Falling For The Real Sultan

Falling For The Real Sultan
Meremang Tak Karuan


__ADS_3

Edgar memicingkan matanya menatap Tere setelah melepaskan pagutan pertamanya sepanjang hidupnya. Nafasnya masih memburu. Ia telah kehilangan akal menghadapi gadis nekat seperti Tere yang telah berani mencuri ciuman pertamanya.


"Kau gadis tidak waras"


Tere terkekeh. Tatapannya seolah mencemooh Edgar.


"Oh ayolah, kita tau bagaimana kau menikmati ciumanku tadi. Bahkan kau mendesah"


Tere tertawa lebar melihat wajah datar Edgar kini sedikit berubah. Ada rona merah, sama halnya dengan Tere.


"Ah, ciuman ternyata seperti itu rasanya. Aku tidak akan menyesal memberikan ciuman pertamaku tadi kepadamu. Rasanya mendebarkan. Dan sepertinya aku menginginkannya lagi"


Tere bergumam dengan mata penuh binar. Jari-jarinya menyapu bibirnya yang membengkak. Ia kembali mengikis jarak dengan Edgar.


"Stop!"


Edgar benar-benar merasa hilang akal berhadapan dengan Tere yang terus tersenyum menggodanya.


"Baiklah katakan apa tujuanmu"


Kali ini Edgar berusaha untuk memasang wajah ramah yang membuat Tere kembali terkikik.


"Ternyata kau lebih pantas dengan wajah datarmu. Itu lebih seksi sayang"


Edgar memutar kedua bola matanya lalu menghembuskan nafas kasar dan mendorong kasar Tere agak tidak terlalu mendekat dengannya.


"Oke. Oke. Mari kita duduk lagi. Aku akan menceritakan suatu hal yang membawaku kesini dengan senang hati"


Tere kembali mendudukkan dirinya. Lalu ia mulai menceritakan syarat yang diajukan Theo untuk menerima kasus yang tak terpecahkan oleh Tere. Theo mau menangani kasus Tere dengan catatan Tere harus berhasil membujuk Edgar untuk mau bergabung dengan T.D.H yang tak lain adalah jasa detektif swasta yang dimiliki oleh Theo.


"Maaf. Bagaimanapun caramu membujukku atau bahkan merayuku, aku tetap akan menolak"


Edgar lalu masuk dan mengunci pintu dengan cepat. Sedang Tere belum menyerah. Ia menggedor-gedor rumah itu sekuat tenaga demi untuk dibukakan kembali.


"Baiklah jika kau menantangku! Aku tidak akan pernah menyerah! Kita lihat siapa yang akan menang! Kau atau Aku!"


...****************...


Edgar mengendurkan otot-ototnya setelah asyik melakukan duelnya dengan mengirim virus dan membangun pertahanan pada surel kliennya.


"Tidak adakah lawan yang lebih menarik lagi? Kukira akan sulit. Ternyata hanya itu kemampuannya. Padahal aku sudah gatal ingin sekali mengirim virus yang membuat komputernya berasap dan tak tertolong lagi"

__ADS_1


"Ed! Wanitamu itu sudah gila! Selain berteriak-teriak, Dia juga mendirikan tenda dipekarangan rumah!"


Loren mengeluh heran dengan kelakuan gadis yang tadi ditemui Edgar. Entah apa yang diinginkan gadis itu dari Edgar. Loren tidak mau tahu. Dia hanya ingin gadis itu tidak berisik yang amat sangat mengganggu kenyamanan. Ia yakin jika Cleo datang maka sudah bisa dipastikan umpatan dingin Cleo akan melubangi semua telinga penghuni rumah ini jika Edgar tidak segera mengambil tindakan terhadap gadis itu.


"Ah sialan! Gadis itu benar-benar mengganggu ketentraman ku!"


Edgar melangkahkan kakinya dengan memijat keningnya yang mulai terasa pening.


"Pergi dari sini atau Aku akan mengusirmu secara tidak hormat!"


Bentak Edgar begitu berhadapan dengan Tere yang kini tengah tersenyum senang.


"oh Dear.. Akhirnya rencanaku Berhasil membuatmu keluar"


Tere berlonjak lalu melingkarkan tangannya pada leher Edgar dan bergelayut.


"Singkirkan tanganmu dan jauhkan dirimu dariku sialan!"


Edgar meraung. Wajahnya sudah memerah. Entah karena amarahnya atau karena kedekatannya dengan Teresina.


"Kalau aku tidak mau?"


