Dreamcatcher

Dreamcatcher
Prolog


__ADS_3

Minggu pagi, Alvino sudah dibuat pusing oleh dua sahabatnya, Lazio dan Satya. Bagaimana tidak? Dua orang itu kini berteriak - teriak kegirangan di dalam kamarnya. Berbeda dengan Ken, sahabat normalnya yang hanya bisa menggeleng tak habis pikir.


"Vino! Buruan!" jerit Lazio yang sangat antusias.


Hari ini mereka akan mengunjungi rumah Gavino, sahabat mereka yang baru saja kembali ke Indonesia setelah mengisi liburan kenaikan kelas dengan mengunjungi keluarganya di Korea Selatan.


"Elah, Vino! Lamban banget sih!" Satya memutar kedua bola matanya malas saat melihat Alvino yang bergerak menuruni tangga dengan santai.


"Lo berdua rusuh banget!" sahut Ken yang berjalan beriringan dengan Alvino. Sungguh, bagi Alvino, Ken adalah sahabatnya yang paling normal setelah Gavino.


Lazio mendengus dengan tampang kesal. "Ish, emang kalian gak kangen sama Gavin?"


"Dua minggu yang lalu kita ke rumahnya, Yo."


"Kali ini beda, Vin! Dua minggu yang lalu kita masih kelas sepuluh, sekarang kita udah kelas sebelas! Dan yang paling beda adalah Gavin bawa adeknya. Emang lo gak penasaran sama Alena? Malaikat kecilnya si Gavin itu?" cerocos Satya yang diberi anggukan mantap oleh Lazio.


Tangan Ken sontak melayang, memukul belakang kepala dua sahabatnya itu. "Yeu, itu sih lo pada aja yang mau modus! Lagian, dua minggu yang lalu juga kita udah naik kelas, ****!" ejeknya.


"Bacot! Udah ayo, buruan!"


Alvino dan Ken hanya pasrah saat ditarik paksa untuk memasuki mobil oleh kedua sahabatnya itu.


○○○


Keempat pemuda itu sudah sampai di rumah Gavino, mobil yang tadi dikemudikan oleh Satya pun sudah terparkir rapi.


Dengan langkah mantap Lazio dan Satya berjalan kedepan pintu lalu memencet bel dengan tak sabaran. Sementara Ken dan Alvino hanya bisa menggelengkan kepalanya, takjub dengan tingkah dua bocah itu.


"SABAR!" terdengar teriakan cempreng seorang gadis dari balik pintu. "Cari siapa?"


Dia adalah Alena, adik Gavino. Gadis itu mengedip - ngedipkan matanya menggemaskan kala tak mendapat jawaban dari keempat pemuda yang kini berdiri dihadapannya.


Sementara keempat pemuda itu malah terpesona dengan gadis yang dua tahun lebih muda dari mereka itu. Bagaimana tidak? Gadis itu mengenakan baju kebesaran yang membuat tubuh mungilnya tenggelam, pipi tembam menggemaskan, mata indah yang mengedip - ngedip, hidung mancung, dan bibir mungilnya. Tangan gadis itu menggenggam satu corong es krim, jangan lupakan sisa es krim di sudut bibirnya yang malah menambah kesan lucu.


"KAK VINO! ADA TEMEN KAKAK!" jeritan Alena yang sudah mulai berlari ke dalam rumah membuat keempat pemuda itu tersadar.

__ADS_1


"Siapa-ADEK JANGAN LARI - LARI NANTI JA-"


Brukk...


"HUAA! KAK VINO!"


Terdengar kerusuhan dari dalam yang membuat keempat pemuda itu berlari memasuki rumah. Dan apa yang mereka lihat? Alena tengah terduduk di lantai dengan hidung merah dan pipi tembamnya yang basah akibat air mata.


"Udah dong, dek. Jangan nangis terus. Tuh, liat ada temen kakak, adek gak malu?" bujuk Gavino yang kini berjongkok di hadapan adiknya itu.


