For Number One

For Number One
4 : Personality


__ADS_3

"Harsa! yang itu belum bersih! cepat bersihkan lagi!"


Suara itu.


Aku sudah benar-benar sebal mendengarnya.


Mulai dari udara masih berkabut dan dingin sampai matahari sudah agak panas dan menyilaukan mata, pemilik suara itu terus saja berteriak-teriak padaku. Dan yang lebih buruknya adalah teriakan itu berupa perintah. Perintah yang sangat merepotkan.


Kau bingung?


Aku tidak tahu bagaimana dia mendapatkannya. Tadi pagi, dengan muka super bahagia April mendatangi rumahku dan menunjukan hasil ujiannya yang seharusnya baru keluar besok. Lalu seperti yang sudah kuduga, nilai testku yang kemarin berada di bawahnya dengan selisih tiga poin.


"Aku tidak mendengar ada aturan semacam ini!."


"Kalau begitu sekarang dengarkan dengan baik! setiap kali ada ujian atau test, yang mendapatkan nilai lebih rendah harus menuruti yang di atasnya selama sehari! sudah dengar kan? sekarang kerja lagi!."


Deklarasi hukuman macam apa itu? apa tidak ada hakim di sini?


"Bukan begitu maksudku! kau sama sekali tidak pernah mengatakan tentang hal semacam itu."


Aku bukan orang yang punya daya ingat bagus, tapi meski begitu aku sangat yakin kalau aku tidak pernah menyetujui perjanjian merugikan semacam itu. Dan minggu minggu yang lalu aku juga tidak ingat kalau dia memberikan kontrak semacam itu untuk kutandatangani. Jadi kesimpulannya! dia baru kepikiran ide itu tadi pagi.


"Ka mau melawanku? kau mau aku melaporkan kejadian minggu lalu?"


Sialan! aku tidak bisa melawan. Selama dia punya kartu as untuk melakukan ancaman padaku aku tidak akan bisa lolos dari kekuasaannya.


"Baiklah-baiklah! aku mengalah."


Terpaksa kalah, lebih tepatnya.


Harusnya hari ini adalah gilirannya untuk piket membersihkan kelas. Tapi, sehubungan dengan diberlakukannya peraturan baru yang berbunyi pemenang berkuasa. Semua pekerjaan yang harusnya menjadi milikinya dia bebankan kepadaku sedangkan dia sendiri duduk di atas meja sambil memasang muka senang.


"Setelah yang itu selesai, bersihkan papan tulisnya lalu buang juga sampah yang ada di depan!."


Yang membuatku benar-benar sebal bukanlah pekerjaanya, tapi ekspresi senangnya saat dia sedang memerintahkan sesuatu padaku. Senyum cerahnya yang biasanya membuatku lupa bernafas malah sekarang membuatku lupa kalau aku ini hidup di era kemerdekaan di mana hak asasi manusia sangat dijunjung tinggi.


"Apa setelah itu aku bisa istirahat?"


"Kau ini bilang apa? taman di depan masih kotor! kau juga harus membersihkannya."


"Nona April kurasa apa yang kita lakukan dinamakan piket kelas karena suatu alasan yang sangat jelas!."


Karena tanggung jawabnya hanya berakhir di lingkungan kelas dan bukan seluruh sekolah. Jika kita juga membersihkan taman bukankah kita merebut pekerjaan seseorang?.


"Berisik! berisik! cepat keluar dan bersihkan tamannya! apa kau tidak ingat perjanjiannya?"


Apanya yang perjanjian? pemaksaan iya! aku sama sekali tidak sudah menandatangi perjanjian macam apapaun yang kau sodorkan. Perjanjian itu dibuat agar kedua pihak mendapat keadilan, tapi semua perspektif yang kugunakan untuk melihatnya mengatakan kalau akulah yang dirugikan. Seratus persen rugi. Kalau begitu di mana sisi adilnya? sekarang sudah jaman modern sudah saatnya hukum HAM ditegakkan.


"Kalau kau mau balas dendam kau harus mendapat nilai yang lebih tinggi dariku!"


"Terima kasih atas sarannya."


Balas dendam, kalau bisa aku juga akan melakukannya. Tapi sayang untuk sekarang ini sepertinya impian itu masih terlalu jauh untuk dicapai. Walau aku bilang balas dendam, tentu aku tidak akan melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan padaku.


Kalau sampai itu terjadi, apa yang akan dipikirkan orang-orang yang melihat? seorang remaja laki-laki memerintah seorang anak perempuan seperti seorang budak. Mendengarnya saja sudah membuatku jadi berpikir negatif. Lagipula walau aku memang tidak suka padanya tapi kebencianku tidaklah sebesar itu. Meski aku tidak mau mengakuinya tapi dia agak membawa energi positif untukku.


Sudah dua tahun lebih aku tidak melakukan sesuatu dengan seserius ini. Biasanya aku hanya akan melakukan segala hal dengan setengah-setengah, tidak terlalu serius, dan cari aman saja.


Tapi gara-gara diancam ini dan itu oleh gadis mirip anak kecil itu, aku bahkan menyapu taman dengan muka serius. Hikmah yang kudapatkan kali ini sama sekali tidak teras enak tapi malah menyiksa.


Dengan menjadi serius aku harus menguras tenaga dua kali lipat dari biasanya. Lalu, jadi serius memang positif, tapi akan lebih positif lagi kalau aku mendapatkan motivasti tanpa paksaan dan ancaman.


"Mau ke mana kau sepagi ini membawa-bawa sapu?"


Saat aku ingin turun tangga aku bertemu dengan kepala sekolah. Namanya mari kita sebut saja kakek tua, umur lima puluh tujuh tahun, punya reputasi guru paling disiplin di sekolah. Meski tampangnya sangar dan malah mirip ketua geng preman, tapi dia itu dikenal baik pada murid dan sekarang aku juga jadi tahu kalau selain baik dia juga rajin.


Bisa dibilang, reputasinya sama sekali bukan omong kosong.


Bayangkan saja, sekarang masih jam lima lebih lima belas menit tapi dia sudah ada di sekolah, lain sekali dengan wali kelasku yang baru sampai di sekolah lima menit sebelum bel masuk. Sekali lagi pribahasa 'jangan lihat buku dari sampulnya' terbukti kebenarannya.


"Aku akan membersihkan taman pak!"


Tolong jangan beri aku tatapan yang kelihatan seperti bilang 'kau sedang pamer ya?'


"Bukankah ada petugas? Kenapa kau yang repot-repot melakukannya?"


Kenapa ya? Aku tidak mungkin bilang kalau ada gadis mirip anak SD yang mengancam akan membeberkan rahasiaku kalau aku tidak menuruti perintahnya. Kalau aku bilang begitu bisa jadi tatapannya akan berubah arti jadi 'apa kau masih waras?'


"Aku datang terlalu pagi, karena itu aku menyapu taman untuk mengisi waktu luang dan aku juga sudah membersihkan kelasku sendiri, jadi jangan khawatir kalau pekerjaan wajibku malah terlantar."


Meski sebenarnya bukan pekerjaanku, tapi April. Aku menunduk sedikit padanya lalu segera turun sebelum si April sadar kalau aku belum sampai ke taman.


Pagi itu kuhabiskan untuk membersihkan taman sekolah sampai jam setengah tuju, meski ada banyak murid yang memujiku tapi aku sama sekali tidak merasa senang. Bagaimana aku bisa merasa senang? aku kepanasan dan kegerahan, bahkan bajuku sudah basah oleh keringat. Oh iya, aku dengar kalau sinar matahari pagi itu mengandung vitamin D. Kalau memang begitu, mulai hari ini akan kudeklarasikan kalau aku benci vitamin D. Benda itu panas.


