For Number One

For Number One
8 : Sekarang


__ADS_3

1


Pada akhirnya, kami semua pulang bersama. Meski aku dan April masih agak canggung berinteraksi dengan satu sama lain. Tapi aku bisa merasakan kalau dia tidak lagi menghindariku. Setidaknya tidak dengan jelas. Seperti, ketika aku melihat ke arahnya dia masih memalingkan pandangannya dariku.


Sebab aku masih ingin bersamanya sedikit lebih lama lagi, aku memutuskan untuk mengundangnya makan malam di rumahku. Yang didukung oleh kedua kakakku. Meski dia sempat menolak dengan cukup keras ketika kak Anna bilang jika Ibu kami akan pulang, pada akhirnya April menyerah pada tekanan kami dan memutuskan untuk menerima tawaranku.


Dan benar saja, ketika kami sampai di rumah kami menemukan kalau pintu depan tidak lagi terkunci dan ada sepatu yang terparkir di rak sampingnya. Kemudian, begitu kak Hanny mengucapkan salam pulang. Seorang wanita paruh baya langsung keluar dengan wajah cerah.


“Akhirnya kalian berdua pulang juga, aku benar-benar rindu dengan kalian”


Ibuku langsung berjalan cepat menuju kedua kakakku dan memeluk mereka dengan erat.


“Aku pulang”


“Ya”


Benar-benar sambutan kelas VIP. Meski mungkin aku akan merasa risih kalau Ibuku memelukku seperti kak Hanny dan Anna, tapi setidaknya aku ingin dia bilang ‘selamat datang’ padaku juga.


“Kalau begitu aku ke kamar dulu”


“Dari tadi kau menunggu apa? cepat pergi sana”


Ugh,dari jawabannya tadi aku bisa merasa kalau Ibuku memang benar-benar ingin agar aku segera menyingkir dari hadapannya. Tapi setidaknya aku berharap kalau dia menambahkan sedikit gula pada kata-katanya mengingat di depan kami ada orang lain, AKA April. Yang sekarang melihat ke arahku dengan tatapan yang sepertinya bilang apakah dia baru salah dengar atau tidak.


“Hars . . .”


 


 


“Kak Anna, aku serahkan April pada kalian”


April kelihatan seperti ingin mengatakan sesuatu dan mencoba mengikutiku, tapi aku tidak bisa membiarkannya. Aku sama sekali tidak punya niat untuk mencari tahu apa yang akan Ibuku pikirkan kalau aku berani membawa April ke kamarku di depannya. Oleh sebab itulah aku memutuskan untuk menyerahkan urusan April ke kak Anna dan Hanny.


“ . . . .”


Aku melambaikan tanganku padanya lalu segera naik dan menuju ke kamarku.


“Agh. . . .”


Seperti yang sudah kalian lihat sendiri, hubunganku dengan Ibuku sama sekali tidak bisa dibilang sehat. Kami tidak pernah bertengkar besar, aku tidak melawan dengan serius, lalu Ibuku juga tidak pernah mengucapkan kata-kata terlarang seperti “aku tidak ingin punya anak sepertimu” atau yang sejenisnya.


Tapi, dari tingkahnya saja jelas sekali kalau kehadiranku di dekatnya bukanlah sesuatu yang dia sukai. Dan hal itulah yang pada akhirnya membuatku mulai merasa seperti orang asing di tengah keluargaku sendiri. Di antara semua anggota keluargaku, jujur hanya Ibu saja yang aku tidak tahu harus bagaimana berinteraksi dengannya sekarang.


Aku tidak pernah mendapat info kalau ayahku pernah menikah lagi, yang artinya aku bisa mencoret kemungkinan kalau Ibuku yang sekarang adalah adalah Ibu tiriku. Karakter yang punya asosiasi sangat kuat dengan kegiatan buli-membuli anak.


Kemungkinan kalau aku cuma anak pungut yang mereka asuh karena suatu alasan juga bisa kucoret. Selain tidak ada alasan untuk Ibuku menginginkan anak lagi ketika dia sudah punya dua putri seperti kak Hanny dan Anna, semua foto-foto masa kecil kami juga menunjukan dengan jelas kalau kami bertiga itu punya fitur wajah yang dilihat dari manapun. Sumbernya sama.


Hanya saja, meski aku yakin kalau aku adalah darah dagingnya sendiri, seratus persen dari keluarga ini, dan tidak ingat pernah membangkal sampai ke taraf keterlaluan. Untuk suatu alasan, sejauh apapun aku menguak ingatanku. Sejak dulu, Ibuku sudah bertingkah seperti sekarang padaku..


Bertingkah seakan dia tidak ingin dekat-dekat denganku.


Minus saat aku masih benar-benar kecil tentunya. Aku ingat kalau dia memperlakukanku dengan normal saat aku masih TK dan SD awal.


“Ah. . . .”


Tidak, tidak, tidak.


Jangan berpikir terlalu negatif.


Masalahku dengan kedua kakakku juga berawal dari aku yang berpikir terlalu negatif. Gara-gara hal itu, sebuah kesalahpahaman kecil jadi besar dan membuat masalah yang seharusnya  tidak pernah ada jadi muncul dan berlarut-larut.


Aku yakin kalau aku bisa menyelesaikan perang dingin di antara kami. Kalau aku dan ibuku bisa duduk bersama dengan tenang lalu bicara dari hati ke hati. Sama seperti yang pernah kulakukan dengan kedua kakak perempuanku. Sekali lagi, aku yakin kalau hubungan kami masih belum serusak itu sampai tidak bisa diperbaiki lagi.


Di dunia ini, tidak ada yang namanya mantan anak. Sekali kau jadi anak seseorang, selamanya kau akan jadi anak orang itu. Selain itu, jika aku percaya pada pepatah yang bilang kalau kasih ibu itu tidak ada tanggal kadaluarsanya maka ada kesempatan sangat besar kalau kami bisa jadi pasangan ibu dan anak yang normal lagi.


"Jangan menyerah! Harsa!!"


Dengan pikiran yang coba kubuat positif itu, aku langsung ganti baju dengan buru-buru lalu segera turun untuk menemui ibuku. Bukan untuk mengajaknya bicara empat mata tentunya, tapi untuk membantunya melakukan apapun yang sedang dia kerjakan. Aku akan mencoba menyelipkan pembicaraan-pembicaraan kecil untuk membuat jarak di antara kami sedikit demi sedikit semakin mengecil.


Dan kebetulan sekali, ketika aku sampai di lantai satu dari rumahku. Aku menemukan ibuku sedang kelihatan sibuk di dapur. Sebuah situasi yang sangat ideal bagiku yang ingin memberikan bantuan padanya.


"Apa ada yang bisa kubantu bu?"


"Tidak ada"


 Penolakan yang terang-terangan dan tanpa basa-basi. Dia benar-benar Ibuku. Aku sudah menduga kalau tawaranku untuk memberinya bantuan akan dibalas dengan reaksi negatif. Jadi, meski dadaku sempat merasa sedikit sakit, tapi lukanya tidak cukup untuk memukulku mundur dari hadapannya.


"Ayolah bu, aku sudah biasa melakukan pekerjaan rumah"


Aku yakin kalau aku bisa memberikannya bantuan. Mengingat kalau akulah yang bertanggung jawab atas rumah saat dia sedang berada di luar. Saat-saat yang jumlahnya sama sekali tidak bisa dibilang sedikit. Oleh sebab itulah aku merasa punya hak untuk sedikit merengek layaknya anak kecil yang sedang mengajak orang tuanya main saat mereka sedang sibuk.


"....."


Untuk beberapa saat, Ibu melihat ke arahku dengan tatapan yang lumayan intens. Membuatku berharap kalau dia sedang menimbang-nimbang tawaranku. Hanya saja, seperti sebuah barang yang hilang. Ketika kau sedang membutuhkannya. Kau tidak akan bisa menemukannya. Tidak lama kemudian, dia memasang wajah seseorang yang menahan diri untuk tidak memukul seseorang. Setelah itu, dia bilang….


"Kau bisa diam tidak?"


"......"


Sekarang giliran aku yang tidak bisa bicara.


"Berhenti menggangguku!"


Ok, sekarang kau bisa memujiku karena tidak secara reflex memegang dadaku meski jantungku rasanya seperti baru saja ditusuk pisau.  Dan kau juga bisa mulai memujiku karena sudah mampu bertahan sejauh ini meski aku sudah punya firasat yang sangat kuat kalau sesuatu yang seperti ini akan terjadi kalau aku memaksa menginvasi personal space Ibuku.


"Huff…."


Ibuku menghela nafas panjang kemudian mengalihkan pandangannya dariku.


".......Kalau kau punya banyak waktu luang, bersihkan saja kamarmu"


Dari reaksinya aku bisa menangkap kalau dia merasa kalau dia sudah bicara keterlaluan padaku, sesuatu yang mungkin harus kusyukuri. Untuk sementara aku tidak akan memikirkan kalau dia sama sekali tidak kelihatan ingin minta maaf.


"Aku akan ke kamar dulu"


Dan untuk sementara juga, aku akan pergi dari hadapannya. Aku tidak lagi bisa menipu diriku sendiri, aku tidak lagi bisa mencoba memutar apa yang dia katakan dan tindakan yang dia lakukan ke arah yang positif. Sebab dilihat dari manapun dia tidak ingin aku ada di dekatnya.


Tidak seperti masalahku dengan kedua kakakku, kesimpulanku tidak muncul karena sebuah kesalahpahaman ataupun inferiority complex. Dengan kalimat yang sejelas "Berhenti menggangguku!", aku tidak bisa menginterpretasikan kalimat yang diucapkannya ke maksud lain kecuali "Aku tidak ingin dekat-dekat denganmu!"


"Mmm…"


Di kamarku tentu saja tidak ada yang perlu dibersihkan, tapi tidak mungkin aku bisa mengatakannya dalam suasana yang seperti ini. Oleh sebab itulah aku hanya menurut dan menuju ke kamarku dengan tenang. Kurasa aku akan menghabiskan waktu sampai makan malam dengan mempelajari materi untuk besok.


"Ahh…."


Begitu sampai kamar, aku langsung memeriksa jadwalku besok dan mempersiapkan materi-materinya. Hanya saja, sebelum aku membuka buku di depanku tiba-tiba aku mendengar suara dari arah bawah luar kamarku. Yang kebetulan adalah kamar mandi utama keluargaku.


"April?"


Selain April, aku juga bisa mendengar suara dari kedua kakak perempuanku. Yang artinya mereka bertiga sedang mandi bersama. Sesuatu yang cukup aneh mengingat kalau seperti kamar orang tuaku, kamar kakak-kakku  juga punya kamar mandi di dalamnya.


