
1
Hari ini, setelah bel pulang sekolah berbunyi Aprilia langsung menyuruhku untuk pulang duluan. Dia bilang ada ada rapat yang harus dihadirinya. Walau masih di tahun pertamanya, dia sudah sangat aktif dalam banyak kegiatan sekolah termasuk dewan perwakilan siswa.
Alasan yang dia berikan untuk menyuruhku pulang memang kedengaran natural di telinga, tapi aku tetap merasa ada sesuatu yang aneh.
Dalam beberapa hari ini, aku merasa kalau dia sedang menjauhiku. Tentu saja dia masih datang menjemputku di pagi harinya, hanya saja saat berjalan ke sekolah rasanya dia agak menjaga jarak dariku. Di sekolah, dia bahkan tidak lagi memberiku peringatan-peringatan jangan malas yang biasanya dia suarakan setiap jam pelajaran baru.
Lebih lagi ketika aku mencoba mendekatinya, dia akan punya banyak sekali alasan untuk meninggalkanku. Persis seperti sekarang.
Tidak diragukan lagi kalau dia sedang berusaha menjauhiku. Untuk alasannya, satu-satunya hal yang bisa kupikirkan adalah karena dia marah padaku. Dan sumber kemarahannya kemungkinan besar adalah tindakan yang kulakukan padanya beberapa hari yang lalu.
Dengan kata lain. Sepertinya dia masih marah tentang pelukanku waktu itu.
“Ah. . . .”
Normalnya, ketika aku menyadari sudah melakukan kesalahan besar yang bahkan membuat seseorang menjauhiku. Aku akan merasa menyesal. Tapi kali ini, seperti orang tidak tahu diri aku sama sekali tidak merasa menyesal sudah memeluknya.
Maksudku, tubuh kecil hangat dan lembutnya benar-benar terasa nikmat untuk dipeluk seakan dia diciptakan memang untuk kupeluk. Selain itu wangi tubuh dan rambutnya yang halus seperti aromatherapy yang membuatku jadi relax. Karena itulah aku tidak menyesal, malah bisa dibilang aku ingin memeluknya lagi dan lagi.
Aku yakin kalau dia jadi bantal gulingku akan selalu tidur lelap.
Hanya saja. .
“Kurasa aku harus minta maaf.”
Mengesampingkan perasaan bersalahku yang nilainya nol, kenyataan kalau aku sudah melakukan sebuah kesalahan tidak bisa dipungkiri. Dengan minta maaf, kuharap hubungan kami bisa kembali seperti sebelumnya.
Karena itulah sekarang aku masih ada di dalam kelas meski dia sudah menyuruhku untuk pulang duluan. Aku ingin minta maaf padanya hari ini juga. Sebab aku merasa kalau sekarang aku pulang begitu saja, dia akan punya lebih banyak alasan untuk menghindariku.
Sampai beberapa hari yang lalu aku selalu menganggap kalau ketidakhadirannya adalah berkah, tapi setelah menyadari perasaanku sendiri ketidakberadaannya membuatku merasa tidak nyaman. Rasanya ada sesuatu yang kurang kalau dia tidak ada.
Aku tidak peduli kalau ada yang menganggapku cengeng, tapi aku mulai tidak tahan untuk diperlakukan dingin olehnya. Kalau sampai di terus-terusan menjauhiku, aku tidak akan mendapatkan asupan Aprilia harianku.
Sepertinya aku benar-benar sudah kecanduan gadis mini itu.
“Ugh. . . mengatakannya sendiri benar-benar memalukan, selain itu kenapa dia lama sekali?”
Rapat yang dia bicarakan sendiri sudah berlangsung lebih dari tiga jam. Dan untuk ukuran rapat yang hanya dihadiri lima belas orang anak SMA, durasinya sudah terlalu lama. Memangnya apa yang mereka bicarakan? perang? kelaparan? perdamaian dunia?
“Agh. . . setidaknya aku yakin kalau apa yang sedang Aprilia kerjakan lebih berguna daripada apa yang sedang kulakukan sekarang”
Selama tiga jam menunggunya tentu saja aku tidak sekedar bengong melihat langit-langit kelas. Dan tidak seperti teman-temanku yang lain, aku juga tidak menghabiskan waktuku bermain dengan ponselku. Mengingat ponselku adalah benda antik warisan ayahku yang kelebihannya hanya punya baterai yang bisa bertahan berhari-hari.
Oleh karena itulah aku menggunakan waktu kosong itu untuk membaca buku. Bukan buku biasa, tapi buku besar yang ditulis oleh Aprilia. Buku yang sama yang pernah kami ambil saat kami berdua diam-diam ke sekolah.
“Dan jelas aku juga perlu minta maaf untuk yang ini”
Buku yang kumaksud adalah diari Aprilia. Sepertinya di jaman ini masih ada orang yang menulis diari, dan sepertinya Aprilia sudah menulis diarinya sejak dia masuk SMP. Lalu, sampai beberapa menit yang lalu aku menghabiskan waktuku dengan membaca diarinya.
Tanpa ijin.
Aprilia datang seperti badai, dia tiba-tiba muncul dan mengobrak-abrik kehidupanku yang seharusnya statis dan solid. Dia bilang dia ingin menantangku dalam memperebutkan rengking satu di sekolah dan dia ingin membuatku sedikit lebih termotivasi agar pertandingan kami lebih fair. Semua itu dia lakukan demi bisa menantang kedua kakak perempuanku nanti begitu dia sudah mengalahkanku.
Begitulah gadis itu masuk ke dalam kehidupanku yang sekarang.
Hanya saja, apa yang dia lakukan dilihat dari manapun kelihatan aneh. Alasan yang dia pakai juga tidak kedengaran masuk akal. Oleh karena itulah aku ingin sedikit lebih banyak tahu tentangnya. Dan metode yang kugunakan adalah dengan membaca diarinya.
Aku ingin tahu bagaimana dia melihat sekitarnya.
Bagian awal diisi dengan banyak impresinya tentang sekolah barunya saat dia baru masuk SMP. Ada banyak kalimat-kalimat kekanakan yang rasanya ingin membuatku tersenyum sendiri. Aku bahkan bisa membayangkan dengan jelas Aprilia versi yang lebih kecil berjalan ke sana-ke mari dengan mata penuh antusiasme.
Setelah itu dia menulis tentang bagaimana dia menemukan teman dan menambah jumlahnya satu persatu setiap minggunya, dia juga menuliskan banyak komplain tentang pelajaran yang SMP yang jauh lebih susah dari yang dia kira, dan tentu saja dia menuliskan bagaimana dia selalu berakhir meminta kakak laki-lakinya untuk mengajarinya sangat banyak hal.
Sambil membayangkan seberapa imutnya Aprilia yang waktu itu, aku terus melanjutkan membaca diarinya sampai dia kelas dua. Di saat inilah kakak laki-lakinya pergi ke luar negri, dan saat itu pula dia memutuskan untuk melakukan reformasi dan mulai mengejar prestasi akademik dengan serius.
Dari apa yang sudah kubaca Aprilia bukanlah gadis yang selama ini kukira. Aku selalu menggap kalau dia punya hadiah bernama bakat sejak lahir dalam masalah akademik. Tapi ternyata dia tidaklah sepintar itu dari awal. Laporan-laporan tentang nilai ulangan dan juga rapornya yang ada di diarinya menunjukan kalau gadis itu bisa dibilang cukup tertinggal.
Aku mungkin hanya pernah dapat rengking satu saat kelas empat sd, tapi setidaknya nilaiku tidaklah buruk, selain itu nilai raporku juga stabil dan selalu lebih kecil dari angka sepuluh. Aku bisa mengatakan dengan tegas, kalau aku yang dulu sepertinya lebih pintar dari Aprilia.
Hanya saja, setelah kakaknya pergi dia mulai belajar dengan serius. Dia belajar sampai tengah malam, pergi ke tempat les yang jauh sendirian, dan dia hampir setiap hari menemui guru untuk menanyakan banyak hal.
Tentu saja jalannya untuk jadi seperti kakaknya tidak mulus. Malah bisa dibilang jalan yang dia ambil penuh kerikil. Dalam diarinya bahkan ada seksi yang menjelaskan bagaimana dia menangis setelah dia tidak bisa mengerjakan sebuah soal di depan salah satu tutornya yang lumayan keras.
Setelah itu nilai dan rengking Aprilia mulai naik. Image Aprilia yang sampai saat itu terbayang seperti gadis kecil polos yang imut mulai berubah jadi gadis serius yang kebetulan kelihatan imut. Kemudian, begitu aku membuka halaman selanjutnya aku langsung menutup diarinya.
Bukan karena Aprilia datang, tapi aku menemukan sesuatu yang kukira tidak akan muncul di sana.
Hal itu berlangsung beberapa menit yang lalu.
“Selain itu aku juga butuh konfirmasi”
Sebab setelah membacanya beberapa menit yang lalu, sekarang aku punya banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan padanya.
“Har-sa?. . . kenapa kau masih ada di sini?”
Aku tidak mendengar suara langkahnya, mungkin karena aku terlalu sibuk berpikir. Tapi begitu aku sadar, tiba-tiba pintu kelas sudah terbuka dan Aprilia muncul dari dalamnya.
Ok, aku memang berharap untuk segera bertemu Aprilia. Tapi bukan berarti aku ingin dia datang saat aku belum menyiapkan kalimat yang akan kugunakan untuk bertanya padanya. Untung saja aku sudah mengembalikan diarinya ke tempatnya semula.
“Aku menunggumu.”
“Aku sudah bilang kalau ada rapat kan?”
“Um, tapi aku ingin pulang bersamamu”
Setelah itu Aprilia melihatku dengan tatapan heran.
“Ada apa Harsa? kau kedengaran aneh”
Aku paham apa yang dia maksud. Meksi tidak pernah mengatakannya, aku yakin kalau Aprilia sendiri paham jika apa yang sering dia lakukan padaku itu bukan sesuatu yang mengenakan. Oleh sebab itulah kebiasaanku untuk menghindarinya dia anggap sebagai sesuatu yang normal.
Tapi. .
“Kalau kau mau bicara masalah aneh, kurasa kau juga sama anehnya. .”
“Aku?”
“Jangan pura-pur. . . kalau kau tidak sadar ya sudah”
Dari wajahnya aku tidak bisa melihat tanda kalau dia sedang pura-pura bodoh, jika dia bilang tidak tahu itu berarti dia memang tidak tahu apa yang sudah kubicarakan. Mungkin hal semacam itu memang hanya bisa dilihat oleh orang lain saja. Atau memang sebenarnya tidak ada yang aneh dan hanya aku saja yang jadi terlalu sensitif?
“Ha?”
“Bukan apa-apa, hey Aprilia, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?”
“Tanya apa?”
Aprilia masih menatapku dengan mata bingung, tapi aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaannya. Aku perlu persiapan mental. Mungkin baginya hal yang ingin kutanyakan tidak terlalu penting, tapi bagiku apa yang ingin kutahu darinya adalah sesuatu yang besar.
“Huf. . . .”