"Gunakan ini, kau kelihatan berkeringat"


Bukan hanya kelihatan, tapi aku memang benar-benar berkeringat. Aku tidak tahu dari kapan, tapi begitu aku melihat ke belakangku di sana ada April yang sedang berdiri sambil membawa handuk kecil.


"Terima kasih"


Kali ini, si April menunjukan sedikit kebaikanya. Benar-benar cuma sedikit. Dia cuma handuk sapu tangan untuk mengelap keringatku. Harusnya kalau dia memang ingin berbuat baik setidaknya berikan aku minuman. Bukannya aku tidak ingin berterima kasih, hanya saja sekarang aku benar-benar haus.


"Kalau begitu aku dulu ke kelas dulu."


"Aku harap kau tidak akan merepotkan diri kembali kesini."


Tanpa berpikir dua kali dia memukulku. Sebenarnya maksudku adalah bercanda, tapi sepertinya dia tidak paham dengan apa yang kumaksudkan. Dan, kalau kebiasaannya memukuli kepalaku tidak berubah juga, bisa jadi tahun depan aku akan benar-benar jadi orang yang selalu dia hinakan padaku. Orang bodoh. Lalu kalau aku jadi orang bodoh tidak mungkin aku bisa mengalahkannya. Terus, ujung-ujungnya aku akan jadi sengsara.


Ramalan masa depan yang sangat mengerikan.


Gadis itu pergi lalu, tanpa kusadari seseorang sudah ada di sampingku.


"Kalian tambah dekat ya?"


"Brisik Sigra!"


Lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi si April kembali mendatangiku dengan membawa seragam sekolah laki-laki baru yang tidak jelas asalnya dari mana. Setelah itu, dia menyuruhku segera berganti dan masuk kelas.


Begitu masuk ke kelas Sigra langsung menghampiriku dan menanyai ini dan itu, lalu seperti biasa arah pembicaraan kami jadi ngelantur dan kamipun ngobrol hal-hal tidak jelas sampai guru masuk.


Hari ini, guru yang kemarin sakit sudah berangkat dan hadir di kelas dengan wajah yang segar. Karena itu tansi kelas yang akhir-akhir ini agak turun naik kembali naik bagai suporter yang mau menonton pertandingan tim kesayangannya di final.


Sepertinya cuma aku saja yang tidak punya semangat dalam mataku. Mau bagaimana lagi? semangatku sepertinya sudah ikut luntur bersama dengan keringatku. Aku terlalu capek.


Kurasa aku ini memang remaja kelas teri. Yang kulakukan hanyalah membersihkan kelas, taman, dan sekitar sekolah tapi aku sudah secapek ini. Sebentar! Tunggu dulu! ternyata pekerjaanku banyak juga? jadi aku merasa capek itu normal.


Yah.


Normal.


. . . . . . . . . . . . .


2


Adalah anggapanku.


Aku menyadarinya ketika tiba-tiba aku membuka mataku tanpa ingat kapan menutupnya. Guru di depan kelas sudah tidak ada dan jam dinding di tembok juga menujukan kalau dua jam sudah berlalu setelah aku masuk ke dalam kelas. Jadi? aku ketiduran. Tidak salah lagi. Cuma penjelasan itu yang paling masuk akal.


Ini adalah yang pertama kalinya. Yah, meski aku memang bukan tipe orang yang selalu memperhatikan apa yang dikatakan guru tapi aku ini tetap saja tidak pernah tidur di dalam kelas. Tidak diragukan lagi kalau ini juga adalah salah satu efek samping yang ditimbulkan oleh kedatangan April April dalam kehidupanku.


Bisa dibilang April effect.


Tapi kali ini sisi negatifnya. Kuharap selama aku tidur tidak ada yang menjahiliku sebab sekarang bulan april sungguhan.


"Mau sampai kapan kau akan tidur? Kau tidak kelaparan lagi kali ini kan?"


Terima kasih pada pengalaman pahitku kemarin, sebelum kau datang aku sudah sarapan terlebih dahulu. Tapi sekali lagi, aku benar-benar ingin bilang kalau memukul kepala bukanlah cara yang baik untuk mengucapkan salam. Tolong segeralah belajar cara menyapa yang normal sebelum aku mulai kena gegar otak.


Tanpa sedikitpun memberikan rasa keperdulian pada raut wajah tidak bahagiaku, dia menjatuhkan tumpukan buku tepat di depan mukaku. Kali ini apa?


"Bawa ini ke kantor! letakan di meja guru!"


Perintahnya sebenarnya tidak terlalu berat, yang membuatku berat untuk melangkah bukanlah perintahnya tapi sekali lagi, senyum senangnya saat memerintahku. Ingin bahagia di atas penderitaan orang lain sama sekali bukan hobi yang patut untuk dipelihara.


"Itu kan tugasmu, yang piket hari ini kan kau!"


Ini namanya penjajahan di masa merdeka.


"Kau ingat peraturannya kan? jangan banyak tanya dan kerjakan saja!"


Peraturan yang mana ya? lagipula biasanya guru tadi akan mencocokan tugas di kelas, apa ini juga salah satu akal-akalanmu untuk mengerjaiku. Aku harap meski namamu april setiap hari kau tidak anggap sebagai april fools.


Mulutku memang tidak berbicara, tapi sepertinya si April tahu bagaimana cara kerja otaku sehingga setelah dia batuk kecil dia memberi penjelasan tambahan.


"Tadi dia bilang masih tidak enak badan jadi dia mau memeriksa tugas di kantor saja, cepat pergi dan berhenti melamun!"


Setelah mengambil bukuku sendiri, aku segera pergi sambil membawa tumpukan buku di depan dadaku.


Yah, kalau entah karena apa tiba-tiba ada serangan teroris di sekolah aku bisa menjamin kalau akulah yang akan bertahan terakhir. Kau tanya dari mana aku dapat kesimpulan itu? gampang. Kertas yang kubawa ini jumlahnya lebih dari seribu halaman. Peluru 44 magnum saja tidak akan bisa tembus.


Sepanjang jalan ada beberapa murid dan bahkan kakak kelas yang menyapaku, dan meski sejujurnya aku tidak kenal siapa mereka tapi aku tetap membalas dengan anggukan atau senyuman. Harusnya aku ini murid low profile yang tidak terlalu dikenal, tapi gara-gara kakakku itu fenomena sekolah, mau tidak mau aku juga jadi kena efeknya.


Beberapa menit kemudian aku sampai di kantor guru.


"Kenapa kau ada di sini Harsa?, perasaan aku jarang  melihatmu ada di kantor guru"


Tentu saja jarang, satu-satunya alasan aku ada di kantor adalah saat aku harus mengambil soal remidial.


"Aku hanya mengantar ini."


Begitu aku meletakan tumpukan buku-buku yang kubawa ke atas mejanya, dia melihatku dengan tatapan yang mengatakan kalau dia bingung dengan apa yang sudah kulakukan. Kenapa? apa aku sudah melakukan sesuatu yang aneh?


"Bukankah itu tugas April? apa jangan-jangan rumor itu benar ? Kau bahkan menggantikan tugasnya."


Aku tidak tahu rumor macam apa yang sedang menyebar di sekolah, tapi setidaknya aku punya keyakinan kalau rumor itu ada hubungannya dengan si April yang selau menarik-nariku ke sana ke mari dengan paksa.


"Banyak hal yang sudah terjadi."


Sayangnya, menjelaskan apa yang sebenarnya terlalu merepotkan, lagipula kemungkinan dia akan percaya dengan keteranganku juga sepertinya tidak terlalu tinggi.


"Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi, tapi kau kelihatan jadi lebih baik, dulu matamu kelihatan seperti ikan mati tapi sekarang sudah kelihatan ada kehidupan di dalamnya."


Tolong tahan dirimu! memangnya aku yang seminggu yang lalu itu seburuk apa? apa kau tidak bisa membuat impresimu terhadapku kedengaran sedikit lebih enak didengar?.


Banyak hal memang sudah terjadi. Tapi semua hal itu adalah hal buruk yang merugikanku. Contoh gampangnya ya kejadian tadi pagi, aku harus membersihkan taman yang luasnya minta ampun padahal sekolah sudah memberi gaji orang lain untuk mengerjakannya. Dengan begini bukankah aku merebut pekerjaannya? Kenapa aku dipaksa untuk merebut lapangan kerja orang lain.


Pikiran-pikiran tentang hal-hal negatif yang April bawa ke kehidupanku terus menerus muncul di kepalaku, jadi sambil berjalan kembali ke kelas aku terus mereview apa saja yang sudah berubah dariku belakangan ini. Lalu setelah beberapa detik berjalan, aku menabrak seseorang


"E..."


Tingginya hampir sama denganku, di lengan baju sebelah kanannya ada sebuah tanda dengan tulisan angka dua romawi, lalu dia punya rambut hitam panjang yang bisa digunakan untuk iklan sampo. Saat aku melihat wajahnya, kudapati seseorang yang familiar berada di depanku.


"Jangan terlalu dekat denganku!"


Gadis itu mengangkat tangan kanannya lalu mendorong mukaku dengan kuat menggunakan telapak tangannya.


"Maafkan aku."


Begitu dia mendengar suaraku dia langsung mundur sambil memasang pose sesorang yang baru saja dilecehkan. Dan hal itu lebih menyakitkan sebab orang yang kutabrak tadi adalah kakak keduaku. Lalu, meski wajahnya tidak menunjukan kalau dia itu marah tapi aku rasa dia tidak suka dengan fakta kalau kami baru saja bertabrakan di lorong sekolah di mana ada banyak orang yang melihat.


Tapi sekali lagi, seakan kalau pikiranku ini mudah dibaca dia buru-buru menambahkan kalimat lain di belakang kata-katanya yang tadi. Apa pikiranku semudah itu bisa dibaca?.


"Ha. . Harsa jangan salah paham aku tidak marah, aku hanya kaget."


Kedua kakaku memang punya sifat yang bertolak belakang. Di saat kak Anna lebih memilih tidak melakukan apapun kalau tidak perlu, kak Hanny itu akan melakukan sesuatu kalau dia tidak punya pekerjaan.


Contohnya sekarang ini, kenapa dia harus bertingkah seperti seorang gadis yang ketahuan selingkuh oleh pacarnya? gara-gara itu aku jadi grogi meski padahal yang kuhadapi adalah keluargaku sendiri.


Hanya saja aku sempat menambahkan pikiran-pikiran lain ke otakku, mataku tertuju pada sesuatu yang sedang datang menuju arah kami berdua. Dan, hal itu memaksaku untuk memegang kedua pundak kakakku itu agar tidak berbalik melihat ke belakang.


"Kak Hanny sebaiknya kau cepat masuk, aku dengar kalau sebentar lagi akan ada rapat."


Dia melihatku dengan tatapan bingung yang manis, tapi hal itu bukannya membuatku merasa tenang malah sebaliknya. Dia membuatku jadi tegang.


"A... Iya."


Meski dia adalah anggota keluarga yang sudah hidup denganku selama lima belas tahun, tapi memegang pundaknya sambil menatap langsung ke matanya tetap membuatku jadi salah tingkah sendiri, dan untuk menambah ketidaknyamanan yang kurasakan, tatapan-tatapan tidak enak mengarah padaku dari berbagai penjuru membuatku entah kenapa jadi merasa seperti seorang kriminal.


Sesuatu yang datang itu adalah seorang gadis bernama Lisa Aprilia.


Sebelum si April bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang kuhadapi aku memberinya tanda untuk bersembunyi. Lalu, meski sebenarnya dia tidak harus menurutiku. Dia langsung melihat ke kanan dan ke kiri lalu bersembunyi di balik sebuah tong sampah besar.


Padahal aku sendiri mengira kalau dia malah akan marah-marah dan menghajarku di tempat tapi malah dia menurut dengan sigapnya.


"Harsa, bocah yang kau bawa ke rumah waktu itu siapa? Apa rumor itu benar?"


Tanpa mengetahui bagaimana perasaanku, kak Hanny bertanya padaku dengan nada yang membuatku jadi ingin menjawab tanpa banyak berpikir. Tingkahnya yang manis serta aura feminimnya benar-benar tidak bisa dihadang. Kalau aku bukan adiknya mungkin aku sudah jatuh cinta padanya.


"Aku tidak tahu apa rumor yang sedang kakak bicarakan, tapi kalau bocah yang kakak maksud itu si April kami berdua itu cuma teman."


Tong sampah di belakang kak Hanny bergetar hebat. Bukan karena situasi paranormal tentunya, aku rasa April yang bersembunyi di baliknya sedang berusaha mati-matian menahan amarah karena dipanggil bocah atau apapun itu. Memadamkan api kemarahannya akan jadi prioritas keduaku, sebelum itu aku harus bisa memisahkan mereka dari satu tempat ini.


Dari pengalaman kemarin-kemarin, ada kemungkinan besar kalau mereka berdua bertemu akan terjadi hal yang akan membuatku jadi bahan omongan seluruh sekolah. Jadi, membiarkan mereka bertemu di sebuah tempat di mana ada banyak orang yang kenal denganku sama sekali bukan keputusan yang bijak. Bagaimana kalau kejadian seperti pagi itu terulang lagi? aku bisa jadi bahan bullying selama berhari-hari.


"Kalau begitu aku masuk dulu"


Pintu tertutup, meninggalkanku yang sedang menanti takdir menyakitkan, takdir untuk dipukuli si April.


"Siapa dia? Terus apa yang kau lakukan dengannya? Kenapa kau bilang kalau kita hanya tem. . . maksudku kenapa dia menyebutku bocah?"


Kalau dari pemilihan kata dan model pertanyaannya, bisa kupastikan kalau dia tidak sadar orang yang dia bicarakan itu adalah kak Hanny. Tapi! Mengatakan kalau tadi itu adalah Kak Hanny juga sepertinya bukan pilihan yang baik dan malahan berpotensi memperparah keadaan.


Aku hanya bisa menyerah dan menerima takdirku dengan lapang dada untuk dijadikan sandbag olehnya. Belakangan ini aku sudah mulai terbiasa dipukulinya, aku memang sama sekali tidak suka tapi dengan ini dia bisa sedikit lebih tenang. Mungkin begini rasanya jadi ayah yang punya anak yang masih kecil.


Kejadian itu membuatku tidak mau tertidur lagi dalam pelajaran karena aku takut mendapat mimpi buruk.


Pelajaran sebelumnya terasa begitu lama untukku. Saat ini istirahat ke dua sudah mulai dan aku mulai lapar. April yang dari jam istirahat pertama marah-marah masih mempertahankan perasaannya itu sampai sekarang. Bahkan atmosfir kelas yang biasanya seperti ladang rumput yang tenang mendadak jadi seperti rawa yang penuh buaya.


Seluruh kelas melihatku dengan tatapan aneh, bukan salahku kalau dia itu marah tapi seluruh kelas seperti bilang kalau aku yang harus bertanggung jawab.