Kamarku? tentu saja kamarku tidak ada kamar mandi pribadinya. Ukurannya saja hanya tiga kali tiga setengah, satu lemari dan satu kasur saja sudah membuat tempat ini terasa sangat sempit. Setelah ditambah sepasang meja dan kursi, tempat ini mungkin lebih tepat disebut sarang. Jika ada yang bisa disebut sebagai hal positif, hal itu hanyalah fakta kalau kamarku benar-benar hangat dan sangat nyaman untuk ditiduri saat cuaca sedang dingin.


"Hanny, coba lihat ini! yang ini baru namanya "selembut pantat bayi""


"Kau benar kak Anna, kulitnya benar-benar mulus, aku benar-benar iri padamu April"


"Berhenti memegang-megangku di tempat yang aneh!!"


Suara yang kudengar memang tidak bisa dibilang keras, tapi meski begitu suara April, kak Anna dan Hanny bisa dengan jelas mendengar apa yang mereka katakan. Bukan karena pendengaranku sekelas kucing tentunya.


Aku ingat kalau di kamar mandi utama ada sebuah ventilasi besar dengan exhaust fan yang jarang dihidupkan, dan lubang ventilasi itu bagian luarnya tepat berada di tembok beberapa meter di bawah jendela kamarku. Oleh sebab itulah, jika keadaan sedang tenang seperti sekarang aku bisa mendengar suara dari dalamnya.


“Kyah. . . .”


Apa-apaa suara manis itu? sekarang aku benar-benar penasaran dengan apa yang sedang kedua kakak perempuanku lakukan pada April. Atau lebih tepatnya, aku benar-benar penasaran ‘tempat aneh’ milik April mana yang sedang mereka pegang-pegang.


Setelah itu, karena kedua kakak perempuanku sepertinya terus bermain-main dengannya. Suara-suara manis April terus terkirim ke kamarku. Suara seperti ‘mmngggg’, ‘huwaaa’, annghhh’,’awww’ dan macam-macam bunyi lain dari mulutnya yang bisa membuat seseorang bisa berpikir mesum.


Dan ketika aku bilang “seseorang” yang kumaksud itu adalah diriku sendiri.


Maksudku, aku ini remaja laki-laki normal. Kalau kau mendengar suara-suara seperti itu keluar dari mulut seorang gadis cantik, sudah sangat wajar kalau pikiranmu akan dipenuhi pikiran-pikiran mesum. Malah sebaliknya, kalau kau tidak merasakan apapun setelah mendengarnya kau sudah dijamin tidak normal. Selain itu, gadis cantik yang dimaksud adalah seseorang yang jadi tujuan perasaan spesialmu.


“Yep, saatnya berhenti!”


Aku berjalan ke arah jendela, menariknya dengan cepat lalu menguncinya dan bahkan menutup tirainya dengan buru-buru. Kalau aku terus mendengarkan suara-suara dari ruang di bawah aku tidak yakin kalau aku bisa menatap wajah April lagi. Dan jika ada satu hal yang kuyakini akan terjadi kalau aku terus menguping ke kamar mandiri. Hal itu adalah keyakinan kalau sesuatu akan berdiri tegak, dan yang berdiri tegak itu bukanlah keadilan ataupun kedamaian.


“Belajar! belajar! belajar!”


Aku menutup jendela sambil menghipnotis diriku sendiri layaknya Steve Ballmer yang sedang berpresentasi. Dan begitu jendela tertutup, suara dari bawah jadi semakin kecil dan susah didengar. Tapi untuk lebih amannya, aku memutuskan untuk memasukan sepasang earphone ke telingaku dan mendengarkan radio dari ponselku. Setelah itu, aku mengambil buku untuk besok dan mempelajarinya. Mencoba melupakan pikiran-pikiran duniawi seperti seberapa lembut kulit putih mulus April, seberapa indah lekukan-lekukan tubuh kecilnya, atau seberapa menggodanya rambut basahnya yang menempel pada lehernya.


Hal-hal semacam itu.


2


Aku tidak tahu berapa lama aku mengisolasikan pikiranku dari dunia luar, tapi yang jelas. Ketika kembali ke dunia nyata, cahaya dari jendela di sampingku hampir sudah tidak ada. Dengan kata lain, sebentar lagi sudah waktunya makan malam. Sepertinya tubuhku sudah punya alarm alami yang jadi pengingat kalau sampai aku terlambat, Ibuku pasti akan mengomeliku.


“Harsa. . .makan malam hampir siap”


“Ya. . .”


Tunggu dulu, kenapa rasanya ada yang aneh.


Pertama, kamarku kenapa rasanya jadi lebih luas? selain itu meja belajar kecilku, lemari kecilku, dan kursi murahanku juga tidak kelihatan bentuknya. Yang ada sekitarku malah sebuah lemari besar,  sebuah kasur lebar, lalu sebuah lampu meja remang-remang yang berada di atas sebuah meja kecil yang fungsionalitasnya dipertanyakan.


“Apa kau mau makan dulu?”


Kedua, yang membangunkanku adalah April. Yang awalnya mungkin kedengaran tidak aneh mengingat kalau hari ini kami mengundangnya ke rumahku. Hanya saja, ketika aku memperhatikannya dengan lebih teliti, aku mulai merasa ada sesuatu yang benar-benar salah. Entah kenapa dia memancarkan aura dewasa layaknya seorang Ibu, seorang Ibu yang bukan Ibuku tentunya.


“Mau mandi dulu?”


Kemudian yang ketiga, dia punya skill untuk membuat senyum nakal yang kelihatan menggoda. Senyum yang sangat jauh dari image polos dan naifnya.


“Atau. . . kamu mau. . . aku?”


Dan sekarang, di samping kasur besar di depanku. April melebarkan kedua lengannya ke arahku layaknya seorang gadis kecil yang sedang minta dipeluk. Sayangnya wajah yang ditunjukkannya padaku sangat jauh dari sesuatu kata polos. Wajahnya kelihatan seperti sedang memintaku untuk memeluknya lalu menjatuhkannya ke kasur.


Yep, yep, yep.


Ini pasti mimpi.


Ini jelas pasti sebuah mimpi.


Tidak ada penjelasan lain.


“Ahhh. . . “


Aku tidak percaya kalau aku bisa bermimpi seperti ini hanya karena kejadian tadi. Sepertinya aku tidak bisa meremehkan libidu remajaku. Untung saja ini di dalam mimpi, kalau tidak mungkin aku sudah melompat dari jendela karena malu.


Memalukan. . .


“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…………………………………..”


Aku mungkin tidak melompat dari jendela, tapi aku masih menutupi wajahku dengan kedua tanganku meski tidak orang lain. Dan sebab sekali lagi, tidak ada orang lain. Aku juga memutuskan untuk berguling-guling di lantai seperti orang gila sambil berteriak seperti orang gila. Membuat April palsu yang kubuat dengan imajinasiku melihatku dengan wajah bingung.


“Ahhh. . . .Aku capek. . .saatnya bangun”


Tangan kananku kuangkat, lalu kujatuhkan wajahku dengan keras.


Dan dengan begitu, mataku langsung terbuka sambil ditemani sensasi layaknya saat kau terjatuh di dalam mimpi.


“Aku tidak percaya kalau aku bermimpi seperti itu”


“Mimpi apa?”


“Aaaaaa. . . . . jangan mengagetkanku begitu!”


“Reaksimu berlebihan”


Normalnya, tapi sayangnya keadaan pikiranku sedang agak tidak normal.


“Ada apa April?”


“Harusnya aku yang tanya begitu”


“Tidak apa-apa”


Dia berjalan ke arahku dan mulai menunduk mendekatiku yang sedang duduk, memeriksa wajahku sepertinya dengan niat untuk memastikan kalau aku masih waras atau tidak. Tapi setelah beberapa saat, dia memutuskan untuk berhenti dan menghela nafas panjang. Aku tidak tahu kesimpulan macam apa yang dia dapatkan dari pemeriksaannya, tapi aku bersyukur tidak harus diteliti lama-lama. Mengingat mimpiku masih bisa kuingat dengan jelas.


“Makan malam sudah hampir siap. . . apa ku makan dulu”


Tunggu dulu, tunggu dulu, tunggu dulu. Kalau ada yang sedang memutar musik eurobeat,  sekarang kau bisa berhenti sebab aku sudah merasakan deja vu.


“Mau mandi dulu? atau. . .”


Atau.. . atau apa?


"Belajar buat tes minggu depan dulu?"


"Hah....."


Aku menghela nafas lega.


"Reaksimu lain dari yang kubayangkan”


Normalnya mungkin aku akan mengeluh, tapi kali ini aku benar-benar bersyukur mendengar kalimat itu dari mulut April. Sebab hal itu menunjukan kalau April yang ada di depanku adalah dirinya yang sesungguhnya, bukan bayangan yang muncul dari imajinasiku.


“Jangan terlalu dipikirkan. . .”


Setelah meyakinkan diri kalau gadis yang ada di depanku benar-benar asli, akhirnya aku bisa menatap wajahnya secara langsung.


“. . . ada apa?”


Ah . . . sepertinya aku menatap wajahnya terlalu lama. Aku harap wajahku tidak menunjukan kalau aku baru saja mendapatkan mimpi yang mari kita bilang cukup mesum secara tersirat.


“Bukan apa-apa. . . aku hanya merasa kalau kau kelihatan sedikit berbeda”


Yang kemungkinan penyebabnya adalah pakaian yang dikenakannya sekarang. Saat ini pakaian yang dia kenakan adalah sesuatu yang aku ingat sering dipakai oleh kakakku ketika mereka masih kecil. Dan sebab ibuku punya hobi menjadikan kedua putrinya boneka, mereka punya banyak sekali pakaian imut-imut yang benar-benar cocok dengan April yang meski umurnya sama denganku. Keimutannya sama sekali tidak kalah dengan kedua kakakku saat mereka masih SD.


Tentu saja perbedaannya tidak semencolok dengan dirinya yang ada di mimpiku, tapi untuk suatu alasan rasanya auranya agak lain. Penampilan luarnya masih SSS, Smol, Soft, Smooth tapi tidak seperti biasanya dia tidak memancarkan aura panas penuh energi melainkan aura yang dipancarkannya kali ini lebih ke arah hangat dan tenang.


“B-benarkah?”


