
Ketika jarum jam menunjuk ke angka lima, sebuah jam waker yang kuletakan di atas meja belajarku berbunyi dengan kencang. Saking kencangnya, aku bahkan sampai bangun secara tidak normal karena kaget. Tapi berhubung aku sudah mengalami tidur tanpa mimpi yang kuanggap tidur dengan kualitas terbaik, aku tidak menyesal sudah dibangunkan.
Malah gawat kalau sampai-sampai aku tidak bisa bangun.
Namaku masih sama dengan hari sebelumnya, Harsa. Dan kemampuanku juga masih sama saja stuck di kelas bawah persis seperti beberapa jam sebelum aku tidur. Kemudian, aku sudah lama menjadi bayang-bayang kedua kakakku dan aku sudah lelah, karena itulah aku memutuskan pergi dan menuju jalan baru. Kehidupan normal yang damai.
Berhubung ini masih pagi dan aku baru saja bangun, aku tidak mau memulai hari dengan berdepresi ria di atas kasurku yang kecil. Pagi ini kedua orang tuaku tidak ada di rumah sehingga aku harus menyiapkan segala sesuatu untuk memulai hari.
Rumahku adalah bangunan bertingkat dua dengan dapur, ruang tamu, ruang keluarga, dan kamar kedua orangtuaku ada di lantai dasar. Tapi kuingatkan ya, rumah kami berlantai dua bukan karena kami keluarga kaya malah sebaliknya. Tidak ada biaya lebih untuk membeli tanah lagi sehingga rumah kami itu tumbuh ke atas bukan ke samping!.
Sambil berjalan menuju ke dapur di lantai satu, aku melewati dua buah kamar kakakku yang berada bersebrangan dengan ruanganku.
Anna dan Hany, mereka berdua adalah salah satu contoh dari sesuatu yang disebut manusia yang hampir sempurna! Mereka berdua punya wajah yang cantik, punya otak yang cerdas, punya kemampuan fisik yang bagus, selain itu sifat mereka berdua juga bisa membuat semua orang di sekitarnya merasa nyaman dan aman. Tentunya kecuali aku.
Kau tahu pepatah yang bilang kalau rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau kan?. Ini cuma anggapanku saja, tapi mungkin ada banyak orang di luar sana yang menginginkan keluarga seperti mereka? lain denganku. Yang kuinginkan hanyalah keluarga biasa yang sederhana! Bukannya aku membenci mereka berdua, hanya? Mereka berdua itu terlalu silau untuk dilihat dan terlalu jauh untuk dijangkau.
Di sekolah mereka adalah idola dan dirumah mereka adalah maskot keluarga. Ibuku selalu saja membicarakan mereka berdua di setiap kesempatan yang pada akhirnya membuat hal itu jadi kebiasaan. Setiap makan malam, apapun yang mereka berdua lakukan akan menjadi headline yang harus Ibuku beritakan. Dan, ujung-ujungnya aku hanya bisa menjadi pendengar setia yang hanya bisa berkomentar “ya” atau “oh begitu”
Saking fokusnya membiacarakan kedua kakakku itu, kadang dia sampai lupa kalau aku ini juga anaknya.
Ya, mau bagaimana lagi. Kalau mereka membicarakankupun memangnya apa yang bisa mereka bicarakan? tidak ada yang bisa dibanggakan dariku.
Bukan salah kedua kakakku kalau aku jadi seperti orang asing di tengah-tengah keluargaku sendiri.
Tapi!
Sekali lagi! Aku tidak membenci mereka, aku sudah lama membuang semua rasa tidak nyaman yang dulu kurasakan sejak lama. Saat ini, prioritasku adalah untuk bisa menerima keadaan dan melakukan apa yang bisa kulakukan. Bukan mengejar apa yang sudah jelas ada di luar jangkauanku.
Hari ini kebetulan kedua orang tuaku sedang tidak ada di rumah jadi tugas menyiapkan makanan dibebankan padaku.
Aneh?
Padahal aku punya dua kakak perempuan yang hampir sempurna tapi kenapa aku yang diberi tugas menyiapkan makanan?
Jawabannya mudah! aku sudah bilang “hampir” kan? Manusia itu tidak mungkin ada yang sempurna, itu adalah hukum alam. Meski kedua kakakku bisa melakukan banyak hal tapi yang diatas tidak memberikan mereka kemampuan untuk bisa memasak. Jadi, terpaksa akulah yang harus menyiapkan makanan.
