Dreamcatcher

Dreamcatcher
Pengganggu


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang paling Alena tunggu. Hari acara camping diadakan.


Kini, ia sudah terduduk di salah satu kursi bus yang akan membawa mereka ke tempat camping.


Gadis itu sesekali bersenandung sambil menunggu Alvino yang sedang sibuk mengabsen siswa lain. Ya, ia akan duduk sebangku dengan sang kekasih.


Tak lama, bus sudah terisi penuh. Hanya tinggal Alvino dan pengurus OSIS lainnya.


"Kak Vino, Al mana?" tanya Alena pada kakaknya yang baru saja datang memasuki bus.


Gavino mengelus puncak kepala sang adik. "Lagi ngasihin kertas absen ke guru sama Liz."


Alena mencebikan bibirnya. "Kenapa gak sama Kak Vino aja?"


"Kayaknya kamu lebih sayang sama Alvino daripada kakak, Dek." Gavino mengerucutkan bibirnya manja.


Alena sontak memeluk sang kakak dari samping. "Ale juga sayang Kak Vino, kok."


"Iya, kakak tau." Gavino terkekeh saat melihat wajah panik Alena. Candaannya berjalan sukses.


"Tuh, pangeran kamu udah masuk." lanjutnya seraya menunjuk Alvino yang baru saja memasuki bus.


Gavino kembali mengelus puncak kepala Alena. "Kakak pergi ke kursi belakang, ya? Kalo dia macem - macem panggil nama kakak tiga kali."


"Ish, dikira jin." kekeh Alena sambil memukul pelan punggung kakaknya.


Alvino duduk di samping Alena. "Ngomongin apa sama Gavin?"


"Kepo!" Alena menjulurkan lidahnya, meledek Alvino.


Cup...


Namun, nyatanya Alvino malah mengambil kesempatan untuk ******* bibir dan lidah gadis itu sekilas.


"Al! Gak boleh gitu! Muka Ale panas jadinya!" protes Alena dengan wajah semerah kepiting rebus.


Alvino tertawa terbahak - bahak. "Gapapa, cantik kok."


"Ish, Al nyebelin!" Alena memukul - mukul dada Alvino.


Alvino menahan lengan gadis itu lalu menariknya ke dalam pelukan. "Jangan dipukul, sakit. Mending dipeluk aja."


Sementara semua orang di dalam bus tengah terpesona dengan seberapa manis hubungan kedua orang itu, Zara justru menaruh rasa cemburu.


Gadis itu mendekatkan ponsel ke telinganya, menghubungi seseorang. "Jalankan misi itu sekarang.


○○○


Saat ini bus mereka tengah berada di area peristirahatan. Semuanya berpencar entah kemana.


Alena sedari tadi hanya mengikuti Alvino kesana - kemarin. Sebenarnya Alena sangat ingin berkumpul dengan teman - temannya yang lain. Namun, Alvino selalu melarangnya.


Dapat Alena lihat, keempat temannya tengah asik membeli kebab di pinggir jalan. "Al, Ale mau beli kebab."


"Al! Boleh, ya?"


Alvino yang sedang sibuk membahas urutan acara camping sama sekali tidak menanggapi gadis itu. Alena mendengus dan hanya bisa terus menatap ke arah teman - temannya. Hingga, dapat ia lihat Azelo menatapnya lalu berjalan ke arahnya.


"Le, ayo gabung! Gue beliin kebab." Mata Alena langsung berbinar.

__ADS_1


"Al, Ale pergi sama Zelo, ya? Nanti ketemu lagi di bus." tanpa menunggu jawaban Alvino, Alena langsung pergi bersama Azelo.


"Wih... Akhirnya Ale gabung, nih!" ucap Adara senang saat melihat Azelo datang membawa Alena.


"Udah lepas dari kekangan singanya, Le?" ledek Lyanna sambil menggigit kebabnya.


"Ish, Al bukan singa." sanggah Alena dengan bibir yang maju beberapa centi.


"Iya, Al bukan singa. Al raja hutan!" celetuk Azka yang sontak mengundang tawa yang lainnya.


"Apa bedanya raja hutan sama singa, Azka?" sebal Alena, ia tak suka Alvinonya dijelek - jelekan.


Azelo menggelengkan kepalanya. "Udah, gak usah didengerin, Le." ucapnya sambil memberikan satu porsi kebab pada Alena.


"Makasih, Zelo. Sayang, deh."


Azelo tersenyum lalu mengacak rambut gadis itu. "Gue juga sayang sama lo, Le. Tapi, jangan bikin gue baper. Kasian hati gue."


"Emang hati Zelo kenapa?" lagi - lagi gadis itu memasang wajah polos.


"Sabar ya, Bro. Gue doain semoga lo segera move on dari cinta pertama lo." Azka berucap penuh prihatin.


"Bacot, Ka!"


Setelah itu, obrolan demi obrolan mengalir bagai air sungai sampai Azelo dan Azka dimintai tolong oleh seorang guru, menyisakan tiga gadis itu.


