
Seperti biasa alarm mesjid membangunkanku. Aku bangkit, menuju kamar mandi. Ku lirik Pak Arga masih terbaring di sofa. Lepas mengambil wudhu ku lirik sekali lagi, Pak Arga masih terlihat lelap dari tidurnya. Aku ambil mukena, ku gelar sahadah dan memulai kewajiban dua rakaatku.
Selesai menunaikan Subuhku, kembali ku lirik sofa itu. Pria yang terbaring di atasnya masih belum bergeming. Apa aku bangunkan saja? Terlalu tega rasanya kalau aku biarkan dia melewati kewajibannya. Tapi, aku tidak berani membangunkan.
Ku pandangi wajah manis itu. Lalu beranjak ke dapur.
Ku racik secangkir teh panas dan membawanya kembali ke kamar yang kemudia ku letakan diatas meja. Ku dekatkan wajahku ke wajah manis itu, namun aku tak punya banyak keberanian untuk membangunkan dia dari tidur nyenyaknya. Ku perhatikan sekali lagi ciptaan tuhan yang nyaris sempurna ini, dari dekat semakin dekat.
Keberanian ku masih belum terkumpul untuk mengganggu tidurnya, apalagi semalam aku lihat dia sudah begadang sampai dini hari. Aku menarik nafas dalam. Lagi-lagi wajah itu aku teliti semakin lekat. Sadis kalau aku membiarkan dia tetap tidur tanpa menunaikan kewajibannya.
Aku dekatkan kembali wajahku ke wajahnya, lebih tepat ketelinganya. Dengan sedikit ku tepuk pundaknya lalu ku panggil namanya perlahan.
"Pak Arga, bangun Pak." panggilku sedikit berbisik. Aku benar-benar tidak berani mengeluarkan suara lebih dari itu.
Namun ternyata bukan hal sulit. Pak Arga mulai terlihat bereaksi. Tubuhnya menggeliat. Aku yang berjarak hanya beberapa senti saja dari dirinya terperanjat kaget lalu bergerak mundur.
"Jam berapa sekarang?" ucapnya sabil melirik jam yang masih melingkar di tangannya.
Alangkah kagetnya dia setelah melihat jam sudah menunjukan pukul lima lewat dan langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
"Kamu sudah sholat belum," ujarnya sedikit melirik ke arahku sesaat setelah selesai berwudhu.
Aku yang sedang terdiam sedikit terperanjat dan membalas dengan tatapan kaget. Pandangan kami beradu. Seketika kami berdua saling memalingkan muka menghindari tatapan satu sama lain.
Sambil menggelar sejadah dia melanjutkan kalimatnya, "kalau belum kita berjamaah saja."
Kembali pandanganku melirik ke arahnya seraya menjawab, "owh, aku sudah duluan tadi."
Kalau saja aku tau dia bakalan mengajakku berjamaah, pasti aku menunggu dia bangun terlebih dahulu tadi. Hatiku bergumam sembari pandanganku tetap terpaku memperhatikan setiap gerak geriknya.
Aku tak pernah membayangkan dia akan mengajakku berjamaah. Kami memang suami istri yang sah, tapi itu hanya formalitas saja. Namun kalimat terakhirnya tadi membuat aku senyum-senyum sendiri. Sampai akhirnya dia selesai.
"Oh ya, itu aku buatkan teh hangat." ucapku sambil berlalu menuju dapur.
__ADS_1
****
Pagi itu rutinitas kami jalani seperti biasa. Ayah pergi ke kantor, Pak Arga berangkat ke kampus sementara aku dan ibu sudah janjian untuk pergi ke mall hari ini.
Aku berkeliling dari satu outlet ke outler lain. Mengingat perutku yang mulai membesar, ibu membelikanku beberapa baju baru. Setelah dapat beberapa yang aku suka dan nyaman ku kenakan nanti, kami melanjutkan mencari makan.
Saat berjalan menuju tempat makan, aku melihat sebuah sweater yang terpajang disebuah toko yang kami lewati. Aku meminta ibu untuk pergi terlebih dahulu sementara aku pergi sebentar, ke toilet alasanku.
Setelah melihat ibuku berlalu, aku kembali ke toko tadi dan membeli sebuah sweater yang ku rasa akan cocok di kenakan oleh Pak Arga. Entah kenapa aku ingin sekali membelikannya sweater berwarna abu yang ku lihat tadi. Setelah mendapatkan apa yang aku mau, aku kembali menghampiri ibu dan melanjutkan kegiatan kami hari ini.
****
Puas rasanya hari ini aku jalan-jalan bersama ibu. Apalagi akhir-akhir ini aku hanya berdiam diri saja di rumah.