Namun, tangisan gadis itu semakin menjadi. "Es krimnya jatuh, Kak!"


"Ya ampun, Gav. Pelipisnya berdarah!" ucap Ken mendadak panik kala mendapati luka kecil di pelipis gadis itu.


Lazio ikut berjongkok. "Adek lucu, udah jangan nangis lagi, ya?" bujuknya.


Gadis itu menggeleng dengan isakan kecilnya.


"Udah ya, dek? Jangan nangis, obatin dulu pelipisnya," bujuk Satya ikut cemas.


Alvino ikut jongkok bersama keempat sahabatnya, menyetarakan wajahnya dengan wajah gadis itu.


"Udah, jangan nangis. Nanti Al belikan es krim lagi. sekarang Ale bediri, kita obatin lukanya," bujukan dari Alvino cukup untuk membuat tangisan Alena mereda walaupun isakan kecilnya masih tersisa.


Alena mengacungkan jari kelingkingnya. "Janji?"


Alvino mengangguk dengan senyumannya, "Janji," jari kelingking mereka saling bertaut.


"Vino gak salah makan, kan?" Tanya Gavino takjub. Ken, Lazio, dan Satya yang sudah mengenal Alvino lebih lama pun tak kalah takjubnya karena selama mereka mengenal Alvino, Alvino hanya baik kepada dua perempuan, ibunya dan seseorang dari masa lalunya.


"Kotak obat dimana, Gav?" Tanya Alvino yang kini sudah menggenggam erat tangan Alena.


"Ke ruang tamu dulu aja," mereka pun segera berjalan menuju ruang tamu lalu duduk di sofa sementara Gavino pergi mencari kotak obat.


"Adek, kenapa bisa jatuh?" Tanya Ken sambil menatap Alena yang kini tengah menyandarkan kepalanya di bahu Alvino, merasakan pusing di kepalanya.

__ADS_1


"Tadi Ale kesandung," sahut Alena sambil mencari posisi nyaman dibahu Alvino yang hanya membiarkan gadis itu menguasai bahunya.


"terus itu pelipisnya kenapa luka?"


Tangan Lazio bergerak membuka poni Alena untuk melihat luka yang dialami gadis itu. Namun, tangan Alvino lebih dulu menepisnya.


"Ale kejedot ujung meja vas bunga tadi," jawab Alena. Mata gadis itu mulai menutup, tangan mungilnya bergerak memeluk pinggang Alvino.


"Ale pusing, Al." keluh Alena yang membuat Alvino mengelus puncak kepalanya.


"Mau ke Rumah Sakit?"


Alena sontak menggeleng mantap saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Alvino.


"Gak mau, Rumah Sakit bau obat!" Rajuk Alena yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Nih, Vin," Gavino datang menyodorkan sebuah kotak obat.


"Sorry, ya. Adek gue emang gitu, agak manja," imbuh Gavino yang tak enak saat melihat Alena merepotkan Alvino.


Alvino menggeleng. "Gue suka kalo Ale yang repotin gue."


"Gue jadi bingung Vino itu Alvino atau Gavino," keluh Satya saat Alvino mulai mengobati luka Alena dan Gavino terduduk disampingnya.


"Gue Gavin, cuma adek gue aja yang manggil gue Vino," sahut Gavino santai.


"Gue Vino, cuma Ale yang boleh manggil gue Al," timpal Alvino yang seketika membuat keempat pemuda itu menatapnya.


"Mulai sekarang Ale milik gue, gue bakal jaga dia dan gak ada yang boleh ganggu dia." tegas Alvino yang seketika membuat keempat sahabatnya semakin takjub.


"So, dimana kamarnya?" imbuhnya sambil menggendong tubuh Alena yang entah sejak kapan tetidur.


"Di sebelah kamar gue,"


Alvino mengangguk lalu mulai melangkah.

__ADS_1


"Vin, gue percaya sama lo," ucapan Gavino membuat Alvino menghentikan langkahnya sejenak untuk mengangguk.


__ADS_2