
Mereka berhenti di depan rumah yang indah dan megah, bahkan disekitar rumah tersebut terlihat taman mini yang berisikan beberapa bunga-bunga yang indah dan warna-warni.
(ilustrasi)
Supir turun lalu membuka pintu mobil untuk Leon yang pertama kali, selepas turun ia membukakan pintu mobil untuk Cenora.
Cenora berdecak kagum dengan pemandangan rumah yang tidak wajar itu, ia berpikir jika rumah yang ada dihadapannya hanya ada di cerita dongeng.
"Sudah jangan diam saja, ayo masuk," ucap Leon sambil menggandeng tangan Cenora. Cenora menurut dan mengikuti Leon dari belakangnya, diikuti dengan supir.
Para pelayan membungkukkan badan untuk menghormati Leon. Cenora yang malu-malu berusaha bersembunyi di belakang Leon.
"Sudahlah tidak apa-apa," Leon menarik tangan Cenora agar berada di sampingnya.
"Bi Is, tolong arahkan dia ke ruang tidur tamu, persiapkan juga keperluannya," ucap Leon.
"Baik, ikuti saya non." Bi Is menunjukkan jalan.
"Sudah, ikuti bi Is sana!" Perintah Leon menyuruh Cenora mengintil bi Is yang menunjukkan jalan.
Cenora berjalan mengikuti bi Is.
"Siapanya tuan Leon, non?" Tanya bi Is menggoda.
"Ah, hanya sebatas teman bi," jawab Cenora tersenyum.
"Tuan Leon belum pernah mengajak perempuan kesini, jadi saat dia mengatakan akan membawa pulang perempuan kita semua sangat terkejut," ucap bi Is.
"Hahah...hanya sementara bi," ucap Cenora.
"Selamanya juga tidak apa-apa, kelihatannya atmosfer di sekeliling nona baik," ucap bi Is.
"Bibi bisa saja." Cenora tertawa bersama dengan bi Is.
"Sebentar lagi sampai, non tinggal belok kanan."bi Is menunjukkan jalan.
Saat akan berjalan belok kanan, tiba-tiba anak perempuan yang kira-kira umurnya 7 tahun menabrak Cenora hingga mereka berdua jatuh bersamaan.
"Astaga, non Ebony." Bi Is langsung membantu anak perempuan kecil itu.
"Ah kamu tidak apa-apa?" Tanya Cenora sambil berdiri menggendong anak kecil itu.
"Astaga non, berat kasihan nona," ucap bi Is.
"Tidak apa-apa bi, dulu adik saya juga sering saya gendong seperti ini." Cenora menggendong seperti ibu menggendong anaknya sendiri.
Gadis cilik itu terdiam sambil memeluk leher Cenora, tiba-tiba Leon datang dan bertanya kepada bi Is kenapa bisa ada bunyi yang sedikit keras.
"Bunyi apa tadi? Barang jatuh?" Tanya Leon yang tergesa-gesa.
"Tidak ada barang jatuh tuan, nona Ebony menabrak nona Cenora," jawab bi Is sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Bony, astaga kemari." Leon ingin mengambil alih gendongan Ebony tapi, Ebony malah memeluk erat leher Cenora.
"Ah, tidak apa-apa biar aku saja" jawab Cenora sambil mengelus pelan puncak kepala gadis itu.
Akhirnya Leon ikut mengintil di belakang bi Is dan Cenora, sambil memandang Ebony yang sangat anteng digendong oleh Cenora.
Akhirnya mereka sampai di kamar tidur tamu, Cenora duduk di atas kasur yang tersedia. Ebony akhirnya melepaskan pelukan Cenora dan memandangi Cenora dengan mata yang berbinar-binar.
__ADS_1
(ilustrasi)
"Sudah, kau berat umur 7 tahun mau minta gendong kau, kasihan kakak itu," protes Leon yang ikutan duduk di samping Cenora.