Aku memang bilang masak. Tapi aku ini tetap saja seorang remaja laki-laki yang kurang pengalaman hidup, jadi kemampuan kulinerku juga cuma mentok sampe nasi, mie instan dan telur goreng.
Selesai memasak makanan sederhana untuk kami bertiga sarapan, aku langsung lari ke kamar mandi. Aku harus cepat-cepat, kalau sampai kedua kakak perempuanku bangun dan mandi duluan aku akan mendapat masalah besar. Pengalaman membuktikan, mereka mandi setengah jam lebih lama dari waktuku mandi.
Mereka melakukan apa saja di dalam kamar mandi masih misteri? Tapi yang jelas seharusnya mereka tidak pernah menjadikan kamar mandi sebagai ruang karaoke.
Jadi dengan mandi super cepat menggunakan sabun anti kuman nomor satu senegara, dalam sepuluh menit aku sudah kembali berada di dalam kamarku yang kecil untuk berganti baju.
Setelah itu aku masih belum bisa beristirahat karena selain membuat makanan untuk sarapan aku juga harus membangunkan kedua kakak perempuanku.
Orang pertama yang harus kubangunkan adalah kakak pertamaku. Karena di punya hobi membaca sampai larut malam dia susah bangun karena itulah membangunkannya sudah jadi seperti kegiatan rutin yang wajib bagiku.
Jam waker harusnya bisa memperingan pekerjaanku, tapi aku tidak tahu bagaimana setiap dia membeli satu, benda itu hanya akan bisa bertahan selama dua hari sebelum masuk tong sampah. Jadi dipustukan kalau akulah yang akan jadi jam wakernya.
Orang kedua tentu adalah kakak keduaku. Kalau yang satu itu memang suka tidur, berhubung dia ikut banyak kegiatan yang menguras energi dia punya kebiasaan tidur cepat dan bangun telat.
Pagi itu kami bertiga sarapan dalam diam berselimut mendungnya langit, kak Hanny beberapa kali meliriku tapi tidak berbicara apapun padaku, sedangkan kak Anna hanya membaca buku selama sarapan lalu aku sendiri tidak terlalu perduli dengan keadaan itu karena hal seperti itu sudah sangat biasa terjadi di keluargaku. Kalau orang tuaku tidak ada seperti inilah yang terjadi, kami seperti orang asing yang saling tidak kenal.
Begitulah kehidupan sehari-hariku di rumah, tidak ada interaksi hangat yang terjadi antara kami bertiga dan misalkan kedua orangtuaku ada hal itu juga tidak akan mengubah apapun.
Tidak di rumah, tidak di sekolah. Keadaan tidaklah berbeda jauh, meski aku punya teman di sekolah tapi jumlahnya bahkan cukup dihitung dengan satu telapak tangan.
Dulunya, saat aku masih SMP aku sering merasa ditinggalkan dan sebal saat kedua kakakku meninggalkanku untuk melakukan berbagai hal di sekolah. Tapi saking seringnya mereka meninggalkanu, tanpa terasa aku sudah terbiasa sendiri dan tidak lagi peduli dengan apa yang mereka lakukan.
"Apa kabar bro?"
"Biasa!"
"Bagaimana bisa kau menjawab dengan muka bosan seperti itu padahal setiap pulang ke rumah ada dua gadis cantik yang menunggumu.”
Sekarang aku ingin bertanya balik. Bagaimana kau bisa tidak bosan saat yang menunggumu itu bahkan tidak pernah mengajakmu bicara? Lagipula walaupun mereka cantik tapi kalau mereka itu kakakku apa yang bisa kulakukan? berhentilah berfantasi dan tanyakan apa yang selalu terjadi padaku di rumah.
Inilah salah satu dari temanku yang jumlahnya sedikit.
Namanya adalah Sigra. Dia juga sama dengan kebanyakan orang, mengira kalau aku punya kehidupan super menyenangkan dengan kakak super cantik dan populer. Memang sudah sangat sering aku bilang padanya kalau aku itu tidak sebahagia yang dipikirkannya, tapi tetap saja dia selalu membayangkan betapa senangnya kalau jadi aku. Padahal aku sendiri selalu membayangkan betapa senangnya jadi dirinya.
Kami berdua melakukan pembicaraan tidak berguna sampai bel masuk berbunyi. Pembicaraan masalah pelajaran aku rasa terlalu serius untuk jadi topik kami pagi ini, sehingga pada akhirnya kami membicarakan masalah harga Bahan bakar yang naik. Topik itu sudah cukup untuk menyibukan kami sampai semua murid masuk ke kelas.