"Eh, denger - denger perjalanannya masih jauh, ya?"


"Hooh, makanya gue pipis dulu tadi, biar gak kebelet di jalan."


"Kan ada WC di bus."


"WC di bus gak nyaman, Le. Udah sempit bau lagi."


"Mau di anter, Le?" tawar Lyanna yang dibalas gelengan oleh gadis itu.


Alena berjalan sendirian menuju toilet tanpa menyadari sedari tadi seseorang sudah mengamatinya.


Pada awalnya semua berjalan normal. Hingga saat Alena memasuki salah satu bilik toilet, lampu tiba - tiba mati.


Byur...


Tubuh Alena seketika menggigil saat seseorang menyiramnya dengan air dari atas.


"Kamu siapa?!" pekiknya sambil berjalan menuju pintu bilik, mencoba membuka pintu itu namun tak bisa.


"Hei, buka! Ini gak lucu!" teriak Alena, menahan tangis.


"Lo kira gue ngelucu?" terdengar suara pemuda dari balik pintu.


"Kamu siapa? Ale salah apa? Buka pintunya!" teriak Alena dengan suara bergetar.


"Jauhin Alvino, Alena."


Setelah itu, tak lagi terdengar suara dari luar.


"Buka!"


"Tolong! Tolongin Ale, buka pintunya!"

__ADS_1


Alena terus berteriak. Namun, hasilnya nihil. Tak ada yang mendengar. Dan, pada saat itulah Alena terduduk, memeluk lututnya. Ia menyesal, menyesal karena tak mendengarkan Alvino untuk selalu berada di dekatnya.


"Al, Ale takut, hiks."


○○○


Bugh...


Satu pukulan Alvino layangkan kepada Azelo yang tengah mengangkut satu kardus minuman gelas.


"Woi, Vin. Sabar!" tegur Ken sambil menahan Alvino


"Dimana Alena?!" teriak Alvino sambil menarik kerah baju Azelo.


Azka menarik Azelo agar terlepas dari Alvino. "Apaan sih, Bang? Alena disana sama yang lain." ucap Azka dengan nada tidak santai.


"Disana? Disana dimana?! Mata lo buta?! Alena gak ada!" kini Gavino lah yang berteriak kesal.


"Lo yang bawa dia! Harusnya lo tau dia dimana!" tuduh Alvino pada Azelo.


"Lah? Bukannya Alena tadi sama kalian?" tanya Azka saat melihat Adara dan Lyanna berlari menghampiri mereka.


Lyanna menggeleng. "Ale tadi izin ke kamar mandi tapi dia belum balik lagi sampai sekarang."


Alvino segera berlari menuju toilet wanita saat mendengar penjelasan Lyanna.


Alvino memang sangat panik saat tak mendapati Alena tak ada di sampingnya tadi. Ia langsung berteriak - teriak tak jelas mencari gadisnya itu sehingga membuat semua orang ikut panik mencari Alena. Dan saat melihat Azelo, ia ingat bahwa Alena sempat berpamitan untuk pergi bersama pemuda itu. Namun, Alena tak bersamanya.


"Alena?!" panggil Alvino saat memasuki toilet yang gelap gulita.


"Hiks, Ale takut."


Mata Alvino bergerak liar saat mendengar suara isakan kecil gadisnya.


Brak...


Alvino langsung membuka kasar bilik toilet yang awalnya tertutup. Mata pemuda itu seketika membulat saat mendapati kondisi Alena yang menggigil.


Pemuda itu langsung menggendong tubuh Alena untuk di bawa ke klinik terdekat.


○○○


"Al, Ale takut. Hiks."


"Ssstt... Aku ada di sini. Maafin aku yang gak becus jagain kamu." lirih Alvino yang menanggapi gumaman Alena. Bahkan, setelah dokter yang menangani Alena berkata bahwa gadis itu hanya shock, Alvino tetap saja khawatir.


Tangan pemuda itu terus menggenggam erat tangan gadisnya. Ia tak mengzinkan siapapun mengusiknya termasuk Gavino yang saat ini tengah menunggu di luar.


"Hiks... Hiks... Al! Al! Ale takut!"


Alvino mencium punggung tangan Alena terus - menerus seraya berucap. "Jangan takut aku ada disini."


"Al!"


Alena membuka matanya dan langsung memeluk Alvino dengan tubuh bergetar. "Hiks... Hiks... Ale takut."


"Aku ada disini." ucap lembut Alvino yang membalas pelukan gadisnya dengan erat.


"A-Al, tadi ada suara cowok yang nyuruh Ale jauhin Al, Ale takut." ucap Alena dengan suara bergetar.

__ADS_1


Alvino mengelus punggung gadis itu, menenangkan. Dalam hatinya ia bersumpah, akan menghancurkan siapapun yang berani mengganggu orang yang dicintainya.


Maafkan typo😊


__ADS_2