
5
“Kak Harsa, sekarang giliranmu menurutiku.”
Setelah pulang sekolah, Lily langsung menariku ke halte bis dan mengajakku pergi ke sebuah kebun binatang yang tidak jauh dari sekolah. Alasannya mencoba menghadang kedua kakakku dan akhirnya mengajakku ke sini adalah agar dia bisa diberikan ijin untuk masuk sebab anak di bawah umur harus ditemani oleh orang dewasa.
Dan begitu kami masuk, dia langsung berlari meninggalkanku bahkan sebelum aku sempat bertanya ke mana dia ingin pergi.
Aku sempat berpikir untuk pergi ke tempat pusat anak hilang untuk memanggilnya. Tapi aku membatalkan niatku karena ingat anak seperti apa Lily itu. Aku tidak yakin dia akan mendatangiku hanya karena dipanggil. Dari reaksinya yang buru-buru sepertinya dia punya kepentingan super urgent di tempat ini. Lalu, kalau dia datang pasti dia akan banyak protes karena sudah mempermalukannya.
Pilihan yang kupunya hanyalah menyisir tempat ini dengan seksama dan berharap bisa bertemu dengannya sebelum tempat ini tutup.
“Eh? . . .”
Hanya saja rencana itu tiba-tiba hilang tertiup angin dari kepalaku begitu aku mulai berjalan dari tempatku berada.
Tidak jauh dari tempatku berada, aku menemukan seorang gadis kecil yang kelihatannya sedang menunggu seseorang. Hanya saja, dia bukan Lily. Sebab tidak sepertinya, gadis yang kulihat sekarang bukan anak kecil meski memang tubuhnya kecil.
Dengan buru-buru aku langsung menghampirinya.
“Lisa!!.”
“Ha. . .Harasa, kenapa kau ada di sini?.”
“Itu pertanyaan bodoh! Harusnya aku yang bertanya begitu! kau tidak akan bilang kalau kau bolos karena ingin ke kebun binatang kan?.”
“Ahaha. . . . . sesekali membolos itu tidak apa-apa.”
“ . . . . .”
“Ke-kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu?. .”
“Tatapan macam apa?.”
“Tatapan seperti orang yang ingin memukul seseorang.”
“Oooo . . . sepertinya kau punya bakat jadi peramal sebab. .”
“Awww. . “
Aku benar-benar memukulnya. Tentu saja tidak dengan pukulan sekelas pukulan yang biasa dia lancarkan padaku. Hanya saja, pukulanku masih cukup serius untuk membuat kepalanya yang keras itu merasa sakit. Sebab kali ini aku serius marah padanya.
“Sekarang aku merasa bodoh karena sudah agak sedikit khawatir padamu.”
“Kau khawatir. . padaku?.”
“Tentu saja. . “
Dia tinggal sendirian, kalau ada sesuatu yang terjadi padanya bisa saja tidak ada yang sadar dan membiarkannya begitu saja. Kasus di mana seseorang mati di kamarnya dan tidak ada yang tahu sampai ada bau menyengat yang keluar itu bukan sesuatu yang aneh.
Setelah selesai memberikannya pelajaran, aku mundur dan mencoba melihat penampilannya. Dan di saat yang sama diapun mendongakan kepalanya dan melihatku dengan tatapan yang lain. Dia tidak kelihatan marah meski sudah kuberi elusan kepala yang lumayan menyakitkan. Lalu dengan suara lirih dia bilang.
“Maafkan aku.”
“. . . .”
Dia melihatku sambil memasang muka bersalah dan kelopak mata yang kelihatan lembab. Membuat rasa marahku yang beberapa detik yang lalu meledak-ledak tiba-tiba menghilang begitu saja.
Apa-apaan makhluk ini? ekspresimu itu curang sekali. Kalau kau menunjukan wajah seperti itu bagaimana mungkin aku bisa terus marah?. Sepertinya laki-laki itu memang diciptakan untuk jadi idiot di depan wanita.
“Sudahlah, jadi kenapa kau ada di sini?.”
Tidak mungkin Lisa membolos begitu saja. Jika dia melakukannya pasti ada alasan yang cukup serius sampai dia mau meliburkan diri dari sekolah saat dia harusnya berangkat. Maksudku, dia adalah orang yang tujuan utamanya sekarang jadi nomor satu dalam masalah akademik. Jadi harusnya belajar adalah prioritas utamanya.
“Sebenarnya aku berjanji akan bertemu seseorang di sini.”
“Se-seseorang. .?.”
Mataku langsung membelalak.
Dia membolos sekolah hanya karena ingin bertemu seseorang? siapa? siapa orang yang bisa membuat bisa membelokan prioritas gadis mini ini?.
“Ka-kau ingin bertemu siapa?.”
“Bu-bukan siapa-siapa?.”
Apanya yang bukan siapa-siapa?. Kalau dia memang bukan siap-siapa kenapa kau repot-repot datang ke sini dan meninggalkan pelajaran sekolah yang biasanya kau kejar-kejar itu?. Dan, apa-apaan wajah malu-malumu itu saat menjawabku?.