Guru masuk dan semua murid duduk di tempatnya masing-masing.
Tapi tidak seperti murid lain yang mungkin sudah bisa duduk dengan tenang di kursinya, aku malah merinding begitu ada satu orang yang duduk di bangku paling belakang. Biasanya aku tidak akan terlalu perduli dengan apa yang orang lain pikir dan lakukan, tapi tatapan tidak bersahabat dari belakang sana sudah mampu membuatku jadi tidak nyaman di tempatku sendiri.
Aku tidak tahu motif apa yang melatarbelakanginya melakukan tindakan tidak berguna semacam itu, gara-gara dia aku tidak bisa memperhatikan pelajaran dengan seksama. Walaupun biasanya aku memang tidak terlalu memperhatikan, tapi kali ini aku jauh lebih tidak konsentrasi dari yang dulu-dulu.
Yang terus memperhatikanku adalah murid terpintar di kelas satu April. Tanpa tahu apa yang sebenarnya dia mau. dia terus-terusan memperhatikanku. Dengan tatapan tajam tentunya, bukan tatapan penuh kasih dari orang yang sedang jatuh cinta.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya. Aku sudah merasakan glagat anehnya sejak dua bulan yang lalu tapi tak pernah sekalipun kuanggap serius.
Kalau dibandingkan dengan keadaan orang-orang yang tertimpa bencana alam ataupun kecelakaan, keadaanku memang tidak bisa dianggap serius, tapi di perhatikan oleh seseorang yang bahkan tidak pernah kau ajak bicara benar-benar sangat mengganggu. Mungkin yang kurasakan bisa disamakan dengan ada nyamuk yang terbang di samping telingamu.
Apa aku harus menanyakannya?
Jawabannya langsung muncul seperti popup window ke otakku.
Tidak!
Aku tidak tahu dan tidak mau tau, aku tidak perduli dan tidak berniat untuk memperdulikannnya. Jadi! Kesimpulannya aku tidak akan melakukan apa-apa, dan untuk mengimbanginya aku juga tidak akan mengeluh karena terganggu tindakan tidak bergunanya itu. Jeniusnya aku!
Memikirkan semua hal itu ternyata memakan waktu hampir lima belas menit, karena itulah aku tidak sadar kalau ternyata guru bahasa di depan papan tulis sudah selesai mencetakan semua isi pikirannya untuk kucatat.
Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan saat pelajaran lain, di jam pertama ini semua murid laki-laki membuka matanya lebar-lebar dan memfokuskan pandangannya pada gurunya, bukan pelajarannya. Ya ampun!
Namanya bahasa Inggris kami adalah Diana, pemenang penghargaan guru terfavorit tahun lalu, katanya. Bukan hanya masih muda, dia juga cantik, baik, dan terutama pintar jadi hampir semua murid menyukainya. Tapi! saat aku sama sekali tidak membencinya pada waktu yang bersamaan aku juga tidak menyukainya. Yang kurasakan hanya seperti sedang melihat orang cantik tidak dikenal yang kebetulan lewat di depan rumah. Cuma begitu.
Mungkin gara-gara ini teman-temanku menyebut aku ini orang tumpul.
Dua jam lebih aku mendengarkan penjelasan guru di depan. Aku tidak merasa bosan tapi entah kenapa wajahku terus saja memperlihatkan raut tidak serius dan karena hal itulah sepertinya guru di depan merasa tidak diperhatikan sehingga ujung-ujungnya dia mendatangi mejaku.
"Harsa nilai-nilaimu memang baik tapi bisakah kau memperhatikan pelajaran lebih serius? "
Benar kan?
Dia pasti mengira kalau aku tidak berniat dalam mengikuti pelajarannya, padahal itu salah. Aku benar-benar punya niat untuk belajar dan memperhatikan pelajarannya, tapi aku hanya tidak punya niat untuk dapat nilai yang tinggi. Dapat nilai yang ada di tengah-tengah saja sudah cukup.
"Aku memperhatikan, hanya saja wajahku memang seperti ini! "
"Kalau begitu syukurlah! "
Dia memang guru yang baik! Kalau guru lain mungkin sudah menyudutkanku dengan berbagai cara, tapi dia tidak melakukanny dan langsung percaya kata-kataku. Hal itu memang cukup membuatku senang, tapi kalau dia terus seperti itu akan banyak orang yang menyalahgunakan kebaikannya itu. Kau harus berhati-hati Bu!
