
"luka apa itu?" Leon bertanya serius.
"Bukan luka apa apa." Cenora panik.
"Aku bertanya serius denganmu." Leon menajamkan matanya.
"Aku masih takut bercerita tentang luka ini." Cenora menunduk ketakutan.
"Begitu? Jangan lagi membantu di dapur, kalau kau masih keras kepala para pelayan dan koki yang akan mendapatkan masalah" Leon langsung meninggalkan kamar dan menutup pintu kamar Cenora.
"Ah kelihatannya dia marah, aku masih takut bercerita tentang luka ini." Cenora membuka lengannya yang tertutupi oleh pakaian lengan panjang.
"Saat aku berani, aku akan menceritakan tentang diriku." Cenora mengelus luka-lukanya yang ada di tangan.
***
Leon masih berdiri di depan pintu kamar Cenora, ia berjalan menjauh dan memanggil Jack. Leon memerintahkan agar Jack mencari beberapa info tentang Cenora.
"Cari info tentang Cenora, masa lalunya!" Perintah Leon.
"Informasi yang sebelumnya masih kurang?" Tanya Jack.
"Tentu saja masih kurang," sahut Leon.
Jack pergi meninggalkan Leon yang masih terdiam di tempat, "kelihatannya itu bukan luka biasa." Leon berjalan mengikuti Jack.
***
"Bosen, pengen keluar tapi tidak tahu pergi kemana." Cenora berguling-guling di atas kasur.
Cenora membuka handphonenya dan mengecek satu persatu pesan yang masuk, ternyata hanya pesan sampah dan pesan penipuan.
"Membantu di dapur? Nanti kena marah lagi sama Leon," Cenora berkata dalam hati.
Cenora membuka aplikasi novel online di handphonenya, membaca beberapa bab dari novel tersebut.
"Beruntungnya Ivory dicintai dengan seseorang sampai segitunya ." Cenora berangan-angan jika itu dirinya.
Saat keasyikan membaca novel tiba-tiba pintu kamar Cenora terbuka secara perlahan, Cenora menoleh ke arah pintu dan mendapati Ebony yang berjalan menghampiri Cenora.
Cenora menaruh handphonenya dan mempersilahkan Ebony duduk di sampingnya.
Ebony menunjukkan wajah memelas kepada Cenora, agar Cenora kasihan dan mengabulkan permintaannya.
"Kakak, aku ingin pergi ke mall." Ebony memeluk perut Cenora.
Cenora kaget dan mengelus puncak kepala Ebony,
"ayo kakak temani." Cenora membalas lembut dengan senyuman.
"Ah.. asyik kakak sangat seru tidak seperti kakak ku." Ebony melompat-lompat kegirangan.
"Hahahaha, kakak siap siap dulu ya..tunggu kakak sebentar," ucap Cenora.
"Oke, aku tunggu di ruang tamu." Ebony berlari meninggalkan dan menutup pintu kamar Cenora.
Cenora beranjak dari kasurnya dan memilih beberapa baju, saat asyik memilih beberapa baju ia terkejut dengan beberapa baju baru yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Tunggu baju siapa ini?" Cenora melihat-lihat baju tersebut, "indahnya."
"Itu untukmu, aku sudah menyiapkan sebelumnya," ucap Leon tiba-tiba.
Cenora menoleh kaget dan panik, "Astaga kaget, kamu tidak mengetuk pintu?" Tanya Cenora.
"Lupa," Leon berjalan mendekati Cenora dan melihat-lihat lemari baju Cenora. "Baju-baju itu untukmu, jangan banyak bertanya dan segera pakai sana." Lalu Leon beranjak pergi dan menutup pintu kamar Cenora.
"Lah, dia kenapa?" Cenora bertanya dalam hatinya.
Tak berpikir lama, Cenora segera memilih baju yang akan ia kenakan. Ia memilih baju bercorak bunga-bunga yang sangat indah.
"Aku menyukainya tapi, roknya pendek nanti lukanya kelihatan, " Ia kembali menaruh baju bercorak bunga-bunga itu. "Harus memilih baju yang serba panjang, agar lukanya tidak kelihatan."
__ADS_1
Akhirnya Cenora menemukan dress panjang yang indah dan cocok dengannya, "wah, indah sekali." Ucap Cenora sambil mengangkat tinggi-tinggi dress tersebut. "Perfect."