“Aku tidak bohong, kau benar-benar manis”


Ketika aku melihatnya di sekolah atau di jalan, hal pertama yang muncul di kepalaku adalah pikiran tentang seberapa besarnya keinginanku untuk mencubit pipinya dan memeluk badan lembut kecilnya. Hanya saja kali ini, yang sangat ingin kulakukan ketika melihatnya adalah memegang erat tangannya lalu mengelus-elus kepalanya.


Auranya kali ini seakan memanggilku untuk melindunginya, bukan bermain bersamanya seperti saat di sekolah atau jalan.


".... Terima kasih"


Jika kami adalah kami yang beberapa bulan lalu, aku yakin kalau aku bisa memujinya dengan terang-terangan dan April juga tidak akan dengan jujur berterima kasih padaku. Malah sebaliknya, aku bisa dengan mudah membayangkan dia akan memukulku untuk menyembunyikan rasa malunya. Yang artinya, aku bisa menganggap kalau kami sudah semakin dekat kan?


Iya kan?


Setelah itu, untuk beberapa saat kami berdua tidak mengatakan apa-apa. Atau lebih tepatnya kami tidak bisa mengatakan apa-apa. Memang benar hubungan kami lebih dekat dari sebelumnya, tapi tetap saja melakukan hal yang tidak biasa kami lakukan masih membuat kami merasa malu. aku bahkan bisa melihat seberapa merahnya Wajah April.


Wajah yang membuatnya kelihatan semakin manis.


"Ahem, jadi bagaimana? Kau mau apa dulu?"


April memalingkan wajahnya dariku lalu memaksa topik sebelumnya kembali lagi, membuatku sadar kalau dari aku terlalu fokus memperhatikan penampilannya. Mungkin ini yang namanya klepek-klepek, jika dia tidak mengalihkan topik mungkin aku akan terus melihatnya mencoba membakar penampilannya sekarang ke dalam otakku.


Kenapa aku tidak memotretnya saja? karena ponselku yang sekarang adalah ponsel jaman batu yang layarnya hanya bisa menampilkan warna kuning  warisan dari ayahku. Ponselku yang sebelumnya sudah remuk dan tidak bisa diperbaiki lagi sayangnya.


“Aku akan mandi dulu, aku merasa kalau Ibuku akan memberiku komentar menusuk kalau aku makan dulu”


“. . .Ugh. . .aku bisa membayangkannya”


Sepertinya April sudah bisa menangkap bagaimana hubunganku dengan Ibuku berjalan. Mungkin saja dia bisa membaca suasana rumahku, dia tidak sengaja mendengar interaksiku dengan Ibuku di dapur tadi mengingat suaranya cukup kencang , atau juga bisa kedua kakakku mengobrolkan topik saat mereka berada di dalam kamar mandi.


“Kalau begitu. . .”


Aku mengangkat tanganku dan mempersilahkan April untuk keluar dari kamarku.


“Aku akan menunggumu di sini”


“Kau bilang apa?”


“Aku akan menunggumu di sini”


“Nona April, kau tidak perlu menunggu siapa-siapa! kalian bisa mulai duluan!”


Aku yakin kalau Ibuku pasti juga akan menyuruhmu untuk meninggalkanku sendirian. Selain itu, kalaupun kau memang ingin menungguku. Tolong pergi ke kamar kakakku atau santai saja di ruang tamu seperti tamu normal.


“Tenang saja, aku tidak akan membongkar-bongkar kasurmu atau memeriksa bawah ranjangmu”


“Jangan mengatakan sesuatu yang konotasinya aku menyembunyikan sesuatu”


“Jangan khawatir, aku paham”


“Kau tidak paham! . . .sudahlah! biar kuantar kau ke kamar kakakku”


“Tidak usah repot-repot, mereka bilang mau ngobrol dengan Ibumu! tidak enak kalau aku masuk ke kamar mereka saat tidak ada orangnya”


“Dan kau merasa enak-enak saja di kamarku saat yang punya tidak ada di tempat?”


“. . . Kenapa aku harus merasa tidak enak? kamar ini kan kamarmu”


Ok, aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah mendengar kalimat itu. Apa aku harus marah dia seenaknya saja mendeklarasikan apa yang kupunya juga adalah miliknya. Atau apa aku harus merasa senang sebab dia menganggap kalau di rumah ini aku adalah sekutu terdekatnya dan merasa lebih aman dengan daripada bersama orang lain.


Melihatku yang sedang bingung harus bereaksi seperti apa sepertinya membuat April sadar akan implikasi dari kalimat yang baru saja dikatakannya. Hanya saja, daripada merevisi ucapannya dia malah hanya melihat ke arahku dengan wajah malu.


Eeeeh. . .. apa-apan wajah itu?


Kau ingin aku mendorongmu ke kasur atau apa? sebab sekarang aku benar-benar ingin  mendorongmu ke kasurku.


Plak!


“. . .Harsa?”


“Tidak ada apa-apa!”


Aku hanya berusaha mengusir setan dari ruangan ini. Sepertinya laki-laki dan perempuan berduaan di tempat sepi memang benar-benar mengundang setan. Untuk suatu alasan aku merasa kalaupun aku benar-benar mendorongnya ke kasurku, dengan suasana yang sekarang ini aku merasa kalau April mungkin tidak akan menolak dan membiarkanku melakukan ini dan itu padanya.


Tentu saja semua itu hanya perasaanku saja, tapi bagaimana kalau perasaanku itu akurat dan kami benar-benar melewati batas?. Membayangkan apa yang akan terjadi kalau hal itu sampai terjadi dan kami ketahuan sudah cukup untuk membuatku merinding. Jangan main-main dengan api, aku akan menuruti pepatah itu.


“Aku pergi dulu”


“. . .Um”


Aku mengambil pakaian ganti lalu buru-buru pergi ke turun ke lantai bawah. Aku ingin segera menyiram kepalaku dengan air dingin agar isinya bisa jadi lebih dingin.


“Harsa selalu saja menyusahkan. . .”


Hanya  saja, ketika aku ingin turun tangga tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dari ruang keluarga. Dan suara itu mengatakan sesuatu yang harusnya tidak aku dengar, atau lebih tepatnya sesuatu yang sama sekali tidak ingin kudengar. Suara yang langsung membuat langkah kakiku berhenti.


Tanpa perlu menebak-nebakpun semua orang harusnya sudah tahu kalau yang suaranya baru saja kudengar adalah suara Ibuku.


“Jangan bilang begitu bu!”


“Harsa bukan orang bodoh”


Setelah suara Ibuku, suara dari kak Anna dan kak Hanny berganti mengisi ruangan. Keduanya berusaha membelaku dari opini negatif Ibuku dengan suara yang tidak kalah tekanannya.


Aku yakin kalau interaksi seperti ini pasti sudah sering terjadi, hanya saja baru kali ini aku mendengarnya secara langsung. Sebab sampai beberapa minggu yang lalu, aku selalu berusaha menghindari mereka bertiga takut kalau mereka semua membicarakan keburukanku di belakangku.


“Dia mungkin tidak bodoh, tapi apa yang bisa kubanggakan darinya?”


Ah. . .dadaku! rasanya agak sakit.


Seperti yang sudah kak Hanny katakan. Memang benar aku bukan orang bodoh. Tapi sayangnya, aku juga orang yang otaknya terlalu cemerlang layaknya kedua kakakku. Oleh sebab itulah, apa yang Ibuku katakan tentang aku “tidak bisa dibanggakan” juga adalah benar. Dalam sembilan tahun lima bulan aku bersekolah, satu-satunya prestasi yang mungkin bisa kusebut cukup membanggakan hanyalah ketika aku mendapat ranking lima saat SMP.


Sebuah pencapaian yang sangat kecil dibandingkan apa yang kedua kakakku telah raih dalam waktu yang sama.


“Kalian tahu seberapa bingungnya aku saat ada yang menanyakan tentangnya tidak?”


Kedua orang tuaku bekerja, dan sebab pekerjaan Ibuku mempunyai tuntutan agar dia punya banyak koneksi. Dia sering menggunakan topik tentang anaknya sebagai bahan pembicaraan, dan jika kau ingin membicarakan tentang anakmu. Tentu saja kau akan membicarakan tentang betapa hebatnya mereka.


Jadi, jika topik pembicaraannya tiba-tiba berpindah ke arahku? apa yang harus dia bicarakan?


“Bagaimana kalau Ibu berhenti pamer?”


“Bilang saja kalau Harsa itu tampan atau apa?”


“. . . “


“. . . “


Bukan hanya Ibuku, tapi aku juga ikut kehilangan kata-kata ketika mendengar jawaban dari kedua kakakku.


“Hah. . .Memangnya apa salahnya membanggakan anak sendiri?”


Mengesampingkan jawaban kedua kakakku yang sama sekali tidak bisa digunakan dalam situasi apapun. Aku paham apa yang Ibuku maksud.


Aku sempat mendengar dari Ibuku kalau ada topik yang menyangkut tentangku, dia akan mencoba mengalihkan pembicaraan atau memberikan jawaban ambigu. Dia merasa kalau kredibilitasnya akan berkurang kalau dia komplain tentang anaknya di muka umum sehingga pada akhirnya dia selalu melampiaskan ketidakpuasannya padaku di depan keluarganya sendiri. Termasuk aku tentunya.


Tapi mari kita lupakan fakta itu dan lanjut ke topik selanjutnya.


Sudah hampir jadi hukum alam kalau seorang Ibu itu, mari kita bilang “ember” kalau sudah membicarakan tentang anaknya. Mereka hampir secara insting selalu ingin membicarakan anaknya ketika bertemu seseorang. Jadi menyuruh Ibuku untuk berhenti jadi tukang pamer tentangnya sudah bisa dibilang tidak mungkin.


Selain itu, memang tidak ada salahnya orang tua ingin membangga-banggakan anaknya pada orang lain. Itu adalah hak mereka.


“Dan kau bilang dia itu tampan? kau perlu kaca mata Hanny!”


Aku tidak akan berkomentar tentang poin itu. Tapi...


“Apa wajahku seje. . .”

__ADS_1


Ketika aku ingin memegang wajahku sendiri, tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang memegang tanganku lebih dulu. Dan, kejutan-kejutan, yang memegangnya adalah April.


“Aku tidak peduli kalau kau tidak tampan!”


“. . . . April?”


Begitu aku berbalik dan mencoba menarik tanganku darinya, dia malah melawan dan balik menarik tanganku lebih kencang lalu memeluknya di dadanya sambil memasang wajah agak marah. Membuat lenganku sekarang bersentuhan dengan dadanya, yang meski dari luar kelihatan rata tapi ternyata terasa sangat lembut.


Stop! stop! Berhenti di situ Harsa!