Guru kembali ke depan dan pelajaran kembali dimulai. Dan aku kembali bertindak pasif sebagai murid, aku hanya melakukan semua seperlunya saja. Hal yang tidak perlu dilakukan tidak usah dilakukan, hal yang harus dilakukan lakukan secepatnya. Dengan asas itu, saat aku ditunjuk aku menjawab dan saat tidak ditunjuk aku diam. Dari luar, pasti aku kelihatan seperti orang yang malas-malasan!
Pelajaran pertama selesai, setelah tiga jam bersama bahasa Inggris akhirnya tiba juga pelajaran yang lumayan tidak kusukai yaitu olahraga.
Kebanyakan, praktik di olahraga membutuhkan banyak orang dan kerjasama antar pemain di sebuah tim, dan bagiku, berinteraksi dengan banyak orang yang berbeda adalah hal yang sulit kulakukan. Bukannya aku ini sombong atau suka menyendiri, tapi tiba-tiba memulai pembicaraan dengan orang yang belum akrab itu susah.
Hari ini di kelasku akan diadakan penilaian lari. Banyak murid yang sudah mempersiapkanya dengan berlatih atau sekedar pemanasan, tapi aku tidak ambil pusing dan melakukan semampuku saja!
Semua teman laki-lakiku langsung melesat di awal penilaian meninggalkanku bersama dengan barisan murid perempuan yang lebih lambat, dalam kamus besarku, asalkan aku masih bisa selamat aku tidak akan memaksakan diri. Karena yang kukejar bukanlah nilai yang baik melainkan nilai yang aman sehingga aku hanya berlari dengan kecepatan sedang, bahkan ada beberapa murid perempuan yang menyalipku dengan mudah. Tentu saja aku tidak terlalu memikirkannya, karena asalkan aku tidak di bawah waktu standar aku akan selamat.
Sejujurnya kurasa aku masih bisa lari lebih cepat dari ini tapi rasanya tidak ada hal yang membuatku harus melakukannya!
Jadwal pelajaran untuk kelasku hari ini benar-benar susunan yang paling buruk yang pernah kudapatkan selama sebelas tahun aku bersekolah.
Jam pertama : Bahasa Inggris
Jam kedua : Olahraga
Jam ketiga : Seni
Jam keempat : Matematika
__ADS_1
Wah! Benar-benar perpaduan yang aneh!
Setelah semua berganti baju dan istirahat sebentar, pelajaran ketigapun dimulai yaitu kesenian. Materi pertama kami adalah seni rupa sehingga sekarang semua orang sedang menggambar tumpukan apel yang berada di bagian depan kelas.
Berbicara tentang seni dan menggambar. Lain dengan beberapa murid yang memang suka menggambar atau punya bakat menggambar, aku hanya menggambar persis seperti contoh yang diberikan guru di awal pelajaran tadi. Jangan salah paham! aku tidak benci menggambar, hal yang sama juga akan kulakukan dalam pelajaran lain. Kalau hasil yang biasasaja masih diterima buat apa repot-repot membuat yang lebih bagus?. Ini adalah asa ekonomi.
Usaha minimal dengan hasil maksimal.
"Apa kau tidak suka menggambar? Dari tadi kau kelihatan bosan?"
Salah seorang teman sekelasku mendatangiku. Namanya adalah Arisa, murid dengan kemampuan melukis bukan menggambar!
"Tidak seperti itu! Aku hanya tidak tertarik melakukannya!"
Mukanya tidak kelihatan senang setelah mendengar jawabanku.
Jangan merasa kalau melukis itu membuatku bosan. Aku memang tidak terlalu tertarik pada banyak hal, karena itulah aku masih belum masuk ekstrakulikuler apapun sampai sekarang. Jadi tolong jangan buat muka seakan aku ini meremehkan seni lukis.
"Tapi kakakmu kelihatannya suka sekali melakukannya? "
"Tolong berhenti membandingkanku dengan kakakku! "
Tanpa kau beritahupun aku sudah tahu kalau kami ini berbeda.
"Aku tidak bermaksud seperti itu"
"Ya, ya, aku akan kembali meneruskan pekerjaanku jadi bisakah kau ke tempatmu sekarang"
"Kalau begitu permisi"
Dia langsung kembali ke tempat duduknya dan aku langsung mengambil pensilku untuk melanjutkan pekerjaanku dengan setengah hati lagi. Tapi! Aku merasakannya lagi, perasaan sedang diperhatikan dari jauh oleh seseorang.
