Falling For The Real Sultan

Falling For The Real Sultan
Tanpa Kata


__ADS_3

Sepasang mata kelabu Edgar sangat serius menatap layar panel dengan mengenakan pelindung kacamata anti radiasi. Jari-jarinya menari di atas keyboard menyusun deretan huruf,angka dan simbol menjadi sebuah kode.


Sudah beberapa tahun ini Edgar berkecimpung dalam dunia peretasan. Berbekal dari ilmu informatika yang ia dapat dari bangku perkuliahannya, ia mencoba peruntungan mendalami dunia tersebut. Hasilnya, ia mampu membiayai kehidupannya sendiri dan keempat temannya tanpa harus lelah dengan pekerjaan yang menguras banyak tenaganya meskipun pekerjaan itu belum membuatnya kaya. Tapi Edgar selalu mensyukuri apa yang telah ia dapat. Setidaknya itu jauh lebih baik dari kehidupannya sebelumnya.


"Done!"


Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman sebelum tangan kirinya memegang tengkuk dan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk merenggangkan ototnya.


"Kau terlalu bekerja keras Ed. Minumlah ini agar kau merasa lebih baik"


Seorang gadis cantik berambut hitam membawakan secangkir coklat panas dan meletakkannya di meja yang berada tak jauh dari tempat Edgar duduk.


"Aku memang harus bekerja keras untuk kalian Loren. Dan kalian harus belajar dengan keras untuk masa depan kalian"


"Oh ayolah Ed, Biarkan aku membantumu. Mereka juga saudara-saudaraku"


Bill, pria tampan berambut hitam dengan warna bola mata yang senada dengan rambutnya meletakkan bukunya di atas meja. Manik matanya menatap Edgar dengan memohon.


"Maka bantulah aku dengan hasil pendidikan kalian yang memuaskan. Aku yakin kalian nanti akan menjadi orang-orang hebat"


Sejak Edgar mengajak teman-teman pantinya melarikan diri, Ia merasa bertanggung jawab penuh atas hidup dan kesejahteraan mereka. Edgar rela banting tulang untuk teman-temannya yang sudah ia anggap seperti adik-adiknya sendiri meski harus pulang larut malam, karena ia membagi waktunya dengan sekolah yang ia dapatkan dari beasiswa. Ia beruntung karena teman-temannya semua cerdas dan berprestasi gemilang, sehingga untuk biaya pendidikan Edgar sedikit terbantu karena mereka semua mendapatkan beasiswa atas prestasi mereka.


Edgar menyesap coklat panasnya mendengar erangan sebal dari Bill yang usianya terpaut 3 Tahun lebih muda darinya. Bill dan teman-temannya tidak berani membantah Edgar. Karena peraturan yang Edgar buat adalah siapa yang ingin tinggal bersamanya harus mematuhi aturannya. Jika tidak maka bisa pergi menjauh darinya. Keras. Tapi mereka semua tau Edgar begitu menyayangi mereka, tentulah semua peraturan itu dibuat Edgar agat mereka semua fokus dengan pendidikan mereka.


"Apa kau merasa kekurangan Bill?"


Bill tercekat dengan pertanyaan Edgar. Pasalnya Bill takut Edgar merasa tersinggung.


"Tidak Ed. Ayolah. Kau sangat mengenalku"


Edgar meletakkan cangkirnya diatas meja lalu melepaskan kacamatanya. Pemilik sepasang mata kelabu itu menarik satu ujung bibirnya lalu menekuk ujung lengan kaos putih yang ia kenakan, memperlihatkan otot-otot kekar lengan pekerja kerasnya.


Visual Character


*Cast: Edgar Morales

__ADS_1




*Cast: Bill



*Cast: Loren



*Cast: Cleo



*Cast: Fionn




"Tidak bisakah kalian diam? Besok aku akan menghadapi malaikat kematian! Jadi tolong jangan gaduh! Hanya disini tempat yang bisa membuatku fokus dan kalian merusaknya!"


Bentak Cleo, gadis berambut keriting berwarna pirang yang sedari tadi sibuk dengan buku-bukunya. Sebelum keributan di ruangan itu hadir, Cleo dan Edgar duduk berdua di tempat masing-masing dengan damai. Edgar di depan panel layar dengan kesibukannya dan Cleo duduk di sofa panjang dengan buku-buku hukumnya. Lalu Bill datang langsung berselonjor disofa dengan menggunakan paha Cleo sebagai bantalan kepalanya dan turut serta membaca bukunya sendiri, disusul dengan Loren yang hadir membawakan Edgar secangkir coklat panas. Mendengar amarah Cleo ketiganya langsung terdiam dan saling melirik. Bill lalu mengangkat kepalanya dari paha Cleo dan beralih ke posisi duduk menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ia menangkap hawa horor jika tidak segera berpindah posisi dari gadis yang tengah merapikan buku-buku tebalnya dengan sedikit bantingan.