“Dari mana kau mulai mendengarnya?”


“Dari bagian kau itu menyusahkan”


“Dari awal huh. . .”


“Sekedar catatan, aku tidak menguping”


“. . .Aku paham”


Sama seperti aku yang bisa mendengar suara April dari kamar mandi. April juga sepertinya bisa dengan mudah mendengar suara Ibuku yang sama sekali tidak coba dia kecilkan volumenya dari lantai dua dengan mudah.


“Di saat seperti ini, harusnya kau pura-pura tidak dengar”


“Justru di saat-saat seperti ini aku tidak bisa diam saja”


“April. . . .”


Sebab aku sudah terbiasa mendengar komplainnya entah itu yang di depan wajahku atau yang di belakang punggungku. Meski aku merasa agak sakit tapi aku masih bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang ‘sudah biasa’. Membuatku mampu hanya berpikir ‘ahh, mulai lagi’. Tapi sepertinya April yang baru pertama kali menghadapi situasi ini tidak punya toleransi terhadap omongan Ibuku. Melihat dari wajah marahnya yang coba dia tahan, jika dia tidak bertemu denganku mungkin dia akan mencoba menemui Ibuku dan mengakhiri pembicaraan tadi secara paksa dengan suatu cara.


“Jangan khawatir April. . “


Jika yang mendengar gerutuan Ibuku tadi adalah diriku yang beberapa minggu yang lalu, aku yakin kalau saat ini aku sudah jatuh dalam pusaran perasaan negatif. Dan sejujurnya, sekarang aku masih belum bebas dari jebakan pusaran itu sepenuhnya.


Tapi sayangnya, saat ini perasaan tidak ingin kalah, tidak ingin menyerah, dan ingin berubah yang kumiliki jauh lebih besar daripada rasa malu, lemah, dan menyerah yang kumiliki.


Kenapa? karena sekarang aku tahu!.....Tidak!


Karena sekarang aku sadar ketika aku bertingkah seperti pecundang akan ada orang yang merasa sedih. Kak Anna, kak Hanny, dan juga. . . April. Mereka tidak menyukaiku yang memasang wajah kalah dan menyerah.


Karena itulah, aku ingin berubah, aku ingin jadi lebih kuat, dan aku tidak ingin menyerah lagi lalu merasa jadi alien di tengah keluargaku sendiri.


“Serahkan saja padaku April!”


Sesuatu seperti ini adalah masalah internal sebuah keluarga, aku tidak ingin membuat April ikut campur di dalamnya. Selain itu, aku juga tidak ingin menunjukan kalau kalau aku adalah orang yang tidak bisa diandalkan. Seperti yang kak Anna bilang, meski berbeda kami masih saudara. Jadi harusnya, sama seperti mereka aku juga punya sesuatu yang bisa dibanggakan di dalam diriku. Dan misalkan aku tidak punyapun..


Aku hanya perlu membuatnya sendiri.


“Maaf, aku tadi ketiduran”


Untuk sementara, aku akan menganggap kalau aku tidak mendengar apapun yang baru saja Ibuku katakan sebelumnya. Saat ini aku memang tidak punya apa-apa, saat ini aku memang tidak bisa melakukan apa-apa, dan saat ini aku juga hanya bisa bergantung pada semua orang yang ada di sekitarku. Tapi kalimat kuncinya adalah ‘saat ini’ dan aku sama sekali tidak punya rencana untuk terus bergantung pada kata itu.


“Cepat mandi sana”


“Ya. .”


April kelihatan ingin ikut turun, tapi dia menahan diri dan memutuskan untuk kembali ke kamarku.


Dengan begitu, kali ini aku benar-benar berhasil ke kamar mandi dan mendapat air dingin untuk menyiram kepalaku yang panas. Kali bukan karena pikiran duniawi yang April pancing untuk keluar, tapi kata-kata dari mulut orang lain yang membuat emosiku meluap-meluap.


3


Sebab aku tidak ingin membuat semua orang menunggu terlalu lama, aku hanya berada di kamar mandi selama kira-kira sepuluh menit. Dan begitu selesai, aku langsung kembali naik dan mengajak April turun untuk makan malam bersama kami.


Ketika kami berdua turun, aku menemukan Ibuku sudah duduk dengan dihimpit oleh kedua kakakku. Posisi yang aku yakin pasti bukan hasil dari kebetulan belaka. Kemungkinan keduanya melakukannya karena paham jika entah aku dan Ibuku, tidak ingin duduk di dekat satu sama lain.


April berjalan duluan dan bilang…


"Permisi.."


"Ayo ke sini gadis kecil, jangan malu-malu!"


"Gadis ke…."


Mari kesampingkan reaksi terkejut April saat dipanggil gadis kecil oleh Ibuku.


"April…"


Aku menarik kursi di seberang Ibuku sebagai tanda untuk memintanya duduk di tempat yang kusiapkan. Aku tidak ingin jadi satu-satunya orang yang duduk berhadapan dengan Ibuku, oleh sebab itulah aku ingin agar April duduk di samping.


"Terima kasih…"


Untungnya April paham dengan isyaratku dan langsung duduk di kursi yang kusiapkan tanpa bertanya apapun. Setelah memastikan dia sudah nyaman di tempatnya, aku mengikutinya dan duduk di sampingnya.


"Ngomong-ngomong siapa namamu gadis kecil?"


"Namaku April"


"Namamu cantik sekali"


"Te-terima kasih"


April, cuma perasaanku saja apa kau kedengaran agak grogi? ke mana keberanian tanpa batasmu jalan-jalan? Kalau kau sudah segrogi hanya karena bicara dengan Ibuku. Bagaimana kau bisa membelaku di depannya?


Sepertinya keputusanku untuk tidak membiarkannya turun dan menghadapi Ibuku adalah sesuatu yang benar.


"Dan umurku lima belas tahun, jadi aku bukan anak kecil"


"Ahh… Maafkan aku"


Sepertinya dari tadi Ibuku mengira kalau April adalah benar-benar seorang gadis kecil, meski padahal dia melihatnya memakai seragam yang sama denganku. Kalau sekedar dilihat dari posturnya, dia memang kelihatan benar-benar seperti gadis kecil, alias anak perempuan kecil dan bukannya seorang gadis yang ukurannya kebetulan kecil.


"Ti-tidak apa-apa"


"Jadi kau temannya Anna dan Hanny ya?"


Sebenarnya daripada teman mereka berdua lebih cocok disebut sebagai senior atau kakak kelas. Dan jika ada seseorang yang lebih cocok untuk disebut sebagai teman April, orang itu adalah. Tapi tentu saja Ibu tidak akan membawa-bawa namaku di dalam obrolannya. Meski yang jadi teman bicaranya adalah secara literal teman sekelasku.


Dan benar saja, dengan senyum lebar Ibuku mulai bicara ngobrol dengan April seakan ingin menunjukan skill sosialisasinya.


Dengan nada lembut, dia mulai membawa topik ringan yang bahkan remaja seumuran kami bisa paham. Dia bahkan sesekali menyisipkan lelucon di dalamnya supaya April tidak merasa bosan. Jika April tidak pernah mendengar pembicaraannya dengan kedua kakakku. Aku yakin kalau dia akan punya pendapat jika Ibuku adalah seorang Ibu yang ideal.


Yang mungkin saja tidak jauh dari kenyataan kalau keberadaanku dari kehidupannya dibuang dari perhitungan.


"Aku kenal mereka dari Harsa, kami sekelas"


"Heee…"


Ibuku melihat ke arahku untuk sesaat, tapi dia langsung memalingkan wajahnya lagi dan langsung bilang..


"Sekarang kau masih kelas satu ya?"


Untuk menjauhkan pembicaraan dariku.


"Um...ya"


"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa bertemu mereka?"


Tanpa kau perlu tanyakanpun harusnya kau sudah paham kalau 'mereka' yang Ibuku maksud adalah 'mereka berdua' dengan kata lain. Kedua putrinya saja.


"Aku ikut dewan perwakilan siswa"


"Pantas saja"


Ibuku kembali tersenyum,. Dan dengan senyum itu, pembicaraannya dengan April di acara makan kamipun berlanjut. Kali ini dengan topik seputar April seperti prestasinya, nilai-nilainya, rencana masa depannya, dan topik-topik sejenisnya yang sebenarnya aku juga agak lumayan tertarik.


Bagaimana denganku? tentu saja aku hanya jadi rumput yang bergoyang. Selain Ibu selalu saja membawa topik yang tidak bisa kumasuki, dia juga selalu saja melempari tatapan tajam yang seakan bilang "jangan ikut-ikutan" ke arahku. Membuatku cuma jadi hiasan kursi selama bermenit-menit di ruangan itu.


Hanya saja, ketika aku sudah hampir pasrah untuk berevolusi jadi tembok. Tiba-tiba sebuah kesempatan datang.


"Apa ada pelajaran yang kau merasa lemah di dalamnya April?"


"Sebenarnya aku agak lemah dalam bahasa Inggris"


Meski secara keseluruhan nilai-nilai April berada jauh di atasku, tapi ada saat di mana aku berhasil mengalahkannya dalam ulangan. Dan pelajaran untuk ulangan itu adalah bahasa Inggris.


Sembilan dari sepuluh, aku yakin kalau kemenanganku hanyalah hasil dari keberuntungan. Mengingat saat ulangan berlangsung, di minggu sebelumnya dia sempat membolos untuk menemui kakak laki-lakinya. Dan hal itu membuatnya tidak tahu tentang trik-trik yang tidak ada di buku yang diajarkan oleh guru kami. Tapi tetap saja, saat itu aku menang darinya. Dan di saat itu juga, dia bahkan sempat tanya ini dan itu padaku.


April diam untuk sesaat, lalu kemudian..


"...."


Dia melihat ke arahku.


"Kadang aku juga tanya ke Harsa"


Terima kasih atas Kesempatannya April!


"Benar, meski aku lebih sering diajari olehnya tapi kadang aku juga mengajarinya balik"


Ibuku melirikku dan menunjukan wajah tidak percaya, dan beberapa detik kemudian. Wajahnya berubah jadi wajah curiga sebelum dia kembali melihat ke arah April dan bilang…


"Apa kau yakin dia tidak hanya mencontekmu?"


"Tentu saja tid…."


"Kyaa…"


Prankkk.


Aku pernah mendengar kalau 'apa yang cepat datang biasanya cepat pergi juga'. Seperti Kesempatanku untuk ikut dalam pembicaraan Ibuku dan April. Hal itu datang begitu saja dan lari begitu saja, bahkan tanpa pamit.