"Tadi saat kalian ke kelas kalian kelihatan sangat akrab bahkan dia sampai menggandeng tanganmu lalu kenapa dia terus saja menggeram saat melihatmu?"


Ada yang salah dalam kata-katanya, moodku tidak pernah baik saat bersamanya! bagaimana bisa aku bisa akrab dengan orang yang bertanggung jawab untuknya. Selain itu aku tidak bergandengan dengannya, dia itu cuma menarik-nariku paksa sepanjang perjalanan.


Kalau moodnya terus buruk seperti itu aku khawatir nanti sore aku tidak bisa sampai di rumah dengan selamat.


"Harsa! tenangkan dia ya, aku pergi dulu, aku sudah tidak tahan dengan aura tidak enak di sini."


Semua orang juga pasti tidak akan tahan dengan atmosfir berat di sekelilingnya, dan entah kenapa tanggung jawab merefresh moodnya harus jadi tugasku. Hampir tidak ada seorangpun di dalam kelas kecuali kami berdua sebab yang lain sudah sengaja kabur meninggalkanku, karena itulah aku tidak punya pilihan lain kecuali membuatnya lupa dengan kemarahannya.


Normalnya April adalah mood maker kelas, tapi begitu moodnya turun orang-orang di kelas juga jadi ikut terkena efek mood buruknya. Hal ini jauh lebih merepotkan dari marahnya orang yang biasanya tidak pernah marah.

__ADS_1


Harusnya sedikit minuman dingin mampu mengurangi stress di otaknya, lagipula aku masih punya uang lebih karena dua hari yang lalu aku tidak menggunakannya. Bisa dibilang itu adalah salah satu efek samping yang kusukuri dari event April fools kemarin.


Sekarang yang jadi masalah adalah bagaimana aku mengajaknya keluar, moodnya benar-benar sedang tidak baik. Kalau aku salah menggunakan kalimat bisa-bisa aku di datangi malaikat kematian lebih cepat dari seharusnya.


Kalau aku bicara dengan nada keras dia pasti akan memukulku lebih keras dari suaraku, kalau aku bicara pelan dia malah akan meluangkan waktunya untuk memakiku habis-habisan.


Entah kenapa aku diberi pilihan yang benar-benar sulit untuk dipilih. Sebab keduanya sama buruknya.


Sudahlah! Lihat saja nanti!


"April kau haus tidak? Aku mau ke kantin mau ikut?"


"Pergi kau!"


Tatapannya sangat menusuk. Tapi aku tidak punya niat untuk mundur satu langkahpun. Dilempari kata-kata menyakitkan seminggu penuh olehmu sudah berhasil membuat kulitku jadi agak tebal.


"Ayolah aku yang membayar."


Yang bisa kulakukan adalah terus maju dan memaksa. Aku sadar kalau metodeku sama sekali tidak menyenangkan dan super mengganggu, tapi aku tidak bisa mundur hanya karena aku akan dianggap seperti bukan laki-laki. Lagipula aku juga ingin membuatnya merasakan seberapa mengganggunya tindakannya padaku.


"Heee... hei aku belum bilang mau kan?"


Walau dia belum bilang 'mau' pada akhirnya kami tetap pergi ke kantin berdua.


Saat ini kami masih berjalan ke sana ke mari untuk mencari tempat yang kosong. Kami sudah lumayan lama berkeliling, tapi tetap saja kami masih belum menemukan tempat kosong yang kucari, sejujurnya aku juga jarang keluar dari kelas saat istirahat jadi aku masih belum terbiasa dengan keadaan yang ramai oleh siswa lain yang berlalu-lalang di sekitar kami.


Saat ini adalah jam istirahat sehingga keadaan ramai tidak normal itu tidak membuatku heran. Yang membuatku heran malahan si April, dia terus saja memegang lengan baju kiriku dengan erat seperti anak kecil yang takut hilang dalam kerumunan. Bukannya tidak suka atau apa, mengesampingkan sifatnya. Ditempel oleh seorang gadis kecil imut itu adalah hal yang menyenangkan secara fisik.


Tapi kalau begini mungkin saja rumor baru akan mucul sebelum aku tahu rumor yang sekarang sedang menyebar.


Melihat bagaimana murid lain memandang kami, aku sudah bisa menebak apa yang mereka pikirkan.


Seseorang melambaikan tangannya pada kami berdua, dari sudut ini kami bisa memastikan kalau di sana ada tempat yang tersisa dan bisa kami gunakan untuk duduk.


"Ayo ke sana April"


"Ha.. Iya"


Saat hanya berdua denganku, dia selalu bertindak seperti preman atau penguasa yang lalim. Tapi begitu di sekitar kami ada banyak orang, perilakunya berubah jadi persis anak perempuan pemalu. Ini adalah info penting. Kalau dia mulai liar lagi, mungkin aku hanya perlu menaruhnya ditengah kerumunan orang lalu dia akan diam?.


"Kak Anna? ternyata tadi kakak ya"


"Kau bersamanya lagi ya, syukurlah! tadinya aku khawatir kalau kau akan jadi orang tumpul selamanya."


Apa maksud perkataanmu? apa kau sedang ingin menyakiti hatiku secara langsung. Kalau iya, kau sudah berhasil dan aku tidak ingin kau mengulanginya.


Aku dan April duduk berjajar di seberang meja dari tempat kak Anna. Aku sedikit heran bagaimana dia bisa sendirian di tempat seramai ini, mengingat betapa terkenalnya dia. Saat ini harusnya dia dikelilingi teman-temannya kan? Meskipun kurasa keadaanya agak aneh tapi jelas dia sendiri malah tidak perduli sama sekali. Dia malah dengan tanpa ekspresi membaca buku di tangannya seakan semua orang hanyalah rumput yang bergoyang.


"Apr. . . . apa yang kau lakukan?"


April bersembunyi di belakang punggungku. Ya ampun, apa bocah sudah gila?, dan jangan terus-terusan bertingkah seperti itu. Sebab kegilaanmu itu kelihatan sangat manis. Saking manisnya aku bahkan sudah mulai tiba-tiba aku kau jadi kelihatan seperti kucing kecil yang lucu. Kalau kau terus bertingkah manis seperti itu mungkin aku akan tanpa sadar memelukmu.


"Apa dia sepemalu itu? dia selalu saja bersembunyi di belakangmu kalau bertemu denganku."


Sama sekali tidak, dia hanya akan bertingkah seperti ini kalau ada kau ataupun kak Hanny. Jika kami hanya berdua dia itu gadis kecil yang sangat berbeda! Berbeda seratus delapan puluh derajat.


"Woi April!."


Kalau kau selalu bertingkah seperti ini di hadapan kedua kakakku, bagaimana kau bisa mengalahkan mereka? Apa kau mau kalah sebelum berperang.


"Tapi dia itu rangking satu saat ujian masuk kan? dia pasti pintar, selain itu dia juga punya wajah yang imut, beruntung sekali kau."


Beruntung katamu?.


"Ya aku memang beruntung, dalam arti yang luas."


Aprilia memukulku dengan keras di pinggang.


"Apa maksudmu Harsa? apa kau mau dapat pelajaran tambahan sepulang sekolah?"


Pelajaran tambahan macam?


"Tidak! terima kasih."


Apapun itu yang jelas aku sama sekali tidak ingin tahu.


Kenapa kak Anna bis menyukai macan kecil ini? Kepribadiannya buruk, dia suka mencakar, lalu selain tampangnya yang manis dan otaknya yang pintar kurasa tidak ada yang bisa dibilang sisi yang baik.


Maksudku. Lihat saja badannya! dia itu kelas satu SMU tapi penampilannya persis anak kecil. Sebagai seorang lelaki aku akan bicara jujur. Aku akan lebih suka kalau tubuhnya agak sedikit berkembang.


