
Edgar memutar badannya untuk mencari pemilik suara bariton yang telah memanggil namanya. Sosok lelaki berbadan tinggi besar mengenakan Kaos putih berlengan panjang yang dibalut dengan Jas berwarna coklat muda tengah berdiri di belakangnya dengan seorang gadis cantik yang memiliki rambut berwarna madu. Gadis yang terlihat memukau dengan balutan Corset dress mininya yang berwarna hitam. Mengekspos kulit putihnya di bagian lengan, punggung, pundak dan dada bagian atas yang menyembul. Terlihat begitu mempesona.
"Mr. Harington?"
Edgar memastikan. Lelaki matang berparas tampan didepannya menyeringai lebar dan mengulurkan tangannya.
"Theo. Cukup panggil nama depanku saja. Memanggil dengan nama keluarga akan terdengar begitu kaku dan tua bukan? Bukankah aku masih begitu muda?"
Theodore Harington, Seorang detektif swasta muda yang hanya bersedia menangani kasus langkah dan rumit. Namanya telah mendunia. Namun detektif satu ini bukanlah detektif yang mudah untuk disewa jasanya. Ia termasuk dalam jajaran orang Arogant dan seenaknya sendiri.
Cast: Theodore Harington

Edgar tersenyum sekilas, lalu memasang wajah datarnya lagi. Manik matanya menatap pada gadis yang berdiri di samping Theo.
"Oh perkenalkan saya Teresina Bellucci"
Gadis cantik itu mengerlingkan matanya dengan tangan terulur untuk memperkenalkan dirinya sendiri, ia sangat tahu jika lelaki yang membawanya itu tidak akan memperkenalkan dirinya pada pria tampan didepannya yang sudah sukses menyita perhatiannya. Pria seksi dengan segala yang ada di dirinya. Theo memutar kedua bola matanya melihat apa yang dilakukan Tere. Pasalnya ia amat sangat risih dengan gadis yang sudah seperti parasit. Sebenarnya ia sangat tidak berniat sama sekali untuk mengajak gadis tersebut. Namun gadis itu terus menguntitnya. Bukan karena menyukai Theo. Tapi demi membuat Theo jengah dan menyerah lalu memutuskan untuk membantunya.
Cast: Teresina Bellucci

"Maaf. Mungkin kita tidak akan nyaman dengan kehadiran wanita ini. Kau tau? dia itu sangat menyebalkan dan merepotkan"
Ujar Theo kesal. Namun Edgar tak bergeming. Ia masih terlihat datar tanpa ekspresi. Manik mata Tere menatap lekat pada pemilik sepasang bola mata kelabu itu. Melahap seluruh ketampanan pria itu yang telah membuat matanya lapar.
"Aku menawarkan kerjasama untukmu Mr. Edgar"
Edgar menaikkan satu alisnya. Menatap seringai lelaki matang didepannya dengan tatapan menyelidik. Jika Theo adalah detektif yang pemilih, maka ia berhadapan dengan orang yang sama. Edgar tipe peretas yang juga pemilih. Sangat pemilih.
"Edgar. Usiaku tentu jauh lebih muda darimu Theo"
"Apa aku terlihat setua itu?"
Theo terkekeh. Ia lalu memesan sebotol wine pada bartender di depannya.
"Katakanlah, apa tujuanmu yang sebenarnya"
Edgar menelisik. Namun wajahnya tidak memberikan ekspresi seperti keingintahuan yang ada di hatinya.
"Aku membutuhkan seorang peretas. Bergabunglah denganku. Aku akan selalu menjamin keamanannya tentu saja"
Edgar merapikan jaketknya. Ia tahu kemana arah pembicaraan akan berlanjut.
"Maaf. Tapi aku tidak berminat sama sekali. Jika tidak ada hal lain yang ingin dibicarakan aku pamit dulu"
__ADS_1
Theo tak lagi dapat menahan Edgar. Ini sangat melukai harga dirinya. Ia ditolak mentah-mentah. Sedang penolakan adalah hal yang selalu ia lakukan.
"Menarik"
Ucapnya dengan satu sudut bibir yang tertarik. Lalu netranya menangkap wujud gadis berambut panjang yang duduk disebelahnya. Gadis yang saat ini sedang menertawainya.
"Kau ingin aku menerima kasusmu?"
Kata-kata itu berhasil mendiamkan tawa Tere. Mata Tere berbinar dengan raut penuh tanya.
...****************...
"Ed ada gadis yang sedang menunggumu di depan"
Edgar mengerutkan keningnya. Pasalnya ia sama sekali tidak pernah memiliki teman perempuan selama ini. Loren tersenyum penuh arti mengingat gadis yang bertamu dirumahnya saat ini. Ia sangat menantikan sosok gadis yang mampu menyentuh hati Edgar. Agar hidup dan pola pikirnya tidak sekaku pemikiran orang tua yang sangat kolot.
"Siapa?"
"Entahlah. Tapi dia gadis yang sangat cantik dan.."
Loren sengaja menggantung kata-katanya dan berlalu dengan riang untuk bisa membuat? penasaran orang yang selama ini menjadi walinya itu.
Edgar tak ambil pusing untuk itu. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju teras. Yang ia tangkap adalah bayangan gadis yang sedang membelakanginya dengan mengenakan baju berwarna hitam yang panjangnya hanya menutupi setengah pahanya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Nona Bellucci?"
"Aku merasa bahagia kau masih mengingatku Edgar"