“ . . .”
Jangan bilang. . .
Laki-laki?.
Orang ini bahkan lebih penting dari rangking yang dia jadikan target. Dan orang ini bahkan mampu membuat Lisa merasa malu hanya dengan memikirkannya saja. Dilihat dari manapun ini tanda-tanda kalau dia sedang menunggu orang yang spesial. Dan orang spesial itu kemungkinan besar adalah laki-laki.
“Harsa? . . .”
Tatapan bersalahnya berubah jadi tatapan bingung begitu aku terlarut dalam pikiranku sendiri dan jadi bengong.
“Apa Lisa?.”
“Kau yang ada apa? kenapa kau tiba-tiba diam? dan wajahmu entah kenapa kelihatan pucat.”
Lisa mengangkat tangan kanannya dan mencoba meletakannya di keningku, tapi aku langsung menepisnya dengan lembut dan menyingkirkan tangannya.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya sedikit lapar. .”
“Apa kau tidak sarapan lagi?. . .”
“Ahaha. . . mungkin. . .”
“Mungkin? kalau begitu bagaimana. . “
“Tidak apa-apa! aku baik-baik saja.”
“Kau yakin?.”
Aku selalu berpikir kalau kata Lisa dan Romantisme itu sama sekali tidak ada hubungannya. Aku pikir, gadis super serius ini tidak mungkin punya waktu untuk memikirkan masalah cinta-cintaan. Dan aku juga berpikir, tidak mungkin ada laki-laki lain yang bisa punya hubungan dekat dengan gadis ini mengingat kepribadiannya yang lumayan keras.
Tapi sepertinya aku salah besar.
Hanya karena aku tidak bisa melihat sesuatu, bukan berarti sesuatu itu tidak ada.
Lisa memang kecil, tapi yang kecil dari gadis itu hanyalah badannya. Secara umur dia tidak berbeda denganku, dan gadis seumurannya normal tertarik dengan masalah semacam cinta. Selain itu, tidak sepertiku yang lingkaran pertemanannya sangat kecil Lisa punya jaringan kenalan yang jauh lebih luas, sebab skill komunikasinya jauh di atasku.
Dengan hal itu, bisa saja dia punya banyak teman dekat lain di luar sana yang bahkan tidak kukenal wajahnya. Dan tentu saja, bisa saja ada orang yang jauh lebih dekat dengannya daripada aku yang baru berinteraksi dengannya selama beberapa bulan.
Mengesampingkan kepribadiannya. Penampilannya sebagai seorang gadis tidak diragukan lagi kelas top. Bukan hal aneh kalau ada satu atau dua laki-laki yang tertarik padanya dan mendekatinya dengan tujuan romantis.
“Um, daripada itu di mana laki-laki itu?.”
“Ba-bagaimana kau tahu kalau yang ingin kutemui itu laki-laki?.”
Ahh. . . jadi tebakanku benar. Tapi entah kenapa aku tidak merasa senang.
“Intuisi laki-laki.”
Atau lebih tepatnya, kesimpulan tambahan hasil dari observasiku terhadap penampilannya. Lisa yang sudah cantik dari sananya memang selalu kelihatan manis. Tapi kali ini penampilannya beberapa kali lipat lebih cantik dari biasanya.
Dia mengenakan pakaian super girly yang memberikan emphasis pada keimutannya. Selain itu desain dan warna dari pakaiannya juga memberikan aura musim panas yang membuat gadis itu jadi kelihatan hangat dan lembut untuk disentuh.
Jujur saja saat aku pertama kali melihatnya tadi, rasanya aku langsung ingin melompat dan memeluknya. Hanya saja aku bisa menahan diri karena takut akan dihajar olehnya.
Selain pakaian dia juga mengenakan sepatu perempuan yang kelihatannya rumit untuk dipakai, aksesoris berwarna cerah yang menghiasi leher, telinga, dan rambutnya lalu make up tipis yang samar-samar bisa kulihat berada di wajahnya.
Dilihat dari manapun penampilannya persis seperti seorang gadis yang akan berkencan.
“Be-begitu ya.”
“Um . . .”
Setelah itu kami berdua diam.
“Ah. . .aku baru ingat, aku sedang mencari seseorang. . jadi sepertinya aku harus pergi duluan. .”
“Eh ? . .”
Jangan memasang wajah bingung seperti itu. Setelah tahu kalau kau akan bertemu seorang laki-laki, tentu saja aku hanya bisa mundur dan meninggalkanmu. Sebab, jika aku adalah laki-laki itu, tidak mungkin aku bisa merasa senang saat gadis yang kau berikan janji malah menunggumu bersama laki-laki lain. Oleh sebab itulah, aku harus pergi.
“Tu-tunggu dulu. .”
Dia meraih tanganku untuk menahanku, tapi sama seperti sebelumnya. Aku menepis tangannya dengan halus dan menyingkirkannya. Membuatku merasa sangat bersalah sebab begitu aku melakukannya, dia menunjukan wajah seperti seorang anak yang baru saja diusir keluar oleh orang tuanya.