"Maafkan aku!"


Ketika aku mencoba membela diri dari tuduhan Ibuku, kedua tanganku bergerak mengikuti ucapanku. Dan sayangnya, ketika aku melebar kan tanganku aku tidak melihat sekitar. Tanganku menabrak tangan April yang sedang mengambil gelas besar penuh air. Lalu karena kaget, dia melepaskannya, membuatnya jatuh ke atas mangkuk sayur yang kebetulan isinya sudah hampir habis. Kemudian, sebab bertanya sudah ringan, mangkuk itu langsung terbalik dan melemparkan isinya padaku sebelum akhirnya jatuh bersama gelas tadi dan pecah dalam waktu bersamaan.


RIP.


Bukan hanya pembicaraan kami yang berakhir, tapi makan malam ini juga sudah berakhir. Setidaknya bagiku.


"Apa yang kau lakukan!!!?"


Aku sudah sering mendengar suara tinggi Ibuku, tapi kali ini suaranya jauh lebih tinggi dari suara-suaranya omelannya yang ada di ingatanku. Dan kalau aku dan kedua kakakku saja sampai terkejut, tentu saja April yang baru pertama kalinya melihat amarah Ibuku akan jauh lebih terkejut lagi.


"...."


Matanya terbelalak dan secara reflex dia memundurkan badannya dari arah Ibuku.


"Maafkan aku April, aku tidak marah padamu"


Dia mencoba berbicara lembut, tapi kemarahannya masih bisa dengan mudah kami tangkap. Setelah memastikan April tidak salah paham, Ibuku langsung menatapku dengan tajam.


"Harsa!!"


"Maafkan aku! Aku akan membereskannya"


"Cepat kalau begitu!!"


"Aku akan membantu, tadi aku yang menjatuhkan…"


"Jangan repot-re.. !!"


"Tidak usa… !!"


Aku tidak menyangka kalau aku dan ibuku punya pikiran yang sama bahkan sampai kami bicara di saat yang sama. Aku melihat ke arah Ibuku dan seperti yang sudah kuduga, begitu mata kami bertemu dia langsung mengalihkan pandangannya dariku.


Aku menghela nafas lalu mengalihkan pandanganku pada April yang masih berada di kursinya.


"Biar aku saja yang mengurusnya, kau kan tamu, selain itu aku tidak mau kau terluka"


"... Baiklah"


Dia kelihatan ingin beradu argumen denganku, tapi dia menelan kata-katanya sebab dia tahu kalau melakukannya hanya akan membuat suasana jadi semakin tidak enak.


"Serahkan padaku"


Tanpa membuang waktu, aku mulai menyapu lantai di bawah meja makan untuk mengumpulkan sisa-sisa pecahan gelas dan mangkuk yang tadi kujatuhkan. Setelah itu aku mulai mengepelnya dengan teliti. Selama aku melakukan pekerjaan itu, tentu saja April terus melihat ke arahku dengan wajah kasihan. Ekspresi yang sama sekali tidak ingin kulihat dari wajahnya.


Selama aku membersihkan tempat itu juga, Ibuku kembali mencoba meneruskan obrolannya dengan April. Dan April, mungkin merasa tidak enak, terus meladeni obrolan Ibuku meski dengan reaksi yang jelas hanya setengah hati. Kak Anna sendiri hanya bisa memijat keningnya sambil mengehla nafas panjang, sedangkan kak Hanny terus melihatku dengan wajah khawatir.


Makan malam bersama yang tujuannya adalah untuk membuat kami bisa lebih bersantai berakhir dengan suasana yang lumayan kurang mengenakan. Setidaknya untuk aku, April, dan kedua kakakku. Aku tidak tahu apakah Ibuku tidak sadar atau sengaja tidak mempedulikan atmosfer di antara kami tapi bisa dengan jelas dilihat kalau dia jadi satu-satunya orang yang menikmati kunjungan April secara penuh.


Tidak lama setelah makan malam kami selesai di jam tujuh, April pamit kepada semua orang dan aku mengikutinya untuk memastikan keamanannya. Atau lebih tepatnya, kakakku memutuskan kalau mereka perlu untuk sementara. Memisahkanku dengan Ibuku. Sebuah tindakan yang sejujurnya, aku sangat hargai.


Awalnya Ibuku ingin mengantarkan April sendiri ke tempatnya, tapi kedua kakakku bilang kalau akan lebih aman jika yang mengantarnya itu laki-laki. Selain itu, mereka juga bilang ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Ibuku. Oleh sebab itulah, dengan wajah yang penuh keraguan dan ketidakpercayaan. Ibuku mengizinkanku untuk mengantar April pulang.


Selama beberapa menit, kami berdua tidak mengatakan apa-apa pada satu sama lain. Mengingat apa yang baru saja terjadi, aku sama sekali tidak perlu heran. Jika aku dalam posisinya, aku juga tidak akan tahu apa yang harus kukatakan padanya. Tapi sebab seperti yang kalian tahu, April adalah seseorang yang punya sangat banyak energi. Begitu kami sudah setengah jalan ke tempatnya. Tiba-tiba dia lari duluan dan berhenti di depanku lalu berteriak. .


“Maafkan aku!"


Sambil menunduk dalam.


Sudah tidak mungkin aku bisa tahu isi pikiran April, tapi meski begitu setelah bersamanya selama beberapa bulan. Aku paham bagaimana dia melihatku secara umum.


Mungkin selama ini dia hanya melihatku sebagai seorang pemalas yang tidak punya motivasi untuk melakukan apapun terutama belajar dan mendapatkan nilai bagus. Dia juga mungkin melihatku sebagai seseorang yang menyia-nyiakan waktunya dengan tidak melakukan apapun meski ada banyak hal yang bisa kulakukan. Lalu yang terakhir, dia juga mungkin melihatku sebagai seseorang yang tidak bisa maju kalau tidak ditendang dulu.


Semua pandangannya tentangku tentu saja pada dasarnya akurat, oleh sebab itu dia tidak perlu meminta maaf atas hal itu. Hanya saja, selama ini dia tidak tahu alasan macam apa yang membuatku menjadi seseorang yang sudah kusebutkan tadi.


Dan begitu dia tahu, dia mulai merasa bersalah atas semua perbuatan yang sudah dia lakukan selama ini.


Secara logis aku tahu, tapi ketika aku mendengarnya bilang…


“Maafkan aku! Karena sudah sok tahu"


Kemudian..


"Maafkan aku selalu bilang kalau itu bodoh!"


Diikut..


"Maafkan aku sudah menambah bebanmu!"


Hatiku terasa sakit.


“Berhenti!!”


"Tapi…"


"Kalau kau tidak berhenti….aku merasa kalau aku akan membencimu.."


Selama ini, orang yang percaya kalau aku bisa mencapai sesuatu, kalau punya kemampuan untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Serta orang yang terus memberiku dorongan meski bahkan aku tidak bisa mempercayai diriku sendiri adalah April. Mungkin caranya memang agak kurang ajar, tapi semua tindakannya itu punya efek yang sangat dalam bagiku.


Sampai aku bertemu dengannya, semua orang kecuali kedua kakakku selalu saja bilang agar aku menyerah saja. Kalau aku tidak punya bakat, dan aku akan lebih baik kalau tidak mencoba sama sekali.


Tapi April.


Dia tidak pernah berhenti menantangku. Dia tidak pernah memberiku kesempatan untuk menyerah, dia tidak pernah memberiku kesempatan untuk jadi cengeng merajuki kebodohanku, dan dia tidak memberiku kesempatan untuk berhenti berusaha lagi dan lagi dan lagi.


Bagiku. Fakta kalau dia tidak pernah berhenti menantangku yang jelas-jelas punya skill jauh di bawahnya adalah bukti bahwa dia percaya padaku. Percaya kalau aku tidak akan menyerah untuk berusaha, tidak akan berhenti belajar dari kesalahannya, serta aku punya kemampuan untuk suatu hari bisa berada sejajar dengannya.


"Tolong berhenti menatapku dengan tatapan kasihan seperti itu!"


Sebab tatapanmu mengasihanimu itu jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata menusuk Ibuku. Tatapan mengasihani dari seorang gadis yang kau sukai dan juga seseorang yang kau anggap sebagai support mentalmu benar-benar terasa pahit. Sangat pahit sampai rasanya aku akan membencinya juga dia terus mencekokan hal itu padaku.


Bukan hanya itu, membayangkan kepercayaannya padaku berubah menjadi hanya sebuah rasa kasihan juga sangat menakutkan.


"Maafkan a…. Baiklah.."


Dia ingin kembali minta maaf, tapi begitu dia menatap wajahku yang aku yakin pasti kliihatan menyedihkan. Dia langsung berhenti bicara dan menelan permintaan maafnya.


"Terima kasih"


Untuk kesekian kalinya, kami berhenti bicara dengan satu sama lain. April sepertinya ingin mengatakan banyak hal, tapi dia tahu kalau mengatakan hal yang salah hanya akan membuat suasana di antara kita jadi semakin buruk.


Wajahnya saat ini benar-benar penuh dengan ekspresi rumit.


"Ahh…."


Kalau dia menunjukkan wajah yang seperti itu tentu saja aku tidak akan tahan membiarkannya saja. Tiba-tiba aku jadi merasa bersalah, oleh sebab itulah aku meraih tangannya dan bilang….


"Maafkan reaksi berlebihan ku tadi, aku baik-baik saja"


"Kenapa malah kau yang minta maaf, yang salah itu a…"


"Karena sekarang akulah yang sedang sok tahu, membuatmu repot dan menambah beban pikiranmu"


"Harsa. .."


Aku merasa April mengeratkan genggaman tangannya di telapak tanganku. Dan tanpa ragu, aku langsung membalas balik meremas tangannya yang kecil, lembut dan hangat dengan lebih erat.


Sepertinya sore hari ini tidak sepenuhnya buruk. Gara-gara omelan Ibuku, sekarang aku bisa bergandengan tangan dengan April tanpa grogi, canggung ataupun malu dan yang paling penting. Natural. Untuk suatu alasan, aku bisa melakukan hal yang normalnya hanya bisa dilakukan orang yang punya hubungan lebih dari teman dengan naturalnya.


"Aku tidak ingin tidak sopan, tapi aku tidak menyangka kalau di dunia nyata ada seorang Ibu yang seperti Ibumu"


"Ahaha… Sama!"


