta Fadhlan Nuri." seseorang menyebutkan namaku lengkap sambil kedua tangannya menutup kedua mataku. Aku sedikit terperanjat. Lalu tersenyum.
"Iya, Ilham Megantara." jawabku sambil meraih kedua tangan yang menutupi mataku dan memisahkan keduanya dari wajahku.
Kami saling menatap lalu tawa pun pecah. Kami berpelukan. Sangat mengejutkan pria tengil ini berdiri di hadapanku setelah sekian lama kami tidak berjumpa. Kebiasaannya memanggil namaku dengan lengkap memudahkanku mengenalinya dengan cepat. Yashinta F. Nuri. Tak banyak yang tahu kepanjangan dari F nya itu apa, dia salah satunya dan cuma dia yang selalu menyebutkan lengkap.
Kami bersahabat dari kecil. Orang tua kami dulu adalah rekan kerja sebelum akhirnya lima tahun lalu keluarganya memutuskan untuk pindah ke Australia. Sejak saat itu, kami tidak pernah bertemu. Mengingat dia dan aku adalah anak tunggal sehingga orang tua kami tidak terlalu membebaskan pergaulan kami. Pernah aku minta untuk berlibur kesana sekalian berkunjung, tapi belum ada waktu yang tepat katanya. Karena liburan kesana tuh tidak akan cukup hanya dua tiga hari saja.
I am melanjutkan study dan kuliahnya disana. Lima tahun tidak bertemu, rasanya seperti mendapat udara segar pasca menyelam dalam.
I am melepaskan pelukan kami. Tergurat tanda tanya besar di wajahnya.
"Perutmu buncit Yash. Sampai-sampai aku bisa merasakannya saat berpelukan." tanyanya padaku kemudian.
Aku terdiam. I am tidak tahu persoalan yang ku hadapi. Entah dari mana harus ku mulai bercerita. Dia pasti marah besar.
Kami memang tidak bertemu lima tahun terakhir, akan tetapi komunikasi tetap kami jalin hingga kini. Setiap hal aku ceritakan padanya, apapun itu kecuali satu. I am belum mengetahui pernikahanku. Apalagi alasan di balik itu.
Dia menatapku dalam, menunggu jawaban.
"Kamu sakit yash? Atau jangan-jangan kamu makan terus ya sampe perut buncit gitu. Ih Yash kamu ini." I am menjawab sendiri pertanyaannya. Aku hanya menunduk dan tersenyum simpul.
"Masuk yu. Kita ngobrol di dalam aja." ajakku pada sahabat lamaku itu.
Aku melirik ke ayah dan ibuku. Mencoba memberikan kode agar mereka membantuku menjelaskan apa yang terjadi padaku beberapa bulan terakhir ini. I am pasti marah besar kalau tahu semuanya.
Kami sudah seperti adik kakak, tidak ada segan apalagi canggung. Begitulah perlakuan dia padaku.
Dia menunjukan isi koper yang dia bawa. Hanya sedikit saja pakaian didalamnya. Selebihnya oleh-oleh untukku dan ada beberapa untuk kedua orang tuaku.
__ADS_1
Tanpa di beritahu, dia langsung menuju kamar tidurnya. Kamar yang bersebelahan dengan kamarku. Kalo dia nginep di rumah, dia tidak pernah mau tidur di kamar lain. Pasti langsung memilih kamar itu.
Ayah dan ibu menyuruhnya untuk menyimpan koper dan beristirahat sejenak, karena perjalanan jauh yang ia tempuh pasti sangat melelahkan. Ku antar dia ke kamarnya. Baju-bajunya dia masukan ke dalam lemari. Sementara aku sibuk membuka oleh-oleh yang dia bawa.
"Eh Yash, aku cm bawa dua baju nih. Anter aku beli beberapa ya, sambil jalan-jalan. Mau ya?" pintanya padaku.
"Jangan sekarang lah, nanti aja. Sekarang mending kita makan siang dulu. Ibu udah masak tadi. Yu kita makan." ajakku sambil menarik tangannya.
Barang-barang yang baru saja ku acak-acak dari dalam koper ku biarkan berantakan.
Kami makan siang bersama sambil sesekali mengenang masa lalu.
Selesai makan I am terus saja memintaku menemaninya beli baju. Tapi aku sedang tidak mood. Ibu yang melihat itu membantuku.
"Jangan sekaran am, besok saja lagian kamu tuh baru nyampe pasti cape kan." ujar ibu.
"Tapi mumpung hari munggu bu. Sekalian jalan-jalan. Lagian aku ga cape kok. Boleh ya?" I am terus saja merengek.
"Sudah, kalo kamu tidak merasa cape mending bantu ayah beres-beres gudang. Pak Mukhlis dan Jono udah pulang tadi, jadi kamu aja yang bantu ya?" potong ayah sambil tersenyum menggoda I am.
"Ah mainannya keroyokan. Ya udah deh." sambil memonyongkan bibir tipisnya, I am mengikuti ayah menuju gudang. Sementara aku dan ibu menyusul sambil membawakan minuman dingin.
Kehadiran I am membuat rumahku tidak sepi lagi. Ada saja tingkahnya yang membuat gaduh seisi rumah.
****
Hari kedua I am disini. Dia terus saja meminta kami untuk mengajaknya jalan-jalan. Akhirnya ayah mengambil cuti. Rencananya besok kami akan mengajaknya jalan-jalan sekalian berlibur ke villa pribadi kami di sekitaran Lembang, masih di kota bandung tentunya.
