
"Aku akan mengalihkan perhatian Selena. kalian pergilah lebih dulu melalui jendela. Nanti kita akan bertemu di jalan utama. Bawa semua barang berharga yang kalian miliki. Jangan sampai ada yang tertinggal. Dan kau. Bawa taski ini bersamamu agar nantinya aku bisa lebih cepat menyusul kalian"
Pria kecil bermata kelabu itu menunjuk temannya yang mengenakan jaket hijau gelap. Ia lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan kamar yang berjajar ranjang-rangjang susun bersprei putih.
"Selena, apakah kau membutuhkan bantuan ku?"
Seperti biasa Edgar yang memiliki sepasang mata kelabu itu merayu pengurus pantinya. Biasanya ia terpaksa melakukannya agar Selena selalu bersikap baik dan memberikan jatah makan kepada semua anak penghuni panti meski hanya dua kali dalam sehari. Karena jika tidak seperti itu maka Selena yang kejam itu tidak akan memberi apapun kepada semua anak panti. Meski hanya segelas air untuk minum. Itu sudah menjadi perjanjian antara Edgar dan Selena pada suatu hari ketika teman Edgar jatuh pingsan karena seharian penuh Selena tidak memberikan makan dan minum kepada semua anak panti yang rata-rata masih berusia balita. Tidak hanya itu, Selena bahkan tega memeras tenaga anak-anak itu tanpa memberinya makan dan minum.
Edgar yang ketika itu berusia tujuh tahun memohon agar Selena berbelas kasih kepada semua anak panti. Edgar rela melakukan apapun asal Selena memberikan makanan dan minuman untuk teman-temannya itu. Selena tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia dengan kejam menyuruh Edgar dan beberapa teman yang sebaya dengannya untuk bekerja setiap hari di sebuah restoran sebagai tukang cuci piring.
Hasilnya? tentu langsung dikantongi Selena dengan dalih sebagai biaya makan teman-teman Edgar.
"Aku sangat lelah. Kemarilah dan pijatlah kepalaku"
Selena yang memiliki darah Afrika itu menyandarkan badannya di kursi goyang yang terbuat dari kayu dengan kepala menengadah.
Edgar meraih kursi plastik sebagai pijakan karena tinggi badannya tidak sampai untuk memijat kepala Selena.
"Apa seperti ini?"
Kedua tangan kecil Edgar mulai memijat lembut. Edgar selalu berusaha mengambil hati Selena meski kadang itu tidak berhasil dan kerap kali membuat Selena memukuli Edgar dan siapapun tanpa sebab.
"Ya. Seperti itu. Disitu"
Selena mengerang merasakan pijatan di kepalanya. Kedua mata kelabu Edgar melirik jam dinding yang tergantung pada tembok dibelakangnya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh siang.
"Apa perlu ku belikan obat untukmu agar kau merasa lebih baik? Kau nampak kurang sehat Selena"
Tanpa sengaja Edgar menahan nafasnya menunggu jawaban dari Selena yang tengah memejamkan matanya.
"Sepertinya itu bukan ide buruk"
Edgar menyeringai senang mendengar jawaban yang ia inginkan.
"Baiklah aku akan ke apotek setelah kau merasa puas dengan pijatan ku"
"Tidak. Kau cepatlah pergi. Sepertinya ini hanya melegakan tapi tidak menghilangkan nyeri di kepalaku. Karena ini saranmu jadi kau harus mendapatkan obat itu dengan caramu karena aku tidak akan memberikanmu uang"
Senyum sinis terurai di wajah tampan Edgar. Ia terlihat begitu muak dengan semua basa-basi yang ia lakukan.
"Baiklah. Aku akan pergi dan memikirkan cara mendapatkan obat itu. Beristirahatlah Selena"
__ADS_1
Tanpa rasa curiga Selena membiarkan Edgar pergi. Matanya yang terpejam berusaha untuk menariknya dialam bawah sadar. Namun nyeri yang begitu hebat oada keoalanya melawan kemauannya untuk menidurkan diri.
Setelah dua jam lamanya Selena mengayunkan kursi goyang untuk merilekskan kepalanya. Ia merasa Edgar begitu lama pergi. Nyeri di kepalanya semakin hebat dan ia merasakan ada suatu kejanggalan. Panti ini sangat sepi. Dengan tertatih ia melangkahkan kakinya ke ruangan besar yang menjadi kamar untuk anak-anak asuhnya.
Kening Selena semakin mengernyit ketika ia tidak menemukan seorangpun di dalam kamar. Hati Selena mencelos. Ia melupakan rasa nyeri di kepalanya dan berlari mengitari bangunan panti setelah mencari disetiap sudut bangunan. Hasilnya, Ia tidak menemukan siapapun dalam bangunan itu.
"Anak brengsek!!! Kemana kaliannn??!!!!"
