
"kau tidak mengerjakan pekerjaan rumah dan malah asyik bekerja di dalam cafe itu," ujar seorang lelaki yang memiliki amarah yang tidak dapat terbendung lagi.
"Kenapa kau nekat untuk membiayai uang kuliah mu sendiri, Hah? Saat kau sudah besar nanti kau akan menikah dengan seorang lelaki dan tugas dari seorang perempuan yang sudah dinikahi adalah MENGERJAKAN PEKERJAAN RUMAH!" Teriak perempuan yang memiliki rambut ungu.
Cenora duduk lemas di atas lantai. "Aku melakukannya karena keinginan ku sendi-"
(Plak!) Suara tamparan
"Aku menyesal meninggalkan Sarah saat sedang pergi ke luar kota dulu, kau pasti anak haram dari Sarah," Kata seorang pria yang berambut pirang itu.
"Sudahlah sayang, itu bukan kesalahan mu." Athila perempuan berambut ungu yang merayu seperti ular berbisa.
"Sebenarnya kau ingin berkuliah di jurusan apa?" Tanya Grey lelaki berambut pirang dengan intonasi yang lebih pelan.
"Lebih baik aku berkuliah dengan uang hasil kerja kerasku sendiri, daripada menggunakan uang haram yang ayah berikan," jawab Cenora.
"KAU INI!" Teriak Grey sambil melemparkan cangkir yang berisi kopi ke arah Cenora.
Prang...
Bunyi cangkir dan beberapa pecahan cangkir menghiasi lantai yang di gunakan duduk oleh Cenora. Kepala Cenora mencucurkan darah yang menetes ke lantai.
"GARA-GARA KAU LANTAI MALAH MENJADI KOTOR!" Teriak Athila sambil membenturkan kepala Cenora ke lantai yang penuh dengan pecahan cangkir kopi.
Grey tak habis pikir, dia langsung mengambil ikat pinggang yang ia gunakan untuk memukul punggung Cenora.
"ANAK HARAM, ANAK DARI SEORANG PEREMPUAN MURAHAN!" Teriak Grey.
Cenora hanya diam dan menutup matanya, baginya jika dia berteriak mungkin mulutnya akan disumpal dengan sandal seperti kejadian saat dia berumur 16 tahun.
__ADS_1
"Kemari darahmu harus dibersihkan," kata Athila sambil menarik rambut Cenora.
Athila menarik dan menyeret Cenora dengan brutal. Cenora tiba di dalam kamar mandi yang disana terdapat bak yang sudah berisi air. Tanpa berpikir panjang Athila langsung memasukkan kepala Cenora ke dalam bak air itu selama beberapa kali.
"BAGAIMANA? AIRNYA SUDAH SEMERAH DARAHMU!" Teriak Athila yang masih memasukkan kepala Cenora ke dalam bak yang berisi air.
"Sudah sayang, anak itu sudah lemah sebaiknya kita seret dia ke dalam gudang agar dia introspeksi diri," ujar Grey sambil mengelus pundak Athila.
Athila menarik rambut Cenora "Semoga kalian mendapat kan hukuman yang sepantasnya dengan perbuatan kalian," ujar Cenora dengan lemas.
"Sudah seret dia!, dan kurung selama beberapa hari." perintah Grey sambil membuang air dalam bak yang telah dipakai untuk memasukkan kepala Cenora.
Athila menyeret Cenora dan memasukkannya ke dalam gudang yang penuh dengan debu, tak lupa Athila juga mengunci pintu gudang. Setelah itu, Athila dan Grey bekerja sama untuk membersihkan pecahan cangkir, tetesan darah Cenora dan sedikit merapikan rumah mereka.
Cenora hanya duduk diam menggigil kedinginan, "Semoga apa yang kalian lakukan mendapatkan balasan yang lebih lebih jahat," ucap Cenora dengan gemetar kedinginan. Cenora berusaha menutup kedua matanya agar dapat melupakan apa yang terjadi kepadanya hari ini.
Bruak...
Di alam bawah sadar Cenora, ia bermimpi bertemu dengan Sarah perempuan yang melahirkannya. Cenora berusaha mendekati Sarah, Sarah pun menyuruh Cenora untuk tidur di pangkuannya seperti saat Cenora masih kecil. Sarah mengusap lembut rambut Cenora.
"Ibu, aku merindukan ibu"
"Ibu juga, sayang"
"Aku ingin pergi bersama ibu"
"Tidak, ibu tidak mengizinkan kau mengikuti ibu sekarang"
"Tapi Bu"
__ADS_1
"Sepertinya waktu ibu sudah tidak lama lagi disini." senyum Sarah terukir jelas di wajahnya.
"Tunggu Bu, aku ingin ikut ibu"
"Waktu mu masih panjang, sayang"
"Aku sudah capek hidup dengan ayah dan ibu tiri seperti itu." Tangis Cenora.
"Kau tidak boleh berbicara seperti itu, mereka merupakan orang tua Cenora," ujar Sarah melanjutkan mengusap rambut anaknya.
"Tapi bu-"
"Sampai jumpa, sayangku." Sarah menghilang dari pandangan Cenora.
"TIDAK IBU!" teriak Cenora.
Cenora akhirnya sadar setelah beberapa hari tidak sadar karena kehabisan darah. Dan dihadapan Cenora terpampang seorang laki-laki yang memiliki rambut hitam legam, sama seperti lelaki yang ia lihat saat pintu gudang terbuka.
"Kau sudah sadar? Kau sudah berbaring selama 2 hari." Kata pria berperawakan tinggi itu.
"Siapa kau?" tanya Cenora terheran-heran
"Leon Jade, kau bisa memanggilku Leon." Lelaki itu menawarkan untuk berjabat tangan dengan Cenora.
Cenora menerima jabatan tangan lelaki yang bernama Leon Jade itu.
Karena manusia tidak luput dari kesalahan, saya minta maaf jika ada typo, percakapannya aneh, kurang tanda baca dan lainnya.
__ADS_1
Mohon untuk dimaafkan.