
"Al, pengen es krim!" rengek Alena saat dalam perjalanan pulang bersama Alvino.
Alvino yang sedang sibuk menyetir lantas menoleh ke arah gadis itu. "Nanti kamu sakit."
"Ale gak akan sakit, Al!" balas Alena sambil menarik - narik ujung seragam Alvino.
Alvino menepikan mobilnya. "Sekarang aku tanya sama kamu, alasan kita pulang cepat sekarang karena apa?"
"Ish, pusingnya kan tadi. Sekarang udah gak pusing."
"Tapi pipi kamu tadi merah banget, Ale. Gimana kalo demam?" Alvino tetap kukuh dengan larangannya.
"Nggak akan, Al! Ale pengen es krim," Alena mengelus perutnya sebelum melanjutkan ucapannya. "Dedek bayi yang mau."
Uhuk...
Alvino sontak tersedak ludahnya sendiri. Darimana gadisnya yang polos berlajar mengucapkan kalimat ambigu seperti itu? Alvino bahkan berani bersumpah bahwa ia tak pernah melakukan hubungan haram itu, ia tak akan pernah merusak gadis yang dicintainya.
Alena mengerucutkan bibirnya kala melihat Alvino yang hanya terbatuk dengan wajah bak orang tak punya akal. "Al!"
"Belajar darimana?"
Kening Alena berkerut mendengar pertanyaan Alvino. "Belajar? Ya, belajar di sekolah, Al. Udah deh, Ale pengen es krim!"
"Kamu belajar darimana? Pake bawa - bawa dedek bayi segala?"
Mata Alena berkedip lucu. "Kak Zio. Katanya, kalo Ale pengen sesuatu harus bilang kayak gitu biar diturutin."
Musnahkan saja makhluk bernama Lazio itu dari muka bumi ini.
Ingin rasanya Alvino melemparkan Lazio ke planet Mars agar tak lagi mencemari otak Alenanya yang bersih.
Alvino menggenggam tangan mungil Alena. "Dengerin aku, gak boleh ngomong kayak gitu lagi karena aku gak akan turutin kamu cuma karena kalimat itu, kecuali kalo kita udah nikah. Dan satu lagi, jangan pernah lagi dengerin omongan Lazio yang ngaco."
"Emang salah, ya?"
"Nggak salah cuma belum waktunya, Sayang."
Alena mencebikan bibirnya saat menyadari bahwa semua upayanya untuk mendapatkan es krim gagal. Hal tersebut membuat Alvino terkekeh, sungguh lucu gadisnya itu.
Alvino kembali melajukan mobilnya tapi bukan menuju rumah Alena melainkan menuju kedai es krim langganan Alena.
"Satu porsi, gak boleh nambah."
Mata gadis itu berbinar, sungguh Alvino adalah orang paling pengertian di muka bumi ini, pikirnya.
○○○
"Seneng?" tanya Alvino dengan tangannya yang sesekali mengelap sisa es krim di pipi dan bibir Alena.
__ADS_1
Alena mengangguk antusias. "Seneng."
"Tapi kurang," lanjutnya dengan ekspresi berubah drastis. Gadis itu menatap es krim Alvino yang hanya dimakan beberapa sendok, berbanding terbalik dengan es krimnya yang sudah habis. Alvino memang tidak terlalu menyukai makanan manis.
"Gak boleh banyak - banyak," nyatanya itu hanya sebuah ucapan. Alvino menyuapkan es krim miliknya pada Alena. Mana mungkin Alvino bisa menolak permintaan gadisnya itu. Bahkan, jika Alena meminta untuk dibelikan pabrik es krim, Alvino akan mengabulkannya. Ya, Alvino memang berasal dari keluarga berada. Keluarganya cukup terkenal di Asia juga Eropa karena menekuni berbagai macam usaha. Dimulai dari perusahaan properti, rumah sakit, restoran, butik, hingga sekolah yang sudah memiliki banyak cabang. SMA Galaksi yang mereka tempati saat inipun adalah milik keluarga Alvino.
"Hihi, Al baik deh," kikik Alena yang dengan senang hati menerima suapan demi suapan es krim dari Alvino.
Alvino ikut tersenyum menatap Alena. Namun, entah mengapa, pikirannya terus saja dibuat khawatir oleh gadis itu. Ia tak tega saat melihat Alena harus ikut berbaris diantara para siswa baru.
"Kamu gak usah ikut MOS lagi, ya? Masuk pas udah efektif belajar aja," Alena mengangguk santai, ia memang tidak terlalu tertarik dengan acara MOS.
"Good girl," ucap Alvino sambil mencubit pelan pipi Alena.
"Ya, udah. Ayo, pulang!"
"Udah kenyang?" tanya Alvino yang menatap Alena dengan tatapan meledek.