Setelah memakai dress panjang tersebut, Cenora berjalan turun ke arah ruang tamu untuk menemui Ebony. Saat ia berdiri di tangga, ia tak menyangka jika Leon sedang duduk bersenda gurau dengan Ebony. Ia menarik nafas dalam-dalam dan dia hembuskan, dan lanjut berjalan menuruni anak tangga.
Ebony menoleh kearah Cenora, "ah kakak sudah datang, ayo kita berangkat." Beranjak dari sofa dan berlari menghampiri Cenora.
Leon juga menoleh dan memandang ke arah Cenora, "cantik." Adalah kata kata yang ia keluarkan secara pelan tanpa Cenora sadari.
"Kakak ikut?" Tanya Ebony kepada Leon.
Ia tersadar dari lamunannya, "ah maaf, kakak tidak bisa ikut." Leon mengelus puncak kepala Ebony.
"Sibuk?" Tanya Cenora.
Leon mengangguk, " ini adalah kartu debit, tidak ada limitnya, sandinya sudah ku kirimkan lewat pesan. Jangan sungkan memakainya." Leon menyodorkan kartu debit ke arah Cenora.
"Ah...tidak usah." Cenora berniat menolaknya.
"Aku memaksa." Leon tetap memberikan kartu debit tersebut kepada Cenora.
"Kalian akan diantar oleh Louis."Leon berjalan pergi meninggalkan ruang tamu.
"Mari nona Ebony dan nona Cenora saya antar," ucap Louis sambil menunjukkan mobil yang akan mereka pakai.
Mereka bertiga berjalan ke arah mobil, dan berangkat ke arah mall yang lokasinya agak sedikit jauh dengan kediaman Leon. Louis menurunkan mereka di depan lobby utama dan menunggu mereka di mobil, mobil tersebut bahkan terparkir dibarisan VIP.
"Ayo kak kita belanja yang banyak." Ebony menggandeng tangan Cenora dan menarik masuk kedalam.
Ebony dan Cenora berjalan melihat-lihat, banyak penjual makanan dari brand-brand terkenal dan beberapa brand pakaian dan lain sebagainya.
Setelah mereka berjalan cukup lama, pandangan Ebony tertuju kepada play ground.
"Kak, mau main di sana." Ebony menunjuk ke arah play ground tersebut.
"Oke, kakak tunggu di tempat tunggu," ucap Cenora.
Cenora mencari tempat makan yang nyaman dan disukai oleh Ebony, akhirnya mereka menemukan tempat makan yang menarik bagi Ebony.
"Disitu saja kak, kelihatannya menarik."Ebony menunjuk ke arah restoran steak.
"Baiklah, ayo." Cenora menggandeng Ebony dan masuk ke restoran steak.
Cenora bersama dengan Ebony mengantri dan memesan 2 porsi steak, yang satu steak ayam yang satu steak sapi. Setelah memesan dan membayar, mereka menunggu di meja makan, dan tak lama kemudian pesanan mereka datang.
Ebony sangat senang, ketika steak tersebut enak dan rasanya memuaskan. Cenora melihat-lihat Ebony saat makan menggunakan pisau dan garpu, sangat lihai sekali. Anak umur 7 tahun mana ada yang bisa makan menggunakan garpu dan pisau,
"Enak?" Tanya Cenora.
"Tentu saja, kakak tidak pernah mengajakku makan seperti ini." Ebony melanjutkan makannya dengan lahap.
Selepas mereka berdua makan steak, Ebony menggandeng tangan Cenora dan menuntunnya ke arah toko pakaian yang brand-nya cukup terkenal.
"Astaga, kita kenapa kesini?" Cenora menghentikan langkahnya.
"Kita harus membeli sesuatu dari toko ini." Ebony semakin berusaha menggeret tangan Cenora.
"Kita pulang saja ya," ucap Cenora.
"Kakak tidak usah menghawatirkan masalah uang, debit kak Leon tidak akan habis dengan memborong toko baju ini." Ebony semakin merayu Cenora.
"Hah...baiklah." Cenora menggerakkan kakinya mengikuti langkah Ebony.
Ebony tetap menggandeng Cenora, sambil memimpin dengan langkah kecilnya. Mata kecil Ebony melihat sekeliling area toko. Tak sengaja mata Cenora melihat label harga yang terpampang dengan jelas, tentu saja Cenora melongo.
"Dulu saat ayah dan ibu masih akur, membeli pakaian maximal hanya 5 angka ini kenapa sampai 6 angka coba," ucap Cenora dalam hati.