Kata ayahku dan juga hasil observasiku, semua orang tua pasti pernah sampai di saat di mana mereka perlu membanding-bandingkan anak mereka dengan orang lain. Bedannya hanya pada tarafnya saja. Hanya saja sepertinya hanya Ibuku yang secara terang-terangan membagi anaknya menjadi dua kategori. Anak emas dan anak tidak berguna. Tindakan yang normalnya hanya akan dilakukan oleh Ibu tiri jahat di dalam cerita-cerita.


"Karena itulah kau harus bersyukur April"


Bagaimana seorang anak dibesarkan orang tuanya bisa dilihat dari bagaimana tingkah mereka. Meski ada pengecualian di sana-sini, tapi biasanya tindakan orang tua di rumah bisa dilihat dari tindakan anaknya di luar. Dilihat dari bagaimana dia memandang kakak laki-lakinya, aku yakin kalau keluarganya tidak punya obsesi berlebihan tentang siapa yang lebih baik dari siapa.


"Ya, sekarang aku sadar seberapa beruntungnya aku"


Aku tersenyum ke arahnya sambil menahan hasrat kuat yang menyuruhku untuk mengelus kepalanya.


"Kalau aku ada di posisimu, aku tidak yakin akan kuat menghadapinya"


"Kau akan baik-baik saja, sebab kau itu April"


Dan April yang kukenal itu tidak lemah.


"Aku tidak sekuat yang kau kira, aku hanya pintar menyembunyikan rasa khawatirku"


"Begitu ya."


April kelihatan tidak sedang berbohong untuk membuatku merasa lebih baik, dengan kata lain dia mengatakan hal itu dari dalam hatinya. Meski begitu, aku tidak merasa kecewa dengan pengakuan itu. Sebab aku paham, hal itu adalah sesuatu yang natural.


Di dunia ini tidak ada yang sempurna, meski dia selalu kelihatan terang dan bercahaya sampai membuatku silau. Pasti ada saat di mana emosi dan perasaan negatif menyelimuti hati dan pikirannya. Aku malah bersyukur dia memberitahukan kelemahannya sendiri padaku. Dengan begitu, ketika dia butuh bantuan aku tidak perlu ragu untuk mendatanginya dan mengulurkan tangan.


Ok, saatnya beli parfum bersiap-siap kalau suatu saat dia membutuhkan dadaku sebagai sandaran.


"Tapi aku masih percaya kalau kau ada di posisiku, kau akan baik-baik saja"


"Sudah kubilang kalau aku…"


"Kalau Ibuku punya anak sepertimu aku yakin kalau dia malah akan tobat!"


"Ha? Aku agak tidak paham. "


"Maksudku, bagaimana mungkin ada orang yang tega menyakiti atau membuat gadis seimut ini menangis?"


Kau bisa bilang kalau aku punya bisa yang keterlaluan tentang pendapatku terhadap April. Tapi biar kuberitahukan pada kalian semua, entah itu secara subjektif ataupun objektif April itu seratus persen imut-imut. Dan sudah jadi hukum alam kalau para orang tua itu lemah terhadap keimutan anak kecil.


Termasuk Ibuku.


Orang seperti Ibukun punya kemampuan untuk bertingkah manis saat aku masih kecil dan imut-imut. Aku masih ingat seberapa memanjakannya dia pada kami dulu. Aku bisa dengan mudah membayangkan Ibuku memanjakan April tanpa batas.


Dan bagi April yang kemungkinan akan terus kelihatan imut-imut sampai bertahun-tahun lagi. Aku yakin kalau nantinya dia akan memanjakan Hanny bahkan sampai lulus SMA.


Sama sekali bukan tidak mungkin kalau April jadi anaknya, dia akan mulai berpikir kalau nilai itu tidak ada gunanya asal anaknya bisa merasa bahagia. Maksudku, aku saja yang bukan orang tua merasa kalau membuat April menangis itu dosa besar.


"......."


"Ada apa April?"


"Sejak kapan kau berubah jadi orang yang seperti ini?"


"Orang yang seperti apa?"


Sekali lagi, dia melihat ke arahku dengan wajah yang dibuat marah. Tapi sebab rasa malunya sepertinya lebih besar, yang berhasil dia tunjukan wajah manis manis merah yang sepertinya menggodaku untuk mencubit pipi mulusnya yang kelihatan sangat lembut.


"Orang yang tidak tahu malu…"


Aku paham kalau pendekatan blak-blakanku terhadapnya benar-benar tidak tahu malu. Tapi meski aku takut, aku ragu, dan aku grogi aku tidak punya niat untuk mundur dan jadi pasif dalam mengambil perhatiannya. Aku tidak ingin jadi pemuda bodoh yang terus-terusan ragu, kehilangan kesempatan, dan diserang kesalahpahaman berturut-turut sampai akhir cerita layaknya protagonis romcom seperti Yuiga, Raku, Masamune atau teman-temannya.


Aku tidak ingin menunggu sampai 12 volume sebelum bisa menyatakan perasaanku pada April. Oleh sebab itu akan terus menyerang dan bergerak cepat.


Selain itu, fakta kalau sampai saat ini dia belum memberiku tatapan jijik, mencoba menjauhiku , ataupun dengan jelas menunjukan ketidaksukaannya terhadap tingkah tidak tahu maluku ini memberi tanda kalau dia punya resepsi yang positif terhadap usahaku.


"Kau kira siapa penyebabnya?"


Mata April sempat membelalak, kemudian ada sedikit air mata yang keluar dari kelopaknya. Membuatku sedikit khawatir kalau aku sudah berlebihan menggodanya, tapi kemudian wajahnya jadi sangat merah dan menunjukan ekspresi bukan sedih atau marah melainkan ekspresi gabungan antara malu dan bahagia.


Setidaknya berdasarkan interpretasiku tentunya.


"......"


Reaksi itu, kau ingin membunuhku atau apa? Sebab setelah melihatnya, rasanya jantungku seperti akan melompat dari dadaku.


Selama beberapa saat kami hanya menatap satu sama lain, tapi akhirnya aku memutuskan untuk memecah mood di antara kami.


"Kita sudah sampai"


Terserah kau mau bilang kalau aku penakut atau apa karena sudah menyia-nyiakan kesempatan ini. Tapi lebih dari ini aku takut kalau aku akan pulang diantar ambulans. Kemudian, aku tidak yakin kalau melakukan gerakan ofensif besar-besaran setelah kejadian di rumahku adalah waktu yang tepat.


Untuk sementara, aku hanya akan melakukan guerilla attack.


"Kalau begitu sampai di sini dulu"

__ADS_1


Gerbang ke tempat tinggalnya sudah tepat berada di depan kami. Oleh sebab itulah aku mencoba melepaskan genggaman tangan kami dan menjauh darinya. Tapi sebelum tangan kami benar-benar berpisah, tiba-tiba dia malah menarikku dan bilang..


"Bagaimana kalau kau mampir dulu…"


Nona April, apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan? Jangan bilang kalau kau ingin meneruskan yang tadi sore?


"...... "


Sekarang giliran aku yang kehilangan kata-kata dan merasa kalau wajahku tiba-tiba rasanya panas.


"... Bu-bukan itu maksudku!"


Sepertinya dia sadar kalau dia baru saja mengatakan sesuatu yang bisa kuartikan ke arah aneh begitu melihat ekspresi wajahku.


"Tadi badanmu tersiram sup kan? Dan kau belum sempat membersihkan badamu lagi kan?"


"Umm… Ya"


"Kalau mau,.... Kau bisa mandi dulu di tempatku! Baju kakakku juga masih ada yang ditinggal di sini jadi kau tidak perlu khawatir masalah ganti… Bagaimana?"


"Hmmm.. Baiklah"


Sejujurnya aku juga masih belum ingin pulang. Saat ini aku yakin kalau kedua kakakku sedang punya debat dengan Ibuku dan aku juga yakin kalau kepala Ibuku masih belum dingin. Pulang terlalu cepat kemungkinan besar hanya akan membuatku harus menahan atmosfir tidak enak yang masih ada di rumah.


Dengan begitu, untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku masuk ke tempat seorang perempuan yang bukan saudaraku.


4


Berdasarkan ceritanya yang bilang kalau kakak laki-lakinya bisa bersekolah sampai ke luar negri. Aku punya anggapan kalau keluarganya adalah keluarga yang lebih dari sekedar berkecukupan. Sebab meski dia dapat beasiswapun, pasti ada keperluan lain yang harus mereka tanggung sendiri. Dan untuk memenuhi keperluan-keperluan itu pasti mereka perlu mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak.


Tapi ketika aku masuk ke tempat tinggal April, yang lebih tepat disebut sebuah kamar mengingat ruangannya hanya terdiri dari tiga bagian. Kamar yang juga punya fungsi sebagai ruang tamu dan ruang makan, sebuah dapur lalu kamar mandi yang kesemuanya sama sekali tidak bisa dibilang luas. Aku mulai meragukan tebakanku tentang latar belakang keluarganya.


Tentu saja meski kubilang kecil, tempat ini masih jauh lebih besar dari kamarku.


Dan sebab dia menata isinya dengan rapi, ruangan ini malah terasa lebih besar dari kelihatannya.


Sebuah lemari plastik yang mungkin berisi pakaiannya berada di pojok kanan ruangan, di sampingnya sebuah lemari plastik dan juga meja kecil terlihat penuh dengan buku dan lampu belajar. Kemudian, di tembok di atasnya aku bisa melihat ada sebuah plang besi yang punya fungsi ganda sebagai tempat untuk menggantung pakaiannya dan juga tempat di mana sebuah tirai berwarna biru terpasang.


"Tempatmu.. Kelihatan hangat"


Tanpa sengaja aku melihat ke sudut lain dari ruangan April, dan di sana aku menemukan sebuah kasur lantai serta sebuah selimut yang dilipat dengan rapi. Pemandangan itu untuk suatu alasan membuatku membayangkan seberapa hangatnya tidur di sana saat sedang ada hujan di luar.


"...Mmm…"


Srrrttt.. .


April menarik tirai di dekatnya dan menutup pandanganku dari area tidurnya.


"Jangan jelalatan!"


Jangan melihatku dengan tatapan curiga begitu. Aku sama sekali tidak membayangkan seberapa hangatnya kalau aku tidur di sana sambil memeluk tubuh kecilmu yang kelihatan hangat dan lembut itu di bawah selimut saat ada hujan deras di luar. Percaya padaku! Aku tidak bohong. Aku hanya terkejut melihat koleksi foto keluargamu ya sangat banyak.


Ok, revisi. Mungkin aku sedikit memikirkannya. Memikirkan seberapa enaknya tidur sambil memelukmu.