Kuedarkan pandanganku ke sekitar kelas seni, dan dia! Lagi-lagi. April memperhatikanku dengan pandangan super tajam setajam silet dan sedingin es kutub.
Apa-apaan mata penuh kebencian itu?
Apa yang dia inginkan dariku? Aku cuma murid biasa, harusnya tidak ada hal yang bisa dia benci dariku. Aku tidak pernah melakukan hal-hal seperti melanggar peraturan, atau jadi preman di sekolah dan meminta uang dari murid yang lain. Aku adalah seratus persen murid baik-baik.
Tidak sanggup menghadapi tatapannya yang terlalu tajam, pada akhirnya aku memalingkan wajah dan menganggap kalau kejadian itu tidak pernah terjadi. Setelah itu aku kembali menggambar dengan diselimuti perasaan tidak nyaman yang merayap diseluruh tubuhku.
Jam pelajaran terakhir adalah matematika seperti yang tertulis di jadwal.
Aku bahkan tidak mau mereview apa saja yang terjadi saat pelajaran itu berlangsung karena betapa tegangnya aku saat itu. Bukan hanya sekedar pelajarannya yang tidak kusukai tapi guru yang mengajarpun terlampau serius untuk ukuran guru jaman sekarang, aku bahkan hampir ketiduran saat itu karena cuaca juga mendukung. Langit mendung dan udara dingin, itu semua sudah cukup untuk membuatku ada di taraf ngantuk yang membuatku khawatir kalau aku tertidur aku tidak akan bisa bangun lagi.
Untunglah pelajaran itu sudah selesai setengah jam yang lalu.
Tapi! Aku masih belum pulang, padahal akulah orang yang pertama kali keluar dari kelas saat pelajaran berakhir.
Saat aku keluar kelas tiba-tiba hujan deras turun dan betapa beruntungnya, aku tidak membawa payung sehingga aku terjebak di depan loker sampai saat ini.
Sudah setengah jam aku duduk tidak jelas sambil memainkan sebuah kertas di tangan kananku.
Kertas ini kutemukan di laci mejaku tadi pagi setelah pelajaran olahraga, tepat sebelum pelajaran seni.
Di dalamnya ada sebuah pesan yang di tujukan untukku, bukan pesan berisi kata-kata romantis pastinya!
Sebenarnya aku ingin pulang saja dan tidak memperdulikan isi surat yang kupegang ini karena dari pengamatan singkat yang kulakukan, orang yang menulis pesan adalah seorang gadis. Bisa kelihatan dari tulisannya. Selain itu murid perempuan banyak yang berganti di dalam kelas, jadi kemungkinan kalau yang mengirimkannya adalah murid perempuan jadi semakin tinggi.
Isi dari pesan di dalamnya adalah, aku harus ada di kelas saat jam terakhir selesai.
Kalau memang ada orang yang menungguku saat itu harusnya dia sudah pulang karena sudah setengah jam aku membiarkannya. Di luar masih hujan jadi mungkin kembali ke kelas bukan pilihan yang buruk lagipula kalau aku tetap berada di sini aku akan kena flu. Bukan berarti aku ingin menemui orang itu atau penasaran dengan siapa yang mengirimiku surat itu, aku hanya tidak punya pilihan lain.
Ya! cuma itu! Aku cuma tidak punya pilihan lain.
Seperti yang sudah kuharapkan, tidak ada orang yang bisa kulihat saat aku kembali masuk ke kelasku. Mungkin saja, kalau memang ada orang yang menungguku dia jadi bosan karena aku tidak datang-datang.
Gara-gara kelamaan berdiri di depan loker, kakiku jadi lumayan pegal. Karena itulah aku memutuskan untuk menghampiri tempat dudukku sambil melihat keadaan di luar. Dan saat itu...
"Ngh..."
Dari sebuah tempat bisa kudengar suara seseorang yang sepertinya baru bangun tidur. Kuedarkan lagi pandanganku ke seluruh kelas dan kali ini aku mendapat sumber suara yang kucari.
April sedang tidur di kursi pojok kelas karena itulah aku tidak melihatnya tadi saat masuk. Bagaimana dia bisa ada di sini saat pulang sekolah? Jangan bilang kalau dia yang mengirim surat itu!
Tidak mungkin!