“Kau berjanji untuk bertemu dengannya sendirian kan, tidak enak kalau aku mengganggu acara kalian.”
Seperti baru saja menyadari sesuatu, dia membelalakan matanya. Setelah itu dia melepaskanku dan mundur beberapa langkah.
“Ka-kau benar juga, maaf.”
“Tidak apa-apa, kalau begitu aku pergi dulu.”
“Um. .”
Dia mengangguk, dan akupun pergi diantar oleh lambaian tangannya yang lemah.
Begitu aku berpisah dari Lisa, aku langsung kembali menyisir lokasi kandang dari binatang-binatang yang ada di tempat ini satu-persatu sambil menanyakan keberadaan Lily pada orang-orang yang kutemui.
Tempat ini tidak ramai mengingat sekarang bukan hari libur, tapi tempat ini besar dan desainnya sengaja dibuat rumit supaya orang-orang yang mengunjunginya mampir ke sana-ke mari. Oleh sebab itulah, baru setelah hampir satu jam berkeliaran ke mana-mana. Akhirnya ku bisa menemukan Lily.
Yang sedang melihat panda dengan wajah murung.
“Apa-apaan muka murungmu itu? kukira kau kesini ingin bersenang-senang?.”
Aku ingin protes karena dia sudah meninggalkanku seenaknya dan membuatku khawatir, tapi kurasa suasananya sedang tidak tepat. Sekali lagi, aku sadar kalau makhluk yang bernama perempuan itu punya cheat dari lahir yang membuat mereka sulit mendapat omelan.
“Maaf sudah membuat khawatir.”
Jadi kau paham kalau aku khawatir. Sesuatu yang tidak mengejutkan mengingat dia itu tidak bodoh. Hanya saja, dalam situasi normal dia tidak akan mengakui kesalahannya dan memutuskan untuk tidak mempedulikannya.
“Ada apa?.”
Dari perilakunya sudah jelas kalau dia sedang punya masalah. Dan masalah itu ada hubungannya dengan tujuannya datang ke sini. Tujuan yang hasilnya adalah kegagalan.
“Tidak apa-apa, aku hanya sedang merasa seperti orang idiot.”
Lily yang penuh kepercayaan diri, pikiran licik dan energi tidak ada lagi. Yang ada di depanku sekarang hanyalah seorang gadis kecil lemah yang kelihatannya bisa menangis kapan saja.
“Kau bukan idiot, buktinya aku ada disini.”
Kalau dia idiot tidak mungkin dia bisa menipuku untuk menuruti permintaanya.
“Kak Harsa saja yang bodoh.”
“Setidaknya aku tidak cukup bodoh untuk pura-pura baik-baik saja sambil menunjukan mata yang masih basah.”
“Kak Harsa. . .”
“Jadi, bagaimana cerita penuhnya. .”
“Kemarin. . . .”
Kemarin, kedua orang tuanya bilang kalau mereka bisa menyisihkan waktu untuk Lily, Dan bagi Lily, waktu yang bisa mereka sisihkan itu adalah sesuatu yang sangat berharga, Mengingat mereka berdua sama-sama bekerja dan normalnya tidak bisa di rumah kecuali saat mereka benar-benar perlu tidur.
Mereka berjanji akan mengajak Lily untuk bermain dan bahkan bilang akan membawanya kemanapun yang dia mau. Tapi Lily yang tahu kalau kedua orang tuanya cuma budak korporat yang bisa dituntut untuk melakukan sesuatu kapan saja oleh bosnya. Dia memutuskan untuk tidak terlalu menuntut dan hanya mengajak keduanya untuk pergi ke tempat ini.
Sebuah kebun binatang yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sebab pada dasarnya yang dia cari bukanlah seberapa bagus tempat dia bisa bermain, tapi bersama siapa dia pergi ke sana.
Hanya saja, di pagi harinya ketika dia ingin bersiap untuk pergi. Dia menemukan kalau kedua orang tuanya sudah bersiap untuk pergi. Bukan untuk menemaninya, tapi ke tempat kerja. Tiba-tiba mereka dipanggil untuk melakukan sesuatu dan terpaksa untuk ke tempat kerja.
Dengan harapan yang tidak terlalu besar, Lily menanyakan kelanjutan rencana mereka. Dan tidak seperti dia duga, mereka bilang kalau mereka masih bisa menepatinya dan berjanji akan pulang lebih awal.
“Kalau begitu kenapa kau menghadangku?.”
“Akan repot kalau mereka harus pulang dulu untuk menjemputku kan? jadi aku memutuskan berangkat duluan supaya mereka bisa langsung ke saja dari tempat kerjanya.”
“Lalu. . . .”
Aku sering melihatnya sebagai gadis kecil kelebihan energi yang egois, tapi ternyata dia menyimpan perasaan semacam ini. Perasaan tidak ingin menyusahkan orang tuanya, keberanian untuk mengambil keputusan sendiri dan mengambil resiko, lalu kegigihan untuk tetap terus berpikir optimis meski keadaan di sekitarnya bukan yang paling baik.
