Fei Yin

Fei Yin
Ch. 13 - Membunuh Pembunuh yang Saling Membunuh


__ADS_3

“Kenapa kau begitu tergesa-gesa? Mari kita nikmati pertarungan mereka dulu..” ucap Fei Yin sambil menunjuk ke 11 orang pembunuh yang sedang bertarung.


“Siapa kau?! Kau tidak takut mati karena berani mencampuri urusan kami?!” pembunuh itu yakin bahwa Fei Yin yang melepaskan serangan sebelumnya sehingga ia mengancam sambil menghunuskan pedangnya pada Fei Yin.


”Kau ini..” Fei Yin menggeleng sambil menghela nafas. Kemudian ia tersenyum lebar dan mengeluarkan Tombak Naga Azur dari Cincin Nagakasa.


Sang pembunuh menahan napasnya sejenak karena melihat Tombak Naga Azur. Sebuah tombak yang tampak seperti tombak pada umumnya, namun terdapat ornamen naga bersisik biru yang mengitari gagangnya. Sebuah hawa aneh juga muncul begitu ia melihat tombak tersebut.


‘Ia masih begitu muda namun memiliki pusaka roh bersamanya..’ pembunuh itu yakin Fei Yin adalah seorang pemuda yang berasal dari sekte besar. Seorang pemuda yang membawa pusaka roh tak mungkin memiliki latar belakang yang biasa-biasa saja.


‘Aku tidak bisa membaca praktiknya.. Apakah dia lebih kuat dariku?’ sang pembunuh mulai merasa sedikit takut, karena ia mengetahui bahwa jenius terbaik dari sekte-sekte besar yang sudah berusia 14 hingga 15 tahun pastinya sudah melewati tingkat Pengakaran Roh.


Dilihat dari penampilan pemuda di depannya, ia yakin bahwa pemuda itu sudah berusia 15 atau 16 tahun, maka ia takut kekuatan pemuda itu berada diatasnya. Mau tak mau ia harus mencari cara agar bisa keluar dari masalah dan tetap mempertahankan nyawanya.


“Maaf aku tidak mengetahui keberadaan pahlawan muda! Aku akan bertaubat dan memilih jalan lain jika pahlawan muda melepaskan ku! Aku tahu pahlawan muda adalah orang yang sangat baik, pemaaf dan disegani banyak orang.”


Fei Yin mengerutkan dahinya saat pembunuh itu tiba-tiba meletakkan pedangnya ke lantai dan bersujud memohon ampun padanya dengan memuji dan menyanjungnya.


Ia mengira Fei Yin adalah jenius muda yang berasal dari sekte aliran putih. Anak muda dari sekte aliran putih kerap kali berperilaku naif dan dengan mudah melepaskan dan memaafkan orang lain. Mereka hanya perlu disanjung dan dijanjikan akan berubah jika dilepaskan.


“Pahlawan muda ya? Jika kau menganggapku sebagai pahlawan, tinggalkan kepalamu di sini. Setelah itu kau boleh berlari tanpa kepala..” ucap Fei Yin dengan seringaian.


Sang pembunuh tersedak karena napasnya sendiri. Ia tidak menduga bahwa kata-kata itu akan keluar dari mulut sang pemuda.


“Kau-!” ia ingin meraih pedangnya yang tergeletak di lantai namun Fei Yin telah lebih dulu melancarkan serangan sehingga ia spontan melompat mundur.


“Dasar licik!” teriaknya marah saat melihat Fei Yin menyimpan pedangnya ke dalam cincin ruang.


“Licik? Lihatlah siapa yang berbicara..” Fei Yin terkekeh. Ia mengalirkan lebih banyak qi pada Tombak Naga Azur hingga tombak itu tidak menerimanya lagi.


Mata naga di dekat bilah Tombak Naga Azur mengeluarkan cahaya kekuningan saat dialirkan qi hingga jumlah tertentu. Udara dingin mulai menyeruak keluar dari bilah tombak yang mencuat dari mulut naga.


“Oh.. Kebetulan sekali..” Fei Yin menatap bilah tombak yang mengeluarkan udara dingin.


Selama sembilan bulan berlatih menggunakan Tombak Naga Azur, Fei Yin beberapa kali dapat mengaktifkan kemampuan khusus dari tombak tersebut yaitu sentuhan es. Setiap kali bilah tombak menyentuh sesuatu, tombak itu akan membekukannya.


Tapi Fei Yin tak bisa selalu menggunakan kemampuan itu, seolah-olah ada kondisi khusus yang harus ia penuhi untuk menggunakan kemampuan tersebut. Entah benar atau tidak, tapi Fei Yin rasa itu tergantung keinginan dari Tombak Naga Azur.


