Dreamcatcher

Dreamcatcher
Teman Baru


__ADS_3

Pagi ini, Alena kembali datang ke sekolah. Akhirnya ia dapat bersekolah lagi setelah menghabiskan waktu tiga hari di rumah. Ya, Alena benar - benar melewatkan masa MOS dan hari ini adalah hari pertama sekolah kembali efektif.


"Al, kenapa pada ngeliatin Ale?"


Lagi - lagi Alena dibuat risih dengan tatapan seluruh siswa yang ditemuinya di Koridor. Sementara Alvino yang sedari tadi berjalan di samping gadis itu hanya terkekeh.


"Itu karena kamu cantik," sahut Alvino asal.


Alena mengerucutkan bibirnya. "Kalo gitu Ale mau jelek aja!"


Alvino sontak tertawa mendengar ucapan gadisnya itu. Dan kalian tahu? Semua orang yang melihat itu terpesona dibuatnya.


Berbeda dengan Alena yang semakin mengerucutkan bibirnya. "Ish, Al! Malah ketawa!"


"Kamu lucu. Udah, sana masuk kelas."


Alena menatap sebal Alvino lalu beralih menatap pintu kelasnya yang bertuliskan 'X MIPA 6'.


"Ini kelas Ale?" mata gadis itu mengedip lucu.


Alvino tersenyum gemas, ia mengacak rambut Alena. "Bukan. Ini kelas aku," jawabnya yang jelas hanyalah sebuah candaan.


"Lho? Al kan udah tua." balas Alena, tak mau kalah dengan candaan Alvino.


Alvino mengangkat sebelah alisnya. "Kata siapa aku udah tua?"


"Kata Kak Zio, Al udah om - om. Jadi, Ale harus hati - hati biar gak diculik."


Ingatkan Alvino untuk melemparkan makhluk bernama Lazio itu ke Planet Mars. Ah, lagi - lagi Lazio mengajarkan sesuatu yang dapat mencemari otak Alenanya.


"Ale, jangan dengerin Zio lagi, ya? Ale tau aliran sesat, kan?" Alena mengangguk polos.


"Nah, Zio itu salah satu pengikutnya. Jadi, Ale gak boleh dengerin Zio lagi nanti ikutan sesat. Emang Ale mau?" sontak Alena menggeleng keras. Ia sama sekali tak menyangka bahwa salah satu sahabat kakak dan pacarnya merupakan pengikut aliran seperti itu.


Alvino mengelus puncak kelapa Alena. "Good girl. Sekarang, masuk kelas, gih!"


Layaknya anak anjing pada sang majikan, Alena menurut. Ia melambaikan tangannya, "Dah, Al!"


Setelahnya, Alena benar - benar memasuki kelas. Dan yang ia dapati adalah semua siswa di dalam kelas itu memandangnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Kenapa pada liatin Ale?"


Semuanya terdiam mendengar pertanyaan Alena.


Hingga, "Hai, Guys! Kenalin gue Adara Gab-Eh, kok pada diem?" tiba - tiba seorang gadis berambut panjang datang dengan sangat hebohnya.


Gadis itu beralih menatap Alena yang berdiri sampingnya. "Eh, lo kenalannya Kak Satya sama Kak Lazio yang waktu itu ngelawan si Zara, kan?"


Alena yang memang sudah menatap gadis itu lantas membuka suaranya, "Kamu siapa?"


"Kenalin, gue Adara. Nama lo?"


"Alena."


"Kalian mau berdiri aja di situ?" celetuk seorang gadis cantik yang sedari tadi menonton percakapan tak jelas itu.


Dan bagai dihipnotis, Alena dan Adara berjalan ke arah gadis itu secara bersamaan.


"Kenalin gue Lyanna, pacar Kak Satya yang tadi kalian sebut." dan seisi kelas langsung berisik saat menyadari bahwa di dalam kelas itu berisi dua orang gadis yang merupakan kekasih dari para cassanova.

__ADS_1


"Hah? Serius lo?" tanya Adara yang segera menduduki bangku di depan Lyanna dan otomatis itu adalah bangkunya. Sementara Alena memilih bangku di sebelah kanan bangku Lyanna.


Lyanna mengangguk lalu menunjukan layar ponselnya yang menunjukan fotonya bersama Satya.


"Oh, jadi kamu pacarnya Kak Satya." Alena menggumam lucu.


Lyanna tersenyum menatap Alena. Ia tidak pernah menyangka bahwa gadis pilihan Alvino selalu sama, polos.


"Ah, Azka! Lo sih ngebo, untung gak telat!"


"Ya, maaf atuh, Zel. Gue ngantuk!"


Terdengar kerusuhan dari luar yang sukses membuat perhatian ketiga gadis itu teralihkan.


Dua orang pemuda memasuki kelas itu. "Halo, Epribadeh!" sapa salah satunya.


"Hai, Ara! Kita tetanggaan dan temen dari kecil. Tapi, lo gak bangunin gue?! Jahat lo! Untung ada Babang Zelo!" ucapnya lagi seraya berjalan menghampiri Adara. Sementara pemuda yang satunya lagi hanya melewati pemuda berisik itu lalu mengambil bangku di belakang Alena.


Adara memasang wajah menyebalkan. "Kenal sama gue?"


Alena sontak terkikik mendengar ucapan Adara. "Haha... Ale suka sama jawaban Ara."


Pemuda berisik itu lantas menatap Alena. "Sama gue gimana? Suka?"


Pletak...