Sepertinya aku perlu belajar dari Lily.
“Begitu sampai, aku langsung membayangkan betapa senangnya mereka setelah tahu kalau aku tidak menyusahkan, memujiku karena sudah jadi anak pintar, dan seberapa bangganya mereka padaku, lalu dengan wajah senang seperti orang idiot aku menelpon mereka untuk bilang kalau aku sudah ada di sini. . . tapi. . . “
Mereka minta maaf dan bilang kalau tidak bisa datang karena pekerjaan mereka ternyata memakan jauh lebih banyak waktu dari yang mereka perkiraan.
“Kemudian?.”
Dia menundukan kepalanya.
“Kemudian apa? sudah sampai di situ saja? kak Harsa kira aku bisa bilang apa kalau mereka sudah bilang hal semacam itu?.”
Kalau misalkan orang tuaku menjanjikan sesuatu dan mereka tiba-tiba tidak bisa menepatinya lalu memberikan kata ‘pekerjaan’ sebagai alasannya. Aku tidak akan bisa bilang apa-apa. Sebab aku tidak punya kekuasaan atas mereka dan malah sebaliknya. Selain itu, pekerjaan yang mereka lakukan juga pada dasarnya adalah sesuatu yang mereka harus lakukan untuk mensupport kehidupanku.
Karena itulah aku tidak punya hak untuk protes.
“Lily, lihat ke sini.”
Dia menuruti perintahku dan memperlihatkan wajahnya padaku setelah mengucek-ucek matanya beberapa kali.
“Ap. . .aaa yang kau lakukan kak Harsa.”
Apa yang kulakukan? menjewer hidungmu.
“Apa-apaan tingkah sombongmu itu! jangan sok dewasa, kau itu anak kecil.”
Tidak punya hak untuk protes? kenapa kau memikirkan hal tidak berguna seperti itu?. Kau hanya perlu memikirkannya saat kau sudah seumuranku. Kau itu anak kecil, dan anak kecil itu tidak perlu memikirkan masalah orang dewasa, urusan orang dewasa, dan situasi orang dewasa.
“Kalau kau ingin protes ya protes saja, kalau kau ingin marah ya marah saja, bahkan kalau kau ingin menghina mereka kau tidak perlu ragu melakukannya sebab di sini. . . . hanya ada aku.”
Kau tidak perlu takut untuk jadi egois, kau tidak perlu memaksakan diri untuk pura-pura paham dan bertingkah seperti orang dewasa. Sebab meminta sesuatu yang tidak masuk akal adalah sesuatu yang hanya bisa kau lakukan saat kau masih kecil.
“Kak Harsa. . .”
“Apa?. . “
“Kau sok tahu sekali.”
“Aku bukan sok, tahu tapi aku memang tahu? kau kira siapa yang lahir duluan?.”
Apa yang Lily rasakan bukanlah sesuatu yang eksklusif untuknya saja, semua orang sudah pernah mengalaminya. Termasuk aku. Dan sama sepertinya, dulu aku juga mencoba untuk terus jadi anak baik tidak pernah mencoba melawan apa yang didiktekan oleh orang tuaku. Atau lebih tepatnya, Ibuku.
Dan sekarang.
Aku menyesalinya.
Aku tidak mau Lily akan menggantikan posisiku yang sekarang saat dia sudah seumuranku.
“Kak Harsa. .”
“Apa. . .”
“Kau tidak akan lapor pada mereka ka. . n?.”
“Memangnya siapa yang bisa bilang tidak pada seorang gadis cantik? aku tidak akan lapor! kau bisa percaya padaku.”
“Kalau begitu. .”
Dia menunduk selama beberapa saat lalu kembali melihatku, tapi kali ini dengan wajah marah.
“Dasar bodooohh!!!! kau bilang orang harus menepati janji tapi kau malah melakukannya? apa kalian idiot!!! kalian bilang lembur demi aku? apa kalian serius? kapan aku pernah minta kalian lembur? kapan pernah aku minta uang tambahan untuk beli barang mahal? apa kalian yakin kalau kalian bukan hanya mencari uang diri kalian sendiri? kalau kalian benar-benar mencintaiku cepat pulang!!! kalau setiap hari kalian hanya ada di kantor bagaimana aku bisa percaya kalau kalian mencintaiku? pakai otak kalian!!!! kalau kalian tidak di rumah bagaimana kalian bisa tahu kalau aku sudah jadi anak yang baik? bagaimana kalau aku sudah belajar dengan keras, bagaimana kalian bisa tahu kalau aku su. .sudah. . .”
Setelah itu dia tidak bisa bicara lagi, sebab pada akhirnya dia memutuskan untuk berhenti berakting lagi dan jadi dirinya sendiri.
“Mama. . . Papa. . . jangan tinggalkan aku sendiri.”
Begitu dia tidak lagi bisa menahan tangisnya, aku memeluknya. Dalam keadaan normal, tidak mungkin gadis ini akan menurut dan tidak melawan. Tapi kali ini, dia membiarkanku begitu saja lalu malah menangis semakin keras di dadaku.