"Katanya gak boleh banyak - banyak!" rajuk Alena sambil memukul - mukul lengan Alvino.
Alvino segera menangkap tubuh gadis itu, memeluknya dari belakang lalu memanggil pelayan untuk meminta bill.
"Al, lepasin, malu!" Alena menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Alvino terkekeh sebelum menggendong Alena meninggalkan kedai. Hal tersebut membuat semua yang melihatnya memekik, iri dengan manisnya hubungan mereka.
○○○
"Bagus, jam segini baru pulang. Darimana aja?" tiba - tiba seorang gadis seumuran Alvino muncul untuk menyambut mereka.
"Kak Liz?!" Alena memekik lalu berlari memeluk gadis itu.
"Alena jangan lari - lari!" itu adalah teguran yang dilontarkan Gavino dan Alvino.
"Tuh, dengerin. Gak boleh lari - lari. Nanti kalo jatuh gimana?" ucap gadis bernama lengkap Aliza Chandani itu. Dia adalah gadis cantik yang merupakan kakak sepupu Alvino sekaligus kekasih dari Gavino.
"Gak akan. Ih Kak Liz, kapan pulang dari Aussie? Kok gak ngasih tau Ale?" ya, Aliza memang baru kembali dari menjenguk temannya di Aussie.
"Biar surprise."
"Ale, ayo naik! Tidur, katanya tadi pusing." celetuk Alvino yang merasa diabaikan.
"Kan pusingnya tadi, Al. Sekarang udah nggak!"
"Tidur sekarang atau istirahat total selama satu minggu?"
"Heh, Bocah! Main ancam - ancaman segala!" sergah Aliza, menatap malas adik sepupunya itu.
"Gue gak ngancam, cuma nyuruh istirahat!"
__ADS_1
Gavino yang menyadari akan terjadi perang antara dua sepupu yang tak pernah akur itupun segera melerai. "Udah. Ale istirahat, ya? Alvino bener, lho. Ale harus istirahat biar gak sakit."
Alena merenggut. "Tapi, Ale masih kangen sama Kak Liz."
"Kak Liz-nya mau berduaan sama kakak."
Mendengar jawaban Gavino yang cukup ambigu membuat Alvino segera menutup telinga gadisnya. "Cukup Zio yang ngotorin otak Alena, lo gak usah ikut - ikutan!"
Gavino terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu. "Gue emang mau berduaan. Masalah buat lo?"
Plak...
Dengan sadisnya Aliza memukul kepala bagian belakang Gavino. "Sekali lagi ngomongnya gak disaring, aku pukul pake pentolan satpam depan komplek!"
"Sakit, Liz!" rengek Gavino sambil mengelus kepalanya.
Alvino sontak tertawa. "******! Berduaan sana sama macam betina!"
Setelahnya, Alvino langsung menggiring Alena yang sedari tadi menonton tanpa mengerti pembicaraan mereka menuju kamar.
"Jahat ya, Kamu!" dengus Gavino sambil mendudukan diri di sofa.
Aliza terkekeh lalu duduk di samping pemuda itu. "Makanya kalo ngomong itu disaring."
Namun, Gavino sama sekali tak menanggapi ucapan gadis itu. "Daripada ngambek mending bawain aku minum, Gav."
"Biasanya juga bawa sendiri," Gavino melunak, menatap gadisnya yang sudah satu minggu tak ia temui.
"Akutuh capek, Mas!" canda Aliza dengan nada manjanya.
Gavino lantas menatap Aliza dengan tatapan jijik dibuat - buatnya. "Aku bukan mas - mas tukang bakso, ya!"
"Ya, udah. Sana bawain minum! Yang berasa, ya."
Mau tak mau Gavino beranjak dari posisinya, berjalan menuju dapur untuk membawakan pesanan sang tuan puteri.
Tak lama setelah kepergian Gavino, Alvino turun dari lantai dua. Sepertinya Alena sudah tertidur.
"Gavin mana?" tanyanya sambil duduk di samping Aliza.
"Ngambil minum." sahut Aliza dengan tatapan yang fokus pada ponsel.
"Gimana keadaan dia, Liz?"
Mendengar pertanyaan Alvino membuat tatapan Aliza beralih sepenuhnya. Ia menatap adik sepupunya itu dengan sendu.
"Dokter bilang, dia baik - baik aja."
Aliza menghela napasnya. "Tapi, apa lo bakal baik - baik aja? Alena gimana?"
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Alvino terdiam. Alvino memang cerdas, ia bahkan selalu mendapatkan nilai sempurna. Namun, entahlah. Ia sama sekali tidak menemukan jawaban dari pertanyaan Aliza itu.
"Lo selalu menekankan bahwa Al hanya untuk Alena. Lalu, apa kalimat itu akan tetap sama?"