Tentu saja bukan berarti aku menyukainya.


Tunggu dulu, kalau dibalik bukankah artinya dia punya semuanya kecuali body kelas model? selain itu bahkan bisa dibilang badan kecilnya itu malah menambah keimutannya. Ok, sekarang aku paham kenapa kak Anna menginginkan si April.


"Belikan aku minuman Harsa."


"Kau mau apa kak dan kau apa April?"


Gadis kecil itu memasang pose berpikir.


"Aku ikut jadi aku bisa memilih."


Seseorang tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi! Kenapa saat aku mau pergi dia memasang ekspresi tidak mau ditinggal? Aku benar-benar butuh bantuan.


"Tidak bisa! Aku ingin bicara denganmu, biar Harsa saja yang pergi."


Wajah kak Anna masih tidak terlalu banyak perubahan, tapi suaranya terdengar lebih dalam sehingga kurasa si April April kehilangan keinginan untuk melawan.


"A umm.."


Gadis itu mengangguk. Dengan ragu.


Aku pergi meninggalkan mereka berdua tanpa rasa khawatir sedikitpun. Kenapa? Kak Anna itu punya kemampuan sepesial untuk menangani orang-orang dengan kepribadian sulit. Jadi, meski aku selalu kesulitan menghadapi si April itu aku yakin seratus persen kalau itu bukanlah masalah untuk kakak pertamaku.


Aku memasukkan dua buah koin ke dalam mesin penjual minuman otomatis di depanku, jujur saja aku baru tahu kalau kantin sekolah punya sesuatu seperti vending machine. Padahal aku sekolah di sini, tapi aku tidak pernah tahu ada benda ini di sini. Sekolah macam apa ini?


"Kau sudah lanjut ke tahap selanjutnya ya?"


Seseorang menepuk punggungku dari belakang, dari subjek pembicaraan dan logatnya saja aku sudah bisa menebak siapa di sana. Siapa lagi kalau bukan Sigra.


"Apa maksudmu?"


Aku tidak sedang berpura-pura bodoh apalagi bodoh sungguhan. Aku benar-benar tidak tahu apa yang dia bicarakan.


"Kau mengenalkan dia pada keluargamu kan, si April itu."


Mengenalkan. Siapa yang mau lamaran memangnya?.


Awalnya aku dan dia hanya bicara tentang si April, tapi setelah itu dia mulai menambahkan berbagai topik tidak berguna dalam pembicaraan kami. Dan karena merasa tidak enak padanya yang sepertinya ditinggalkan teman-temannya karena tidak paham apa yang dia bicarakan, terpaksa kulayani obrolannya selama hampir sepuluh menit.


Aku rasa kali ini aku bukan hanya akan dapat masalah besar, tidak hanya membuat si April menunggu aku juga membuat kak Anna melakukan hal yang sama hanya untuk mendapat sekaleng minuman.


"Baiklah kak Anna."


"Anak baik."


Kak Anna? Panggilan seperti itu pada kakak kelas memang normal. Tapi kedekatan mereka sangat tidak normal dan benar-benar berlebihan. April yang tadi mengeluarkan aura tidak mau didekati sekarang menempel bagai magnet pada kak Anna tanpa rasa malu.


Kemarahan si April yang tadi dia bawa ke sini sudah menguap ke langit-langit, dan bahkan. Sekarang dia sedang memasang wajah super senang saat kak Anna mengelus-elus kepalanya. Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi. Ini terlalu aneh. Bagaimana dia bisa menjinakan April dengan semudah itu.


"Kak Anna berhenti melakukan hal memalukan itu."


Gadi kecil di sampingmu jadi kelihatan seperti hewan peliharaan.


Bagian itu, tidak bisa kubantah. Wajah si April menunjukan apa yang kak Anna katakan.


"Jangan ganggu aku Harsa!"


Dan dia bahkan marah saat aku mengganggunya.


"Jangan cemburu padaku Harsa! aku ini kakakmu."


Kenapa kau tidak bilang kalau kau ini wanita? kau membuatku benar-benar khawatir kalau kau akan menipu si April dan menjadikannya peliharaanmu. Lalu, jangan menggodaku seperti itu. Kau membuat orang lain jadi salah paham tentang hubunganku dengan bocah ini.


"Ini minuman kalian."


Setelah kuserahkan kedua pesanan mereka, aku sendiri langsung duduk sedangkan Kak Anna meminum softdrink miliknya. Lalu si April. Dia melihatku dengan tatapan marah sekan-akan aku sudah merusak kebahagiannya. Biasanya dia sudah memukulku begitu dia merasa terganggu tapi karena ada kak Anna di depannya dia lebih memutuskan menahan diri. Mungkin.


"Kalau begitu aku ke kelas dulu ya April, jaga adikku baik-baik."


Setelah meneguk minumannya, Kak Anna langsung berdiri dari kursinya.


Apa maksud pembicaraan mereka? dan kenapa kak Anna lebih akrab dengan gadis itu daripada aku?


"I.. iya"


"Apa yang kalian berdua bicarakan?"


"Bukan urusanmu!"


Kalian jelas sedang membicarakanku, bagaimana itu bukan urusanku.


Aku sudah menduga kalau di akan bilang begitu, tapi kalau dia sudah mengeluarkan nada-nada tajam seperti itu berarti dia sudah kembali sehat. Walau dengan begini rasa depresiku kemungkinan akan bertambah aku tetap merasa lega, kalau si April sudah kembali seperti semula berarti usahaku sepertinya sudah berhasil.


Perasaan lega itu kumanifestasikan dengan menghela nafas panjang.


Aku berniat langsung pergi dari kantin, tapi sesuatu menarik perhatianku dan membuatku berhenti. Di bekas tempat duduk kak Anna ada botol minuman ringan yang tadi kubelikan, sepertinya dia lupa membawanya.


Aku tidak terbiasa membuang-buang uang jadi kuputuskan untuk mengambil benda itu dan kuminum sisanya. Sayang sekali kalau barang yang sudah dibeli tidak digunakan kan?.


"Stop! Itu bekas kakakmu kan?"


"Terus kenapa?"


Ini hanya minuman. Aku yakin kalau tidak ada orang yang punya penyakit menular di rumahku, jadi aku sama sekali tidak khawatir meski harus menggunakan barang yang sudah pernah kakaku gunakan. Saat kecil kami bahkan sering bergantian menggunakan sikat gigi.


"Berikan padaku! Sekarang!"


Dia melemparkan minumannya yang belum dibuka kepadaku sedangkan softdrink yang tadi akan kuminum dia ambil paksa lalu ditelan dalam sekali tenggak.


Woi-woi, kau ini perempuan kan? Cobalah bersikap lebih seperti perempuan.


"Sekarang kita harus kembali ke kelas, bel sudah berbunyi!"


Berbeda dengan saat kami datang, kali ini dia berjalan dengan cepat di depanku untuk mengejar waktu. Kalau moodnya sebaik ini, harusnya nanti sore dia tidak akan memberikan pelajaran tambahan apapun padaku.


Dan ketika pulang sekolah.


Ramalanku jadi nyata. Sepanjang perjalanan pulang si April tidak sekalipun menyuruh-nyuruhku melakukan hal-hal menyusahkan. Dia masih tenggelam dalam apapun itu pikirannya sejak jam istirahat, kurasa pikiran itu sangatlah kuat.


Dia bahkan sampai lupa dengan perjanjian merugikan kami tadi pagi.