Aku yakin kalau dia akan bertingkah sombong lagi, bertingkah bossy lagi, dan memperlakukanku seperti orang bodoh seperti biasanya.
Tapi hal itu bukan masalah.
Yang nanti akan kupikirkan nanti saja.
Sebab, aku ini orang idiot.
Begitu Lily berhenti menangis, kami berdua pergi dari tempat ini dan mulai mengelilingi tempat ini seperti pengunjung normal untuk mengganti suasana. Dia sempat mengajakku untuk pulang sebab paginya aku sempat bilang kalau aku ada urusan, tapi sebab Lisa yang jadi urusanku sudah kutemui. Aku menolak dan mengajaknya untuk bermain di tempat ini.
Selain itu aku juga tidak mau menyia-nyiakan tiket yang sudah kami beli saat masuk.
Hanya saja tidak lama setelah kami berdua berjalan, tiba-tiba aku menemukan Lisa yang sedang melihat kandang beruang.
Sendirian.
Aku ingin menghindarinya, tapi sepertinya dia melihatku duluan dan melambaikan tangannya padaku. Dalam situasi ini tidak mungkin aku bisa kabur begitu saja sebab pandangan kami sempat bertemu. Dengan langkah berat, aku menuntun Lily ke tempat Lisa.
“Siapa dia Harsa?.”
“Cuma anak kecil cengeng yang manawaawawa. . . .”
Sebelum aku sempat menyelesaikan omonganku, Lily menyikut pinggangku dengan keras lalu memperkenalkan dirinya sendiri. Sebagai balasan, Lisapun memperkenalkan dirinya dan memberitahukan kalau dia adalah teman sekelasku dan membuat Lily menganga tanpa bisa berkomentar apa-apa selama beberapa saat.
Hei! jangan terang-terangan memasang muka terkejut seperti itu!!!.
“Ngomong-ngomong kenapa kau sendiri? apa orang itu sedang pergi?.”
Lisa melihatku lalu tersenyum dan bilang.
“Ahaha. . . sepertinya dia punya urusan lain jadi dia tidak bisa datang ke sini.”
Dia tersenyum, dia tertawa, dan dia memasang wajah seakan semuanya baik-baik saja. Tapi aku sudah membaca cukup banyak manga untuk bisa tahu kalau senyum yang dia berikan itu tidak bisa dipercaya.
Dengan kata lain.
Aku baru saja menemukan korban janji palsu yang lain.
“Lisa. . .”
“Apa?.”
“Kalau kau tidak keberatan, bagaimana kalau kau ikut dengan kami?.”
“Harsa. . . apa tidak apa-apa?.”
“Tentu saja!.”
Aku tidak memberikannya kesempatan untuk berpikir dan langsung menggapai tangannya untuk kutarik.
Dengan begitu, hari itupun kami bertiga bermain di kebun binatang itu bersama sampai sore.
6
“Akhirnya bocah ini energinya habis juga.”
Setelah hampir seharian bermain ini dan itu sambil menarik-nariku dan Lisa, Lily akhirnya merasa kelelahan dan minta pulang. Dan begitu kami keluar kebun binatang, Lily langsung membuka tangannya dengan lebar dan memintaku untuk berjongkok. Lalu melopmat ke punggungku dan tidur di sana seperti koala.
“Kalau kau capek aku bisa menggantikanmu.”
Aku memang capek, mengingat di tempat ini aku jadi pesuruh mereka berdua. Membelikan sesuatu, berebut tiket permainan untuk mereka, menjaga posis antrian yang kami dapatkan saat mereka ke toilet, memastikan mereka tidak tergencet pengunjung lain di tempat ramai, dan masih banyak lagi.
Aku berjanji pada Lily untuk membantunya, tapi sepertinya bantuan yang harus kuberikan scoopnya terlalu lebar sampai bocah itu bisa mengksploitasiku begitu saja.
“Tidak perlu, kau juga capek kan?.”
Pergelangan kakiku rasanya agak pegal, dan jujur saja tenagaku sepertinya sudah sangat low. Tapi aku tidak bisa menyerahkan Lily pada Lisa, sebab sama sepertiku harusnya dia juga kecapekan setelah menemani Lily bermain seharian. Selain itu, karena posturnya yang tidak berbeda jauh dari Lily, aku yakin kalau menggendongnya tidak akan mudah.
“Lagipula kalau kau jadi tambah pendek bagaimana?.”
Lisa memasang wajah marah, tapi setelah melihat Lily yang ada di belakangku dia menghela nafas lalu malah tersenyum. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi setidaknya aku bisa menggunakan Lily sebagai tameng sebab sepertinya Lisa tidak ingin membangunkannya.
“Harsa, terima kasih.”
“Untuk?.”
“Untuk banyak hal.”
“Seperti?.”
“Membuat hari bolosku jadi menyenangkan.”
“Berterima kasihlah pada Lily, tapi tolong jangan ketagihan.”
“Tentu saja. . . ah . . sebagai ucapan terima kasih bagaimana kalau kubelikan sesuatu?. .”