"Sebaiknya aku mencari kedamaian di tempat lain!"


Kesal Cleo yang beranjak setelah menumpuk buku-bukunya dengan kasar. Langkah kesalnya yang telah sampai diambang pintu tak goyah ketika menabrak Fionn yang baru akan memasuki ruangan. Ia tetap berjalan dengan buku-buku tertumpuk di tangannya seakan tidak menabrak apapun.


"Ada apa dengannya?"


Fionn menatap Cleo heran lalu menggendikkkan kedua bahunya. Sedang ketiga temannya langsung melepaskan tawanya di dalam ruangan, membuat Fionn merasa seperti orang bodoh dan lagi-lagi ia menggendikkan kedua bahunya lalu duduk di samping Loren dan mencomot kripik kentang dari bungkus Snack yang dipegang Loren. Ia lalu fokus dengan gawainya beberapa saat. Setelah ruangan kembali hening, Fionn melirik Edgar yang saat ini tengah mengemasi barangnya kedalam tas ransel.


"Ed, apa kau akan keluar?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Fionn, Edgar tak memalingkan wajahnya pada semua barang yang dikemasinya.


"Yap. Apa kau membutuhkan bantuan ku Fionn?"


Fionn mengernyit. Lalu menatap jam dinding. Ini sudah pukul Sepuluh malam.


"Tidak. Tapi bukankah ini sudah larut Ed? Seharian kau sudah bekerja keras didepan layar"


Edgar menatap jam dinding sekilas lalu mengenakan sepatu dan jaket tebalnya.


"Aku harus menemui seorang detektif swasta. Ada proyek yang akan kami kerjakan jika aku cocok. Hanya sebentar. Tolong jaga mereka selagi aku tidak di rumah. Jangan biarkan ada pria lagi yang berkunjung dimalam hari tanpa seizinku! kecuali itu tamumu atau Bill. Hubungan yang tidak penting hanya akan merusak fokus kalian!"


Mata Edgar melirik ke arah Loren yang wajahnya bersemu merah. Ia beranjak setelah menepuk-nepuk bahu Fionn.


"Ohh kurasa itu semua karena dia tidak pernah merasakan jatuh cinta"


Loren mengerang kesal menatap bayang Edgar yang telah menghilang dibalik pintu mengundang kekehan Fionn.


"Well, Edgar benar. Hubungan yang tidak penting hanya akan merusak fokus kita. Kita tidak punya waktu untuk itu Loren"


Bill kembali mengambil bukunya dan membacanya.


"Jika aku jadi kau, Aku lebih memilih untuk tidak menghiraukan pria manapun yang mengejarku. Aku akan membuat mereka menunggu sampai aku benar-benar sampai pada tujuanku. Karena pria yang benar-benar tulus mencintai akan rela melakukan apapun termasuk menunggu. Jadi kita tidak perlu membuang-buang waktu dengan roman picisan yang amat sangat tidak penting. Menguji kadar ketulusan orang yang berkata cinta pada kita itu penting girl"


Ucapan Fionn membuat Loren terhenyak. Kedua mata coklatnya menatap sosok pria berambut pirang yang kini mengenakan kaos kelabu itu. Ia merasa semua yang dikatakan Fionn adalah kebenaran. Ia menerawang jauh mengingat sosok pria yang beberapa Minggu lalu nekat mendatanginya ke rumah peninggalan Brenda yang menjadi rumah tinggal untuknya dan keempat temannya sekarang.


"Sepertinya aku harus mempertimbangkan ucapanmu Fionn"


Satu sudut bibir Fionn tertarik. Hanya sesaat lalu ia kembali sibuk dengan gawainya.


****************


Musik bising dari dalam Bar membuat Edgar jengah menunggu. Ia amat sangat sebal dengan kehidupan malam. Ya, dia bukanlah penikmat dunia malam. Dia termasuk pria yang kaku di zaman yang sudah modern ini. Bahkan dia tidak pernah mencoba untuk menenggak minuman beralkohol barang seteguk saja. Baginya itu adalah minuman yang amat sangat tidak sehat. Sekali lagi. Edgar adalah pria yang sangat kaku. Didepannya hanya terdapat sebotol air mineral dingin yang sudah menggembun botolnya dan meneteskan air pada meja kaca yang ia tempati. Kedua bola mata kelabunya nampak sedang sibuk berselancar dengan gawai ditangannya.


"Mr. Edgar?"

__ADS_1


Panggilan yang disertai tepukan pada pundaknya membuat Edgar mengalihkan perhatiannya dari gawai, mencari pemilik suara bariton yang menyebut namanya.


__ADS_2