Dreamcatcher

Dreamcatcher
Ale Pacarnya Al


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Alena menginjakan kakinya di SMA, ia sengaja datang terlambat hanya untuk mengganggu ketenangan sang kekasih yang dikenal sangat disiplin.


Dan disinilah ia sekarang, berbaris di bagian lapangan yang terkena sinar matahari bersama siswa lain yang juga terlambat.


"Hari pertama MOS kalian udah telat? Yang bener aja! Mau jadi apa kalian, hah?!" bentak seorang kakak OSIS yang tampilannya sangat menyebalkan bagi Alena. Seragam ketat, make up berlebihan, dan aksesoris yang semuanya berwarna mencolok. Apakah itu trend sekarang? Itulah isi pikiran Alena saat ini.


"Cita - cita kita beda, Kak!" sahut Alena dengan sangat polosnya membuat semua siswa yang terkena hukuman menyemburkan tawa.


"Kenapa pada ketawa?" tanya Alena kepada seorang gadis berambut panjang disampingnya.


Gadis itu menatap takjub wajah polos Alena."jawaban lo ngena banget!"


"SEMUANYA DIEM!" teriak teman kakak kelas itu, dandannya juga sangatlah mengganggu.


"Heh, lo! Berani banget lo sama gue! Maju sini!"


Masih dengan wajah polosnya, Alena melangkah maju. "Kenapa, Kak?"


"Lo masih nanya kenapa?!"


Alena mengerutkan dahinya. "Jelas saya tanya dong, Kak. Kakak tiba - tiba nyuruh saya maju, gak jelas!"


"Udah telat, gak sopan sama kakak kelas, sekarang lo nyolot?!" tunjuk teman sang kakak kelas ikut membela.


"Yang nyolot itu kakak!" balas Alena tak terima.


"LO!" kakak kelas itu mengangkat tangannya, hendak menampar Alena.


"Jangan main tampar atuh, Kak!" tegur seorang pemuda dari barisan belakang dengan logat sunda.


Semua mata lantas berbalik memperhatikan siswa yang berhasil menghentikan aksi kakak kelasnya itu.


"Tangan lo ngapain, Zar?"


Namun, sebuah suara kembali mengalihkan perhatian mereka. Semua siswa tercengang mendapati Lazio dan Satya, most wanted sekaligus anggota OSIS SMA Galaksi, sekolah yang mereka pijak saat ini.


"Zio, ini adik kelas gak so-," ucapan dari Zara, kakak kelas itu, dengan cepat dipotong oleh Satya. "Zio tanya, tangan lo ngapain?"


Nada suara Satya menjadi dingin kala melihat sasaran Zara adalah Alena, gadis yang paling berharga bagi Alvino dan Gavino, sahabatnya.


"Ih, Satya, Zio! Kalian kenapa, sih? Bukannya belain Zara malah belain adik kelas gak tau sopan santun kayak dia!" rengek Ziya, teman Zara yang ikut andil memarahi Alena.

__ADS_1


"Kak Zio, kak Satya!" Semua siswa kembali tercengang saat mendengar suara Alena yang memanggil dua pemuda itu dengan manja.


Satya segera mendorong Ziya yang berdiri dihadapannya dengan kasar lalu menghampiri Alena. "Kamu gapapa kan, Dek?"


Alena mengerucutkan bibirnya saat Satya dan Lazio membulak - balikan tubuhnya. "Ish, Ale gapapa!"


"Kak! Cepetan ini dibubarin barisannya! Kasihan temen Ale kepananasan semua!" lanjut Alena dengan nada menuntut.


Lazio menghela napasnya. "Kalian boleh bubar, setengah jam lagi kumpul di lapangan, gak ada yang boleh telat!"


"Yo, kok lo bubarin?!" tanya Zara tak habis pikir.


Saya menatap sinis dua gadis pengganggu itu. "Kalian masih berani ngomong sama kita?"


"Kak, Ale mau ketemu Al!" Lazio mengangguk.