Setelah menarik dan mengeluarkan nafas cukup dalam, aku kembali melihat ke arah Aprilia. Kali ini dengan lebih serius.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Awalnya Aprilia tetap memasang ekspresi bingungnya, hanya saja raut wajahnya langsung berubah menjadi ekspresi kecewa dan juga lega di saat yang bersamaan. Setelah itu, dia ikut menghela nafas dan akhirnya membalas tatapan seriusku dengan tatapan yang sama seriusnya.
“Akhirnya kau ingat juga”
2
Personality seseorang dibentuk salah satunya oleh lingkungan, dan ketika kau mengatakan lingkungan tentu saja salah satu faktor paling besar adalah kehadiran dan juga pendapat orang lain tentangmu.
Contohnya, jika ada seorang anak yang terus-terusan dianggap bodoh bisa saja dia jadi benar-benar bodoh meski sebenarnya dia tidak berbeda dari orang lain. Jika seorang dibilang nakal oleh semua orang yang ada di sekitarnya, bisa saja dia jadi benar-benar nakal meski awalnya dia hanya sekedar main-main.
Anggapan dari orang lain, impresi yang dimiliki orang lain, dan ekspektasi orang lain punya pengaruh besar terhadap image seseorang. Dan ketika orang yang bersangkutan ingin mengubah image yang sudah lama dilabelkan padanya, maka mau tidak mau orang lain akan memberikan reaksi.
Entah itu yang buruk maupun yang baik.
Dan hal inilah yang terjadi pada Aprilia dulu.
Image anak bodoh yang kelebihannya hanya keimutannya saja sudah tertempel erat padanya. Dan ketika dia ingin berubah dan mencoba untuk lebih serius, ada beberapa orang yang merasa tidak bisa membiarkannya begitu saja.
Mungkin orang. . .atau lebih tepatnya anak-anak itu hanya kurang kerjaan, mungkin mereka iri dengan kemajuan Aprilia yang mereka sudah anggap rendah, atau mungkin saja hal itu adalah penyakit lama bernama ‘aku ingin membuli gadis yang kusukai’ tapi ada tiga orang murid laki-laki yang sepertinya tidak ingin Aprilia untuk meninggalkan status lamanya.
Awalnya mereka hanya mencoba mengganggunya belajar seperti mengerecokinya saat mencoba mereview pelajaran, merebut pensil dan penghapusnya saat sedang mengerjakan soal latihan ataupun menyembunyikan satu atau dua bukunya.
Kadang Aprilia menangis karena tidak bisa apa-apa, kadang dia marah besar ketika dia tidak bisa menahan diri lagi, dan kadang mereka bertengkar keras sampai saling lempar serangan fisik. Tapi meski lawannya sudah mendapatkan peringatan, omelan, ataupun hukuman dari guru dan orang tua mereka. ketiganya masih tetap tidak menyerah.
Sekali lagi, aku tidak tahu kenapa mereka bisa sekeras kepala itu. Tapi yang mereka coba dapatkan bisa mudah kubayangkan. Mereka ingin agar Aprilia menyerah dan kembali jadi dirinya yang dulu.
Setahun berlalu dan akhirnya Aprilia tidak bisa lagi menahan diri. Dia berpikir kalau mungkin mereka akan menyerah mengganggunya kalau dia bisa bertahan cukup lama. Hanya saja pikirannya meleset, bukannya berkurang gangguan yang didapatkannya jadi semakin intens.
Kebanyakan teman-temannya mulai menerima perubahan Aprilia dan terbiasa dengan dirinya yang baru, tapi ketiga teman sekelasnya yang lain masih belum bisa maju. Mereka bahkan berani mengambil resiko diantagoniskan oleh teman-teman sekelasnya yang lain hanya untuk mempersulit tujuannya.
Lalu. . .hari itupun datang.
Setiap tahun ada sebuah festival olahraga yang diadakan di kota ini. Dan peserta dari festival itu adalah murid-murid SMP dari seluruh penjuru kota ini. Hanya saja meski event itu kedengaran besar, sebenarnya pesertanya hanya sekitar tujuh sekolah mengingat kota tempat kami tinggal bisa dibilang lumayan kecil.
Jadi daripada festival olahraga, mungkin pertemuan antar sekolah lebih cocok untuk menyebutnya. Bahkan lokasinya dari event itu setiap tahunnya hanyalah salah satu sekolah yang berpartisipasi di dalamnya sebab tidak ada biaya untuk menyewa tempat besar.
Dan tentu saja sekolahku dan sekolah Aprilia juga ikut berpartisipasi di dalamnya. Tahun itu, kebetulan yang jadi tuan rumah festival olahraga adalah sekolahnya.
Waktu di mana aku melihatnya untuk pertama kali adalah saat pembukaan festival. Dia adalah pemimpin dari skuad yang sekolahnya bawa ke festival. Atau dalam kasus ini, pemimpin dari pasukan bertahan sekolahnya.
Meski dia yang paling kecil di antara kapten skuad dari sekolah lain, tapi suaranya tidak kalah dari murid lain. Dan meski hanya kelihatan seperti gadis kecil yang imut, dia memancarkan aura seorang pemimpin. Aku yang saat itu ikut berpartisipasi sebagai pemain cadangan tim basket sempat tidak bisa melepaskan pandanganku darinya.
Bukan karena keimutannya tentu saja, tapi karena kemampuannya yang bisa membuatnya bahkan jadi kapten skuad meski dia kelihatan lebih muda dariku. Aku yang waktu itu belum menyerah untuk mengejar kedua kakakku melihatnya sebagai murid ideal yang ingin kucapai levelnya.
Aku ingin jadi sepertinya.
Begitu pembukaan selesai, kak Hanny yang saat itu jadi kapten skuad sekolah kami berjabat tangan dengan semua kapten dari squad sekolah lain. Menandakan kalau festival olahraga akhirnya benar-benar dimulai.
Pertandingan di festival olahraga dibagi menjadi dua, beregu dan individu. Dan meski namanya adalah festival olahraga, tapi tentu saja pertandingan yang diadakan bukan hanya aktivitas fisik saja. Aktivitas otak seperti catur permainan puzzle juga ikut dipertandingkan.
Berlatih di sekolah orang lain akan mengganggu orang lain, selain itu kami perlu menyimpan tenaga untuk pertandingan. Pertandingan basket yang akan kuikuti dimulai setelah jam istirahat kedua, sekitar jam sebelas siang sebab arenanya perlu digunakan bergantian. Oleh sebab itulah aku dan anggota team yang lain memutuskan untuk menyebar dan melihat pertandingan-pertandingan yang lain dulu dan bertemu nanti setengah jam sebelum pertandingan dimulai.
Pertandingan pertama yang akan dimulai adalah lari jarak jauh dan marathon. Yang kak Hanny ikuti. Pertandingan itu dilakukan lebih awal agar pesertanya tidak harus merasakan terik matahari yang terlalu panas selama berlari.
Berhubung pertandingan lari hanyalah tentang melihat orang. . . berlari, pertandingan pertama tidak terlalu populer dan tidak banyak yang ingin melihatnya. Banyak anggota skuad lebih memilih berkumpul dengan timnya untuk membuat strategi, bersantai di tempat yang lebih sepi ataupun berinteraksi dengan murid sekolah lain.
Ketika aku berpikir kalau aku sedang beruntung karena tidak perlu berdesak-desakan dengan banyak orang untuk keluar gerbang, tiba-tiba aku melihat ada tumpukan kardus air minum yang melayang ke arah yang sama denganku.
“Kukira kau kapten dari skuan sekolah ini”
Atau lebih tepatnya, yang kutemukan adalah seorang gadis pendek yang membawa terlalu banyak kardus sampai tubuhnya tertutup benda-benda itu.
“Memangnya kenapa kalau kapten skuad membawa kardus minuman?”
“Bukankah biasanya hal semacam ini tugas anak buah?”
“Di sini tidak ada anak buah ataupun bos”
“Ahaha kau benar juga”
Kapten atau bukan, dia tetaplah hanya serong murid biasa. Meski punya hak untuk mengorganisir skuadnya, murid-murid di dalamnya bukanlah anak buahnya. Tapi rekan satu timnya. Dengan kata lain, teman seperjuangannya.
“Kalau begitu aku akan membantumu”
Begitu aku mendekatinya untuk mengambil beberapa kardus yang dia bawa dia mundur dan menjauh dariku. Setelah itu aku langsung melihatnya dengan wajah bingung.
“Mungkin di sini tidak ada bos dan anak buah, tapi di sini masih ada tamu dan tuan rumah kau cuku bersantai saja”
Aprilia yang waktu itu kelihatan sangat serius, bahkan dalam pekerjaannya untuk menjadi tuan rumah yang baik. Tapi aku bukan seseorang yang pura-pura tidak tahu ada orang yang butuh bantuan saat aku bisa melihatnya di depan mataku sendiri. Maksudku, aku yang dulu.
“Kalau begitu aku tidak akan membantumu.”
Tapi tanpa ijinnya aku tetap mengambil setumpuk kardus berisi air mineral yang dibawanya lalu bilang.
“Aku tidak ingin membantumu, hanya saja kalau kau telat membawa minuman ini bisa saja tim sekolahku akan kalah”
Dengan kata lain, membantu Aprilia hanyalah efek samping dan apa yang benar-benar ingin kulakukan hanyalah membantu rekan satu timku. Tentu saja Aprilia tidak percaya kata-kataku begitu saja, dia bahkan memberiku tatapan yang sepertinya bilang ‘orang ini bicara apa’
Memanfaatkan beberapa detik ketika dia bingung, aku mengambil beberapa kardus darinya dan mulai berjalan meninggalkannya. Aprilia yang tidak bisa mengambil kembali apa yang sudah kubawa memutuskan untuk segera mengejarku dan melakukan tugasnya bersamaku.
Selama seharian.
“Ugh. . . rasanya benar-benar capek”
“Kau boleh mengeluh, tapi jangan berani menyalahkanku!”
“Jangan khawatir! aku paham!”
Seperti yang sudah Aprilia bilang, aku bisa mengeluh tapi aku tidak bisa menyalahkannya. Sebab rasa capekku adalah hasil dari keputusanku sendiri, keputusan yang bahkan Aprilia coba tentang untuk ambil. Jadi, simplenya. Semuanya adalah salahku.
“Sebab kau ikut ke sini, kau juga peserta pertandingan kan? apa tidak apa-apa kau membantuku?”
Tidak semua pertandingan yang diadakan dalam festival membutuhkan kemampuan fisik, tapi meski begitu rasa capek bisa membuat konsentrasi seseorang turun. Selain itu, dia tidak bisa melihat Harsa sebagai tipe orang pintar, jadi kemungkinan besar bantuan yang diberikan oleh anak laki-laki itu akan membuatnya tidak bisa bertanding dalam keadaan top.
Jika sampai hal itu terjadi, meski hal itu bukan salahnya Aprilia akan tetap merasa bersalah.
“Tenang saja, aku memang ikut pertandingan tapi cuma jadi cadangan”
Jika tidak masalah, kemungkinan besar dia bahkan tidak perlu bermain sama sekali.
“Syukurlah kalau begitu, aku tidak perlu merasa bersalah meski timmu kalah nanti”
“Oi!!”
“Ehehehe. . .”
Sepertinya interaksi di antara kami selama beberapa jam ini sudah membuatnya lumayan bisa terbuka di depanku. Tawanya kelihatan lepas seakan yang sedang dia ajak bicara adalah teman lamanya. Aku merasa kalau kerja kerasku benar-benar sudah terbayar hanya dengan melihat senyumnya yang manis.