Setelah mengantarnya pulang aku langsung bergerak lurus menuju rumah. Hampir seperti ada GPS di dalam otakku, kedua kakiku serasa begitu saja menuruti jalur baru itu. Walau memang sedikit melelahkan harus berjalan bolak-balik dari rumahku ke rumahnya, lalu dari rumahnya ke rumahku lagi, tapi kakiku sudah tidak merasa pegal seperti saat hari pertama. Mungkin ini yang namanya efek "aku sudah terbiasa".


Sore itu aku sampai di rumah saat jam makan malam dengan kedua kakakku sudah siap di meja makan.


"Aku pulang."


Hanya saja. Layaknya suami yang pulang kerja telat, aku tiba-tiba diintrogasi oleh kakakku sendiri.


"Apa kau mengantarnya lagi Harsa?"


"Begitulah, kenapa memangnya?"


"Kau itu kekasihnya apa? Dia itu selalu memperlakukanmu seenaknya apa kau tidak marah?"


"Kami itu cuma sedang bermain-main, kami kan teman."


"Alasan bodoh macam apa itu?"


Ketika aku tidak bisa lagi menjawab kak Hanny, bantuan datang dan akupun selamat. Kak Anna menghentikan perdebatan satu arah kami.


"Sudahlah! Berhenti berdebat dan makan malam! lalu kau Hanny! jangan membicarakan orang lain seperti itu, April tidak seburuk yang kau pikirkan."


Akhirnya, aku bisa lolos dan kak Hanny tidak menekanku lagi dengan pertanyaan tentang masalah itu. Tapi, dia sepertinya sangat tidak senang dengan hasil yang dia dapatkan. Jika Kak Anna sudah angkat bicara, tak seorangpun di antara akami yang mampu bicara lagi. Sebagai kakak tertua dia memang selalu bisa mengatasi masalah semacam ini. Bahkan kurasa ayahku saja tidak akan setegas kak Anna.


Malam itu demi menghindari pertengkaran agar tidak berlanjut, aku selalu tidak pernah menyebut nama April di meja makan.


Kak Anna duduk sambil makan dengan tenang, sedangkan kak Hanny malah sibuk menusuk-nusukkan garpu ke piring kosong sambil melihat ke arahku. Melihat dengan tatapan yang sangat tidak enak.


Kak Hanny yang biasanya adem ayem sekarang kelihatan sangat marah. Dan yang lebih buruknya lagi adalah, aku tidak mungkin aku bisa menanyakannya penyebabnya sekarang.


Ketika aku sedang mengalihkan perhatianku ke makanan di depanku. Ponsel di saku celanaku begetar, menandakan ada seseorang yang mengirim pesan atau menelponku. Secara sembunyi-sembunyi aku mengeluarkan ponselku untuk melihat siapa yang menghubungiku.


Kuletakkan benda itu di bawah meja dan ternyata sebuah SMS sudah masuk ke ponselku.


Subyek [Darurat]


Dari subyeknya aku sudah merasa kalau aku akan segera merasakan keadaan darurat.


Pesan.


Jam tuju kau harus ke sekolah, jangan telat! ini perintah! Kalau kau tidak terlihat di sana lima menit setelah aku datang akan kuseret kau dari rumahmu.


Dari kata-kata preman ini sudah bisa di pastikan kalau yang mengirim pesan ini adalah April


.


Sejak kapan dia punya nomor ponselku? Aku tidak ingat pernah memberikannya. Padahal aku baru saja makan malam tapi dia sudah punya alasan untuk mengeluarkanku dari rumah. Kalau aku tidak datang bisa di pastikan dia akan benar-benar ke sini dan menyeretku pergi ke sekolah.


Benar-benar darurat.


Untuk pertama kali dalam hidupku aku merasa kalau waktu berjalan terlalu cepat. Sekarang sudah hampir jam tuju dan aku masih belum tahu bagaimana cara pergi dari rumah tanpa diketahui kedua kakakku. Kamarku yang berada di lantai dua juga menjadi faktor yang menyulitkanku pergi dari ruanganku sekarang ini. Satu-satunya penghubung ruangan ini dengan dunia luar hanyalah sebuah pohon besar yang dulu sering kupanjat saat kecil.


"Apa boleh buat."


Kuharap aku yang sekarang tidak terlalu berat untuk pohon itu.


"Kau terlambat dua menit Harsa!"


"Maaf! Apa perlumu sekarang?"


Aku ingin segera pulang sebelum ada yang sadar kalau aku pergi.


Tanpa memperdulikan apa yang kutanyakan dia langsung masuk ke dalam gerbang. Biasanya gerbang sekolah akan di kunci saat sudah jam segini, tapi jadi murid yang dekat dengan guru sepertinya memberi si April ini hak akses masuk ke sekolah kapan saja dia inginkan.


Kami berdua masuk ke sekolah yang sangat gelap dengan si April mempimpin jalan kami. Dari rute yang kami ambil aku rasa dia akan kembali ke kelas untuk mengambil sesuatu yang dia tinggalkan di kelas tanpa sengaja alias ketinggalan.


"Kalau kau ingin mengambil barangmu bukankah bisa di lakukan besok?"


"Diam saja kau! Barang itu sangat penting! kalau sampai ada yang mengambilnya bisa gawat."

__ADS_1


Lalu kenapa kau membawa sepenting itu ke sekolah? Bukankah akan lebih aman kalau di tinggal saja di rumah dengan begitu aku tidak akan repot-repot ke sini sekarang.


Tunggu dulu, barang itu sangat penting. Kalau aku bisa mendapatkannya bukankah aku bisa mengancam balik gadis kecil ini?.


"Eh April kau tahu tidak?"


"Tahu apa? Dan tolong jangan panggil aku April terus-terusan orang yang dekat denganku biasanya memanggilku Lisa."


Memangnya kenapa dengan nama April? apa kau pernah punya kenangan buruk seperti namamu jadi bahan olok-olokan saat SD?.


"Kalau begitu Lisa apa kau tahu tentang mitos sekolah ini?"


Pundaknya tiba-tiba bergerak seperti kaget, tapi dia pura-pura tidak terjadi apa-apa dan aku juga pura-pura tidak melihatnya.


"Mitos macam apa? Aku tidak pernah dengar hal semacam itu."


Selama perjalanan kami melewati ruangan demi ruangan dan satu persatu anak tangga, aku menceritakan mitos yang kudengar dari Sigra.


Cerita itu berawal dua puluh lima tahun yang lalu, saat itu ada seorang murid yang sangat hebat di kelas. Dia punya wajah cantik, otak yang pintar dan disukai oleh semua orang. Semua murid di sekolah tidak ada yang pernah merasa tidak suka padanya dan semua orang selalu ingin jadi temannya.


Tapi saat dia naik ke kelas dua belas dia tiba-tiba meninggal. Ada yang bilang dia meninggal bersama seluruh keluarganya saat kebakaran, ada yang bilang kalau dia meninggal karena tertabrak mobil, dan ada juga yang bilang kalau dia bunuh diri.


Semua informasi itu tidak ada yang bisa membuktikan kebenarannya, tapi yang jelas karena kematiannya yang mendadak itu seluruh kelaspun shock dan teman-teman terdekatnya jatuh dalam kesedihan. Sampai suatu hari.


Seseorang mengatakan hal itu.


"Mengatakan apa Harsa?"


"Aku akan mengatakannya kalau kau mau melepaskan lengan bajuku"


"Jangan memberiku perintah, kau masih ingat kan kalau hari ini kau itu milikku?"


Sial, aku sempat tegang saat dia mengatakannya dengan nada seyakin itu meski aku tahu kalau apa yang dimaksud bukan apa yang kupikirkan.


"Kalau kau takut pegang saja tanganku jangan lengan bajuku!."