"Gue saranin jangan sampai Gavin sama Vino tau. kalo sampai mereka tau, ****** kalian!"


"Itu cewek siapa, sih?!" kesal Zara saat melihat Alena pergi bersama Lazio dan Satya.


○○○


"Biasa, kaum syirik," jawab Lazio santai.


"Kok syirik, sih?"


"Ya iyalah, syirik. Mereka syirik liat kamu jalan bareng sama kita, Dek," jelas Satya dengan sangat percaya dirinya.


"Idih, kak Satya sok ganteng!"


Lazio tertawa puas ketika mendengar ucapan Alena yang asal itu. "Makanya jangan ngomong sembarangan di depan orang polos, Sat."


"Kagak sembarangan! Gue emang ganteng!" sanggah Satya dengan bibir yang dikerucutkan.


"Najis! Udah sok ganteng, sok imut pula!" umpat Lazio sambil membuka sebuah pintu yang bertuliskan 'R. Ket. OSIS'


Terlihat Alvino, Gavino, dan Ken yang sedang sibuk mengurus tumpukan kertas dengan kerutan di dahi. Terlalu sibuk, mereka bahkan tak menyadari kehadiran tiga orang yang kini hanya memandang malas.


"Paketu, degem lo mau dianggurin aja?" celetuk Lazio yang mulai jengah dengan hanya memandangi tiga pemuda itu.


"Padahal lebih enak apel daripada anggur. Sabar ya, Dek. Kamu kalah sama kertas. Yuk, main sama babang aja!" timpal Satya yang menampilkan wajah bak seorang pedofil.

__ADS_1


"Ah, *******-ya bisa aja!" sahut Lazio yang malah terkesan mengumpati nama Satya.


Alena yang melihat kegilaan dua orang itu hanya menggeleng lalu berjalan menghampiri Alvino yang kini sudah menatapnya teduh.


"Al pasti capek, ya?"


Alvino menggeleng untuk menjawab pertanyaan dari gadisnya itu. Mata pemuda itu menutup saat merasakan elusan lembut Alena di pelipisnya.


Gavino yang melihat itu langsung merengek. "Dek, kakak juga mau digituin."


"Gak mau! Pacar Ale kan Al!" Alvino sontak membuka matanya, tersenyum memandang wajah bangga Alena saat menyebutkan bahwa Alvino adalah kekasihnya.


"Tapi kamu adeknya kakak!" balas Gavino tak terima.


Ken yang sedari tadi tertawa lantas menepuk bahu Gavino. "Sabar, Gav. Gue tau rasanya digituin sama adek sendiri."


Alena mengerucutkan bibirnya, siap untuk merengek kapan saja. Namun, "Udah makan?"


Pertanyaan singkat dari Alvino mampu membuat ekspresi gadis itu berubah seperti anak anjing. "Belum. Ale tadi telat, jadi gak sempat makan."


"Yo, Sat. Beliin makanan!" titah Alvino membuat Lazio dan Satya menatapnya, siap mengumpat.


"Kalian juga sekalian makan, pake aja duit gue."


Imbuhan dari Alvino itu sukses membuat umpatan Lazio dan Satya kembali masuk ke dalam tenggorokannya. "Siap, Kapten!"


Dengan santai Alvino melemparkan dompetnya kepada Satya.


"Ken, Gav. Ayoklah ke kantin! Daripada disini jadi nyamuk."


Mendengar ajakan Lazio, Ken dan Gavino segera beranjak dari posisinya. Tidak mungkin mereka mau menjadi obat nyamuk untuk dua sejoli itu, lebih baik makan gratis di kantin, bukan?


Setelah kepergian empat pemuda itu, Alvino langsung menarik Alena untuk duduk di sampingnya.


Alvino mengelus pipi Alena yang memerah akibat kepanasan tadi. "Muka kamu kenapa merah?"


"Ada deh," senyuman lebar yang khas menghiasi wajah gadis itu.


"Alena." senyuman itu berubah menjadi tawa kala mendengar nada bicara Alvino yang berubah serius.


Baginya membuat Alvino kesal itu menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2