Cup


"Baiklah aku akan memanggil petugas keamanan jika kau masih disini"


Edgar merogoh gawai yang ada di dalam saku celananya


"Silahkan. Tapi jangan kecewa jika mereka tidak datang. Uang lebih banyak memegang kendali tentunya"


Tere terkikik geli melihat Edgar yang terheran-heran menghadapinya.


Kembali Edgar berbalik badan melangkahkan kakinya memasuki rumah tanpa menguncinya. Tentu Tere tidak menyiakan pintu yang terbuka itu. Ia lalu mengekor di belakang Edgar yang tidak menyadarinya. Namun mata Tere tertuju pada gadis yang kini berada di sofa panjang. Tere lalu mengulurkan tangannya.


"Hai. Aku Teresina Bellucci"


Loren langsung tersedak kue yang sedari tadi menemaninya membaca buku yang membuat Tere dengan cepat menyambar sebotol air mineral yang berada dimeja depan sofa.


"Ini minumlah. Maaf jika mengejutkanmu"


Loren menenggak air mineral itu sampai tak bersisa.

__ADS_1


"Kamu seorang Bellucci?"


Tanya Loren tak percaya setelah mengusap bibirnya yang basah setelah minum. Tere mengangguk dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.


"Apa kita bisa berteman mulai detik ini?"


Tanya Tere menatap Loren dengan penuh binar.


"Ahhh tentu saja! Aku sangat tersanjung jika kau mengajakku berteman Nona Bellucci"


"Panggil Tere saja"


"Oh baiklah. Dan Kamu bisa memanggilku Loren"


"Kalau begitu, bisakah kau membantuku?"


Loren menatap Tere dengan penuh selidik. Ia mengingat jika beberapa menit yang lalu Tere telah membuat keributan dipekarangan rumahnya dengan seenaknya membangun tenda tanpa izin seakan itu adalah bumi perkemahan yang terasa nyaman jika didirikan sebuah tenda dan ia juga berteriak-teriak memanggil Edgar juga menantangnya. Suaranya begitu mengganggu.


"Ayo kita ke kamarku"


Loren menarik tangan Tere agar mengekorinya. Seakan mendapatkan jalan terang, hati Tere bersorak gembira.


Kedua tangan Edgar menenteng Jerigen putih yang berisikan bensin. Ia lalu menyiramkan semua bensin itu ke tenda coklat yang tanpa permisi didirikan di pekarangan rumahnya. Amarah Edgar benar-benar memuncak. setelah tenda itu basah oleh bensin, Edgar lalu merogoh sakunya untuk mencari korek api untuk membakar tenda di yang telah memiliki aroma menyengat dari bahan bakar kendaraan bermotor.


Sekali lempar api sudah berkobar melahap habis tenda dan isinya. Membuat tubuh Edgar terasa menghangat karena besarnya kobaran api yang telah dibuatnya. Satu sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman sinis yang menyeramkan. Ia tidak lagi melihat Tere disekitar tenda itu. Entah dimana gadis itu. Yang pasti saat ini Edgar sangat puas telah membakar habis tenda dan barang-barang Tere.


Namun Tere yang menyaksikan dari jendela kamar Loren lagi-lagi terkikik geli melihat Edgar yang kesetanan. Menyaksikan drama didepan matanya, Loren hanya bisa takjub dengan mulut menganga. Pasalnya belum ada siapapun yang berani menyulut emosi Edgar. dan sekarang gadis disampingnya itu sangat berani membuat Edgar kesetanan. Bahkan setelah menyaksikan amarah Edgar yang terlihat mengerikan itu Tere masih bisa terkikik.


Oh Astaga. Seorang Bellucci tidak memiliki seringai ketakutan sama sekali. Sedangkan pria itu bahkan sudah kesetanan. dan lihatlah wajah Edgar. Ia tidak pernah sekesal itu. Astaga. bahkan gadis ini masih bisa terkikik geli seperti ini?


Tanpa sengaja Loren menahan nafasnya ketika menjadi saksi drama dari kedua manusia yang menurutnya aneh itu.


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan dari Edgar? Kenapa kamu memancing emosinya?"


Pertanyaan Loren semakin membuat Tere terkikik. Beberapa detik kemudian Tere terdiam dengan wajah yang lebih tenang mendaratkan badannya di kasur empuk yang tertata rapih dengan sprei putih dan bed cover yang berwarna senada.


__________


Terimakasih karena sudah mampir membaca novel ini..


Kasih semangat otor buat nulis terus dengan meninggalkan jejak kalian di kolom komentar, tekan like, hadiah, dan votenya ya readers.

__ADS_1


Kalian adalah semangat terbesar otor


Saranghae


__ADS_2