
Bau belerang menyeruak semenjak dari tempat kami memarkir mobil. Aroma ini cukup menusuk, sesekali kerudungku menambah fungsi sebagai masker.
Aku mengambil telur ayam yang di berikan oleh teh Imas untuk aku rebus disini, ada kawah kecil yang biasa dipakai untuk merebus telur oleh para pengunjung termasuk aku.
Setelah sekitar sepuluh menit menunggu tellurku matang, kami mulai memasuki area kawah. Disepanjang jalan menuju kawah, kami dimanjakan dengan kios-kios yang menjajakan pernak -pernik aneka oleh-oleh khas Tangkuban Perahu. Mulai dari asesoris sampai pakaian semua lengkap ada disitu. Tak ketinggalan kios makananpun tak kalah banyak berderet mulai dari makanan dan minuman ringan, jagung bakar, sosis bakar, bakso, dll.
Sarapan yang tadi ku makan cukup membuatku kenyang. Aku hanya membeli sebotol minuman teh untuk menemani perjalananku.
Melewati deretan kios-kios tadi, mulai lah kami memasuki kawasan kawah Gunung Tangkuban Perahu. Semakin mendekati kawah, bau belerang semakin menusuk hidung. Anehnya kalau dulu aku bisa sampai terbatuk-batuk dan nyaris sesak saat menghirup aroma belerang, tapi tidak kali ini. Aku masih bisa bernafas walau baunya sangat mengganggu.
Aku dan I am berkeliling, mencari spot-spot indah untuk background foto-foto kami. Kami berselfie, saling memotret, atau hanya mengabadikan keindahan alam sekitar kawah tersebut.
Sedang asik berfoto, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri kami.
"Hai Am, kapan kamu kesini. Udah lama ya ga ketemu. Eh malah ketemu disini. Kalo ga salah, empat bulan yang lalu kan kita terakhir ketemu,?" ucap seorang pria yang kalau tidak salah ingat, dia adalah Bara. Bekas tetangga I am di rumah yang di Bandung.
"Eh Bar, iya nih lagi liburan aja. Kamu apa kabar?" balas I am.
"Baik-baik. Kamu juga baik kan? Oia, lain kali kalo mau kesini kabar-kabar lah. Sombong deh sekarang. Tempo hari juga kalo ga ketemu di toko kue, kita pasti ga akan ketemu."
"Iya sorry. Waktu itu aku buru-buru sih. Bisa mampir kesini juga karena ikut orang tua. Kebetulan waktu itu ada acara kerjaan papa jadi bisa ikut, kalo nggak pasti susah buat pergi-pergi. Ini aja cuma punya waktu semingguan buat liburan sebelum menyelesaikan tugas akhir." jelas I am pada mantan tetangganya itu.
Kami melanjutkan mengobrol sampai Bara menerima telpon dan pamit. Aku mengenal Bara. Karena selain mereka bertetangga, mereka juga teman main dirumah. Kalo aku main kerumah I am, sering ketemu sama Bara. Bara pun masih ingat padaku.
Tak terasa kami memang sudah cukup lama disini. Ga baik juga sebenarnya terlalu lama menghirup udara dengan bau belerang seperti ini.
Karena sudah lewat tengah hari, orang tua ku pun mengajak kami pulang. Kami meninggalkan tempat ini setelah sempat membeli beberapa souvenir dan untuk oleh-oleh I am juga nantinya.
Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam memikiirkan sesuatu. Ada yang mengganjal yang mengusik pikiranku. Sampai-sampai aku tidak mendengar suara ayah yang memanggil-manggil namaku dari tadi.
Aku terperanjat saat ibu mulai menggoncang-goncangkan tubuhku. Aku melamun.
__ADS_1
Mereka menunggu jawabanku untuk lokasi berikutnya yang akan kita kunjungi. Aku melihat banyak kios-kios yang menjual sate kelinci. Aku meminta pada ayah untuk mengisi perut kami yang sudah keroncongan terlebih dahulu, dan aku menyarankan untuk mencoba sate kelinci saja.
Mendengar permintaanku itu, ayah langsung menyetujui. Kami mampir ke salah satu kios yang terjejer rapi di sepanjang jalan. Kami menyantap lahap hidangan yang kami pesan. Tapi aku tidak habis, hanya tiga tusuk yang ku makan. Aku melihat ke arah I am. Ada pertanyaan yang ingin aku tanyakan, namun tidak disini dan tidak sekarang tentunya.
Selesai makan kami melanjutkan perjalanan. Ayah dan ibu mengajak kami kesebuah tempat kesukaanku. Disana kita bisa mendapatkan aneka makanan dan minuman berbahan dasar susu.
Aku yang tidak bisa menyembunyikan mood ku yang mulai turun hanya ikut saja.
Jalanan mulai terlihat padat, macet sudah tidak bisa di elakan lagi. Tapi tidak begitu parah, setidaknya mobil kami masih bisa bergerak walau hanya merayap pelan.
Hampir dua jam dari kios sate tadi, dan akhirnya kami sampai ditempat tujuan. Aku lebih memilih menunggu di mobil, sementara ayah ibu dan I am masuk kedalam.