"Bawa ini, taruh pakaian kotormu di keranjang nanti! Aku akan mencucinya nanti"


"Kau tidak perlu repot-re…"


"Taruh pakaian kotormu di keranjang!"


"Siap!"


Aku mengambil handuk yang diberikan April lalu segera masuk ke kamar mandinya. Setelah itu, sesuai perintahnya aku meletakan pakaian kotorku di sebuah keranjang di dalamnya.


Tapi begitu aku melihat isi keranjangnya...


"... April.. Kau"


Harusnya menyingkirkan barang-barangmu dulu kalau mau menyuruhku menjelajahi tempatmu. Sebab kalau tidak, aku rasa aku akan menemukan terlalu banyak benda yang  harusnya tidak kulihat.


"Hahh…"


Anggap kau tidak pernah melihat apa-apa. Kau tidak pernah melihat kain segi tiga berwarna putih bermotif bunga ataupun benda ataupun benda berbentuk mangkuk kecil atau yang sejenisnya. Ya, kau tidak melihat apa-apa.


Setelah mengalihkan perhatian dari jebakan godaan duniawi di keranjang April. Aku langsung masuk ke bagian lain dari kamar mandi April dan menemukan ada sebuah shower di dalamnya. Sebuah benda yang benar-benar aku butuhkan sekarang.


Layaknya orang yang sedang bertapa, aku menutup mataku dan berdiri dengan tenang di bawah shower yang sengaja kubuat mengalir deras. Dengan itu aku berharap untuk memurnikan pikiranmu yang aku rasa kalau dibiarkan saja akan mulai memikirkan cara untuk mencari-cari alasan agar aku bisa mengambil jebakan di keranjang April tadi dan menggunakannya untuk sesuatu hal.


Setelah beberapa menit melakukan semedi dengan penuh penghayatan, akhirnya aku bisa merasakan kalau libido ku mulai tenang. Membuatku akhirnya bisa mandi dengan tenang.  Kemudian, dalam sepuluh menit akupun selesai mandi.


"Dan, datang lagi jebakan lain"


Hanya untuk dihadapkan pada cobaan lain.


Ketika aku mengambil Handuk yang diberikan oleh April, aku menyadari kalau kalau handuk yang sedang kupegang bukanlah sebuah handuk biasa. tapi handuk spesial. Kenapa spesial?


Ukuran dari handuk itu sangat kecil layaknya handuk untuk anak-anak, permukaannya sangat lembut layaknya handuk untuk kulit sensitif anak-anak, dan yang terakhir handuk ini ada label bertuliskan 'April' yang mungkin dia taruh untuk memisahkannya dari handuk anggota keluarganya yang lain.


Dengan kata lain sudah dipastikan kalau handuk ini adalah handuk pribadi April. Yang tentu saja artinya handuk ini sudah menyentuh kulit April entah berapa kali.


"Aaaaa… Harsa! Kuatkan dirimu!!!!!"


Aku sudah berkali-kali berhasil mengalahkan libidoku, tidak ada alasan aku tidak bisa melakukannya lagi. Berjuanglah Harsa, akal sehatmu pasti bisa menang! Kau ini manusia yang beradab. Bukan hewan yang hanya hidup berdasarkan insting.


Selama beberapa menit, aku terus menggeliat seperti ulat sambil memegang Kepalaku. Di dalam Kepalaku terasa seperti ada dua makhluk yang saling bertarung memperebutkan kekuasaan atas otakku. Cahaya dan kegelapan.


Dan pemenang dari pertarungan sengit itu adalah?


"Mnngggg. . ."


Setelah berkali-kali kalah, sepertinya sisi gelap akhirnya menang juga. Sebab sekarang aku menemukan kalau handuk April sedang berada di atas wajahku dan hidungku sedang berusaha menghisap wangi dari benda di atas mukaku ini.


"....."


Dan sembari menghirup wangi handuknya, pikiranku yang tidak mau ketinggalan mulai membayangkan bagaimana handuk ini menyentuh tubuh April.


Pertama, kain ini akan menggesek kulit di lehernya. Setelah itu perlahan dia akan turun ke punggung kecilnya, menuju ke pinggang langsing April sebelum akhirnya jatuh di pantatnbulatnya dan akhirnya mengusap paha mulusnya.


"Ahh…."


Handuk yang diberikan padaku tentu saja bukan handuk yang baru saja gadis itu pakai, melainkan handuk bersih yang dia baru ambil dari lemari atau yang sejenisnya. Jadi jelas aku tidak bisa mencium bau tubuh April dan hanya bisa mencium bau detergent dan pewangi pakaian, tapi yang namanya imajinasi itu punya kemampuan yang bisa menembus ruang dan waktu.


Apalagi imajinasi seorang remaja laki-laki.


Kreaak… Brag…


"...."


Aku tidak bisa melihat ke luar, tapi sebab di tempat ini hanya ada dua orang aku yakin kalau yang baru saja masuk dan mengambil sesuatu dari balik tembok adalah April. Mungkin dia baru saja membawakan baju gantiku. Dan kedua suara itu akhirnya membuatku sadar….


"Apa yang baru saja kulakukan?"


Tidak, aku tahu apa yang baru saja aku lakukan. Aku baru saja melakukan tindakan yang kalau sampai ketahuan bisa saja dilaporkan ke polisi dan aku tidak akan bisa membela diri.


"Tempat ini terlalu berbahaya"


Aku perlu buru-buru keluar dari kamar mandi dan segera pulang. Sebab semakin lama aku di sini, aku merasa kalau aku jadi semakin dekat untuk menjadi kriminal. Atau malah, aku sudah jadi kriminal?


Dengan tekad baru itu, aku segera mengerikan tubuhku dan mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Oleh April di luar kamar mandi. Aku sedikit merasa agak risih dengan pakaian yang diberikan nya sebab ukurannya agak terlalu besar dan gayanya terlalu formal, tapi sebagai diberi belas kasihan aku tidak bisa komplain.


"Ok, sekarang aku sudah siap saatnya…"


Begitu selesai merapikan penampilan, aku langsung mencoba keluar dari kamar mandi. Tapi setelah hanya membuka pintunya selebar beberapa senti aku langsung menutupnya lagi.


Dengan pelan.


Kenapa? Karena di luar aku menemukan April yang yang sedang memegang bajuku dan menempelkannya di kepalanya. Atau lebih tepatnya di wajahnya sama seperti yang kulakukan di kamar mandi.


Dalam situasi normal aku akan menggunakannya sebagai bahan untuk menggodanya mengingat wajah malunya yang benar-benar imut. Tapi kali ini aku memutuskan untuk pura-pura tidak melihat apapun. Sebab kali ini, aku juga punya pidana yang sama. Kalau aku menggodanya aku merasa kalau aku juga akan ikutan malu sendiri.


Aku berbaik ke pintu di belakang setelah itu aku membukanya dan menutupnya dengan suara keras lalu bilang "aku selesai" dengan volume yang tidak kalah kencangnya agar April sadar kalau aku akan keluar. Memberinya waktu untuk menyelesaikan apapun urusan yang sedang dia lakukan dengan pakaianku.


Setelah itu aku membuka pintu di depanku dan masuk ke ruang utama tempat tinggal April untuk menemukan kalau gadis itu sedang pura-pura membereskan lokasi di mana dia sedang duduk.


"Jadi sekarang apa?"


"A-apa, apanya?"


"Rencananya.."


"Bagaimana kalau kita…"


Criuuttt….


Perutku berbunyi.


"Masak sesuatu dulu?"


"Ugh… aku setuju"


Memang benar kalau aku sudah makan tadi, tapi sebab aku terlalu berkonsentrasi pada pembicaraan April dan Ibuku serta di akhirnya aku hanya sibuk membersihkan lantai dan meja. Pada akhirnya aku hanya makan sedikit. Siangnyapun aku hanya makan roti karena terus memikirkan April, membuatku ketinggalan jam istirahat. Jadi sangat wajar kalau sekarang aku masih cukup lapar.


Bagaimana kalau makan di rumah saja?


No thank you!


Aku punya firasat jika aku makan di rumah yang kenyang bukan perutku tapi kepala atau dadaku. Dia sudah membentaku tadi, tapi sebab April ada di sana dia tidak bisa mengomeliku dengan bebas. Aku yakin kalau omelan Ibuku sedang menunggumu di rumah.


Selain itu aku juga penasaran dengan masakan April.


"Kalau begitu tunggu saja di sini, aku akan membuatkanmu sesuatu"


"Aku akan membantu"


"Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri"


"Aku memaksa"


Melihat April mengenakan apron dan memasak di dapur sama sekali bukan hal yang kedengaran membosankan. Tapi kalau aku hanya diam dan melihatnya dari belakang selama bermenit-menit, aku tidak yakin kalau aku bisa menahan diri untuk tidak berpikir yang aneh-aneh. Mengingat baru beberapa menit yang lalu saja aku sudah gagal menahan diri dan berbuat khilaf.


Apalagi sekarang ketika April sudah berganti baju dan mengenakan pakaian bebas. Sebuah kaos bolong yang membuat lekuk tubuhnya kelihatan, dan sebuah celana pendek yang memberikan empasis pada paha dan pantatnya yang kelihatan sangat lembut untuk diremas-remas.


"Tamu dilarang rep.."


"Jadi aku menyusahkanmu juga, seperti Ibuku…."


"Ka…… Kau benar-benar curang"


Kalau kau tidak bisa melawan secara langsung, pilihan yang ku miliki hanyalah melawannya secara tidak langsung atau main curang. Kali ini aku memanfaatkan kenyataan kalau dia merasa tidak enak sudah mendengar pembicaraan Ibuku denganku di dapur.


"Sigh… ke sini"


"Terima kasih nona April"


Apa yang kami berdua coba buat bukanlah sesuatu yang rumit, hanya sebuah nasi goreng. Oleh sebab itulah, meski aku bilang membantu yang kulakukan hanyalah memotong sayuran dan mencuci panci penanak nasinya setelah isinya dia keluarkan. Setelah itu aku hanya ikut berdiri dan menunggu April mengaduk-aduk nasi di wajan.


"April.."


"Apa?"


"Kenapa kau diam saja"


"Mau ngobrol apa memangnya?"


Aku tidak tahu, tapi biasanya bukankah di saat seperti seseorang harusnya mengobrolkan sesuatu? untuk suatu alasan April tidak bicara apa-apa sejak kami mulai memasak.


