
"sebenarnya apa yang kau lakukan saat berada di rumahku?" Tanya Cenora.
"Ayahmu merupakan penjudi yang menggunakan uang perusahaan," Jawab Leon sambil membaca buku yang ada di tangannya.
"Jadi? Kau memasukkannya kedalam penjara?" Cenora menunduk menatap kedua tangannya.
"Tentu saja, karena dia telah melakukan hal yang salah." Leon membalik halaman bukunya.
"Beserta dengan perempuan berambut ungu itu?" Tanya Cenora sekali lagi.
"Entahlah, membiarkan mereka di interogasi terlebih dahulu adalah pilihan yang tepat," Jawab Leon.
"Kau tidak ikut menginterogasinya?" Cenora menatap mata Leon.
"Bawahan ku tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan," jawab Leon membalas tatapan Cenora.
"Kau juga harus beristirahat disini selama beberapa hari terlebih dahulu!" Leon mengalihkan pandangannya.
"Tetapi bagaimana dengan pekerjaan ku?" Cenora bertanya.
"Mintalah izin untuk beristirahat sebentar." Leon kembali menatap Cenora.
Cenora mengangguk pelan. "Tetapi handphonenya?"
"Aku sudah menyuruh bawahanku untuk mengambil handphone mu." Leon menyodorkan handphone milik Cenora.
Cenora mengambil handphone miliknya dari tangan Leon. Cenora menghubungi Anna dan meminta izin untuk beristirahat. Cenora bahkan mengirimkan pesan untuk Lea, teman yang ia percaya selama ini.
Kamar inap Cenora sunyi tanpa ada suara, kecuali suara terbaliknya halaman buku yang dibaca oleh Leon. Cenora menaruh handphone miliknya di atas meja yang dekat dengan kasurnya, dan menatap langit biru yang cerah.
__ADS_1
"Kau suka langit?" Leon bertanya dengan pandangan yang masih berada di buku.
"Bisa dibilang begitu, karena langit sangat lah luas bahkan burung burung yang terbang terlihat bebas dengan terbang ke langit," jawab Cenora.
Leon menutup buku yang sebelumnya ia baca dan beranjak dari tempat duduknya.
"Aku harus kembali ke kantor, ada hal yang harus diselesaikan dengan bawahan ku."
Cenora mengangguk pelan dengan pandangan yang masih menatap langit yang cerah.
Leon beranjak keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Cenora sendirian. Cenora mencoba untuk beranjak dari tempat tidur rumah sakit, berjalan sedikit demi sedikit menuju jendela dengan membawa kantung infus.
"Ibu, sepertinya ayah akan menyesal telah melakukan perbuatan ini," Cenora berbisik pelan sambil memperhatikan langit. "Kuharap ibu selalu bahagia di sana tanpa ada beban."
***
Setelah Leon beranjak keluar dari rumah sakit, ia langsung menyuruh sekretaris sekaligus temannya, Jack untuk mengumpulkan semua anak buahnya berkumpul dalam satu ruangan.
"Baik"
"Bagaimana hasil interogasinya, Jack?" Tanya Leon.
"Saya telah mencatat pertanyaan serta jawaban dari Grey Adon dan Athila Zoe." Jack menyerahkan beberapa kertas.
"Kau tidak menyiksa mereka?" Leon menerima kertas yang telah diberikan Jack.
"Tidak," jawab laki laki berambut merah itu.
Leon mencermati kertas yang telah ia terima dari tangan Jack. "Sungguh informasi yang sangat menarik."
__ADS_1
***
Cenora menghubungi Lea, dan menceritakan semua kejadian yang dia alami dan dimana posisi dia saat ini.
"Iya, iya, aku tahu, baik aku akan beristirahat, iya, kau lama lama seperti ibuku, iya kau memang seperti itu, oke, bye." Cenora menjawab semua pertanyaan Lea lewat telepon dan menutupnya.
"Walaupun dia bawel, dia sudah seperti ibu bagiku, aku harap Lea akan selalu marah seperti ini."Cenora menaruh handphone miliknya di atas kakinya.
"Posisi duduk menyandar bantal, lalu duduk di atas kasur empuk adalah "surga dunia" sekali" Cenora tersenyum mendengar perkataannya sendiri. "Sudah lama tidak merasakan "surga dunia" yang selalu diceritakan oleh Lea."
"Aku harap laki-laki yang bernama Leon itu, tidak menyusahkan seperti apa yang aku pikirkan." Cenora kembali menatap ke arah jendela.
Seseorang membuka pintu. "Permisi nona, anda sudah di izinkan meninggalkan rumah sakit, karena kondisi nona sudah cukup baik" dokter rumah sakit memberikan informasi.
"Kapan saya sudah bisa meninggalkan tempat ini?" Tanya Cenora kembali.
"Anda dapat meninggalkan rumah sakit besok," dokter menjawab pertanyaan Cenora.
"Terima kasih." senyum Cenora
"Sama-sama, sudah menjadi pekerjaan saya." dokter meninggalkan kamar Cenora
"Akhirnya bisa pulang, ibu aku ingin merawat rumah dan menjadikan rumah itu seperti sedia kala."
"Semangat Cenora, cerita mu akan dimulai dari sini, jangan sampai lengah." Cenora menepuk kedua pipinya dengan kedua tangannya.
-------------------------------------
Karena manusia tidak luput dari kesalahan, saya minta maaf jika ada typo, percakapannya aneh, kurang tanda baca dan lainnya.
__ADS_1
Mohon untuk dimaafkan.