“Tidak usah rep. . .”
“Aku pergi duluu. .”
Lisa sudah berlari ke sebuah mini market sebelum aku sempat selesai bicara. Dan setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya gadis itu keluar sambil membawa beberapa kaleng minuman sambil berlari ke arahku.
“Aww. . . .”
Membuatnya hampir jatuh karena tersandung trotoar. Beruntungnya, gadis itu punya reflex super cepat sehingga dia tidak sempat tersungkur ke tanah. Tapi kaleng minuman dan dompet yang masih dia pegang terlempar ke dari tangannya.
“Kau benar-benar ceroboh, untung tidak ada truck-kun yang lewat.”
“Ma-maaf.”
Dengan posisi yang agak susah aku mengulurkan tanganku padanya untuk membantunya beridiri. Setelah itu aku memungut kaleng minuman yang menggelinding ke arahku dengan usaha yang sama sekali tidak mudah. Mengingat di punggungku ada orang yang tidak bisa kubiarkan jatuh.
Di saat itulah aku melihatnya.
“Apa orang yang kau tunggu itu dia?.”
Aku melihat sebuah foto yang ada di dompet Lisa. Sebuah foto berisi gambar Lisa yang sedang melihat ke arah kamera sambil memasang wajah sebal, dan seorang laki-laki yang duduk di belakangnya sambil memeluk tubuhnya dan menempelkan pipinya pada gadis kecil itu.
Pria yang ada di foto kelihatan jauh lebih tua dari Lisa. Wajahnya punya bentuk yang bagus, cukup bagus untuk membuat murid-murid perempuan di kelasku ber kya-kya saat melihatnya. Selain itu ekspresinya kelihatan ramah. Cukup ramah sampai aku bisa membayangkan kalau akan ada efek bling-bling saat dia berbicara.
Secara general dia kelihatan seperti seorang pria dewasa di umur dua puluhan. Mungkin dia seorang murid perguruan tinggi atau bahkan sudah bekerja.
“. . . Be-begitulah.”
Lisa langsung panik dan segera mengambil dompetnya dan menyimpannya di tasnya.
“Jadi kenapa dia tidak datang!?.”
“Har-sa?.”
“Aku tanya, kenapa dia tidak datang?.”
“Kenapa kau marah?.”
“Aku tidak marah! jadi kenapa dia tidak dataww.”
Begitu nada bicaraku akan naik satu oktaf lagi, tiba-tiba aku merasakan sesuatu baru saja memukulku dari belakang. Dan tentu saja, sesuatu itu adalah Lily yang pura-pura tidur lagi lagi begitu aku melihat ke arahnya.
“Maaf Lisa. . sepertinya memang aku agak kecapekan. . “
“Tidak apa-apa.”
Aku coba mengalihkan perhatianku dengan meminum minuman yang dia belikan untukku. Tapi saat ingin melakukannya, aku baru sadar kalau tanganku tidak sedang bebas dan membuka kaleng saja aku tidak bisa. Menyadari kesulitanku, Lisa mendekatiku dan membukakan tutupnya untuku.
Hanya saja.
“Hah. . . sudahlah. . .”
Aku tidak bisa meminumnya. Tentu saja kalau dipaksa aku bisa melakukannya. Tapi kalau aku memaksakan diri, Lily yang ada di punggungku akan terdorong ke belakang dan jatuh. Oleh sebab itulah aku menyerah.
“Jangan cepat menyerah begitu, sini berikan padaku minumannya.”
Seperti perintahnya, aku memberikan minumanku pada Lisa.
“Sekarang berdiri di atas lututmu.”
“Ha?.”
“Menurut saja.”
Aku kembali menurutinya dan meletakan satu lututku di aspal. Setelah itu.
“Sekarang aaa. . .”
Dia menyodorkan kaleng minuman yang diepeganya padaku.
“Kau tidak serius kan?.”
“Aaaa. . .”
“Dengarkan aku!!.”
__ADS_1
“Aaaaa.”
Dia tidak mendengarkanku dan terus menyodorkan kaleng minuman di tangannya ke mulutku dengan wajah penuh senyum.
“Baiklah-baiklah. . . .”
Aku menempelkan mulutku pada bibir kaleng minuman yang dia sodorkan lalu meminum isinya. Setelah meneguknya beberapa kali, aku memberikan tanda pada Lisa untuk menariknya. Begitu melihatku selesai minum, dia langsung mengangguk-angguk dan kembali tersenyum seakan baru saja sukses memaksa anak kecil yang tidak mau minum obat.
Bakat gadis-gadis kecil ini untuk memaksa orang melakukan apa yang mereka mau terlalu tinggi. Aku harap, suami mereka di masa depan tidak akan mereka jadikan budak. Tapi, mengingat seberapa cantiknya gadis-gadis ini di masa depan, kurasa mungkin jadi budak merekapun bukan sesuatu yang buruk.
Tunggu-tunggu!! ada yang salah dengan otaku.
“Anak baik.”