Tidak mungkin kalau dia yang mengirimiku surat itu! Memangnya apa yang dia ingin bicarakan denganku sampai-sampai harus mengatur perjanjian segala? Pasti ini cuma semacam kebetulan yang benar-benar kebetulan.
Sekarang aku mulai berharap kalau surat itu sebenarnya hanya hasil dari ulah jadih teman-temanku yang sedang bersembunyi di balik lemari untuk mempermalukanku. Meski hal itu tidak mengenakan tapi kejutan semacam itu jauh lebih baik daripada menemukan fakta kalau ternyata yang mengirim surat itu adalah April.
Aku harus segera pergi dari sini sebelum dia bangun atau aku akan dapat masalah.Tidak diragukan lagi, pasti! melakukan pertemuan dengan orang sepertinya secara empat mata di tengah kelas yang sepi saat sore hari hanya akan membawa masalah. Masalah besar yang akan susah diselesaikan. Aku tidak suka masalah! Jadi aku lebih memilih terkena flu daripada harus terjebak dengan orang sepertinya dalam waktu yang lama.
Aku mencoba berjalan dengan sepelan mungkin seperti kucing yang sedang mengincar mangsanya, sambil terus memeriksa kalau-kalau dia tiba-tiba bangun sedikit demi sedikit pintu keluar aku dekati.
"Mau kemana kau? Aku sudah bosan menunggumu, kalau kau berani melangkahkan kakimu keluar akan kubunuh kau!"
"Ugh..."
Dengan mata yang masih sedikit tertutup dia mulai berjalan kearahku dengan gontai. Layaknya Zombie di Resident Ev*l, perlahan tapi pasti dia mendekat padaku. Kalau ditambah background musik dari film horor pasti pemandangan ini sudah membuatku lari ketakutan.
Sebab tanpa background music serampun sekarang aku sudah ketakutan.
"Aku lupa kalau aku punya janji penting jadi aku harus lari! Ugh.. uhuk uhuk"
"Aku bilang kalau aku sudah bosan menunggumu!!!!!"
Saat aku mencoba lari, dari belakang dia menarik dasiku sehingga aku tercekik dan dengan terpaksa berhenti bergerak.
Orang ini benar-benar abnormal.
"Aku paham situasinya! Sekarang kau bosnya, aku akan menurutimu!"
"Baguslah kalau begitu! Sekarang duduk dan dengarkan aku!"
Dan!
Entah awalanya bagaimana, sekarang aku duduk di kursi nomor satu dari depan sedangkan dia berdiri di depan papan tulis dengan gaya seperti seorang guru profesional. Dia bahkan memakai kaca mata, dan untuk menambah atmosfirnya ‘mendidik’nya dia juga membawa sebuah penggaris kayu. Benar-benar abnormal.
"Sebelum aku melanjutkan akan kutanyakan ini dulu untuk memastikan, apa benar kalau kau adik dari Anna dan Hanny ?"
Dari abnormal sekarang dia berubah ke mode preman. Dengan menggunakan penggaris dia menunjuk mukaku. Lalu seperti yang dia sering lakukan, matanya memandang tajam ke mataku sekan sedang ingin memalaku.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Baguslah kalau begitu! Berarti aku tidak salah!"
Aku masih duduk. Dengan wajah yang kupaksakan agar kelihatan tenang.
"Harsa! Aku menantangmu untuk memperebutkan rengking satu di sekolah ini sampai semester depan!"
"Aku pulang!"
Semua orang bilang dia pintar, tapi ternyata pikirannya sangat dangkal. Apa dia berpikir hanya dengan punya darah yang sama, aku juga sama dengan kedua kakakku? Manusia tidak seperti itu. Mereka semua berbeda dan punya batasnya masing-masing.
"Hey mau ke mana kau? Aku belum selesai bicara denganmu!"
"Aku tidak berminat! Aku akan pergi, kalau kau ingin jadi rengking satu kejar saja sendiri jangan bawa-bawa aku!"
Semua orang punya batas. Dan aku tahu kalau aku tidak bisa melakukan apa yang kedua kakakku lakukan. Itulah batasku.
"Aku ingin mengalahkan kedua kakakmu dan kalau aku belum mengalahkanmu aku tidak mungkin bisa mengalahkan mereka berdua!"
Sekali lagi kakaku menjadi tujuan seseorang. Dengan bilang begitu secara tidak langsung dia hanya menginginkanku sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuannya, atau mungkin malah sebagai mainannya agar bisa merasa menang dari seseorang.