Satu jam kemudian mereka kembali. Beberapa produk olahan tempat tersebut berhasil mereka bawa. Penuh dan antriannya cukup panjang, begitulah keluh ibu.
Petang mulai menampakan jati dirinya. Kami memutuskan untuk kembali ke villa.
****
Sampai di villa, aku langsung masuk kamar dan membersihkan diri. Badanku lengket dan pegal.
Teh Imas memanggilku untuk turun makan malam. Dengan terpaksa aku turuti. Kalau tidak, ayah dan ibu akan bergantian mendatangiku dan membujukku untuk turun. Pada akhirnya tetap saja aku harus turun, jadi ya sudah aku turun walau dengan sangat terpaksa.
Di meja makan, aku tetap diam seribu bahasa. Sesekali ku lirik I am yang sedang lahap menyantap hidangan khas sunda yang diracik oleh ibu bersama teh Imas tadi.
Aku pamit setelah menghabiskan makan malamku. Aku pergi ke teras depan. Pandanganku penuh dengan nuansa gelap dengan sedikit kelap kelip lampu terlihat dari kejauhan. Suara jangkrik dan hewan-hewan malam mulai menggelitik telinga saling bersahutan.
Pandanganku kosong, pikiranku melayang sampai seseorang menghampiriku.
"Malam-malam ko melamun. Awas lho kesambet." ujar I am yang tiba-tiba ada di sampingku.
Aku tidak bisa terlalu lama lagi menyimpan berbagai pertanyaan di benakku. Ku tanyakan apa yang ingin aku tanyakan padanya. Pertanyaan yang mengusik pikiranku sejak tadi.
__ADS_1
"Apa benar empat bulan yang lalu kamu sempat berkunjung kemari? Ada urusan apa? Kenapa kamu tidak menemuiku?" tanyaku tanpa basa-basi.
I am menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. Lama sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaanku.
Kami duduk di kursi taman yang ada di halaman depan villa. Suasana malam yang dingin menanbah sunyi yang kami rasakan.
"Memang benar, empat bulan lalu aku sempat balik kesini. Orang tuaku ada undangan dari rekan kerjanya di daerah puncak Bogor. Dan aku sendiri mampir kesini sebelum ke acara malam itu." jelasnya membuat pertanyaan demi pertanyaan kembali hinggap di kepalaku. "Kamu mampir kesini?" tanyaku kemudian.
"Iya Yash, aku mampir sebentar aja. Kenapa sih ko kamu kaya mengintrogasi aku kaya gitu. Udah ah masuk yu, nanti saja aku jelaskan. Sekarang udah malem. Dingin lho di luar." I am pergi mengakhiri pembicaraan kami tanpa memberiku kesempatan bertanya lagi.
Aku masih dengan posisiku, duduk di taman. Sendirian. Dan setengah berteriak aku membuat langkah I am terhenti.
"Kamu tahu, aku mengalami hal buruk empat bulan yang lalu. Tepat disaat kamu datang berkunjung kemari. Terus, kenapa kamu tidak menemuiku waktu itu?"
"Kamu ngomong apa sih Yash. Udah ah masuk yu, kamu tau kan aku ga terlalu suka kegelapan. Kita lanjut ngobrol di dalam aja ya." dia melanjutkan langkahnya dan meninggalkanku sendiri.
Pikiranku benar-benar tidak karuan. Kejadian empat bulan lalu masih sangat mengganggu emosi ku.
Cukup lama aku berdiam diri disana, sampai ibuku datang dan mengajakku masuk. Udara dingin hampir membuat jalan darahku membeku, tapi itu semua tidak membuat aku beranjak. Ibu membawakanku mantel dan membujukku untuk masuk.
I am berdiri bersama ayah memperhatikanku. Aku masuk ke kamar. Tubuhku mulai menggil. Aku demam.
****
Pagi ini aku terbangun, melihat jam ternyata sudah hampir setengah enam. Aku beranjak ke kamar mandi walau tubuhku terasa sedikit lemas. Langsung ku tunaikan sholat subuhku sebelum terlalu terlambat.
Pagi itu di sujud terakhirku, air mataku menetes. Doa ku panjat, ku utarakan keluh kesahku pada sang khalik. Tak ada hal yang menguatkankku dari semua permasalahan ini selain keyakinan pada Tuhanku, kedua orang tuaku dan bayi yang sedang ku kandung kini.
Di usiaku sekarang, aku tidak pernah bermimpi sekalipun akan mengalami semua ini. Aku hanya berpura-pura tegar dan mencoba untuk tidak ingin tahu tentang hal apapun yang berhubungan dengan kejadian waktu itu. Tapi apa daya, aku hanya manusia biasa. Terkadang rasa ingin tahu membuat luka lama terbuka kembali.
Aku mencoba menahan diri untuk menutup mata dan telingaku. Namun keadaan selalu menyeretku kepada kenyataan pahit yang tetap harus ku telan. Kemarahanku, kekesalanku, kecewaku, semua bercampur bergejolak dalam dada.
__ADS_1
****
Ibu memberitahu ku bahwa selepas sarapan, kita akan pulang ke rumah. I am juga mengerti kondisi nya. Lebih baik kami pulang.