Dreamcatcher

Dreamcatcher
Janji


__ADS_3

Free class. Siapa yang tidak menyukai istilah itu?


Ya, saat ini guru - guru tengah mengadakan rapat dadakan untuk membahas acara camping yang merupakan perayaan sekaligus sambutan utama untuk para siswa baru.


"Le, seriusan lo pacarnya Kak Vino?"


"Ya elah, Ra. Gak usah dibahas terus." ucap Azelo yang sudah malas mendengar pertanyaan itu.


Adara mendelik. "Zelo kalo cemburu bilang!"


Uhuk...


Azelo tersedak ludahnya sendiri. "Ngaco!"


"Eh, beneran, Zel? Lo cemburu? Lo suka sama Ale?!" tanya Azka bertubi - tubi.


"Hati - hati, Bro! Nikung Alvino sama dengan kecelakaan lalu lintas." ejek Lyanna yang seketika membuat Adara dan Azka tertawa.


Sementara Alena menatap bingung, tak paham dengan obrolan keempat temannya. "Kalian ngomongin apa, sih?"


"Si Zelo suka sama lo, Le." ucap Azka, lancar tanpa hambatan sedikitpun.


Alena mengangguk. "Iya, Ale juga suka sama Zelo. Kalo gak sula mana mau Ale temenan sama Zelo."


Keempat orang itu menggeleng. Mereka berpikir, bukankah Alena terlalu polos untuk menjadi seorang gadis SMA?


"Alena mending minta susu ke Alvino terus tidur dikelonin, gih!" ucap Azka menahan rasa gemas di tangannya untuk tidak memukul kepala Alena.


Mulut dan mata Alena tiba - tiba membulat antusias. "Hoo, ide bagus. Ale udah bosen daritadi."


Dan begitulah, Alena langsung berlari menuju ruang OSIS. Ia sangat yakin bahwa Alvino ada disana karena OSIS juga sedang melaksanakan rapat dadakan.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


Dengan tidak tahu malunya Alena mengetuk pintu ruangan itu. Padahal Alena tahu bahwa seisi ruangan itu tengah melaksanakan rapat. Namun, apa boleh buat? Alena benar - benar bosan dan hanya Alvino-lah yang bisa menghiburnya.


Ceklek...


Pintu terbuka menampilkan seorang gadis yang sama sekali tak ingin Alena temui lagi. Siapa lagi jika bukan Zara? Kakak OSIS kecentilan yang hampir menamparnya di hari pertama MOS.


"Lo?! Ngapain lo di sini?!" tanya Zara dengan nada tak santai.


"Cari Alvino." jawab Alena singkat dan lantang.


Zara tersenyum meremehkan. Mencari Alvino? Mana mungkin pemuda itu mau menemui adik kelas yang kepribadiannya masih tertinggal di SD seperti Alena?


"Minggir." tiba - tiba suara dingin Alvino terdengar.


Zara menggeser tubuhnya agar tidak menghalangi Alvino. "Lho, Vin? Mau kemana? Rapatnya?"


"Udah selesai. Lo, bersihin ruangan." Alena tersenyum penuh kemenangan saat mendengar ucapan Alvino.


"Itu bukan tugas gue, Vin." tolak Zara dengan halus.


Rahang Zara menganga kala melihat Alvino yang tak tersentuh baginya justru memeluk seorang gadis yang sama sekali tidak jelas darimana datangnya.


"Alvino kok jalan sama adek kelas kurang ajar itu sih?!" tanya Ziya yang juga menatap kepergian Alvino.


"Rasain! Adik Gavin dilawan, ya lo yang kalah." celetuk Lazio dengan tawa yang menggelegar.


"Adik Gavin?!" tanya Zoeya, teman Zara dan juga Ziya. Ia memang tidak mengetahui soal Alena karena pada saat MOS ia izin.


"Kenapa? Ada masalah sama adik gue?" tanya Gavino dengan nada dingin.


"Keliatan banget waktu pacaran gak dihargain, sampe adiknya pun gak tau." ejek Satya yang juga tertawa bersama Lazio.


Ken menepuk bahu Gavino lalu berbisik. "Udah, Gav. Gak usah ikutan jadi lambe turah kaya si Zio sama si Satya."

__ADS_1


○○○


Di sinilah Alvino dan Alena berada, rooftop sekolah. Mereka tidur terlentang dengan Alena yang benjadikan perut Alvino sebagai bantalan.


Menatap langit yang cerah, Alena lantas berucap. "Semoga hidup kita selalu cerah kayak langit hari ini, ya?"


Alvino tersenyum, tangannya mengelus rambut Alena. "Hidup aku akan selalu cerah seperti langit itu selama kamu ada di sisi aku."


"Ale juga. Hidup Ale akan selalu cerah asalkan semua orang yang Ale sayang selalu ada di sisi Ale." tangan mungil gadis itu mengacung ke arah langit, seolah ingin menggapai matahari yang tengah bersinar dengan cerah.


"Aku akan selalu ada di sisi kamu."


"Al janji?"


"Janji."


Jari kelingking mereka saling bertaut, membuat janji yang entah akan bertahan sampai kapan.


"Oh iya, Al. Ale boleh ikut camping, kan?" tanya gadis itu yang kini mengambil posisi duduk.


"Karena aku, Gavin, dan Liz ikut jadi kamupun harus ikut karena gak ada yang jaga kamu." jawab Alvino sedikit berbelit - belit.


Mata Alena langsung berbinar antusias. "Jadi intinya Ale boleh ikut?"


Alvino tersenyum lalu mengangguk mantap.


"YEAY!!!"


"Tapi..., " Alena mengangguk saat mendengar ucapan menggantung dari Alvino itu.


"Iya. Syaratnya gak boleh bandel, harus selalu deket Al, Kak Vino, atau Kak Liz. Dan, yang paling penting jaga kesehatan." cerocos gadis itu yang sudah hafal dengan syarat yang selalu dilontarkan Alvino sebelum mereka berpergian.


Alvino terkekeh sambil mengacak rambut Alena. "Jadi, aku bisa pegang janji kamu?"

__ADS_1


"Iya, janji."


Lagi, jari kelingking mereka bertautan. Kali ini dengan sebelah tangan Alvino yang memeluk gadis itu.


__ADS_2