Kau membuatku kesusahan berjalan.


"Kau itu idiot ya?!"


Dia sama sekali tidak mau mendengarkanku sehingga aku terus saja bercerita.


Seseorang dari kelasnya bilang 'dia ada di sana! dia tidak mati!' awalnya seluruh isi kelas bingung dan tidak terlalu memperdulikannya.


"Itu cuma bohong kan?"


"Itu memang cuma bohong tapi?"


Lisa semakin erat memegang lengan bajuku. Dan hal itu membuat jantungku jadi berdebar lebih kencang. Bukan karena takut karena cerita horror yang sedang kuceritakan padanya. Tapi karena sekarang dia menarik lengan bajuku lebih dekat pada tubuhnya. Membuat siku tanganku menempel di dada kanannya.


Sial!!!! meski kecil tapi dadanya benar-benar terasa lembut.


“Harsa!.”


“A. . . a iya! kemudian. . .”


Mulai saat itu, satu-persatu seluruh kelas ikut mengiyakan hal itu. Mulai hari itu juga seluruh kelas mulai bertindak seakan-akan kalau murid yang meniggal tadi masih hidup, bahkan kepala sekolah memberi tempat duduk khusus saat upacara kelulusan.


"Bukankah itu bagus?"


"Memang bagus kalau cuma berakhir sampai di situ."


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"


"Yang terjadi selanjutnya adalah….."


Aku memberi jeda sebelum melanjutkan apa yang akan aku katakan padanya, aku bisa mendengar dia menelan ludah. Dia juga semakin erat memegang lengan bajuku, aku rasa dia benar-benar takut. Walau dia bertingkah seperti penjajah saat siang hari, saat ini dia berubah jadi anak kecil yang penakut di malam hari.


Dan aku lebih suka versi nomor duanya.


"Selanjutnya adalah.."


"Selanjutnya?"


"Waaaaaaaaaaaaaaaaa!"


"Kyaaaaaaa!"


Biasanya reaksi orang yang ketakutan adalah kabur, tapi kau tahu sendiri kan kalau Lisa itu tidak biasa. Begitu dia benar-benar takut dia malah langsung meninju mukaku dengan sangat keras.


"Dasar bodoh! Berani-beraninya kau menakutiku."


Untung reflexku bagus dan aku bisa menangkap kepalan tangannya.


"Maafkan aku! aku janji akan melakukannya lagi kapan-kapan!"


"Janji macam apa itu!?"


Dan diapun melupakan ketakutannya dan mengejarku seperti orang kesurupan. Tanpa sadar kami berdua sudah sampai di depan kelas. Setelah itu Lisa langsung mengambil barangnya dan mengajaku untuk segera keluar. Dia kelihatan masih agak ketakutan sehingga aku mencoba menakutinya beberapa kali agar bisa melihat benda macam apa yang sepenting itu baginya.


Hanya saja yang berhasil kutahu hanyalah bahwa benda itu adalah sebuah buku. Dia benar-benar mempertahankannya dan berusaha sangat keras agar aku tidak bisa melihatnya lebih jelas. Bahkan beberapa kali dengan menggunakan kekerasan.


Aku memutuskan untuk melanjutkan penyeranganku akan sangat tidak berguna selain itu aku juga agak kasihan padanya. Aku kembali fokus untuk segera keluar dari sekolah.


"Jangan tinggalkan aku Harsa."


"Iya-iya."


Karena sifat bar-barnya yang seperti laki-laki, aku sama sekali merasa malu saat aku mengalungkan lengan kiriku ke lehernya dari samping. Kalau saja dia punya sifat yang lebih feminin semacam kak Hanny tentu saja aku tidak akan berani melakukannya.


Aku baru berinteraksi dengannya selama beberapa minggu, tapi entah kenapa rasanya aku sudah mersa kalau kami itu sebenarnya teman dekat yang sudah bersama selama bertahun-tahun.


Tapi mengesampingkan sifatnya, tidak diragukan lagi dia itu perempuan. Sensasi saat kulitku menyentuh pundaknya yang tertutup kain terasa berbeda dari teman-temanku yang lain. Kecil dan lembut. Yang jelas rasanya beda.


"O..Harsa lepaskan aku! ngh..."


Jangan berisik, dan jangan mengeluarkan suara-suara aneh macam itu! kau membuatku grogi.


"Ssstt. . . . . . "


Aku mendekatkan mulutku ke telinganya yang kecil sebab aku tidak mau mengeluarkan suara yang berlebihan. Tapi gara-gara jaraku, bisa kulihat pipinya yang mulai memerah dan tingkahnya yang entah kenapa mulai berubah.


Dia akan berteriak saat aku melakukannya jadi aku langsung membekap mulutnya sebelum dia sempat membuka mulutnya. Dengan begitu dia semakin salah tingkah dan wajah baby facenya tambah merah.


Sialan. Kenapa dia jadi kelihatam tambah manis. Kau membuatku jadi semakin grogi gadis kecil.


"Diam Lisa! apa kau tidak merasa ada yang aneh?"


"Cepat lepaskan aku!"


Dia terus-terusan memberontak.


"Ada yang mengikuti kita dari tadi."


"Benarkah? kau bukan cuma mencari-cari alasan kan?"


Cuma sedikit.


"Tentu saja! kau pikir aku mau melakukan apa?"


"Apa itu hantu yang kau bicarakan tadi?"


Mana mungkin timing untuk hantu itu muncul bisa setepat ini? lagipula keberadaan mereka juga masih jadi tanda tanya besar. Lalu, cerita itu saja bahkan kudengar dari Sigra yang notabene adalah orang yang tidak pernah serius. Tidak mungkin kalau cerita semacam itu benar-benar terjadi di sekolah ini dua puluh lima tahun yang lalu.


Kuharap.


"Kau dengar suara itu kan? itu langkah kaki, tidak mungkin hantu repot-repot jalan."


"Tapi!"


"Tenang saja, aku kan ada di sini, lagipula kalau ada bahaya kau kan bisa menggunakanku sebagai tameng."


Sebab aku masih miliknya dalam sehari.


Aku berdiri di depannya lalu meletakan kedua telapak tanganku di pundaknya, dan tanpa kuduga dia langsung berhenti bergerak saat aku menatap langsung ke matanya yang lebar. Sebagai reaksi tambahan dia juga langsung diam dan mengangguk. Pada saat itulah aku juga melihat bayangan bergerak di belakangnya, agar April tidak panik aku tidak memberitahukan apa yang aku lihat.


Sembunyi-sembunyi aku meneliti bayangan itu.


"Kya... Waaa..."


Jangan ketakutan hanya karena hal kecil semacam itu! kau bukan anak kecil kan? kau memang kecil tapi kau itu bukan anak kecil kan?.


Dia memelukku secara tiba-tiba secara reflex setelah mendengar suara menyeramkan dari belakangnya, badannya bergetar dia bahkan kelihatan hampir menangis. Dia benar-benar takut, rasa kasihanku tanpa sadar membuat tanganku terangkat dan mengelus kepalanya. Walau melihatnya ketakutan lumayan membuatku senang, tapi sekarang ini rasa kasihanku padanya lebih dominan.


"Jangan khawatir! Kau tidak perlu takut."


Aku ingin menenangkannya, tapi untuk suatu alasan aku juga merasa lebih tenang begitu mencium wangi rambut gadis kecil di dalam pelukanku ini.


"Un..."


Dia kembali mengangguk.


Selama ada aku memang April dia tidak perlu khawatir. Yang dari tadi mengikuti kami adalah dua orang yang kukenal. Bayangan tadi bisa kupastikan milik dua orang itu, kak Anna dan kak Hanny.