Criuuttt.. . .
Hanya saja, senyum manisnya sepertinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan fisikku. Kegiatan yang kami berdua lakukan dari pagi sudah lumayan banyak menguras tenaga, dan sekarang aku merasa lumayan lapar sampai-sampai perutku dengan kencangnya minta sesuatu untuk dimakan.
“Ah, maaf aku lupa kalau sekarang sudah siang”
“Tidak masalah, apa masih ada yang perlu kukerjakan lagi?”
“Apa maksudmu dengan, apa masih ada yang perlu kukerjakan lagi?”
Dari awal, apa yang kukerjakan bersamanya bukanlah sesuatu yang jadi tugasku. Dengan kata lain, pada dasarnya tidak ada yang perlu kukerjakan. Aku cuma sekedar orang yang dengan seenaknya ikut campur urusannya.
“Siangnya ada yang akan menggantikanku jadi tidak ada masalah, selain itu sekarang juga sudah waktunya untu. . . .”
Tiba-tiba, suara bel elektronik menggema ke seluruh ujung sekolah.
“Istirahat”
“Kalau begitu aku akan kembali ke. .”
“Tunggu dulu!”
Ketika aku mencoba melambaikan tanganku padanya sambil berjalan pergi, dengan cepat dia memegang tanganku lalu menarik badanku kemudian menatapku dengan wajah serius.
“Aku tidak memintanya, tapi kau membantuku itu kenyataan jadi aku punya hutang padamu”
“Kau tidak perlu repo. .”
“Aku memaksa!”
Dan kekuatan memaksanya sepertinya sangat tinggi sampai aku tidak tahu harus bilang apa untuk menolaknya. Pertahanan terbaik, adalah serangan yang kuat. Dan sepertinya serangan awalnya sudah berhasil meruntuhkan pertahananku sehingga akhirnya, aku membiarkan dia menarikku ke kelasnya.
Sepertinya dia membawa makanan sendiri karena kantin tutup, oleh sebab itulah dia ingin membagi bekalnya denganku sebagai bentuk rasa terima kasihnya karena sudah membantunya seharian.
Di jalan, aku sempat mencoba membujuk Aprilia untuk membatalkan rencananya. Meski kami tidak ingin melakukan hal yang aneh-aneh, kurasa berduaan di kelas yang kelihatannya sepi kedengaran seperti sesuatu yang akan mengundang kesalahpahaman. Selain itu, meski aku punya dua kakak perempuan cantik yang membuatku punya pertahanan cukup kuat terhadap perempuan berpenampilan menarik, tapi sebenarnya interaksiku dengan murid perempuan seumuranku bisa dibilang sangat minim.
Jadi, sejujurnya aku agak merasa grogi bersamanya saat tidak ada orang lain di sekitar kami.
Tapi sayangnya, atau, untungnya. Ketika kami masuk ke kelasnya di dalam sudah ada orang. Dan orang itu, sepertinya memang sedang menunggu kedatangan kami. Atau lebih tepatnya, kedatangan Aprilia.
“Aku sudah capek menunggumu Aprilia, kemana saja kau?”
“Capek? capek apa? tidur?”
Yang menyapa Aprilia adalah seorang anak laki-laki yang kelihatan jelas baru bangun tidur. Dia kelihatan sedikit lebih tinggi dariku dan punya wajah, yang kalau tidak dihiasi dengan iler akan membuat teman perempuan sekelasku berkya-kya.
“Jadi, siapa dia?”
Sambil menunjuk ke arahku, anak laki-laki tadi memasang wajah penasaran.
“Ah, ini Harsa, salah satu peserta festival dari sekolah lain.”
Setelah itu Aprilia menghadapku dan mengarahkan telapak tangannya pada anak laki-laki yang ada di depan kami.
“Lalu, dia adalah Faiz Zaidan, pemegang rengking satu, rekor skor test tertinggi nasional dan juga rival nomor satuku”
Sepertinya Faiz bukan hanya punya spek luar yang mencolok, tapi dalamnya juga sama-sama tajamnya. Dari deskripsi Aprilia tentangnya, bisa dijamin kalau Faiz adalah tipe orang yang sama dengan kedua kakak perempuanku.
Dihadapkan dengan seseorang seumuranku yang punya prestasi jauh di atasku lumayan membuatku merasa kecil. Tapi begitu melihat Aprilia yang tersenyum cerah sambil mendeklarasikan kalau dia adalah rival dari orang sehebat diriku membuat kepercayaan diriku jadi sedikit lebih besar.
“Apanya yang rival? bocah ini sama sekali tidak memberikan perlawanan yang berarti”
“Apa kau bilaaangg! bocah? ita itu seumuran!”
“Tumbuh dulu lima senti lagi!”
Kalau disuruh memilih antara pantas, atau tidak pantas Aprilia sudah SMP. Aku akan bilang kalau dia sama sekali tidak kelihatan seperti murid SMP. Jika tadi pagi aku tidak melihatnya mengikuti upcara, mungkin aku juga akan menanggap kalau Aprilia itu murid kelas empat atau lima SD.
Hanya saja, aku tidak bisa bilang kalau ukuran badannya yang mini itu buruk. Dia kelihatan sangat manis dan imut, kalau aku tidak menahan diri aku yakin kalau mungkin aku sudah mencubit pipinya.
“Jadi, kenapa kau tidak menganggapnya rival juga Faiz?”
Saat mendeklarasikan diri sebagai rival dari anak laki-laki di depanku, kelihatan jelas kalau Aprilia mengucapkannya dengan serius. Tapi di sisi lain, Faiz tidak kelihatan antusias dan malah memasang wajah capek seakan baru dihadapkan dengan masalah yang tidak bisa dia selesaikan sendiri.
“Tentu saja tidak, skill kami terpaut terlalu jauh! karena itulah aku tidak menganggapnya sebagai seorang rival! daripada rival kuras dia lebih cocok disebut zombie”
“Zombie?”
“Seberapa kalipun aku mengalahkannya, dia terus saja maju, selain itu dengan tidak tahu malunya dia juga meminta bantuanku untuk menaikan nilainya”
Ah, sekarang aku paham apa yang dia maksud. Aku bahkan bisa membayangkan bagaimana Aprilia mengejar-ngejar Faiz seperti zombie. Meski, aku tidak bisa membayangkannya sebagai scene dari film horor mengingat penampilan Aprilia yang imut-imut.
“Kau sendiri, juga korbannya kan? kau sudah disuruh melakukan apa saja olehnya?”
Kalau dibilang korban, kurasa memang aku korban dari program kerja rodi yang Aprilia buat. Aku punya bayangan kalau Aprilia hanya gadis mini lemah yang butuh sedikit bantuan. Hanya saja, dia berakhir mengksploitasi tenagaku dan menyuruhku melakukan jauh lebih banyak hal dari yang kukira.
Tapi, sebab aku mengajukan diriku sendiri untuk melakukannya aku tidak bisa protes dan hanya bisa memalingkan wajahku untuk menjawab pertanyaan itu.
Cukup dengan melihat reaksiku, Faiz sudah paham dengan apa yang coba kusampaikan padanya. Lalu, setelah menghela nafas. Dia mengulurkan tangannya padaku dan sekali lagi mengenalkan dirinya.
“Namaku Faiz, salam kenal”
“Harsa, salam kenal juga”
Selagi aku dan Faiz memperdalam rasa persaudaraan kami yang timbul dari nasib kami sebagai korban eksploitasi Aprilia. Gadis itu menyibukan dirinya dengan membongkar tasnya dan menyiapkan bekal yang dia bawa. Tentu saja sambil melihatku dan Faiz dengan tatapan yang sepertinya bilang ‘kenapa mereka tiba-tiba akrab begitu?’.
Setelah mengeluarkan sepasang sendok plastik, sebuah garpu yang juga plastik, dan sebuah botol minuman. Dia kembali ke tempatku dan Faiz berada dan mengambil sebuah kursi lalu duduk diantara aku yang duduk di ujung meja, dan Faiz yang duduk di ujung satunya lagi.
“Kau sudah makan siang atau belum Faiz?”
Karena tidak enak mendapat makanan sendiri, aku iseng bertanya pada Faiz.
“Tentu saja belum, kau kira kenapa aku menunggu bocah ini?”
“Sama sekali tidak tahu malu”
“Setidaknya, rasa maluku lebih besar dari gadis yang datang ke rumahku membawa semua PRnya. .”
“Mohon terima persembahan dari hambamu yang tidak tahu malu ini”
Aprilia mengeluarkan satu kotak bekal makanan lagi dan mengulurkannya pada Faiz dengan pose yang dilebih-lebihkan. Lalu, Faiz sendiri menerimanya dengan gaya yang tidak kalah dilebih-lebihkannya sambil memasang muka sombong. Dilihat dari seberapa naturalnya mereka berekting, kurasa kurasa keduanya sudah melakukan hal itu cukup lama.
Aprilia bilang kalau mereka itu rival, tapi selain rival kelihatannya mereka juga sepasang teman akrab yang dekat. Meski selalu mengeluh, tapi Faiz pada akhirnya tetap membantu Aprilia dengan serius. Dan meski memaksa, tapi Aprilia tidak lupa untuk menunjukan rasa terima kasihnya atas bantuan Faiz.
Melihat interaksi di antara mereka, entah kenapa aku merasa jadi seperti orang luar. . . tidak! dari awal memang aku ini hanya orang luar. Orang luar yang kebetulan masuk ke dunia mereka.
Suatu saat, aku juga ingin seseorang seperti Aprilia berada di sisiku.
“Kalau begitu, mari kita mulai makan”
“Tunggu dulu, bukankah bekalnya kurang?”
Dia tidak kelihatan punya bekal lain kecuali dari dua kotak makanan yang dia keluarkan tadi. Karena itulah, aku menginterupsi instruksinya. Aku akan merasa sangat tidak enak kalau kehadiranku jadi memaksanya tidak bisa makan.
“Tenang saja, aku hanya perlu melakukan ini”
Aprilia mengambil tutup kotak bekalnya dan membaliknya kemudian meletakannya di depannya.
“Dan ini”
__ADS_1
Setelah itu dia mengambil sebagian kecil nasi dan lauk dari kotak makanan yang dia berikan padaku dan Faiz.
“Masalah selesai kan? selamat makan”
Tanpa menungguku dan Faiz, Aprilia langsung melahap makan siangnya. Dari caranya makan, aku yakin kalau dia juga sama laparnya denganku. Atau malah lebih mengingat dia sudah bekerja lebih dulu dariku yang baru bergabung di tengah jalan.
Melihat hal itu, aku melihat ke arah Faiz dan memastikan kalau dia punya pikiran yang sama denganku. Setelah mengangguk pada satu sama lain, kami berdua berinisiatif untuk menambahkan beberapa potong makanan lagi ke piring darurat Aprilia.
“Apa kalian ingin mengajakku berkelahi?”
Reaksi yang dia tunjukan sama sekali tidak positif. Tapi hal itu sudah kami perkirakan mengingat apa yang kami taruh di piring daruratnya adalah dua potong brokoli dari Faiz, dan dua potong tomat dariku. Yang jadi masalah tentu saja bukan jenis makanannya, tapi maksud di belakangnya.