“Terimakasih.. Dengan kemampuan es mu maka aku dapat memenangkan pertarungan ini dengan mudah.” ucap Fei Yin yang ditujukan pada Tombak Naga Azur.


Setelah ucapan itu, udara dingin di bilah tombak berangsur-angsur menghilang, “Hey! Apa kau bercanda-?!”

__ADS_1


Fei Yin mendengus saat melihat Tombak Naga Azur menolak untuk mengeluarkan kemampuannya lagi, ‘Tombak ini benar-benar sulit untuk dijinakkan.’


‘Dia berbicara dengan siapa?’ pembunuh itu merasa bingung dan menganggap Fei Yin adalah orang gila karena berbicara sendiri. Namun ia tidak menurunkan kewaspadaannya dan tidak berniat menyerang terlebih dahulu.


Fei Yin hanya bisa mengandalkan kemampuannya sendiri untuk mengalahkan pembunuh yang sudah berada di puncak Pengakaran Roh itu. Dalam satu tarikan nafas, Fei Yin mengayunkan tombaknya yang dialiri qi, menghasilkan gelombang energi tajam yang mengarah pada sang pembunuh.


Pembunuh itu mengayunkan tangannya yang dilapisi qi untuk menepis serangan Fei Yin. Tapi serangan Fei Yin belum berhenti, ia terus mengayunkan tombaknya dan menghasilkan banyak energi tajam.


‘Bagaimana ia bisa menghasilkan serangan sayatan dengan tombak?!’ teriak pembunuh frustasi di dalam hatinya.


Sebagai seseorang yang mendalami ilmu pedang, ia tidak mampu mengeluarkan energi tajam sebaik yang dilakukan oleh pemuda di hadapannya, bahkan pemuda itu menggunakan tombak bukan pedang.


Setelah membuat pembunuh itu terpojok karena dinding di belakangnya, Fei Yin merubah serangannya. Ia menusuk udara kosong, menghasilkan peluru angin yang melesat ke arah sang pembunuh.


"Aarrgghh-!” peluru angin mengenai tubuh sang pembunuh. Walau ia sudah melapisi tubuhnya dengan qi, nyatanya peluru angin itu masih memberi sebuah luka walau tidak dalam.


“Ayo, aku masih belum puas!” Fei Yin bergerak maju dan mulai melakukan gerakan-gerakan yang sangat sulit untuk dibaca.


Fei Yin memanfaatkan ruangan sempit dan keterbatasan lawannya untuk bergerak, ia juga menggunakan tombak yang jangkauan lebih jauh, sehingga pembunuh itu tak bisa memberi serangan balik dan merasa tidak berdaya.


Sang pembunuh hanya bisa menghindar dan sesekali menepis tombak yang datang. Beberapa luka juga sudah bermunculan di tubuhnya.


‘Sial.. Siapa pemuda ini?! Bahkan qi yang ia gunakan tidak sebanyak qi yang kumiliki! Bagaimana caranya menembus pertahanan ku?!’ pembunuh itu berteriak frustasi.


Tapi keterkejutan Fei Yin tidak bertahan lama. Ia menyeringai saat merasakan pembunuh di hadapannya berencana untuk menghancurkan tembok di belakangnya. Ia menangkap tombak Fei Yin hanya untuk memberi ruang lebih agar dia bisa melancarkan rencananya dengan baik.


Tapi tanpa ia sadari tangannya mulai di lapisi oleh es, “Ke-kenapa tubuhku tidak bisa be-bergerak?!” pembunuh itu berteriak keras sambil terus berusaha melepaskan tangannya dari Tombak Naga Azur.


“Jika kau punya sesuatu yang dinamakan mata, maka kau bisa melihat sendiri..” ujar Fei Yin sambil menunjuk tangan pembunuh tersebut yang perlahan membeku.


“A-apa ini?! Ta-tanganku! Apa yang terjadi dengan tanganku?!” ia terus memberontak untuk melepaskan dirinya, namun tubuhnya tidak bisa bergerak kecuali bagian kepalanya saja.


“Am-ampuni aku! A-aku tak ingin ma-mati!” dengan rasa putus asa pembunuh itu memohon ampun. Bahkan ia menangis sejadi-jadinya.


Fei Yin mengangkat kedua bahunya, setelah itu mengangkat kedua tangannya, menunjukkan bahwa bukan dia yang melakukan itu.


“Tombak ini yang membekukanmu atas keinginannya sendiri. Aku tak bisa mengontrolnya..” ucap Fei Yin dengan wajah bersalah yang dibuat-buat.


“Tidak.. Aku ingin hidup-!” perlahan tubuhnya membeku secara menyeluruh tanpa ia bisa melakukan apapun untuk melawan.


Setelah membekukan pria itu, Tombak Naga Azur bergetar dan mengeluarkan suara dengungan. Fei Yin mengerutkan dahinya melihat keanehan itu.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan? Itu semacam selebrasi kemenangan?”