"April…"


"Tolong diam saja"


Aku ingin ngobrol sebab aku tidak mau diam saja seperti ini. Sebab kalau kami terus diam aku merasa kalau aku akan tergoda untuk memeluknya dari belakang. Maksudku, sejak mulai masak aku tiba-tiba sadar kalau dari tadi kami bertingkah seperti pengantin baru. Dan hal itu mengundang keinginan-keinginan aneh seperti keinginan untuk mengecup puncak kepalamu, meraih pinggangmu atau yang sudah kubilang tadi. Memelukmu dari belakang.


"April?"


Aku menundukan badanku untuk mencoba melihat wajahnya.


"Sudah jangan berisik"


Yang warnanya sudah sangat merah.


Sepertinya yang punya pikiran kalau kami bertingkah seperti pengantin baru bukan hanya aku saja.


"O-ok, aku akan menyiapkan peralatan makannya"


"Terima kasih"


Dengan begitu aku kabur karena malu dan menyiapkan piring, sendok, dan menuangkan air untuk kami berdua. Lalu, tidak lama kemudian April selesai membuat nasi gorengnya dan kamipun duduk bersama di lantai di depan meja kecilnya.


Ya, duduk bersama. Bukannya di depanku, dia malah duduk di samping setelah meletakan ponselnya di depan kami.


"Aku tidak tahu kalau kau suka tontonan semalam ini?"


"Kau tidak menyukainya?"


"Aku menyukainya, hanya saja aku mengira kau lebih suka sesuatu yang ada aksinya"


"Kurasa mood nya tidak cocok untuk menonton K*metsu no Yaiba atau A**ack on Titan"


"Aku tidak bisa menyangkalnya"


Makan malam dalam suasana tenang memang kurasa lebih cocok ditemani oleh tontonan tentang gadis-gadis SMA yang punya hobi berkemah musim dingin. Melihat karakter di layar ponselnya makan bersama sambil memasang wajah bahagia untuk suatu alasan membuat nasi goreng yang kami santap tiba-tiba bertambah enak.


"Rasanya benar-benar damai"


Tidak perlu memikirkan masalah yang rumit, bisa bersama dengan orang yang sukai (dalam banyak arti), dan bisa makan makanan enak dengan tenang. Mungkin seperti ini rasanya berkemah musim dingin dunianya Shim*rin.


"Harsa…"


"Apa?"


"Kalau kau mau… Aku tidak keberatan kalau kau tinggal di sini?"


"Eh? Tinggal di sini?..."


April.. Apa kau?


Masih waras?


Kalau ditanya mau atau tidak mau aku untuk tinggal di sini, aku akan bilang kalau aku mau. Tapi dunia ini tidak seperti di anime, kalau aku tinggal berdua bersamanya begitu saja aku yakin kalau ada banyak masalah yang akan timbul.


"Bu-bukan itu maksudku! Kalau kau mau tinggal di komplek ini, aku akan membantumu!!!"


Ahh, tentu saja itu yang dia maksud. Sepertinya otakku sudah terlalu panas sampai-sampai isi pikirannya selalu saja melenceng ke arah yang aneh-aneh.


"Selain itu, kalau kau tinggal di dekat sini aku bisa mengawasimu dengan lebih mudah!!!"


"Aku paham, aku paham, kau tidak perlu berteriak seperti itu"


"Aku tidak berteriak!!"


"Kau sedang berteriak sekarang."


Dengan begitu, kami terus ngobrol sambil makan sampai ending dari tontonan kami mulai diputar. Lalu, sambil mendengarkannya kami membereskan tempat makan kami dan mencuci semua prabotannya sebelum aku akhirnya memutuskan untuk pulang.


Setengah jam kemudian, aku sudah sampai di taman di dekat rumahku. Dan di salah satu ayunannya, aku melihat seseorang yang familiar.


"Jangan bilang kau sengaja menunggumu di sini kak Hanny"


"Aku baru sampai, kau tidak usah khawatir"


Dia tersenyum kepadaku.


"Jadi kau benar-benar menungguku huh"


Untung saja dia belum menungguku lama. Kalau tidak, aku akan merasa sangat bersalah sebab alasan kenapa aku pulang sampai selama ini adalah karena aku bersenang-senang di tempat April.


"Mau pulang sekarang kak Hanny?"


"Bagaimana kalau kita ngobrol dulu? "


Kak Hanny menepuk kursi dari ayunan yang ada di samping kirinya. Setelah itu, menurutinya akupun duduk di sampingnya.


"Rasanya dulu ayunan Ini tidak sekecil ini"


Begitu duduk di kursinya, aku merasa agak tejepit oleh tali di kedua sisinya. Padahal aku ingat dulu kalau kami tiga bersaudara bisa duduk di atasnya bersama meski dengan berdesak-desakan.


"Ahaha… Bukan ayunannya yang kecil, kau yang jadi besar"


Tentu saja aku tahu, aku sengaja mengatakan hal bodoh itu sebab dari tadi kak Hanny memasang wajah serius. Dan sepertinya, lawakan tidak original ku sudah cukup untuk membuka mood nya jadi sedikit lebih cerah.


"Jadi kak Hanny mau ngobrol apa?"


"....."


Jika dia ingin ngobrol hal biasa dia sudah melakukannya bahkan tanpa banyak basa-basi. Kenyataan kalau dia masih belum bicara sampai sekarang menunjukan jika topik yang dibawanya lumayan sulit dia katakan.


"Huff…."


Kak Hanny menghela nafas dalam lalu memegang telapak tanganku.


"Kalau kau ingin tinggal di luar, aku dan kak Anna akan membantu"


"Tinggal di luar huh…"


Jadi hal itu yang mereka bicarakan dengan Ibuku huh.


"Um…."


Sejujurnya, tinggal di luar kedengaran bagus di telinga ku. Aku tidak perlu menghadapi Ibuku, aku bisa melakukan apapun yang kumau, dan aku tidak perlu mengurus orang lain kecuali diriku sendiri. Dan jika tempat di mana aku tinggal dekat dengan April, aku bahkan bisa dengan mudah belajar atau bermain dengan gadis mungil itu.


Dilihat dari manapun sepertinya tinggal di luar rumah orang tuaku hanya punya nilai positif.


Tapi….


"Kak Hanny"


"Apa?"


"Apa kak Hanny tidak ingin tinggal bersamaku lagi?"


"Tentu saja tidak!! Tapi aku tidak kau terus-terusan diperlakukan seperti tadi"


Kak Hanny menggenggam tanganku dengan lebih erat seakan ingin menunjukan perasaannya menggunakan kekuatannya.


"Syukurlah kalau begitu"


"Tapi… "


Aku paham apa yang kak Hanny khawatirkan, dan aku paham kalau mereka berdua mencoba menolongku. Tapi di tempat April tadi aku menyadari sesuatu.


Gadis itu kesepian.


Dari mana aku tahu? Aku tidak tahu, tapi setidaknya aku bisa menebak-nebak.


Pertama, dia selalu menyibukkan diri di luar rumah. Entah itu kegiatan dewan perwakilan siswa, ekstra kulikuler, atau mengawasimu dia selalu selalu lebih fokus untuk menghabiskan waktunya di luar rumahnya.


Bagi seseorang seperti April bisa dibilang hiperaktif duduk diam tidak melakukan apa-apa mungkin terasa seperti sebuah siksaan tersendiri.


Kedua, bagi April yang sangat dicintai dan juga mencintai keluarganya, Mungkin pulang ke rumah yang kosong membuatnya sadar kalau di kota ini. Dia itu sendirian.


Sudah sangat lumrah kalau orang-orang seumuranku dan April sedang ada dalam masa-masa di mana mereka tidak ingin diganggu oleh orang tuanya. Tapi, saat aku di sana aku menemukan kalau dia memanjang foto ayah dan Ibunya, kakak laki-lakinya, dan foto keluarga mereka di banyak tempat.


Gadis itu selalu mengingat keluarganya. Keluarga yang tidak bisa dia lihat sesuka hatinya.


Lalu yang ketiga, ketika aku ke sana dia kelihatan benar-benar senang.


Meski di kanan, kiri, atas dan bawahnya ada banyak penghuni lain. Tapi mereka semua pada dasarnya adalah orang lain, orang asing, orang yang tidak dia kenal baik, orang-orang yang paling jauh hanya bisa dia anggap sebagai kenalan.


Tentu saja aku ingin menganggap kalau dia merasa senang karena aku secara spesifik yang datang ke tempatnya. Tapi ketika kami berdua bersama menonton Y*rucamp, aku merasa kalau pun yang datang ke tempatnya adalah temannya yang lain dia juga akan merasa senang.


Lalu yang terakhir, dia kelihatan sangat serius ketika mengajak untuk pindah ke sana. Jika aku mengiyakan tawarannya aku yakin kalau dia akan berusaha sekeras mungkin untuk membantu. Sekali lagi, aku ingin sekali berpikir kalau aku ini spesial. Tapi firasatku bilang jika yang ada temannya yang lain ingin pindah ke sana dia pasti aku melakukan hal yang sama.


Dari semua hal itu, aku menyimpulkan kalau pada dasarnya dia merasa kesepian.


"Kak Hanny, seperti yang kau bilang akulah yang jadi besar dan bukan ayunan ini yang mengecil"


"Tentu saja, kau ini bica..."


"Dan tentu saja aku, kau dan kak Anna tidak akan berhenti di sini saja"


Kami akan terus bertumbuh, kami akan terus jadi dewasa, dan ketika saatnya tiba. Kami semua akan berpisah dan menjalani hidup masing-masing.


"Harsa…"


Kali ini aku balik menarik tangannya ke arahku dan menggenggamnya dengan lebih erat..


"Karena itulah, selagi masih punya waktu aku ingin bersama kalian! Bersama keluaragaku!"


Waktu kami bersama itu terbatas, oleh sebab itulah aku ingin memanfaatkan waktu sempit ini untuk terus bersama keluargaku. Bersama kak Hanny, bersama kak Anna, bersama Ayahku, dan bahkan bersama Ibuku.


Setelah mendengar jawaban, Kak Hanny berdiri dan menghadap dengan wajah yang serius.


" Aku juga sama! Aku juga ingin bersama kalian! Aku tidak ingin kau pergi dari rumah"


Ralat, wajah serius yang dihiasi sedikit air mata.


"Terima kasih kak Hanny"


"Umm… Kau tidak perlu memikirkannya, sebab!... Aku adalah kakakmu"

__ADS_1


Kak Hanny tersenyum cerah padaku lalu, menggunakan tangannya yang bebas dia memasang pose trademark dari kakak seorang pegawai kafe yang namanya C*coa. Membuatku hanya bisa balik tersenyum padanya. Setelah itu, kami berdua pulang sambil terus bergandengan tangan seperti saat kami masih kecil.


__ADS_2