Meski kelihatan seperti ingin membantu, kami bertiga paham kalau apa yang coba aku dan Faiz lakukan hanyalah membuang makanan yang tidak kami suka. Karena itulah Aprilia memasang wajah yang ekspresinya seperti bilang ‘kalian diberi tapi menawar? apa kau tidak tahu malu?’
Dengan begitu, sambil terus memasang wajah cemberut yang malah kelihatan lucu. Dia memakan sumbangan makanan dari kami sampai habis. Membuat aku dan Faiz hanya bisa memalingkan wajah kami sambil terus makan.
Beberapa menit berlalu dan kami bertigapun selesai makan siang, lalu untuk membantu makanan kami dicerna dengan baik. Kami memutuskan untuk bersantai sejenak sebelum aktifitas festival kembali dimulai.
“Ngomong-ngomong, kenapa kau sudah ada di sekolah? kukira kau hanya akan berangkat setelah istirahat sebab kau bukan anggota komite maupun peserta?”
Sama seperti sekolahku, sekolah Aprilia juga diliburkan agar tidak ada siswa yang mengganggu persiapan festival. Hanya saja meski secara resmi sekolah sedang libur, murid yang tidak berpartisipasi dalam festivalpun masih diijinkan untuk berangkat dan menyaksikan teman-temannya bertanding. Dan sepertinya, Faiz punya niat untuk berangkat setelah istirahat.
“Aku bosan di rumah”
“Tapi di sini kau juga tidak melakukan apa-apa”
“Memang, tapi setidaknya di sini ada orang yang bisa kulihat”
“Kalau kau tidak punya rencana khusus, bagaimana kalau melihat pertandingan basket? kebetulan nanti timku bermain”
“Apa kau akan main?”
“Tidak tahu, aku cuma cadangan”
“Eh, kukira kau ini orang penting”
“Dari mana kau bisa punya tebakan semacam itu?”
“Insting?”
“Kenapa ada tanda tanyanya?”
Jika dia benar-benar menebak dengan menggunakan instingnya, itu berarti mulai hari ini dia tidak boleh mengandalkannya sebab instingnya meleset sangat jauh. Di dalam tim aku bukanlah siapa-siapa. Secara skill, kemampuanku hanya biasa-biasa saja, dengan kata lain. Kalau yang lain bermain dengan bagus, maka aku juga akan bermain dengan baik. Dan jika yang lain bermain dengan buruk, aku akan bermain lebih buruk lagi.
“Skill bukanlah hal yang paling penting untuk bisa jadi pemimpin”
“Pemimpin ya”
Kakak perempuanku juga bilang kalau yang paling penting untuk jadi pemimpin bukan kemampuan seseorang tapi karisma. Sebab dengan karisma yang kuat, kau bisa menggerakan seseorang dengan lebih mudah. Hanya saja, aku punya pendapat lain. Untuk jadi pemimpin kurasa kau harus punya skill dan pengalaman yang memadai, sebab meski kau bisa menggerakan seseorang. kalau kau tidak tahu apa yang kau lakukan, bukankah hasil dari usahamau tidak akan memuaskan?
Dimulai dengan topik itu, kami bertiga mulai menghabiskan waktu dengan ngobrol tentang berbagai macam topik yang semakin membuat kami mengenal satu sama lain dengan lebih dalam. Keinginan Aprilia untuk jadi nomor satu dan alasannya, pencapaian Faiz yang dan usaha kerasnya yang hanya selalu dicap sebagai akibat dari ‘bakat’nya, lalu rasa iri dan keinginanku untuk bisa mengejar kedua kakakku dan dianggap sedikit lebih penting oleh Ibuku.
Obrolan di antara kami bertiga berhenti ketika bel tanda istirahat sudah selesai berbunyi.
Aku harus kembali ke tempat timku berada dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pertandingan yang akan kami ikutiku.
Begitu pertandingan dimulai, aku bisa melihat kalau Aprilia dan Faiz menerima undanganku dan ikut menonton pertandingan antara tim basket sekolahku dengan sekolah lain. Hanya saja, meski aku punya keinginan sangat besar untuk memperlihatkan mereka seberapa kerennya aku dan teman-temanku, skill yang kami miliki tidak cukup untuk bisa membendung serangan-serangan lawan kami.
Membuat tim kami kalah dengan skor yang lumayan jauh dengan aku hanya bermain selama beberapa menit.
Mungkin pertandingan itu sama sekali tidak punya pamor, dan memenangkannya tidak akan memberikan kami nama ataupun hadian yang berarti. Tapi meski begitu aku benar-benar ingin menang. Hanya saja, sepertinya dunia ini masih ingin aku untuk merasakan yang namanya kegagalan.
Dengan begini, kegagalan yang sudah kutumpuk kembali bertambah jumlahnya.
3
“Harsa, maaf kakak telat”
“Tidak apa-apa, aku tahu kalau kak Hanny pasti sibuk”
Dia adalah pemimpin dari skuad yang sekolah kami bawa untuk bertanding, jadi tidak heran kalau dia sibuk mengurus banyak hal. Selain itu, dia juga ikut dalam kompetisi lari, malah bisa dibilang kalau dia tidak punya waktu untuk melihat pertandinganku. Kenyataan kalau dia ada di sini adalah bukti kalau dia menyempat-nyempatkan diri untuk datang ke sini.
“Bagaimana hasilnya?”
“Kurasa wajah mereka bisa menjelaskannya”
Kak Hanny melihat ke sekitarku, atau lebih tepatnya ke arah wajah teman-teman satu timku yang kelihatan penuh bayangan. Dan tentu saja wajah semacam itu tidak akan ditunjukan oleh orang yang berhasil dalam usahanya.
“Maafkan aku”
“Kenapa kak Hanny minta maaf lagi?”
“Mungkin kalau aku datang lebih cepat kalian bisa menang”
“Bagaimana bisa?”
“Aku tidak tahu, tapi semua pertandingan yang kulihat sebelumnya berakhir dengan kemenangan tim kita”
Aku tahu kalau dukungan seseorang bisa menaikan semangat seseorang, dan aku juga paham kalau yang mendukung adalah seorang gadis cantik. Motivasi seseorang untuk menang akan jadi lebih tinggi, tapi aku tidak menyangka kalau pengaruhnya cukup besar untuk membuat sebuah tim menang dalam pertandingan.
Jika kekuatan penambah semangat yang kak Hanny memang sebesar itu, harusnya aku menyuruhnya untuk melihat pertandinganku lebih ngotot lagi.
“Kak Hanny”
“Apa?”
“Tolong bolos dan lihat pertandingan kami tahun depan”
Perjalanan timku dalam festival kali ini mungkin harus berakhir cepat tahun ini, tapi sebab kebanyakan anggota tim adalah kelas dua dan kelas satu kebanyakan dari mereka masih ada di tahun depan. Dengan kata lain, kami masih punya kesempatan untuk balas dendam.
“Serahkan padaku!”
“Eh?”
Kau setuju begitu saja? tahun depan kak Hanny sudah masuk SMA jadi harusnya urusan sekolah lamanya sudah tidak ada hubungannya dengannya.
“Kau serius?”
“Tentu saja! meski serahkan saja pada Onee-san!”
Dia mengepalkan tangannya, menekuk lengannya layaknya layaknya binaragawan lalu tersenyum padaku dengan cerah. Membuatku tidak berani bilang kalau aku membuat permintaan tadi dengan setengah bercanda.
Setelah itu, kak Hanny pergi untuk mengecek pertandingan lain. Sedangkan timku setuju untuk bubar dan melakukan kegiatannya masing-masing karena sudah tidak punya hal untuk dikerjakan. Awalnya aku ingin ikut dengan salah satu dari mereka, tapi sebelum aku sempat keluar dari lapangan aku melihat Aprilia yang bersama Faiz melambaikan tangannya padaku.
Dengan begitu, aku memutuskan untuk menghampiri mereka berdua. Hanya saja, begitu sampai. Sambutan yang kudapatkan. .
“Permainan kalian benar-benar buruk”
Kata-kata tajam yang rasanya benar-benar menusukku.
“Bisa kau tambahkan sedikit gula pada kata-katamu? rasanya terlalu asin”
“Aku cuma mengatakan kenyataan”
“Geh. . “
Omongannya memang menyakitkan, tapi sayangnya aku tidak bisa membela diri. Sebab apa yang dia katakan memang pada dasarnya adalah kenyataan.
Secara skill individu tim kami bisa dibilang punya kemampuan rata-rata yang lumayan tinggi, setidaknya dibanding lawan kami. Hanya saja, sampai pertengahan pertandingan kebanyakan dari kami lebih fokus untuk mencetak skor sendiri, dan hal itu dimanfaatkan oleh lawan kami.
Begitu kami mulai bisa bekerjasama dengan lebih baik, yang lawan kami sudah bertambah. Bukan hanya anggota tim tapi waktu juga ikut-ikutan ingin mengalahkan kami. Jika kami punya waktu tambahan lima menit saja, aku yakin tim kami bisa membalik keadaan.
“Ganti topik! ganti topik!”
Langkah pertama dalam menyelesaikan sebuah masalah adalah mengakui kalau kau punya masalah. Dan kami semua sudah paham kalau kerja sama kami masih perlu dipoles, selain itu rasa grogi yang kami alami ketika bertanding di depan banyak orang juga perlu diatasi. Tahun depan, aku yakin kalau kami bisa bermain jauh lebih baik.
“Sekarang apa rencana kalian? apa aku harus membantumu lagi Aprilia?”
“Masih ada beberapa hal yang perlu kulakukan, tapi kau tidak perlu repot-repot membantu lagi”
Sebab sudah ada banyak pertandingan yang selesai, ada lebih banyak tangan yang tersedia untuk membantu pekerjaannya. Selain itu, karena skuadnya tahu kalau Aprilia sudah sibuk dari pagi ada banyak orang yang menawarkan untuk menggantikannya dalam melakukan tugasnya. Yang dengan senang hati Aprilia terima.
Bisa dibilang, dia hanya tinggal bersantai.
“Kalau begitu aku pamit dulu”
“Eh. . . kenapa?”
“Tidak sepertimu yang tuan rumah, kami perlu persiapan sebelum pulang”
Ada banyak peserta yang perlu membawa peralatannya sendiri, karena itulah setelah pertandingan selesai mereka tidak bisa langsung bersantai. Mereka masih harus membereskan peralatan mereka dan mengangkutnya untuk dibawa pulang.
“Aku akan membantu mereka dulu, kalau sudah selesai aku akan kesini lagi”
Aprilia dan Faiz saling menatap satu sama lain lalu menangguk dan melihatku, setelah itu Faiz bilang. .
“Kami akan melihat pertandingan tim basket sekolah kami nanti, aku dan Aprilia akan di sini sekitar satu jam lagi”
“Ok, kalau begitu aku pergi dulu”
Begitu mendapatkan ijin dari keduanya, yang sebenarnya tidak perlu kuminta. Aku langsung pergi ke camp skuad dari sekolahku dan mulai membantu mereka berkekas.
Berhubung barang yang kami bawa lumayan banyak, dan truk yang mengangkutnya diparkir lumayan jauh dari lokasi sekolah karena tidak bisa masuk. Kegiatan berkekas kami memakan waktu cukup lama.