Cuaca Lembang yang dingin tentu tidak akan cukup hanya menggunakan sehelai tshirt, apalagi malam harinya. Harus dobel-dobel lah. Minimal jaketan.
I am mengajakku untuk menemaninya membeli beberapa pakaian sesuai janjiku kemarin. Kami pergi ke mall terdekat dari rumah. Membeli beberapa baju lalu I am mengajakku menonton film.
Tak puas hanya disitu, kami melanjutkan hari dengan menjajal beberapa wahana bermain, walau aku tak berani mencoba semua. Tak lupa kami membeli es krim favorit kami lalu mencari tempat makan.
Cepat sekali waktu berlalu. Diluar sana sudah gelap saja. Seharian di dalam mall membuat kami lupa waktu. Dulu sih pas masih SMA kalo kita pulang kemalaman seperti sekarang, pasti sudah ayah dan ibuku susulin. Tapi sekarang tidak. Mungkin karena kami sudah sama-sama besar dan lagi kami sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua setelah lima tahun lamanya.
__ADS_1
Selesai makan, aku masih belum merasa kenyang. Ku jajali booth- booth makanan di sepanjang jalan di sekitaran mall itu. Kalo malam, jalan belakang mall ini memang berubah menjadi surganya pecinta kuliner. Banyak yang ingin ku coba, namun kembali perutku serasa mual mencium berbagai aroma makanan yang berseliweran dimana-mana.
Melihat keadaanku yang terlihat tidak baik-baik saja, I am memutuskan untuk mengajakku pulang. Dia pikir aku kecapean dan mungkin masuk angin.
Kami sampai kerumah sekitar pukul sembilan lewat. I am menanyakan keadaanku sebelum kami turun. Antara khawatir atau takut orang tuaku marah. Mungkin.
Ibu menyambut kami di depan pintu. Sambil menggeleng-gelengkan kepala dia menunjuk jam yang melingkar di tangannya. Aku dan I am saling melempar pandang.
Aku nyengir kuda tanda mengetahui maksud ibuku dan berharap dia tidak menghukum kami seperti dulu.
Ibu membuang nafas kasar, seolah memahami keadaannya. Aku memeluk ibu sebagai kode terima kasih.
Ibu lalu menyuruh kami masuk. Aku cape, aku langsung masuk kamar dan tidur.
****
Ayah, ibu, aku dan I am sudah siap dengan bawaan kami. Semua barang-barang sudah masuk kedalam bagasi mobil. Kami berempat meluncur pagi-pagi sekali alias subuh. Walau ini bukan weekn, tapi antisipasi saja. Karena sudah bukan rahasia umum panjangnya macet jalanan Lembang seperti apa.
Satu jam saja perjalanan kami tempuh. Beruntung kita tak sempat kena macet. Ya mungkin karena weekday juga kali ya.
Semenjak liburan tahun baru waktu itu, aku belum pernah kesini lagi. Udara yang sejuk, pemandangan hijau dimana-mana serta keheningan yang menenangkan. Andai aku bisa tinggal disini, akan sangat betah rasanya. Jauh dari hingar bingar, walau Lembang kini tak sedamai dulu. Apalagi weekn, jangan harap bisa kemana-mana. Serba penuh, serba antri, dan macetnya sepanjang jalan.
Teh Imas dan kang Yadi yang biasa merawat villa kami langsung menjamu kami dengan jagung, kacang dan juga singkong rebus. Tak lupa teh tawar panas dengan aroma melati sebagai pelengkap. Benar-benar pagi yang indah. Nikmat mana lagi yang bisa kita dustai.
****
Sambil menikmati udara pagi ditemani sarapan ala-ala pedesaan yang nikmat, kami mulai menentukan destinasi pertama yang akan kita kunjungi hari ini.
Aku sendiri pengen nya kulineran sambil naik perahu, jadi ga cape gitu bisa bermain plus kulineran. Beda halnya dengan I am, dia malah ingin ke tangkuban perahu. Katanya kalo tempat rekreasi yang ku sebut tadi di Autrali juga mungkin dia bisa menemukannya tapi yang autentik daerah sini ga mungkin dia dapat disana kan.
Tangkuban perahu sendiri memiliki legenda dan mitos di dalamnya. Selain itu, view yang bagus dan pengalaman menarik pasti bisa kita dapat dengan menyambangi salah satu idenditas kota ku ini. Ok fix, hari ini kita ke tangkuban perahu saja.
Selesai sarapan, kami mulai bersiap menuju tujuan yang telah disepakati tadi. Cukup banyak aku makan pagi ini, padahal dulu aku tidak begitu suka makanan itu.
Jarak dari vila ke lokasi wisata memang tidak begitu jauh. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari vila ke gapura pertama sekaligus membeli tiket masuk disini. Tapi perjalanan belum berakhir. Untuk mencapai tangkuban perahunya sendiri, kita masih harus melewati dua titik. Permberhentian pertama di terminal atau rest area, atau apalah itu namanya. Baru perjalanan berikutnya kita menuju lokasi utama, kawah Tangkuban Perahu.
__ADS_1
Perjalanan kami total tanpa macet dari vila, mungkin sekitar hampir dua jam. Kebayang kalo lagi weekn, bisa seharian kita di perjalanan. Tapi jangan khawatir, semuanya pasti kontan terbayar dengan view dan keeksotikan dari Gunung Tangkuban Perahu yang akan kita dapat.