"Kakak ini baik, kakak jahat." Ebony kembali memeluk leher Cenora kembali.
"Lah, ngatur." Leon terheran-heran.
Cenora tertawa pelan mendengar perkataan anak kecil ini, ternyata benar kata orang jika anak kecil sangat jujur.
"Kakak cantik, nikah sama kakakku ya." Mohon anak itu.
"Heh.. mulutnya sini sini." Leon menggendong Ebony dan keluar.
"Saya pamit keluar juga non, kalau ada apa apa bisa panggil saya."bi Is keluar dan menutup pintunya.
"Hahah lucu sekali," Cenora mengalihkan pandangannya ke arah jendela. "Sudah lama, tidak olahraga ternyata melelahkan juga."
***
Ditempat Leon, Leon menurunkan Ebony di kamarnya.
(ilustrasi)
"Kakak karena tidak ada orang lain kecuali kakak dan aku, aku akan bertanya sesuatu"ucap Ebony ketus.
"Ngomong sama kamu melelahkan dek," jawab Leon sambil berjalan ingin keluar dari kamar Ebony.
"Tunggu kak, kakak tertarik dengan kakak Cenora kan?" Ketus adiknya.
"Kamu masih kecil, tahu apa kamu? Lebih baik belajar, 2 bulan lagi kamu masuk SD," Leon mengelus puncak rambut adiknya.
"Kak, aku suka sama kakak itu, daripada para kakak-kakak yang pernah datang secara lancang ke kantor kakak," ucap adiknya.
"Percuma ganteng tapi jemput cewek di rumah sakit." Ebony beralih tiduran di atas kasur sambil melihat langit-langit kamarnya.
***
Di kamar Cenora, ia sedang telpon bertukar kabar dengan Lea. Cenora menceritakan semua hal tentang rumahnya yang sudah digadaikan dan menjadi tagihan, Cenora tidak menceritakan jika dia tinggal di sebuah tempat yang menakjubkan.
"Mungkin Senin besok aku sudah mulai bekerja kembali, iya, iya, aku tidak akan memaksakan diri jadi tenang saja, iya, iya, sampai jumpa." Cenora menutup teleponnya.
"Dia menjadi seperti orang tua ku saja, aku bersyukur bisa bertemu dengan dia."Cenora termenung.
"Aku harus membantu pekerjaan para pelayan-pelayan yang ada di sini." Cenora beranjak ingin keluar dari kamar.
"Mau kemana?" Tiba-tiba Leon datang dan langsung membuka pintu kamar.
"Astaga kaget." Cenora mengelus dadanya.
"Maaf kebiasaan, lain kali aku akan mengetuk pintunya." Leon langsung masuk dan duduk di atas kursi yang berada di sana.
"Kenapa? Kan aku sudah bilang, aku akan membantu," ucap Cenora.
"Hah... Terserah dirimu saja lah." Leon beranjak dari kursi dan keluar kamar Cenora.
"Lah, makhluk hidup satu ini maunya gimana sih?" Cenora juga ikut keluar dan menutup pintu kamarnya.
"Lah kok sudah hilang, cepet banget, letak dapurnya gimana? Halah tidak apa-apa lah sekalian berjalan-jalan."
Saat berjalan untuk menemukan dapur, Cenora sempat melihat-lihat sekelilingnya foto yang tertempel di dinding, beberapa guci mewah dan bunga yang indah.
__ADS_1
"Teringat akan impian ku yang ingin menjadi florist." Cenora melanjutkan jalannya.
Dia beberapa kali melihat bunga-bunga yang tertata indah di vas, ia sangat suka dengan berbagai macam bunga mengingatkannya dengan ibunya yang seorang florist.
"Sekolah florist di Lantara mahal, tapi jadi pelayan di cafe juga tidak buruk." Cenora lanjut berjalan.