Cukup lama sampai membuatku tidak sadar kalau hampir satu setengah jam sudah berlalu sejak aku dan beberapa temanku mulai.
Begitu sadar kalau aku sudah telat untuk bertemu dengan Aprilia dan Faiz, aku langsung mencari anggota timku yang lain dan menarik mereka untuk menggantikanku membereskan sisa pekerjaanku. Setelah itu, dengan buru-buru aku berlari ke arah lapangan indoor tempat dimana pertandinganku berlangsung sebelumnya.
Hanya saja, begitu sampai aku bukan disambut dengan sorak-sorai dari pertandingan olahraga melainkan sorak-sorai aneh mirip demonstrasi yang jadi kerusuhan. Dan yang jadi pusat dari suasana kisruh itu adalah Faiz yang sedang beradu mulut dengan tiga orang berpakain seragam basket dan juga Aprilia yang berada di sampingnya.
Melihat situasi yang sudah jelas tidak normal itu, aku segera mendatangi kedua teman baruku itu dan meminta penjelasan tentang apa yang sedang terjadi.
Selama Faiz mengajak tiga murid laki-laki yang ada di depannya untuk berdebat. Aprilia mulai menjelaskan bagaimana situasinya jadi seperti sekarang.
Semuanya bermula saat pertandingan diantara sekolahnya dan sekolah lain berakhir dengan kekalahan. Sama seperti timku, tim sekolah Aprilia juga punya masalah dengan kerjasamanya. Hanya saja, tidak sepertiku yang kalah karena pada dasarnya kami semua kurang pengalaman. Tim Aprilia kalah karena mereka kalah jumlah.
Bagaimana bisa?
Jawabannya adalah karena pertandingan berlangsung seakan tim sekolahnya bermain hanya dengan tiga orang. Tiga pemain yang sedang beradu mulut dengan Faiz.
Ketiganya adalah ace dari tim sekolah Aprilia, dan ketiganya juga adalah pemain dengan pengalaman yang paling banyak sebab mereka sering mengikuti pertandingan di luar sekolah. Oleh sebab itulah begitu mereka bermain dengan rekan setimnya yang punya skill di bawah mereka, ketiganya memutuskan kalau tidak ada gunanya bekerjasama dengan mereka.
Hanya saja, yang mereka hadapi bukanlah tim kelas teri. Melihat kalau musuh mereka punya masalah internal, mereka memanfaatkan kelemahan itu dengan baik dan selalu berusaha mengepress dua pemain lain yang tidak masuk dalam segitiga eksklusif lawannya dan dengan mudah mendapatkan angka.
Hal itu membuat ketiganya semakin melihat kedua anggota tim lain sebagai beban yang tidak berguna. Keduanya diganti di babak kedua, tapi hal itu tidak punya pengaruh banyak sebab strategi mereka sama sekali tidak berubah. Mereka jarang membantu pertahanan dan lebih fokus ke penyerangan meski tahu kalau anggota timnya jadi bulan-bulanan dengan harapan mereka bisa melakukan counter attack cepat untuk bisa mencetak angka.
Hanya saja, sehebat apapun ketiganya mereka tidak punya cukup stamina untuk terus berlari dan tim lawan yang menghadang mereka dengan pertahanan solid. Yang pada akhirnya membuat tim mereka kalah pada akhir pertandingan.
Aku sudah sering menemui seseorang seperti mereka di game online. Orang yang sudah hitungan jam banyak dalam permainan dan tahu seluk beluk game, orang yang biasanya dilabeli pro. Dan banyak sekali dari orang-orang itu yang punya kebiasaan merendahkan orang lain dan memanggil semua orang yang bermain lebih buruk dari mereka noob. Orang yang punya hobi melakukan kick vote, dan orang yang juga punya hobi menyalahkan orang lain saat ‘rencananya’ tidak berjalan mulus.
Tentu saja, di dunia nyata kau tidak bisa memblok mereka dan mengklik tombol report. Cara satu-satunya untuk membuat mereka berhenti adalah berbicara dengan langsung dengan mereka dan berharap kalau ketiganya bisa paham. Yang sayangnya, jelas sudah gagal kalau melihat keadaannya sekarang.
Rekan tim mereka yang lain mencoba menjelaskan masalah mereka, tapi ketiganya tidak terima karena merasa perlu untuk menyamakan level mereka dengan pemain kelas rendahan seperti mereka. Dan adu mulut yang hampir berujung mereka saling main kasarpun terjadi.
Hal itu berhasil dicegah dengan datangnya Aprilia yang mencoba melerai pertengkaran mereka. Hanbi mencoba menghibur anggota skuadnya dan memotivasi mereka untuk berlatih lebih keras agar bisa jadi lebih baik di tahun depan. Tapi meski hal itu menenangkan sebagian besar anggota tim basket sekolahnya, hal itu malah jadi pelatuk yang menyulut rasa marah dari ketiga pemain bermasalah tadi.
Mereka mengambil kata-kata Aprilia sebagai kalimat merendahkan kemampuan mereka. Mereka menyebut Aprilia sebagai orang tidak punya bakat yang tidak berguna, orang bodoh yang terus melakukan hal tidak berguna, dan orang tidak tahu malu yang tidak tahu kapan harus menyerah.
Di saat itulah, Faiz ikut masuk dalam penggorengan dan menambah keruh suasana. Kali ini dia yang tidak terima Aprilia dihina sembarangan, dengan begitu sampailah situasinya jadi seperti sekarang.
“Kau bilang apa tadi?”
“Aku bilang kalau orang tidak kompeten seperti kalian tidak pantas bilang kalau orang lain itu tidak kompeten!”
“Orang tidak kompeten kau bilang?”
“Kalau kau tidak suka dibilang tidak kompeten kau maunya dipanggil apa? idiot?”
“Kau!”
Salah satu dari trio idiot yang sedang beradu mulut dengan Faiz mencoba memukul kepalanya, tapi Faiz tidak mencoba menghindar dan hanya bilang. . . .
“Kau ingin dikeluarkan huh?”
Mendengar hal itu, lawan bicaranya mundur dan membatalkan niatnya lalu dengan suara keras meneriakan kata. . .
“Pecundang!”
Pada Faiz, yang hanya dibalas dengan senyum dan kalimat. .
“Seorang pecundang baru saja bilang kalau aku pecundang, lucu sekali”
Yang tidak kalah menyakitkannya.
Kali ini, tahu kalau sekedar kalimat hinaan maupun ancaman tidak mempan untuk mengintimidasi Faiz. Salah satu dari mereka memutuskan untuk menyelesaikan perdebatan mereka dengan cara yang lebih simple. Cara yang bisa membuat lawan mereka tutup mulut begitu semuanya selesai.
Sebuah duel.
Dianggap tidak kompeten pada bidang yang kau banggakan kemampuannya tentu saja tidak mengenakan. Apalagi kalau yang bilang adalah orang luar yang bahkan tidak tahu kondisi di dalam lapangan. Karena itulah dengan sebuah duel dan menang dari orang yang menghinamu kau bisa menunjukan kalau seseorang tidak punya hak untuk memberikan kritik.
Membuktikan kalau orang itu cuma bisa bicara saja.
Di sisi lain, jika penantang. Yang dalam kasus ini adalah Faiz menang, maka dia bisa membuktikan kalau ketiga orang yang dia tantang hanyalah pecundang yang mencari-cari kambing hitam dari kekalahan yang mereka derita. Menunjukan kalau mereka juga punya andil atas hasil buruk yang mereka dapatkan.
Jika mereka kalah, mereka harus menerima cap yang lawan mereka berikan.
Aku sendiri tidak terlalu suka dengan ide memanfaatkan tekanan dari mata publik, alias public shaming sebagai bentuk hukuman dari sebuah kesalahan. Hanya saja, saat itu aku tidak ada dalam posisi untuk mengendalikan pembicaraan ke arah lain, selain itu aku tidak yakin kalau tiga idiot di depan Faiz akan mau mendengarkan apa yang kukatakan. Mengingat aku bahkan hanya orang luar.
Dengan begitu, Faizpun menerima tantangan duel dari si tiga idiot dengan menggunakan basket three on three sebagai mediumnya.
Aku ingin berteriak kalau jenis duel yang dipilih benar-benar tidak masuk akal sebab hal itu adalah bidang keahlian musuh. Tapi Faiz hanya menjawab kalau mereka bisa mereka kalah dari pemain amatir mereka akan mengirimkan lebih banyak demage mental pada lawan mereka. Dan kalau mereka kalahpun mereka dengan mudahnya bisa ngeles dengan bilang
“Kalian benar-benar hebat bisa mengalahkan tim amatiran seperti kami”
Yang akan membuat kemenangan lawan mereka jadi tidak berarti sebab dari awal mereka sudah melakukan duel yang sangat jelas tidak adil.
Di saat itu, aku baru sadar kalau teman baruku ini benar-benar licik.
Sambil memikirkan sebenarnya orang jahatnya itu siapa, Faiz atau si tiga idiot. Aprilia mendekati Faiz dan bergabung dengannya untuk ikut dalam duel karena rasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin skuad dari sekolahnya.
Awalnya aku tidak ingin ikut berpartisipasi, tapi setelah mendengar kalau untuk suatu alasan dalam duel itu juga akan ada taruhannya aku terpaksa ikut. Atau lebih tepatnya, aku merasa perlu ikut. Sebab yang jadi bahan taruhan adalah nasib Aprilia.
Jika Faiz dan Aprilia menang, Aprilia meminta si tiga idiot untuk merubah sikap dan sebagai gantinya kalau si tiga idiot yang menang ketiganya minta agar Aprilia berhenti bergantung pada Faiz.
Yang artinya sama saja dengan mereka ingin Aprilia berhenti mengejar rengking satu.
Pada saat itu aku tidak tahu kenapa mereka menaruh taruhan semacam itu dalam duel, tapi sekarang aku paham. Ketiga idiot itu adalah orang yang sama yang selama ini terus mengganggu Aprilia dalam mengejar targetnya, dan sepertinya mereka berpikir untuk membuat penghalang besar dengan memanfaatkan situasi hari itu.
Dengan persetujuan kedua belah pihak selesai dibicarakan. Pertandingan, atau dalam kasus ini. Duelpun dimulai.
Seperti sudah kuperkirakan, pertandingan sepuluh menit kami dimulai dengan sebagian besar penguasaan bola berada di tangan lawan. Membuat kami ketinggalan angka. Yang tidak mengherankan mengingat mereka adalah ace dari tim sekolah Aprilia.
Tapi begitu memasuki pertengahan waktu, keadaan mulai berubah. Aku mulai bisa melihat pattern serangan mereka dan memanfaatkan fakta kalau mereka meremehkan kami sebagai senjata, lalu Faiz yang kelihatan mulai panaspun tiba-tiba mulai bermain dengan baik. Aprilia? anggap saja dia benar-benar berguna jadi pembuli.
Tugas yang Aprilia perlu lakukan sangat sederhana. Dia hanya perlu melakukan pressing, dengan kata lain berlari kesana-kemari dan terus menempel seseorang. Normalnya hal semacam itu akan menguras tenaga seseorang dengan cepat, tapi Faiz meyakinkaku kalau gadis itu punya stamina yang memadai. Kecepatan larinya bisa menandingi kami semua, dengan tubuh kecilnya dia menyelip di antara pemain lain, lalu yang terakhir.