Tombak Naga Azur berhenti bergetar dan berdengung, “Hm? Sudah selesai?” Fei Yin memberanikan dirinya untuk memegang tombak itu, namun ia dikagetkan oleh meledaknya tubuh pembunuh yang beku itu menjadi serpihan es.


‘Apa-apaan tombak ini? Dia bukan hanya memiliki pikiran sendiri, tapi juga bisa bertindak sendiri..’ batin Fei Yin.


Fei Yin mengambil Tombak Naga Azur yang tergeletak di lantai. Pandangannya beralih pada pertarungan 5 lawan 6 antar pembunuh. Terlihat pihak dengan 5 orang hanya tersisa 2 orang saja, sedangkan kelompok yang semula memiliki 6 orang hanya tersisa tiga orang saja.


Walau unggul dalam jumlah, tiga pembunuh nyatanya dalam kondisi terdesak dengan luka yang cukup parah. Jelas mereka tidak akan bertahan lebih lama lagi. Kelompok yang kini tersisa 2 orang saja juga tidak dalam kondisi yang baik, pembunuh dengan praktik Pengakaran Roh tampak tak akan bertahan lebih lama lagi.


‘Aku harus membantu 3 pembunuh itu..’ Fei Yin mengalirkan qi nya ke dalam Tombak Naga Azur. Ia sedikit terkejut karena Tombak Naga Azur menerima lebih banyak qi darinya dan kini mengeluarkan hawa dingin yang lebih kuat dari yang sebelumnya.


Fei Yin cepat-cepat mengayunkan tombak tersebut, takut ia akan mengubah pikirannya dan tidak mengeluarkan hawa dingin lagi.


Pembunuh Inti Roh menyadari sebuah serangan mengarah pada rekannya, ia ingin berteriak memperingatkan tapi dua pembunuh yang ia lawan begitu beringas dalam menyerang.


“Aaagghh-!” energi tajam yang mengandung hawa dingin mengenai pembunuh Pengakaran Roh itu.


Langsung saja es mulai menyebar dari luka yang ia dapatkan dari dan membekukan tubuhnya secara perlahan. Dengan pergerakannya yang terbatas dan luka yang semakin memburuk, pembunuh itu tak bisa bertahan lama dan menghembuskan nafas terakhirnya setelah terkena sayatan dari belati.


Pembunuh Inti Roh mendengus dingin. Ia ingin melihat siapa yang berani menyerang rekannya diam-diam tapi sekarang ia harus melawan tiga orang sekaligus sehingga ia menjadi lebih kerepotan.


“Teruslah saling membunuh. Sebentar lagi aku yang akan membunuh kalian..” gumam Fei Yin.


Tidak butuh waktu lama bagi tiga pembunuh untuk mengalahkan pembunuh Inti Roh yang sudah kehabisan qi dan juga kehilangan banyak darah, sehingga mereka bisa menekannya dengan jumlah.


“Hah... Kita menang..” salah satu pembunuh itu ambruk karena sudah kelelahan dan luka-luka di tubuhnya membuatnya kehilangan banyak darah.


“Sial.. Jika saja dia tidak meninggalkan kita.. Kita tidak perlu kehilangan begitu banyak..” pembunuh lain merutuk rekan mereka yang telah meninggalkan mereka.


“Ya.. Aku ingin menghajarnya!” pembunuh satunya menambahkan.


“Ah.. Jadi kalian ingin menemui rekan kalian?” kedua pembunuh yang masih berdiri mengalihkan pandangannya pada sumber suara.


Terlihat seorang pemuda dengan senyuman dingin berjalan perlahan ke arah mereka. Pemuda itu membawa sebuah tombak yang memiliki ornamen naga biru. Bilah tombak itu juga mengeluarkan udara dingin yang kasat mata.


“Siapa kau..” keduanya mengangkat pedang mereka. Walaupun mereka sudah kelelahan dan penuh luka, mereka merasakan aura bahaya darinya terlepas dari parasnya yang begitu muda.


Melihat pemuda itu tidak berhenti walau mereka telah mengangkat pedang, keduanya menjadi yakin pemuda itu punya niat buruk pada mereka berdua.


“Berhentilah at-!” belum sempat menyesuaikan katanya, pembunuh yang berdiri paling depan merasakan benda dingin menembus tubuhnya.

__ADS_1


“Sejak kapan?!” pembunuh satunya terkejut saat tombak yang dibawa pemuda itu menembus tubuh rekannya dan membuatnya membeku.


Pandangannya beralih kembali pada pemuda yang kini sudah tersenyum lebar. Ia segera maju dan mengerahkan segala yang ia miliki sekarang walau ia yakin nyawanya tak akan selamat sekarang.


__ADS_2