****************
Edgar dan tujuh temannya merasa aman ketika mobil pick up yang memberinya tumpangan menurunkannya di sebuah stasiun kereta dengan ketujuh temannya.
"Lalu kemana kita akan pergi Ed?"
Gadis kecil berambut pirang mengedarkan pandangannya sebelum akhirnya kembali menatap Edgar yang nampak berfikir.
"Entahlah aku juga belum tau. Yang pasti kita harus mencari tempat tinggal"
BRUK!!
Mata kelabu Edgar tak lepas memandangi wanita tua yang tersungkur tepat di depan kakinya dengan memeluk tas tangan.
Hardik lelaki berbadan gendut dengan kepala tanpa rambut yang mengenakan jaket tebal berwarna coklat.
"Maaf Tuan. Tapi Anda yang telah menabrak nyonya ini"
Edgar menatap manik mata lelaki itu tanpa mengurangi rasa sopan. Tangannya terulur dengan badan berjongkok berusaha untuk membantu wanita tua itu berdiri yang disusul oleh tiga teman pantinya.
"Hey kau anak kecil tau apa?"
Bahu Edgar ditepuk oleh wanita tua di depannya untuk memberi isyarat agar Edgar tidak perlu menghiraukan perkataan lelaki itu.
"Dasar manusia-manusia bodoh!"
Umpat lelaki itu sebelum pergi menjauh.
"Apa kau terluka Nyonya?"
Tanya gadis berambut pirang. Tangannya terulur menyerahkan tas tangan yang sesaat tergeletak di lantai ketika wanita tua itu beranjak untuk berdiri.
"Tidak nak. Panggil aku Brenda. dan terimakasih atas keperdulian kalian terhadap wanita tua sepertiku"
__ADS_1
Brenda tersenyum ramah. Mata keriputnya terarah pada kursi besi yang tak jauh darinya dan langsung mendaratkan bokongnya disana.
"Kemarilah kalian"
Tangan Brenda menepuk tempat yang masih kosong disebelahnya.
"Kemana orang tua kalian?"
Masih dengan senyuman ramah mata keriput Brenda menatap delapan anak didepannya. Dua anak laki-laki memiliki badan dan tinggi badan seleher Edgar. Dua lagi anak perempuan memiliki tinggi badan sebahu Edgar, satu berambut pirang satu lagi berambut hitam. Dan tiga anak laki-laki kembar berkulit hitam dengan tinggi badan sedikit lebih pendek dari bahu Edgar.
Kedelapan anak didepan Brenda saling bertatapan.
"Kami tidak memiliki orang tua"
Edgar bersuara dengan suara serak pandangan nanar yang membuat Brenda mengerutkan keningnya yang sudah keriput. Edgar sangat ingat jika masih memiliki seorang ayah yang tampan dan gagah. Ia sangat ingat jika ia pernah tinggal di mansion yang besar. Ia sangat ingat jika ayahnya adalah orang hebat. Ia sangat ingat dengan sisa-sisa kenangan dalam ingatannya.
"Lalu selama ini kalian tinggal dengan siapa?"
"Kami anak panti asuhan Brenda"
Gadis kecil berambut hitam legam menatap Brenda dengan senyum yang dipaksakan. Ia terlihat menarik nafasnya dalam-dalam lalu dengan perlahan mengeluarkannya sebelum pada akhirnya menceritakan semua yang mereka alami.
"Astaga. Malang sekali nasib kalian. Jangan bersedih lagi. Aku adalah wanita sebatang kara. Jika kalian mau, kalian bisa tinggal dan menetap di rumahku. Aku akan sangat bahagia jika kalian tidak menolaknya"
Ujar Brenda dengan mata berbinar dan senyum merekah. Semua mata ketujuh anak panti tersebut mengarah pada Edgar dengan penuh harap, tidak ada yang berani mengambil keputusan. Karena Edgarlah yang selama ini menjaga mereka.
"Kenapa kami harus menolak Brenda? tentu kami akan sangat senang dan berterimakasih dengan tawaranmu"
Edgar memeluk Brenda dengan raut bahagia.
"Oh dear. Aku hari ini sangat bahagia"
Brenda mengusap titik bening dikedua matanya lalu membalas pelukan Edgar yang telah disoraki dengan gembira oleh ketujuh temannya.
"Hmm.. Bolehkah kami memanggilmu Abuela?"
Tanya gadis berambut pirang dengan ragu
"Tentu sayang. dan mari kita pulang ke rumah baru kalian. Aku akan memasakkan makanan untuk kalian. Pasti kalian sangat lapar saat ini"
Edgar dan ketujuh temannya menuntun Brenda dengan hati riang. Langkah kaki yang sebelumnya selalu bergerak akan ketakutan dan kegugupan sekarang berubah menjadi langkah riang yang membawa mereka menapaki lembaran-lembaran baru dalam kehidupan mereka.
__ADS_1