Saat aku memperhatikan bayangan tadi memang mereka berdua bersembunyi hanya saja tidak ada yang sadar kalau di belakang mereka ada cermin yang bisa membuatku bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Kalau mereka ada di sini sudah jelas kalau mereka tahu aku pergi diam-diam, jadi sudah tidak ada gunanya lagi aku berekting sembunyi-sembunyi.


Malam mencekampun berakhir, aku mengantar April pulang pada sekitar jam setengah sembilan malam. Saat pulang dia bukan hanya memegang lengan bajuku seperti siangnya, dia bahkan memeluknya erat-erat seakan-akan aku akan kabur kalau dia melepaskannya.


Aku harap tidak ada murid lain yang melihatku melakukan pose memalukan ini selain kak Anna dan kak Hanny. Bayangkan saja kalau Sigra melihatku, bisa jadi besok akan ada rumor baru.


Setelah itu, aku pulang. Dan dengan berani masuk lewat pintu depan.


Kak Anna sedang membaca buku tebal seperti biasa Kak Hanny menonton acara TV. Mereka berdua sudah mencoba bertingkah sealami mungkin di depanku. Tapi aku masih bisa mengidentifikasi gerakan-gerakan aneh semacam tidak mau melihatku atau pura-pura tidak tahu ada aku di sana.


"Terus ! Apa maksud kalian mengikutiku?"


"Siapa yang mengikutimu? Dari tadi kami di rumah terus, kami tidak ke sekolah malam-malam"


Apanya yang di sini terus? Jelas-jelas kaumengatakannya sendiri. Kak Hanny itu pintar, tapi kalau dia sedang grogi dia akan kehilangan akal sehat dan pikirannya akan jadi blank sehingga hal-hal yang seharusnya jadi rahasia malah keluar dari mulutnya.


"Ide siapa itu?"


"Ide apa? Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, iya kan kak Anna?"


"Itu idenya."


"Kenapa kau menghianatiku kak Anna!?"


Kak Anna terus menatapku dengan ekor matanya sampai aku masuk ke dalam kamar mandi. Kalau dilanjutkan terus, pembicaraan ini cuma akan berputar-putar dan tidak ada akhirnya.


Karena itulah aku memutuskan mundur. Kelihatannya mereka tidak marah padaku, itu berarti akan lebih baik kalau aku juga tidak marah pada mereka dan melupakan kejadian tadi. Dengan begini, posisi kami jadi stalemate. Sebab kami semua ada pada posisi di mana semua orang bisa mengungkit-ungkit tindakan orang lain.


Setelah menyikat gigi dan cuci muka, aku naik ke lantai dua di mana kamar kami bertiga berada.


Hari ini memang melelahkan, tapi aku jadi semakin tahu banyak tentang si Lisa Aprila walau aku tidak mau mengakuinya, tapi dia memang orang yang menarik. Aku tidak perlu menahan diri kalau aku sedang bersamanya, rasanya benar-benar bebas walau aku harus membayar dengan harga yang lumayan mahal.


Minimal sebuah pukulan setiap harinya.


Kalau diingat-ingat aku dan dia hanya punya waktu enam bulan bersamanya, bukan berarti aku tidak rela berpisah dengannya! hanya saja mungkin saja aku akan merindukan bagaimana dia memukulku. Setelah enam bulan, kehidupanku akan jadi normal lagi.


"Harsa bisa aku bicara denganmu sebentar?"


"Ada apa kak Anna?"


"Ini tentang Hanny."


Dengan wajahnya yang tertutup buku aku tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresinya, tapi dari suaranya dia pasti serius. Dia menghirup nafas panjang lalu menyandarkan badannya di tembok depan kamarnya.


"Dari dulu orang yang paling dekat denganmu adalah Hanny, jadi dialah yang paling khawatir tentangmu."


"Aku tahu itu."


Sampai dua tahun yang lalu memang itulah yang terjadi, kami selalu bersama apapun yang terjadi. Bisa dibilang kamilah orang yang paling dekat di keluarga ini, hanya saja itu masa lalu sekarang. Sama seperti kak Anna, kak Hanny juga semakin jauh dariku sejak dia masuk SMU dan tanpa sadar aku sudah tidak pernah bicara dengannya lagi seperti saat kami masih kecil.


Pembicaraan kami hanya sebatas formalitas.


"Syukurlah kalau kau benar-benar tahu, dia sering mengeluh padaku, katanya kau selalu menjauhinya."


"Aku tidak menjauhinya, aku hanya mencoba menjaga jarak.."


Jika aku bertingkah seperti dulu dan terlalu dekat dengan mereka, aku yakin kalau kehadiranku hanya akan mengganggu keduanya. Maksudku, dulu aku selalu mencoba menempel pada mereka dan mencari perhatian kedua kakakku itu. Jika aku bertingkah seperti itu, aku hanya akan mempermalukan mereka.


 


Selain itu. Tidak seperti mereka berdua aku ini hanya orang biasa yang tidak bisa apa-apa. Oleh sebab itulah aku memutuskan untuk bergaul dengan orang yang sama-sama levelnya denganku. Jika kalian terus bersamaku kalian akan disamakan denganku.


Kak Anna menutup bukunya, aku yakin dia tidak suka dengan jawabanku tadi. Sebab ketenangan yang menyelimuti kami berdua terasa lain.


"Berhenti bilang hal semacam itu! kau masih ingat kalau kita itu keluarga kan?"


"Maaf! maafkan aku."


"Jangan minta maaf! Kau lelah kan aku rasa sudah saatnya tidur, aku juga akan tidur. Selamat malam."


Dulu kami bertiga tidak seperti ini, dulu kami selalu bermain bersama dan tertawa bersama sebagai sebuah keluarga. Saat ada yang sedih diantara kami pasti selalu ada yang menghibur sampai orang itu benar-benar kembali ceria.


Dulu saat siang kami akan pergi ke taman dan bermain sampai sore lalu malamnya kami akan perang bantal sampai-sampai Ayah marah dan memaksa kami semua untuk tidur, setelah itu malamnya kami diam-diam bermain lagi.


Aku sadar kalau semua itu sudah hanya merupakan kenangan belaka, tidak mungkin hal semacam itu bisa terulang lagi sekarang. Mereka sudah ada di tempat yang tinggi, meninggalkanku di tanah.


Sendirian dalam kegelapan.


Foto kami bertiga saat kecil yang sedang tersenyum masih terpajang dengan rapi di atas meja belajarku. Saat itu kami benar-benar bahagia, saat aku melihatnya lagi aku bahkan merasa kalau kejadian itu baru kemarin.


Ponselku kembali bergetar. Dan sekali lagi, yang menghubungiku adalah Lisa.


"Ada apa kau meneleponku malam-malam begini?"


"Aku tidak meneleponmu karena aku ingin ngobrol denganmu! Aku hanya memastikan kau sedang belajar."


"Apa kau takut?"


"Tentu saja tidak! Apa kau idiot?"


"Sekarang sudah larut malam jadi aku belajar paginya, selamat mala..."


"Jangan tutup teleponnya! Ini perintah."


Akhirnya malam itu kuhabiskan mengobrol dengan Lisa sampai dia tertidur tanpa sadar, Aku menutup teleponnya setelah aku yakin dia benar-benar tidur. Pembicaraan kami memang tidak penting, tapi setiap kali aku bicara dengannya aku merasa begitu lega.


Enam bulan lagi mungkin kami tidak akan bisa lagi melakukan ini.

__ADS_1


"Apa kau juga akan meninggalkanku seperti mereka?"


Lisa.


__ADS_2