“Kalian benar-benar licik!”
Fakta kalau Aprilia adalah anak perempuan membuat musuh kami susah kabur dari serangannya. Siapapun yang dia press akan kesulitan bergerak, tentu bukan karena masalah fisik tapi karena masalah mental. Mereka tidak bisa bermain terlalu kasar, dan mereka juga tidak bisa sembarangan menyentuh-nyentuh tubuh Aprilia. Karena itulah salah satu idiot menyebut taktik kami licik.
Yang sama sekali tidak bisa kubantah.
Faiz yang sama sekali tidak peduli dianggap licik terus fokus untuk mencetak skor. Sedangkan aku, tidak punya waktu untuk mempedulikan mereka sebab aku juga sibuk menyambungkan bola dari belakang ke depan.
Strategi penyerangan yang kami gunakan tidak rumit. Saat lawan menguasai lapangan, kami akan mengirim Aprilia untuk menghadang orang yang memegang bola, lalu saat lawan yang dia hadapi mengoper aku akan mencoba memotongnya lalu memberikannya pada Faiz yang siap melakukan finish move.
dalam keadaan normal, si tri idiot akan mampu mengatasi tim jadi-jadian seperti kami. Hanya saja, seperti yang sudah kubilang sebelumnya. Mereka meremehkan kami dan hal itu membuat mereka tidak terlalu waspada dengan pergerakan kami. Kemudian, tidak seperti Faiz dan Aprilia yang ada dalam keadaan fit, ketiganya baru saja selesai melakukan pertandingan dan harusnya masih kelelahan. Membuat pergerakan mereka jadi sedikit tumpul.
Pertandingan kembali berlangsung dengan kemenangan sementara kami yang tipis.
Beberapa menit kembali berlalu dan sepertinya cara kami bermain sudah benar-benar membuat ketiganya marah.
Mereka balik menyerang dan memfokuskan pressing pada Aprilia. Tidak menggunakan satu atau dua, tapi tiga pemain. Dengan kata lain, saat mereka menyerang balik ketiganya akan dengan sengaja mendatangi Aprilia lalu membuat formasi yang ketat dan mengandalkan operan jarak pendek yang sulit diintersep.
Karena Aprilia tidak punya teknik, dia jadi dengan mudah jadi bulan-bulanan lawan.
Dan strategi brute force itu sangat efektif dalam mencegah timku mendapatkan bola. Meski kami mencoba membantu Aprilia, yang terjadi hanyalah lapangan jadi terasa sangat sempit dan semua orang tidak bisa bergerak. Dan dalam duel di mana skill jadi penentu, kami tidak punya harapan untuk menang.
Ingat kalau mereka bertiga adalah ace dari tim basket sekolah Aprilia.
Dengan begitu, dalam tiga menit terakhir permainan jadi semakin intens dan bahkan juga semakin kasar. Cukup kasar untuk membuat Aprilia berkali-kali memanggil pelanggaran, tapi sayangnya tidak ada yang mempedulikannya. Sebab dalam pertandingan yang sesungguhnya, permainan seperti itu masih ada dalam taraf normal.
Melihat keadaan yang jelas tidak bagus itu, aku dan Faiz memutuskan untuk ikut melakukan pressing sambil mencoba menjauhkan pemain lawan dari satu sama lain. Dengan aku dan Faiz yang ikut sibuk menempel pada anggota three idiots, cuma Aprilia yang masih punya kemampuan untuk bergerak bebas di lapangan dan melakukan serangan.
Jika ada orang yang bisa membalikan situasi kami, dia adalah orangnya.
“Aghh. . .”
Hanya saja, meski dia punya banyak tenaga dan dan stamina yang sama sekali tidak kalah dari kami semua dan kaki yang lebih cepat dari siapapun di lapangan. Kemampuan menembaknya benar-benar buruk.
Secara fisik, Aprilia memenuhi semua syarat untuk bisa menembak. Tapi gadis itu sama sekali tidak punya tahu postur yang harus dia gunakan, timing, dan posisi yang perlu dia ambil sebelum mencoba mencetak skor.
Tembakan-tembakan meleset Aprilia mengundang banyak tawa dari murid yang menonton, membuat suasana muram yang menyelimuti tempat itu sedikit jadi lebih cerah.
Kami yang ada di dalam lapangan tentu saja tidak bisa ikut menikmati suasana cerah itu. Tidak ada dari kami yang bisa rilex. Jika tembakannya tidak ada yang masuk sampai waktu habis, kami akan kalah.
Tim lawan sendiri sudah mulai waspada dengan gerakan kami dan selalu siap menerima rebound. Meski mereka dalam posisi menang tapi satu lucky shot saja posisi kami akan bisa dibalik.
Situasi stalemate itu terus berlangsung sampai tiba-tiba aku berhasil mendapatkan sebuah rebound.
“Fai. . “
Aku melihat ke arah Faiz dan mencoba mengoper ke arahnya, tapi dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berteriak ‘shoot’ ke arahku.
“. . .”
Aku melihat ke sekitarku dan menemukan kalau kalau aku ada dalam posisi yang cukup bagus. Salah satu dari si tiga idiot sedang berlari ke arahku untuk merebut bola, tapi aku masih punya waktu untuk sekedar menembak. Dan Faiz serta Apriliapun sedang berusaha keras untuk memperlambat pemain lain.
Tapi. .
“. . .”
Apa aku bisa melakukannya?
Memang aku punya kesempatan lebih besar untuk memasukan bola daripada Aprilia, tapi yang namanya kesempatan hanyalah kesempatan. Tidak ada yang bisa memberikan kepastian. Tidak ada jaminan kalau aku tidak akan gagal.
“Harsaaaaa!!!”
Teriakan Faiz membawaku kembali ke dunia nyata. Dan hal itu juga membuatku sadar kalau selama aku bingung dan memikirkan hal yang tidak perlu, keadaan di sekitarku sudah berubah derastis.
“Ugh. . “
Lawan yang tadi masih jauh dariku sudah ada di depan wajahku, dan tangannya berhasil menampar bola yang ada di tanganku.
“Sial”
Jika bola sampai keluar lapangan kami akan kehilangan banyak waktu, dan waktu yang terulur itu hanya akan menguntungkan lawan kami.
“Aaaaa!!!”
Dan aku tidak bisa membiarkannya.
“Apriliaaaa!!!!”
Dengan paksa, aku mencoba melompat dan mengarahkan badanku ke belakang.
Meski hanya sedikit, aku mencoba untuk mengubah arah Aprilia yang masih.
“Kuserahkan padamu!!”
Usahaku tidak terlalu membuat banyak perbedaan, tapi setidaknya arah bolanya sedikit berubah dan membuat Aprilia lebih mudah untuk mendapatkannya meski dia harus berlari dengan sekuat tenaga.
Setelah itu dia berlari dengan dribble yang hampir jadi pelanggaran sambil berlari dengan cepat melewatiku yang terjatuh ke belakang.
“Serahkan padaku!!”
Normalnya dia akan langsung menembak begitu masuk ke area paling dalam lapangan lawan, hanya saja kali ini dia masuk lebih dalam lagi dan baru berhenti tepat di bawah ring.
“Masuuukk!!”
Teriakannya kedengaran dramatis, dan mungkin saja dia ingin melakukan layout yang sama dramatisnya. Hanya saja karena lompatannya yang tidak tinggi dan tembakannya yang lambat karena dia mencoba hati-hati, tembakannya sama sekali tidak keren. Hanya saja.
“Ma-suk”
Tembakannya benar-benar masuk.
“Stand by!”
Kali ini Faiz yang berteriak.
Pertandingan belum selesai, dan lawan masih bisa kembali membalik keadaan.
“Aprilia!”
Aku berdiri lalu kembali ke posisiku, sedangkan Aprilia dan Faiz juga langsung berlari untuk menjaga lawan masing-masing. Si trio idiot juga tidak membuang-buang waktu dan langsung memulai permainan lagi.
__ADS_1
Untuk beberapa detik, permainan kembali dimulai. Tapi tidak lama kemudian duel di antara kami akhirnya berakhir juga.
Dengan kemenangan kami.
Begitu pertandingan berakhir, Faiz langsung mendatangi si tiga idiot dan memastikan kalau mereka akan menepati janjinya. Tentu saja sambil memancing-mancing perhatian semua orang agar ketiganya tidak bisa bilang ‘tidak’.
Lalu ketika ketiga lawan bicaranya pergi dengan wajah sebal, dia kembali ke tempat kami dan mendekatiku dengan wajah yang kalah tidak mengenakannya.
“Kenapa kau tidak langsung menembak?”
“Ahaha. . .”
“Jangan ahahaha. . .kenapa kau tidak langsung menembak?”
“Maafkan aku. . “
Aku tidak bisa bilang kalau aku ragu saat diberi tanggung jawab untuk menyelesaikan permainan. Sebab aku merasa, kalau dia akan semakin marah kalau aku mengatakannya.
“Cukup!”
Sebelum aku semakin terpojok oleh introgasi Faiz, Aprilia datang dan memukul kepala pemuda itu.
“Harusnya kau berterima kasih Harsa sudah mau membantu!”
“Tapi. . “
“Bilang terima kasih!”
“Geh. . .”
Faiz memalingkan pandangannya dariku, tapi tidak lama kemudian dia melihat ke arahku lagi lalu bilang.
“Terima kasih”
Dengan wajah malu.
Aku ingin tertawa ketika Aprilia bertingkah seperti Ibunya dan memaksanya minta maaf seperti anak nakal. Tapi aku menahan diri.
“Pfftt. . .”
Atau lebih tepatnya, aku mencoba menahan diri.
Tapi gagal.
Ketika Faiz akan marah lagi, Aprilia langsung melerai pertengkaran bodoh di antara kami dan berterima kasih pada kami berdua karena sudah membantunya menyelesaikan masalah skuadnya.
Lalu, sambil tersenyum dia mengulurkan kedua telapak tangannya pada kami.
Aku dan Faiz saling melihat satu sama lain.
“Sama-sama”
“Sama-sama”
Lalu bersamaan pula, kami menepuk kedua telapak tangan gadis itu.
Dengan begitu, ingatanku tentang keduanya putus dan berakhir.
4
Sejak pertama kali melakukan kontak dengannya, aku selalu merasa kalau wajahnya familiar. Dan begitu aku membaca diarinya, satu persatu ingatanku tentangnya mulai kembali. Normalnya pertemuan penuh impact seperti itu tidak akan mudah untuk dilupakan. Hanya saja, setelah memutuskan untuk menyerah aku juga berusaha keras untuk melupakan tentang usaha-usahaku yang kuanggap semuanya sia-sia.
Dan diantara semua itu, kenanganku bersama Aprilia yang berlangsung selama beberapa jam itu juga ikut kuanggap sesuatu yang sia-sia. Sesuatu yang ingin kulupakan selamanya. Oleh sebab itulah, begitu aku bertemu dengannya lagi aku tidak bisa langsung mengenalinya.
“Apa selama ini, kau. . .”
“Tentu saja, kalau aku tidak mengenalmu mana mungkin aku mendekatimu begitu saja”
Sudah kuduga.