Lalu, sama seperti Lily Lisapun menepuk-nepuk puncak kepalaku seperti anak kecil.
Mengesampingkan rasa malu yang harus kutahan saat orang-orang yang lewat melihatku dengan tatapan aneh. Hal yang Lisa lakukan berhasil membuat suasana di antara kami jadi kembali ringan. Dan begitu situasinya sudah normal, akhirnya aku bisa melanjutkan topik yang sebelumnya.
“Jadi pertanyaanku yang tadi, apa kau tidak keberatan menjawabnya. . . Lisa.”
“Ah . . alasananya tidak datang? ada hal yang jauh lebih penting untuk dia datangi daripada aku.”
“Lebih penting?.”
“Begitulah ahahaha. . .”
Bagaimana kau bisa membicarakan apa yang sudah dia lakukan dengan wajah seperti itu? bagaimana kau masih bisa tertawa seperti itu?. Kau tidak serius benar-benar memaafkannya kan? kau sebenarnya marah kan. Kau cuma berakting kuat sama seperti Lily kan?.
“Apa kau tidak marah?.”
“Marah? kenapa? tidak sepertiku dia punya banyak tanggung jawab yang jauh lebih penting dan tanggung jawab itu menyangkut banyak orang! karena itulah kalau harus memilih mana yang lebih penting tentu saja dia akan memilih pekerjaannya.”
“Kau, serius?.”
“Pertanyaanmu benar-benar susah dijawab eheheh. . . mungkin sedikit, tapi, dari awal dia mengajaku bertemu karena kebetulan dia ada acara di dekat sini, jadi sebenarnya aku cuma tujuan sampingan heheh. . .”
Jangan tertawa lagi. Bagaimana kau bisa tertawa setelah menyebut dirimu sendiri sebagai hanya sekedar ‘tujuan sampingan’?. Memang benar kalau kau tidak bisa lagi merengek seperti Lily, tapi bukan berarti perlu menutupi perasaan kesalmu itu.
Atau, kau memang serius benar-benar bisa memaafkannya begitu saja?. Bukankah kau itu orang yang hobi memaksakan kehendakmu pada orang lain? kenapa kau menyerah begitu saja? kenapa kau tidak mengomelinya? kenapa kau tidak memaksanya untuk datang?. Apa karena kau takut? apa karena kau malu? atau karena . . .
“Kau itu gadis yang hebat Lisa, jangan turunkan nilaimu sendiri.”
“Tidak, yang bisa kulakukan cuma belajar! kalau bicara masalah hebat dia jauh lebih hebat dariku.”
Dari cara Lisa mendeskripsikannya orang itu adalah orang yang pintar, selain itu kelihatannya juga punya posisi yang cukup tinggi dan penting. Aku sering mendengar kalau wanita lebih menyukai pria yang lebih dewasa dan mapan, tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau gadis kecil ini sudah punya rencana masa depan yang sejauh itu.
Dengan orang lain.
“. . . .”
Aku memegang dadaku.
“Ada apa Harsa.”
“Tidak apa-apa . . .”
“Kau serius? wajahmu kelihatan pucat.”
“Aku cuma capek, dan lapar, dan ingin tidur. . . karena itulah cepat jalannya.”
Aku menarik tangan Lisa dengan keras menuju halte bus. Aku ingin segera pulang.
Tidak. Bukan itu.
Aku tidak ingin mendengar Lisa membicarakan topik tentang orang itu lagi meski aku yang memulainya.
“Um. . .”
Dia menurut lalu ikut berjalan mencoba mengimbangi langkah kakiku. Beberapa menit kemudian kami sampai di halte dan langsung masuk ke bis yang datang. Dan begitu di dalam, aku langsung menuju ke kursi paling belakang bersama Lisa. Setelah meletakan badan Lily di antara kami berdua, aku langsung menyadarkan badanku dan menutup mataku.
“Idiot.”
Aku benar-benar idiot.
7
“Harsa! bangun!.”
“Ah. . .”
Begitu bangun, aku menemukan Lisa yang sedang menepuk-nepuk pipiku dengan pelan sambil memasang wajah khawatir.
“Harsa, sepertinya kita kebablasan.”
Hah? kebablasan apa. Aku tidak menginap di rumahmu lalu lupa pulang kan?.
“Harsa!!! cepat turun!!.”
Kali ini Lisa menepuk pipiku dengan lebih keras. Atau lebih tepat dibilang, menamparku dengan kuat sampai otaku yang masih setengah tidur langsung bangun.
“Di mana ini?.”
“Aku tidak tahu, aku juga baru bangun.”
Jadi yang ketiduran bukan cuma aku.
“Tenang saja, aku lumayan hafal jalur bis ini.”
Kami bisa tetap berada di dalam bis dan menunggu bis ini untuk kembali memutar, tapi hal itu akan memakan waktu lama. Bisa saja kami pulang malam karena hal itu. Oleh sebab itulah, aku melihat ke jendela dan memperhatikan tempat-tempat di sekitar kami untuk menentukan di mana kami berada.