"Kau sudah mengalahkanku bersamaan dengan dua ratus empat puluh empat siswa lainnya saat ujian masuk, jadi kau sudah bisa level ke tahap berikutnya."
Brak!...
__ADS_1
Dia menggebrak kemeja di depannya dengan penggaris kayu, terlihat di matanya kemarahan yang meluap-luap. Dan! semua kemarahan itu ditujukannya untukku.
"Bohong! Aku sudah lama memperhatikanmu, kau selalu saja tidak serius dalam melakukan apapun! Aku tahu kau itu bukan tidak bisa tapi tidak mau!"
"Lalu kenapa! Bukankah dengan begitu kau sudah menang?"
Apa yang kulakukan sama sekali tidak mengganggu orang lain jadi tolong berhenti menggangguku.
"Apanya yang bisa dibanggakan dari membunuh singa yang sekarat!"
Aku manusia, kalau kau masih ingat?
"Aku tidak tahu apa tujuanmu tapi sebaiknya kau menyerah saja! aku tidak tertarik dengan hal semacam itu!!"
Brak...
"Apa kau tidak malu pada kedua kakakmu, apa kau tidak malu jadi satu-satunya pecundang di di keluargamu!"
Dia kembali membanting penggaris kayu yang di pegangnya ke meja guru.
Dengan mudahnya dia bilang hal-hal seperti itu. Memang benar kalau kedua kakakku itu hebat, memang benar aku cuma seorang pecundang tapi kehidupanku tidak sesimple itu. Orang ini tidak tahu apa-apa tapi benar-benar sok tahu.
"Sangat mudah mengatakannya dari prespektifmu, tapi! kau tidak tahu kan?"
"Tidak tahu apa?"
Aku kembali berbalik dan menghadapnya karena keinginanku untuk pulang sudah menguap. Yang kuinginkan sekarang adalah?
Kupegang tangannya yang dia gunakan untuk mengayun-ayunkan penggaris kayu ke arahku, lalu dengan kasar kutarik tangannya sehingga mau tidak mau dia harus berhadapan langsung denganku. Kutatap matanya dengan tajam.
"Dulu aku selalu mengejar mereka berdua , aku selalu ingin jadi seperti mereka, aku ingin melakukan apa yang mereka lakukan. Tapi! Tidak pernah sekalipun aku berhasil, tidak pernah sekalipun aku mampu mendekati level mereka. Saat aku gagal semua hanya mentertawakanku di belakang dan hanya menganggapku orang bodoh!"
"Lepaskan!"
"Semua orang mencibirku, mereka selalu saja membandingkanku dengan kakakku. Orang-orang juga selalu bilang tentang betapa hebatnya mereka dan betapa bodohnya aku!"
"Harsa lepaskan aku!"
Aku melepaskannya.
"Kau boleh bilang kalau aku ini pecundang, kau boleh membenciku tapi aku tidak akan terima kalau kau membandingkanku dengan mereka berdua!"
"Apa itu yang membuatmu tidak pernah serius?"
"Kuberi tahu kau! di dunia ini ada beberapa hal yang tidak bisa dicapai dengan sekedar usaha keras!"
Kulangkahkan kakiku. Kali ini, dia tidak mencoba menghentikanku. Seharusnya dia juga menyerah sama sepertiku. Sama seperti dulu!
"Tunggu! Aku belum mengijinkanmu pergi kan? Kau hanya lari dari kenyataan, kau benar-benar pecundang yang hanya menghindari masalah!"
"Ha?"
"Karena itulah aku akan mengubahmu! Setelah itu aku akan mengalahkanmu dan menaklukan mereka berdua! Hyaa"
"Apa yang kau..."
Dia berlari ke depanku lalu dia sekali lagi menarik dasiku. Hanya saja kali ini dia menggunakan tenaga yang jauh lebih besar dari sebelumnya sehingga kami berdua terjatuh ke lantai.
"Hay apa yang kau lakukan!"
Menghadapi kepanikanku, dia tetap memasang wajah dingin.
"Kalau kau tidak menerima tantangnku aku akan terus menggangu kehidupanmu! "
"Apa yang kau maksud?"
"Persis seperti apa yang kukatakan! Kalau kau tidak mau menerima tantanganku kau akan dapat masalah besar! Dan kau tidak punya pilihan lain kecuali menurutiku!"
Sekarang malah dia mencoba mengancamku.