Dilihat dari manapun, seseorang datang lalu menantang orang lain yang bahkan tidak pernah dia ajak bicara itu agak terlalu aneh. Selain itu, sudah umum kalau orang yang tidak kau kenal itu sama urusannya bukan urusanmu. Jadi, jika dia mau repot-repot mendatangiku, menantangku, dan bahkan mengancamku dia itu peduli denganku. Entah itu karena hal baik atau buruk.
“Kalau begitu, tantanganmu waktu itu. . apa ada hubungannya dengan masa lalu kita?”
Menyebutnya sebagai ‘masa lalu kita’ mungkin agak berlebihan mengingat hubungan di antara kami hanya berlangsung selama beberapa jam. Tapi kalau bukan hal itu, aku tidak tahu lagi dari mana aku harus menghubungkan kabel di antara kami yang bahkan tidak pernah punya kesempatan untuk berinteraksi dengan satu sama lain.
“Selama dua tahun. . .”
Selama dua tahun?
“Selama dua tahun ini aku selalu berusaha untuk bertemu denganmu lagi”
Kenapa?
“Selama dua tahun ini, aku ingin berterima kasih padamu”
Untuk apa?
“Selama dua tahun ini, aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi”
Sekali lagi, kenapa?
Memang benar aku sudah memberinya sedikit pertolongan selama festival, tapi kurasa hal semacam itu tidak cukup untuk membuatnya seingin itu berterima kasih padaku. Dari cara bicaranya dan ingatanku, selama dua tahun itu dia tidak pernah berhasil melakukan apa yang dia mau. Tapi dari cara bicaranya juga, sepertinya selama dua tahun itu dia tidak pernah berhenti mencoba.
Untuk kesekian kalinya, kenapa?
“Aprilia. . “
Semua pertanyaan itu tidak akan gunanya kalau hanya kupendam saja. Selama ini aku sengaja tidak terlalu memikirkannya sebab aku menganggap kalau semua hal itu tidak terlalu penting. Meski aku tahupun tidak akan ada yang berubah di antara kami. Sebab pada dasarnya kami berdua adalah orang asing bagi satu sama lain.
Tapi kali ini situasinya lain. Sekarang aku paham kalau kami bukan hanya sekedar orang asing. Oleh sebab itulah, aku ingin tahu lebih jauh. Ingin tahu tentang apa yang dia pikirkan dan inginkan.
Sebagai balas budi karena telah membantuku bangkit lagi, aku ingin membantunya sebisa mungkin. Tidak! meski bagian balas budinya bukan sebuah kebohongan tapi alasan utamaku ingin membantunya adalah sesuatu yang lebih sederhana. Aku ingin melihat gadis yang kusuka ini memasang wajah bahagia.
“Sama sepertimu yang ingin tahu lebih banyak tentangku, aku juga ingin tahu lebih banyak tentangmu”
“Harsa. . “
Dia mundur dariku sejauh beberapa langkah, tapi setelah itu dia menghentikan gerakannya dan memejamkan matanya lalu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, dia kembali melihatku dengan tatapan penuh determinasi.
“Aprilia, apa aku berbuat salah padamu?”
“Ha?”
“Tantanganmu waktu itu, bukan hanya tentang masalah rengking kan? apa aku sudah berbuat salah padamu”
Seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya, alasan yang diberikan dan tindakan yang dia lakukan sama sekali tidak konsisten. Jika dia ingin jadi nomor satu, dia harusnya hanya perlu berlari lebih cepat. Jika dia ingin mengalahkan kedua kakakku, dia hanya perlu berusaha lebih keras. Tapi dia malah mendatangiku dan mengajakku melakukan sesuatu yang membuat kehidupannya jadi lebih sulit.
Menjemputku setiap hari, menemaniku di sekolah, lalu memastikan kalau aku belajar dan tidak hanya malas-malasan. Semua hal yang selama ini kuanggap sebagai usahanya mengganggu kehidupanku sebenarnya juga sama-sama mengganggu hidupnya. Dengan kata lain, dia menyisihkan waktunya yang bisa dia gunakan untuk hal lain untukku.
Demi aku yang hanya bisa komplain padanya meski sudah dibantu setiap hari.
“Ya, kau memang sudah berbuat salah!”
Ahh. . . jadi begitu.
Waktu itu, meski yang punya ide bukan Aprilia sendiri. Tapi dia juga ikut berpartisipasi dalam duel. Dengan kata lain, dia tidak punya masalah dengan ide memberikan hukuman pada seseorang yang dia anggap melakukan kesalahan. Meski dengan cara yang agak sedikit kasar. Selama dia bisa mendapatkan hasil, dia tidak peduli kalau dia jadi bahan bulan-bulanan seseorang.
Tentu saja tujuan utamanya ikut pertandingan waktu itu bukanlah untuk mempermalukan lawannya, tapi menghentikan perbuatan yang bisa merusak kehidupan mereka sendiri. Dia ingin agar mereka tidak lagi melakukan kesalahan yang mereka buat.
Jika apa yang kali ini dia lakukan adalah hal yang sama. Itu berarti aku sudah melakukan sebuah kesalahan padanya. Dan sebab sampai saat ini dia masih menempel padaku, itu berarti dia belum berhasil memperbaiki hal salah yang ada padaku.
Karena itulah aku ingin tahu apa kesalahan itu.
Seperti yang Faiz bilang, untuk bisa memperbaiki sebuah kesalahan pertama kau harus mengakui kalau ada sesuatu yang salah.
Aku ingin membantunya. Aku tidak ingin lagi jadi beban bagi gadis mini ini.
“Dua tahun yang lalu, kau tidak seperti ini! dulu kau penuh semangat dan percaya diri!”
Aku tidak merasa pernah jadi orang yang seperti Aprilia jelaskan, tapi kalau kalau membicarakan dua tentang aku dua tahun yang lalu. Mungkin saja aku pernah memberikan impresi pada orang lain kalau aku ini orang yang semacam itu.
Sebab memang aku berusaha melakukannya. Berusaha pura-pura kalau aku ini percaya rasa percaya diri meski tidak punya bakat, bisa melakukan sesuatu meski sebenarnya aku sendiri tidak yakin, dan semua orang bisa mengandalkanku meski sebenarnya aku sendiri ingin bergantung pada orang lain.
“Mungkin kau tidak tahu, tapi waktu itu! saat kita bertemu hari itu sebenarnya aku hampir menyerah dan putus asa”
Kata menyerah dan putus asa sama sekali tidak cocok dipadukan dengan gadis bernama Aprilia. Sampai beberapa menit yang lalu aku selalu berpikir seperti itu. Maksudku, dari tingkahnya sehari-hari kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana wajah stressnya.
Tapi setelah aku membaca diarinya, aku paham kalau dia bukanlah seseorang yang bisa selalu positif. Ada saat di mana dia merasa frustasi, sedih, dan ingin menyerah lalu kabur. Di dunia tidak ada yang sempurna. Dan tentu saja, hal itu juga teraplikasikan pada kedua kakakku serta Aprilia.
Mereka hanya gadis remaja biasa. Aprilia, hanyalah seorang gadis remaja biasa.
Meski tubuhnya sedikit lebih mungil.
“Waktu itu, saat kau menunjukan kalau kau percaya padaku! hal itu benar-benar menyelamatkanku! kau membuat kepercayaan diriku kembali!”
Aku tidak tahu apa yang membuatnya sedepresi itu sampai berpikir untuk menyerah. Bullian dari si tiga idiot, tekanan dari teman-temannya, jumlah kegagalannya atau yang lain. Sebagai seseorang yang juga sudah pernah mengalami banyak sekali kegagalan aku bisa menyebutkan banyak sekali hal yang bisa membuat seseorang merasa depresi. Mulai dari yang sepele sampai yang tidak terlalu sepele.
Tapi kalau tentang apa yang baru saja dia katakan. Aku ingat.
Mungkin yang maksud adalah ketika aku memberikan bola terakhir padanya. Saat itu menyerahkan nasib tim kami padanya karena aku ragu pada kemampuanku sendiri. Tapi sepertinya, apa yang kulakukan waktu itu sudah berhasil memberikannya sedikit dorongan mental.
Tentu saja aku tidak pernah punya maksud semacam itu saat meneriakan ‘kuserahkan padamu’ padanya. Tapi kalau aku bisa bisa membantu, aku merasa lebih dari sekedar senang.
“Saat itu aku sadar kalau kalian berdua, kau masih percaya kalau aku bisa mencetak skor meski permainanku sangat buruk”
Keberhasilannya dalam mencetak skor tentu saja ada pengaruhnya terhadap kepercayaan dirinya. Tapi jika ada hal yang lebih penting dari hasil akhir duel kami, hal itu adalah konfirmasi kalau masih ada orang yang percaya padanya.
Di manga yang sering kubaca, selalu ada yang bilang kalau meski seluruh dunia jadi musuh seseorang asalkan ada satu orang yang berada di sisinya. Dia bisa melakukan apapun. Dan meski kalimat itu mungkin memang berlebihan, tapi aku tidak akan menyangkal seberapa pentingnya kehadiran seseorang yang terang-terangan mendukungmu.
Mungkin, kalau waktu itu ada seseorang yang bilang kalau dia percaya padaku. Aku tidak akan menyerah.
“Karena itulah aku ingin berterima kasih padamu, ingin bertemu denganmu, ingin mengenalmu lebih jauh . . .”
Hanya saja, setelah itu meski dia berkali-kali ke sekolahku kami tidak pernah bisa bertemu. Dan sampai dia pindah sementara ke kota lain karena pekerjaan orang tuanya, dia bahkan tidak bisa melakukan kontak denganku sekalipun.
Lalu, setelah dia kembali dan memutuskan untuk masuk ke SMA ini dan berhasil diterima. Diapun berhasil menemukanku.
“Setelah dua tahun, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi, bahkan satu kelas, tapi kenapa?”
“Kenapa kau menatap semua orang dengan pandangan kosong, kenapa melakukan semuanya dengan setengah-setengah, kenapa kau memilih menyendiri, kenapa kau berhenti berusaha, kenapa. . kenapa kau tidak ingat denganku?”
Dia mengatakan semua komplain itu dengan nada tinggi, wajah merah, dan juga mata yang kelihatan basah. Jika kami punya hubungan spesial, mungkin aku akan menganggapnya sedang marah karena aku menelantarkannya. Tapi sebab tidak ada hubungan semacam itu di antara kami, aku hanya bisa menerjemahkannya sebagai ekspresi dari rasa frustasinya terhadapku.
“Aprilia, aku. . .”
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Baginya aku adalah orang yang pernah memberikan support mental padanya saat dia sedang ada pada titik terendahnya waktu itu. Jadi mungkin dia berpikir kalau aku ini orang hebat, orang yang bisa diandalkan, dan orang yang bisa dia anggap teman seperjuangannya.
Semua itu tentu saja tidak ada yang benar. Aku ini orang yang bodoh, mudah runtuh di bawah tekanan, dan tentu saja tidak bisa diandalkan. Sama sekali bukan orang yang bisa dianggap sebagai pahlawan.
“Maafkan aku sudah mengecewakanmu”
“Jangan minta maaf!”
“Aprilia. . .aku. .”
“Karena yang harusnya minta maaf itu aku!”
“Aprilia?”