Satu pulpen melayang mengenai kepala pemuda berisik itu. "*****, Zelo! Sakit pala gue!"


Pemuda di belakang Alena yang merupakan pelaku pelemparan pulpen itu lantas menyahut. "Berisik lo, Ka."


"Maneh mah gak bisa diajak bercanda, Zel!" pemuda itu merenggut, "Kenalin, gue Azka."


"Kalo kamu siapa?" tanya gadis itu sambil berbalik ke belakang.


Pemuda di belakang Alena sedikit tersentak. Namun, senyumannya mengembang kala mendapati wajah menggemaskan gadis itu. "Gue Azelo."


○○○


Bel istirahat, Alena bersama keempat teman barunya pergi menuju Kantin.


"Kalian mau pesen apa?" tanya Adara saat mereka sudah berdiri di stand para penjual makanan.


"Gue bakso sama jus mangga," sahut Lyanna yang hanya berdiri di barisan belakang.


"Kita samain aja!" timpal Azka dan Azelo bersamaan.


Adara menatap Alena. "Le, lo mau bakso juga?"


Baru saja Alena akan menjawab 'Iya'. Namun, tiba - tiba seorang menabrak bahu Alena. Siapa lagi jika bukan Alvino yang kini menatapnya dengan tatapan penuh peringatan.


"Aduh, Kak. Maafin temen saya gak sengaja." Adara segera meminta maaf untuk mewakili Alena.


Tiba - tiba Lyanna mendekat lalu tertawa melihat ekspresi Adara. "Ngapain lo minta maaf?"


"Na, bunuh diri lo?" bisik Adara dengan matanya yang membulat sempurna.


"Bunuh diri apaan? Dia gak akan marah sekalipun Alena nginjek kakinya dengan sengaja." jawab Lyanna yang masih saja tertawa.

__ADS_1


"Aduh, Na. Gue tau lo pacarnya Kak Satya. Tapi-," ucapan Adara menggantung begitu saja saat matanya menangkap Alena yang bergelayut manja di lengan Alvino.


"Al. Boleh, ya?" bujuk gadis itu dengan ekspresi memelas.


"Nanti kamu sakit, Le."


Alena semakin memelas. "Gak akan, Al. Ale janji gak akan sakit."


"Janji kamu selalu begitu." balas Alvino tak mau kalah.


"Terus Ale makan apa?" rajuk Alena yang sepertinya sudah menyerah dengan bakso.


Alvino memberikan sebuah kotak makan kepada Alena. "Buatan Bunda, jadi sehat."


"Waffle?!" Alena memekik kesenangan saat melihat waffle cokelat buatan Bunda Amanda alias Bundanya Alvino.


Alvino yang gemas langsung menggedong Alena seperti Koala lalu membawanya ke meja kantin yang biasa dirinya isi bersama sahabatnya.


Adara melongo melihat aksi Alvino. "Gak salah, tuh? Kak Vino, kan?"


"Ya, nggaklah! Alena kan pacarnya Kak Vino." sahut Lyanna santai.


"Hah?!" pekik Adara, Azka, dan Azelo secara bersamaan.


"Buset, kaget gue!" celetuk Satya yang entah sejak kapan sudah berada di antara mereka. Jangan lupakan keberadaan Ken dan Lazio yang saat ini tengah mengusap dada.


"Ngomong itu pelan - pelan, jangan bikin kaget orang. Gimana kalo ada yang punya riwayat penyakit jantung?" cerocos Lazio dengan nada yang tidak santai.


Adara menatap polos ketiga pemuda itu. "Kak Ken gak akan nambahin?"


"Nambahin apa?" tanya Ken sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Ya, siapa tau mau ikut nyerocos."


Ken terkekeh. "Mana mungkin."


"Muka lo polos banget, Ra. Kayak yang minta digeplak." ucap Lyanna dengan tawanya yang menggelegar.


"Ketawanya lebar banget, Mbak. Hati - hati ada lalat masuk." ucap Satya sambil menggeleng, tak percaya bahwa dirinya berpacaran dengan gadis urakan macam Lyanna.


"Ngurusin lalat ngapain pake hati?" sahut Lyanna dengan wajah menyebalkan.


Satya lagi - lagi menggeleng, takjub saat menyadari dirinya sudah bertahan cukup lama dengan gadis tak jelas macam Lyanna. "Kamu mending duduk aja sama Ale, biar aku yang bawa pesenannya. Kayaknya kelamaan berdiri itu berpengaruh mengganggu kesehatan akal."


"Hihi, akhirnya peka. Makasih, sayangku!" kikik Lyanna sambil mencolek dagu Satya. "Yuk, Ra! Kita duduk aja! Udah ada babu."


Adara terkekeh. "Kak Ken, titip bakso sama jus Ara, ya."


"Makasih ya, Bang." ucap Azelo yang mulai berjalan mengikuti jejak kedua gadis itu untuk duduk.


"Kalo bisa sekalian dibayarin." timpal Azka dengan tidak tahu dirinya.


Namun, tiba - tiba Lazio dan Satya menghadang mereka berdua.


"Pake rok dulu kalo mau duduk." ancam Lazio benar - benar serius.


"Bener, tuh. Kalo masih mau pake celana, bantuin kita bawain pesenan si Gavin sama Liz." imbuh Satya, menggebu - gebu.

__ADS_1


"Udah, gak usah pake mikir. Gue yang bayar semua pesenan. Kalian yang bawa." dan setelah mengucapkan itu, Ken pergi meninggalkan empat pemuda yang melongo dibuatnya.


__ADS_2