Sore hari kami baru sampai di rumah. Sesampainya dirumah, aku langsung masuk kamar dan membuka satu persatu barang belanjaanku termasuk sweater abu yang ku belikan untuk Pak Arga.
Pak Arga sudah sangat baik selama ini, mungkin tidak berlebihan kalau aku membelikannya sedikit hadiah.
****
"Makan nak. Tadi ibu liat kamu tertidur pulas, ga tega ibu mau bangunin. Mungkin kamu kecapean seharian berkeliling. Makan dulu ya, baru nanti tidur lagi."
Ibu mengambilkan setiap hidangan yang ada di meja. Kami bertiga lanjut makan malam. Malam ini pak Arga tidak ikut makan bersama lagi. Mungkinkan dia akan pulang larut seperti kemarin?
Ku habiskan makanku lebih cepat. Aku kembali ke kamar dan menelpon salah satu temanku. Ku tanyakan kegiatan mereka hari ini di kampus. Mencoba mencari tau kesibukan lain apa yang mengharuskan pak Arga pulang larut.
Bukan bermaksud posesif, sebagai istri harusnya aku tau kegiatan suaminya di luar sana kan?
Ku tunggu Pak Arga pulang. Sudah lewat pukul sepuluh malam, namun belum ada tanda-tanda dia akan pulang. Ku terus menunggu sampai jam di tanganku menunjukan pukul 01:00 dini hari, barulah suara mobilnya terdengar.
Tak lama ku dengar pintu di ketuk beberapa kali. Aku pikir ayah akan terbangun dan membukakan pintu seperti kemarin. Namun ketukan berikutnya terdengar lagi, dan ayah sepertinya sudah tertidur.
Aku keluar membukakan pintu. Pak Arga seperti agak kaget melihat aku yang membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
"Loh kok kamu yang buka. Emang belum tidur?" tanya nya dengan suara agak lemah.
Aku kembali ke kamar tanpa memberi jawaban. Jujur aku kesal. Tapi aku tidak berhak sama sekali untuk marah. Aku bukan siapa-siapanya.
Dia masuk ke kamar dan mencoba menjelaskan kenapa dia pulang selarut ini.
Ku tarik nafas panjang dan memberanikan diri menatap wajahnya. Dia terlihat kusut. Lelah tergurat jelas disana.
"Ia aku tau. Tadi Hasna menelponku. Dia bilang di kampus lagi ada acara. Dan bapak jadi salah satu panitianya kan."
Mendengar penjelasanku dia terlihat sedikit terkejut, pun dengan aku saat melihat reaksinya kemudian.
"Maaf, aku tidak bermaksud mencampuri urusan bapak. Tadi aku hanya ngobrol-ngobrol aja sama Hasna. Dia cerita gitu. Aku sama sekali ga menanyakan soal bapak, apalagi..." aku tak sampai menyelesaikan kalimatku. Aku memandangnya penuh keraguan. Entah apa yang akan dia pikirkan tentang aku setelah ini. Jelas aku sudah mencoba memata-matai pak Arga dan mencari tahu apa yang dia kerjakan akhir-akhir ini.
Namun di luar dugaan. Dia malah menanggapinya dengan santai.
"Maaf ya. Lain kali kalau aku pulang telat, aku akan ngabarin kamu terlebih dahulu." sambil tersenyum dia menepuk lembut tanganku dan berpamitan untuk membersihkan diri.
Jantungku seakan meloncat-loncat. Aku tak menyangka dia akan mengatakan itu. Aku dibuat salting olehnya. Namun aku harus bisa mengendalikan diri. Aku tak boleh melewati batasanku. Dia bukanlah suamiku seutuhnya. Apalagi mengingat kondisiku sekarang ini. Masih untung ada laki-laki yang mau menikahiku walau aku tak tau sampai kapan. Yang pasti selepas semua ini berakhir, pak Arga berhak mendapatkan wanita yang lebih baik.
"Besok mau ikut ke kampus? Kamu pasti kangen kan dengan suasana kampus?" tanpa aku sadari pak Arga sudah keluar dari kamar mandi.
Aku hanya melongo kaget.
"Ya sudah, cepat tidur sana. Kita berangkat jam delapan pagi ya."
Dia mengambil bantal dan selimut lalu merebahkan tubuhnya di sofa.
Akupun mencoba untuk tidur dan menutup mata yang belum benar-benar mengantuk.
****
Pagi ini tak banyak yang berbeda. Selepas sholat, pak Arga berolah raga di halaman belakang. Sementara itu aku mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus setelah sebelumnya membantu ibu didapur.
__ADS_1