“Asal kau tahu, semua yang terjadi di sini sudah aku rekam dan aku bisa menyebarkan hasil editingnya ke semua orang.”
Editing?
Menyebarkan?
Aku melihat ke kanan dan ke kiri dan menemukan ponsel yang sedang tidur dalam posisi miring. Kameranya mengarah kepada kami berdua. Setelah itu aku memeriksa apa yang sedang kamera itu lihat dengan lensanya. Dan akupun sadar dengan posisi kami berdua.
Keringat dingin meluncur dari wajahku. Aku ingin segera bangkit tapi badanku rasanya jadi beku.
Posisi seperti ini benar-benar akan mengundang kesalahpaham kalau sampai ada yang melihat. Jika ada seseorang yang ditanya apa yang sedang kulakukan pada Lisa, seratus persen mereka akan menjawab kalau aku menyerangnya. Meskipun aku tidak melakukan apa-apa dan malah yang jadi korban, tapi aku sangat, sangat, sangat yakin kalau tidak ada seorangpun yang akan mempecayai omonganku.
Jadi ini rencananya sejak awal.
Orang ini benar-benar seratus persen gila!
Dia serius! sangat serius malah! kalau aku tidak melakukan sesuatu bisa dipastikan dia akan membuktikan omongannya. Di akan mengganggu kehidupanku selama tiga tahun kalau sampai aku tidak melayani tantangannya.
Apa yang harus kulakukan.
Sekarang dia bahkan punya alat untuk mengancamku.
Ini sudah bukan lagi perang di mana aku bisa memilih jalan untuk kabur. Ini perang di mana pilihan yang tersedia hanya menang atau mati.
Apa yang harus kulakukan?
“Aku tarik kembali kata-kataku! aku akan mengalahkanmu!”
Apa yang harus kulakukan di masa depan akan kulakukan di masa depan. Prioritasku saat ini adalah untuk segera keluar dari krisis ini dan memikirkan strategi untuk menyerang balik.
"Jangan berani-berani tidak serius melawanku atau kau akan ada dalam masalah besar, ingat itu!"
"Berisik!"
Saat aku ingin bangun, aku mendengar suara pintu kelas dibuka. Dan dari seberang sana bisa kulihat teman baiku Sigra sedang melihat aku dan April tanpa berkedip dan mulut terbuka.
Mati aku.
“Ha. .ha. . ha. . aku ke sini hanya ingin mengambil payungku yang ketinggalan, maaf sudah mengganggu!”
Dia kembali menutup pintunya lalu pergi.
Kena jebakan aneh, terlibat kesalahpahaman tingkat akut, terikat dengan gadis yang mukanya seperti anak kecil. Kenapa hidupku jadi seperti manga? selain itu developmentnya terlalu klise sampai aku khawatir kalau yang di atas sana hanya menggunakan template.
Kami berdua kembali berdiri lalu April mengulurkan tangan kanannya padaku.
“Apa?”
“Kita harus berjabat tangan untuk mengesahkan perjanjian duel kita.”
Kau tahu? perjanjian dibuat untuk menghasilkan keadilan di mana kedua belah pihak bisa sama-sama merasa senang dan tidak dirugikan. Dan tolong coba lihat, yang kau lakukan adalah mengancamku.
Dia menatapku dengan tajam sekali lagi.
“Baiklah-baiklah!”
“Dengan begini duel kita sudah dimulai, kau tidak boleh main-main dan harus serius!!”
Kami berduapun berpisah.
Hujan di luar tidak menghalangiku untuk pulang, aku masih tidak tahu bagaimana cara untuk mengalahkannya tapi aku harus menang darinya. Aku harus menang! Kata-kata aku harus menang kembali muncul setelah dua tahun lalu hilang ditelan bumi.
Orang itu benar-benar bisa memancingku mengatakan apa yang dia inginkan, tidak diragukan lagi kalau dia itu memang cerdas. Dengan menggunakans serangan psikologis dia berhasil memojokanku.
Apa aku bisa mengalahkannya?.
Aku juga tidak tahu. Tapi kalau aku ragu di saat seperti ini, semuanya malah akan jadi bertambah buruk karena aku tidak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
Yang bisa kulakukan sekarang ini hanyalah berusaha lebih keras dari apa yang dua tahun lalu pernah kulakukan. Aku tidak punya pilihan lain, sekali lagi. Aku harus menang!
Sepertinya beberapa bulan ke depan kehidupanku akan penuh dengan masalah.