“Aku tahu kalau benci semua hal yang kulakukan padamu, tidak! aku tidak akan terkejut kalau kau juga membenciku sebab. . .”
Semua hal yang dia lakukan basisnya adalah kepentingan pribadinya sendiri. Dengan kata lain, keegoisannya. Karena itulah dia merasa kalau dialah yang perlu minta maaf padaku. Sebab diapun paham, kalau semua hal yang dia lakukan padaku tidak ada yang mengenakan maupun masuk akal.
“Hanya saja ingat ini Harsa, meskipun aku harus membuatmu benci padaku! aku tidak akan membiarkanmu jatuh seperti Faiz!”
“Hah? jatuh?”
Seperti Faiz?
Apa yang dia bicarakan?
Apa dia juga ada hubungannya kenapa dia menantangku memperebutkan rengking satu?
“Tunggu dulu Aprilia!”
Aku penasaran kenapa dia menyebutkan nama Faiz di sana, tapi hal itu bisa kutanyakan kapan-kapan. Sebab saat ini ada hal lain yang lebih penting untuk kuursi.
“Siapa yang bilang kalau aku membencimu?”
“Tidak ada, tapi aku tahu kalau apa yang kulakukan itu tidak ada yang membuatmu senang! karena itula. . .”
“Jangan seenaknya mengambil keputusan sendiri”
“Ha?”
Memang benar semua hal yang dia paksakan untuk kulakukan sangat merepotkan, menyebalkan, dan melelahkan. Setiap hari dia menggangguku sampai aku tidak pernah bisa merasa tenang. Lalu, sepertinya dia selalu punya cara untuk membuat hidupku jadi semakin sulit.
Tapi, mengesampingkan metode yang dia gunakan.
Bukankah apa yang dia ingin coba lakukan itu tidak buruk. Dia hanya ingin membantuku, dia ingin aku bangkit, dan dia ingin agar aku jadi orang yang lebih baik. Dia ingin aku jadi orang hebat yang pernah membuat motivasi di dadanya bangkit kembali.
Jika kau melihat dari sudut pandang itu, bagaimana aku bisa membencinya?
“Bagaimana mengatakannya ya. . . .”
Hampir setiap test berakhir dia menyuruhku untuk melakukan hal-hal yang bahkan bukan tugasku seperti menyapu halaman sekolah, memperbaiki pipa bocor, menghapus coretan di tembok, dan banyak pekerjaan-pekerjaan manual lain. Tapi bukan berarti dia hanya melihat dan tidak melakukan apa-apa.
Dia selalu ada bersamaku dan juga membantuku saat aku membutuhkannya, selain itu dia juga yang mempersiapkan apapun yang kubutuhkan untuk melakukan semua perintah-perintahnya. Aku yakin, kalau di tempat yang tidak kulihat dia juga ikut bekerja keras.
Lalu yang terakhir. Berkat kehadirannya, hidupku yang membosankan jadi berwarna. Hari-hariku yang monotone jadi penuh kejutan. Aku yang tidak punya kemampuan sosial yang tinggi jadi bisa lebih akrab dengan banyak orang. Dan tidak lupa kalau hubunganku dengan kedua kakakku yang jadi lebih kuat juga pada dasarnya adalah akibat dari intervensinya.
Dia adalah gadis yang sudah banyak memberikan nilai plus kedalam kehidupanku. Tidak mungkin aku bisa membencinya.
Sebaliknya malah.
Aku menyukainya.
Tidak.
Aku mencintainya.
“Terima kasih. . . Aprilia. .”
“Ha?. . .terima. . .kasih?”
“Ya, terima kasih sudah peduli padaku! terima kasih sudah percaya padaku! dan terima kasih sudah membantuku selama ini”
Jika dulu aku yang menolongnya dari titik terendahnya, sekarang yang terjadi adalah sebaliknya. Dia menarikku dari jurang keputusasaan dan memberiku alasan untuk sekali lagi bangkit dan berusaha.
“Aprilia. . .”
Aku mendekatinya dan menggenggam kedua telapak tangan kecilnya dengan lalu meletakannya di atas dadaku. Hanya saja, karena postur badannya yang kecil aku harus sedikit menunduk. Membuatku terpaksa harus memposisikan tubuh kami lebih dekat lagi.
“Aku berjanji akan membuatmu bahagia”
“Ha-ha-ha-ha . Harsa. . apa yang baru saja ka-kau katakan?”
Wajahnya berada tepat di depanku kembali memerah, matanya yang sudah besar jadi kelihatan sedikit lebih besar. Lalu, ekspresi malu yang dia pasang di wajahnya benar-benar membuatnya jadi kelihatan semakin manis. Jika aku tidak menahan diri, mungkin aku sudah tergoda untuk mencicipi bibir pink mungilnya.
“Aku bilang aku ingin membuatmu bahagia”
Ketika kau berusaha hanya untuk dirimu sendiri, ada sangat banyak faktor yang akan membuatmu kehilangan motivasi. Sebab apapun yang terjadi, yang menanggung resiko dari apa yang kau lakukan adalah dirimu sendiri. Jadi, jika kau tidak terlalu pada dirimu sendiri maka kaupun akan berhenti berusaha.
Tapi jika kau berusaha demi orang lain, maka kau akan selalu berfikir ‘kalau aku tidak berusaha keras bagaimana nasibnya nanti?’. Sebab yang jadi taruhan bukan sesuatu yang kau miliki sendiri, kau akan berusaha lebih keras untuk menjaganya. Seseorang mungkin bisa merasa terlalu malas untuk bekerja sebab dia tidak terlalu peduli apakah dia bisa makan tiga kali sehari atau tidak. Tapi seorang ayah tidak bisa mengambil keputusan semacam itu begitu saja, sebab kalau dia tidak bisa bekerja yang tidak bisa makan bukan hanya dia tapi anak dan istrinya.
Dengan dasar itulah aku memberikan janjiku untuk Aprilia.
“Harsa. . . apa. kau serius?”
Hal yang Aprilia paling inginkan saat ini adalah agar aku bisa jadi orang yang lebih baik, orang yang bisa bersaing dengannya, dan orang yang bisa berjalan bersamanya. Dengan kata lain, untuk membuatnya bahagia aku hanya perlu jadi rival dan juga partnernya. Sama seperti Faiz dulu.
“Tentu saja! aku akan menjadi pria yang pantas untukmu”
“. . . .”
Selama beberapa Saat, Aprilia tidak mengatakan apapun. Dia sempat melihat ke mataku selama beberapa saat seakan mencoba melihat seberapa seriusnya aku. Tapi tidak lama kemudian dia memalingkan wajahnya dan bilang. .
“Um. . “
Sambil menganggukan kepalanya.
Setelah itu Aprilia mencoba melepaskan genggaman tangan kami, hanya saja tiba-tiba aku ingat sesuatu dan kembali menarik badannya ke arahku.
“Ah. . . sebelum aku lupa, aku juga ingin minta maaf tentang hal lain Aprilia”
“Hal lain? apa?”
“Kau masih marah tentang pelukan yang waktu itu kan? aku minta maaf”
“Pelukan?
“Saat kita pulang dari kebun binatang, kau ingat kan?”
“A. . ah. . . yang itu. . . .”
“Ya, yang it.. . . . Aprilia! kenapa kau?”
Dia langsung melepaskan kedua tangannya dari genggamanku dengan kasar, setelah itu dia mulai menutupi wajahnya sendiri sambil mengatakan sesuatu dengan volume yang tidak bisa kudengar.
“Aprilia?”
“Jangan mengingatkanku tentang hal ituuuuu!!!”
Ketika aku mencoba mengulurkan tanganku padanya, tiba-tiba dia mengarahkan tinjuan tepat ke wajahku. Tapi sebab aku sudah terlatih dalam menghadapi serangan dadakannya, aku bisa dengan mudah menangkap tangannya. Hanya saja dia tidak menyerah dan menggunakan badannya untuk menyerangku. Dia melompat dan mendorongku dengan sekuat tenaga, membuat kami berdua jatuh ke lantai.
“Awawa. . .kurasa kau harus berhenti main kasar seperti itu!”
“Diam! diam! diaaaammm”
Kukira penyakit asal pukulnya sudah sembuh sebab belakangan ini aku jarang menerimanya, tapi sepertinya dia masih perlu terapi.
“Jadi kau mau memaafkan aku atau tidak?”
“Sudah kubilang diam! ahhh. . . . “
Dia kelihatan ingin menutup wajahnya dengan tangannya lagi, tapi sebab keduanya masih kupegang dengan erat untuk mengamankan wajahku sendiri akhirnya dia berakhir menggunakan dadaku sebagai pengganti dan menyembunyikan wajahnya di sana.
Di saat itulah. . .
“Aprilia. . . ayo kita pulang bersa. . .”
Pintu kelas terbuka dan dari baliknya aku bisa melihat kedua kakakku yang melihatku dengan pandangan shock. Dan tentu saja mereka aku juga melihat mereka dengan pandangan shock. Sebab sekarang aku sedang berbaring di lantai dengan seorang gadis berada di atas tubuhku dengan tangan yang kupegang dengan erat dan wajah yang kelihatannya lembab.
“Hanny, kurasa kita sudah mengganggu. . bagaimana kalau kita pulang duluan”
Tidak seperti kak Anna yang memandangku dengan tatapan kosong, kak Hanny kelihatan dengan jelas akan meledak.
“Dasar adik bodoh! mesum! pengkhianaaaattt!”
Aku tidak tahu kenapa di sana ada kata pengkhianat! tapi yang jelas aku harus menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Dengan begitu, kami berempat pulang bersama.
Hanya saja, sebelum keluar dari area sekolah aku menyempatkan diri untuk memeriksa daftar murid yang diterima di tahun ini yang kebetulan masih dipasang di bagian depan gerbang utama sekolah.
Tidak ada banyak SMA yang bisa kau pilih di kota ini. Jadi ada kemungkinan sangat besar kalau murid-murid yang tinggal di sekitar kota ini dan baru lulus akan memutuskan untuk masuk ke sekolah ini seperti aku dan Aprilia.
Karena itulah aku mencoba mencari namanya. Dengan teliti aku memeriksa seluruh nama yang tertempel di atasnya.
Di bagian sepuluh besar tidak ada. Di bagian seratus paling atas tidak ada. Seratus, dua ratus, dua ratus lima puluh dan selanjutnya dan selanjutnya. Aku sudah berkali-kali mencari di papan pertama dan kedua tanpa mendapat hasil macam apapun.
“Coba-coba, di mana namanya?”
Orang itu lebih pintar dari Aprilia, jadi secara teori rengkingnya masuknya tidak akan terlalu jauh dari gadis kecil. Meski misalkan nilainya jatuhpun harusnya namanya tidak akan dipasangkan di angka lebih dari dua puluh.
Hanya saja, aku sudah mencari berkali-kali sampai ke rengking tengah di mana aku berada dan masih belum berhasil menemukannya.
“Apa dia tidak masuk ke sekolah lain?”
Aku melihat ke papan ketiga.
“Dia tidak mungkin di sana kan?”
Aku tidak terlalu berharap, tapi akhirnya aku memutuskan untuk memeriksa papan ketiga.
Dan di sana aku menemukannya.
Nama Faiz Zaidan.
Di bagian paling akhir dalam daftar.
__ADS_1