Saat berjalan-jalan, tak beberapa lama ia bertemu dengan seorang pelan wanita yang sedang mengelap salah satu vas, Cenora menghampiri dan bertanya kepadanya dimana dapurnya. Seketika pelayan tersebut langsung menunjukkan jalan dan Cenora mengikuti dibelakangnya.
(ilustrasi)
"Ternyata dapurnya luas, langsung terhubung dengan meja makan utama dan meja makan pelayan." Cenora terkagum-kagum
"Pamit undur diri non." Pelayan tersebut membungkukkan badan dan segera pergi meninggalkan Cenora di dapur.
"Hah... Membantu mereka memasak ah." Cenora menggulung baju lengan panjangnya dan berjalan menuju gerombolan koki yang sedang memasak.
Pertamanya mereka semua menolak karena Cenora adalah tamu tuan mereka, tetapi Cenora tetap bersikeras untuk membujuk mereka agar mengijinkan membantu dan akhirnya mereka terpaksa menyetujui.
Cenora membantu mencuci dan memotong sayuran, menumis bumbu dan mencuci alat masak yang kotor.
Jam makan siang berbunyi waktunya makan siang, mereka menghidangkan makanan di atas meja makan utama dan sisanya mereka menaruh di atas meja makan para pelayan.
Ebony turun dari tangga dan langsung memeluk
Cenora yang sedang mengelap meja. Cenora tersenyum kepadanya dan langsung menggendongnya, lalu menaruhnya di atas kursi yang disediakan.
"Maafkan kakak ya, kakak masih harus mengelap meja sebentar lagi," ucap Cenora kepada Ebony.
"Kalau sudah kakak duduk di samping ku lalu kita makan bersama." Ebony tersenyum.
"Tentu saja." Cenora kembali mengelap meja.
"Sudah, duduk saja di samping Ebony." Tiba-tiba Leon datang dan langsung duduk di salah satu kursi.
"Oh, baiklah," Cenora menaruh lapnya. "Maaf saya tinggal." para pelayan mengangguk pelan.
"Duduk di samping sini kak." Ebony menggeret kursi agar Cenora dapat duduk disampingnya.
Cenora menurut duduk di samping Ebony, akhirnya mereka bertiga makan dengan lahap. Tidak sengaja Ebony melihat seperti bekas luka di punggung tangan Cenora.
"Telapak tangan kakak ada lukanya." Ebony memegang tangan Cenora dan melihat.
Leon juga seketika langsung melirik kearah Cenora, Cenora yang peka langsung menutup punggung tangannya dengan lengan panjang dari bajunya.
"Tidak apa-apa, ini hanya luka ringan, sudah lanjutan makan lagi ya," ajak Cenora.
"Oke."Ebony kembali melahap makanannya.
Setelah makan, Cenora membawa piring dan gelas milik mereka bertiga ke tempat cuci piring lalu mencucinya, kemudian ia menutup lauk pauk yang terhidang di atas meja makan.
Selama menunggu Cenora beberes, Ebony ketiduran di atas meja makan. Leon langsung menggendong Ebony, dan juga menyuruh Cenora langsung masuk kedalam kamar agar sisanya diurus oleh pelayan. Cenora mengangguk dan beranjak pergi masuk ke dalam kamar.
***
Sudah beberapa lama Cenora duduk di atas kasur sambil membaca novel online di handphonenya. Tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk, Cenora langsung mengijinkan masuk. Leon masuk dan menutup pintunya, lalu duduk di atas kursi yang ada di sekitar kasur.
"Aku ingin berbicara denganmu." Pandangan Leon serius menghadap Cenora.
"Baiklah." Cenora menaruh handphonenya dan memerhatikan apa yang dibicarakan Leon.
__ADS_1
Karena manusia tidak luput dari kesalahan, saya minta maaf jika ada typo, percakapannya aneh, kurang tanda baca dan lainnya.
Mohon untuk dimaafkan.