Edgar menaikkan satu alisnya. Menatap Tere dengan pandangan menyelidik.
"Apa kau tidak mempersilahkanku untuk masuk?"
"Tidak. Disini saja. Silahkan duduk"
Dengan cepat Edgar menolak untuk mempersilahkan Tere masuk. Peraturan yang ia buat sendiri untuk tidak memasukkan tamu lawan jenis tentu tidak mungkin ia langgar sendiri bukan?
Tere mendaratkan bokongnya di kursi kayu. Bibirnya masih menyunggingkan senyuman. Menatap Edgar penuh binar.
"Katakan. Apa yang membawamu kesini? dan bagaimana kau tahu kediamanku?"
Seakan tersihir. Ia tak mendengar apapun kata yang terucap dari lisan Edgar. Matanya melahap wajah tampan didepannya dengan kagum.
"Nona Bellucci"
__ADS_1
Tere tersadar dalam lamunannya setelah tiga kali panggilan dari Edgar dengan nada yang mulai meninggi.
"Eh, Maaf"
Edgar menarik sebelah alisnya keatas. Ekspresi datar tentu tak lepas dari pria bermata kelabu itu. Tere menggigit bibir bawahnya sebelum menghela nafas.
"Aku kesini untuk meminta bantuanmu"
Mulut Edgar masih bungkam. Tangannya terlipat di depan dada dengan kaki menyilang dan tubuh yang tengah duduk dan bersandar di kursi kayu yang berjarak satu meja kaca kecil dengan Tere.
"Oh ayolah jangan pasang wajah seperti itu. Kau tau? ekspresimu itu membuatku ingin ******* bibirmu"
Kali ini kening Edgar mengerutkan keningnya dengan mata membelalak.
"Cepat katakan apa yang kau inginkan"
Edgar membuang muka. Teresina terkikik geli mendengar Edgar yang dengan cepat mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin menciummu saat ini"
Tere mengerlingkan matanya dengan wajah yang ditopang sebelah tangannya di atas meja kaca.
"Kau hanya membuang-buang waktuku"
Edgar beranjak memasuki rumahnya hendak meninggalkan Tere. Namun dengan cepat Tere bangkit dan menghadang Edgar.
"Baiklah maafkan aku. Tapi aku tidak suka dengan ekspresimu yang seperti mayat hidup itu"
"Itu bukan urusanku"
Dengan kesal Edgar menghunus Tere dengan tatapan elangnya yang kemudian membelalak. Tubuhnya menjadi kaku. Tangan Tere menahan tengkuk Edgar. Tanpa diduga ia benar-benar mendaratkan ciumannya pada bibir Edgar. ia mencecap dan memainkan lidahnya. Menggoda pemilik bibir itu agar membuka bibirnya.
Ini adalah kali pertama untuk Edgar. Ia merasa kesal karena ciuman pertamanya dicuri tanpa ada kata permisi. Seharusnya ia yang memulai itu pada gadis yang ia inginkan. Tapi pada kenyataanya? Setelah sekian lama hanya berakhir seperti ini. Ciuman pertamanya dicuri gadis yang menurutnya gila saat itu.
Namun tubuhnya tak sejalan dengan kekesalannya. Ada sesuatu yang mulai bangkit dalam dirinya dan membuatnya membuka mulut, membalas cecapan Tere. Tere seketika meremang ketika kedua tangan Edgar terulur mengusap punggungnya dengan sesekali remasan. Hingga desa han Tere mencuat. Edgar mencoba kembali pada kewarasannya dengan mengakhiri pagutan yang membuatnya kesal namun memberikan debaran yang belum pernah ia rasakan.
______________
Nah loh ya si Tere wkwwkwkw
Si Edgar kira-kira bakalan ngamuk nggak ya? Ato malah sebaliknya?
Yuk kasih semangat otor buat nulis terus dengan meninggalkan jejak kalian di kolom komentar, tekan like, hadiah, dan votenya ya readers.
Kalian adalah semangat otor
Saranghae
__ADS_1