Ebony berhenti di area pakaian perempuan, terpampang beberapa dress panjang, setelan yang cantik dan beberapa pakaian yang lainnya.
__ADS_1
"Ada yang biasa kami bantu?" Tanya salah satu pegawai di sana.
" Anu...bisakah mencarikan pakaian yang cocok dengan kakak ku?" Tanya Ebony kepada pegawainya.
"Lah? Untuk aku?" Cenora memandangi Ebony.
"Oh baiklah saya akan menunjukkan mulai dari dress sampai pakaian dalam?" Tanya pegawainya.
"Tentu saja," jawab Ebony.
"Lah." Cenora kebingungan, "tidak perlu sampai pakaian dalamnya." Cenora malu.
"Baiklah, saya akan menunjukkan dari mulai dress sampai setelannya." Pegawai tersebut pergi meninggalkan mereka.
"Kenapa harus kakak?" Tanya Cenora sambil memegang keningnya.
"Aku senang karena kakak baik, tidak jahat, kakak sudah seperti kakak kandungku sendiri." Ebony beralih memeluk kaki Cenora.
"Kamu juga sudah ku anggap sebagai adikku sendiri," Cenora beralih memeluk Ebony, "saat kakak membeli sesuatu, kamu juga harus ikut membeli sesuatu, oke?" Tanya Cenora.
"Oke," sahut Ebony.
Pegawai tersebut datang sambil membawa beberapa potong pakaian untuk Cenora, karena Cenora bertubuh kecil maka gampang baginya untuk memilih ukuran baju. Cenora mencoba semua pakaiannya di ruang fitting room sehingga Ebony tidak bisa melihat lukanya. Ia membeli beberapa pakaian yang panjang, agar luka yang di sekujur tubuhnya tidak terlihat.
Cenora membeli beberapa potong pakaian, mulai dari dress sampai setelannya. Tidak kalah Ebony juga membeli beberapa potong pakaian. Mereka tidak bisa membawa beberapa goodie bag yang berisi belanjaan mereka, akhirnya mereka dibantu oleh beberapa pegawai di sana untuk membawa goodie bag tersebut ke arah mobil mereka.
Karena sudah kecapekan, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke mansion. Louis mengantarkan mereka ke arah mansion.
"Kenapa nona tidak menelpon saya saja? Saya akan membatu nona nantinya," ucap Louis sambil fokus menyetir.
"Hehehe, tidak sempat, sekalian kamu bisa istirahat kan?" Jawab Cenora.
Louis membalas dengan senyuman dan anggukkan,
"Nyaman sekali dekat dengan nona Cenora, bawaannya pengen bahagia terus," ucap Louis.
Mereka sampai di mansion, para pelayan membungkuk lalu membawa beberapa barang belanjaan mereka berdua ke dalam.
"Yah kakak belum pulang." Ebony duduk lesu di sofa.
"Kak Leon masih sibuk, lebih baik kita coba pakai kita yuk," ajak Cenora
"Oke, kita ke kamar kak Cenora saja." Ebony langsung pergi ke arah kamar Cenora.
Cenora pergi menyusul Ebony, sedangkan para pelayan membawakan barang mereka ke dalam kamar Cenora.
Mereka keasyikan mencoba satu persatu pakaian mereka, mereka menggunakan fitting room Yanga dan di kamar Cenora untuk mengganti pakaian.
Mereka berdua puas dengan beberapa pakaian yang mereka beli, dan bahkan mereka memiliki model pakaian yang mereka sukai sendiri-sendiri.
"Kakak aku paling suka model ini, bagaimana menurut kakak?" Tanya Ebony.
"Cantik, kamu pintar memilihnya." Cenora mengusap puncak kepala Ebony.
"Terima kasih, apakah dress yang kakak pakai ini adalah kesukaan kakak?" Tanya Ebony.
"Tentu, kakak suka model dan warnanya." Jawab Cenora.
"Cantik, kakak benar benar cantik." Puji Ebony.
"Terima kasih," sahut Cenora.
Saat mereka keasyikan bercerita tentang segala hal, dari rasa steak sampai saat membeli pakaian tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Bukan Cenora yang mengijinkan, tetapi Ebony. Pintu terbuka dan Leon muncul dari balik pintu dan terkejut.
"Waw, Cenora benar-benar cantik," ucap Leon dalam hati.
-------------------------------------
__ADS_1
Karena manusia tidak luput dari kesalahan, saya minta maaf jika ada typo, percakapannya aneh, kurang tanda baca dan lainnya.
Mohon untuk dimaafkan.