“Tidak ada masalah, kita cuma kelewatan beberapa blok dari rumahku.”
“Benarkah.’
Jarak dari halte selanjutnya ke rumahku tidak hampir sama dengan jarak tempatku tinggal dengan sekolah. Dengan kata lain, kami masih bisa pulang dengan jalan kaki.
“Bantu aku mengangkat Lily, kita turun di depan.”
“Um. .”
Aku menurunkan badanku di depan Lily yang masih tidur dengan lelap, setelah itu Lisa mengangkat badan gadis kecil dan menaruhnya di punggungku. Dengan begitu, kami berduapun turun begitu bis yang kami tumpangi berhenti.
“Kurasa besok aku akan membolos.”
Hari ini aku benar-benar capek, kalau tidak ada yang membangunkanku mungkin aku akan ketiduran sampai siang mengat kedua kakakku tidak ada yang bisa diharapkan untuk bisa bangun pagi.
“Kau bawa kunci rumahmu?.”
“Bawa? kenapa?.”
“Pinjamkan padaku nanti! Aku membangunkanmu besok.”
“Aku akan memasang banyak alarm!!!.”
Dulu, saat aku masih SMP dan belum punya kebiasaan bangun pagi. Aku memasang banyak alarm dengan jam bunyi yang berbeda-beda dengan selisih lima sampai sepuluh menit. Alarm pertama akan membuatku bangun untuk mematikannya, di saat itu aku akan melihat waktu dan biasanya memutuskan untuk tidur lagi. Alarm kedua akan membuatku sadar kalau aku harus bangun dan menunjukan seberapa banyak sisa waktu yang kupunya sampai aku harus berangkat. Biasanya, di tahap ini aku juga masih memutuskan tidur lagi. Dan alarm terakhir adalah tanda kalau aku sudah tidak bisa santai dan harus buru-buru bangun.
“Baguslah kalau begitu.”
“Kau sendiri apa tidak capek?.”
“Humph. . . kalau baru segini saja sama sekali bukan masalah.”
“Serius?. . . aku saja sudah sangat capek.”
“Aku sudah menjalani seribu cobaan dan rintangan sebelum masuk SMA, karena itulah mental dan fisikku sudah terlatih.”
“Sejak kapan kau jadi kera nakal yang harus menemani seorang biksu mencari kitab suci?.”
Selain itu, apa gara-gara itu juga badanmu masih kecil seperti ini? Kalau iya aku harus berterima kasih pada orang yang memberikan cobaan padamu. Sebab gara-gara orang itulah pukulanmu tidak sesakit yang seharusnya. Kalau kau lebih besar, aku agak tidak yakin kalau aku tidak akan pulang babak belur setiap hari.
Aku mencoba membelai kepalanya, tapi dia menghindar dan memberiku tatapan yang bilang ‘jangan perlakukan aku seperti anak kecil’
“Percaya atau tidak, aku ini dulu anak yang super nakal kalau kau main-main denganku aku tidak keberatan jadi nakal lagi.”
Dari sudut pandangku saat ini kau sama sekali belum berubah. Maksudku, ancamanmu padaku, pelajaran tambahan yang setiap hari kau berikan, lalu perintahmu yang sama sekali tidak bisa kutolak semuanya bisa kumasukan dalam kategori ‘tindakan nakal’. Dengan kata lain, selama beberapa bulan ke belakang aku sudah jadi korban bullyingmu.
Tapi.
Mengesampingkan perlakuannya padaku yang mirip seperti orang yang punya dendam kesumat, kelakuan Lisa di sekolah sama sekali tidak bisa disebut buruk. Malah sebaliknya. Dia akrab dengan banyak orang, dia diandalkan oleh guru, dan bahkan sudah dianggap seperti maskot oleh orang-orang di di kelasku.
“Aku agak susah membayangkannya.”
“Membayangkan apa?.”
“Kau memakai kacamata hitam sambil merokok dan minta uang padaku.”
Di sisi lain aku bisa dengan mudah membayangkannya memasang wajah berkuasa sambil menyuruhku melayaninya.
“Kau benar-benar minta dihajar.”
Aku sedikit mengangkat kedua tanganku untuk menandakan kalau aku menyerah dan kami berdua kembali berjalan.
Setelah tidur di bis, pikiranku sudah agak plong dan sekarang tidak punya lagi masalah berbicara dengan Lisa seperti biasa. Setelah dipikir-pikir, reaksiku sebelumnya benar-benar bodoh. Maksudku, kenapa aku harus panik dan bingung? aku dan Lisa tidak punya hubungan spesial. Jadi harusnya aku bertingkah biasa saja.
Malah sebaliknya, aku harusnya senang. Dengan adanya keberadaan orang yang sudah siap membawanya pergi, itu berarti masa depan di mana aku akan terus diganggunya sudah tidak ada. Meski misalkan aku tidak bisa mengalahkannya sampai lulus, aku hanya perlu menahan diri selama tiga tahun untuk bebas darinya.
Selain itu kalau dia punya banyak acara di luar itu berarti aku akan punya banyak waktu kosong yang bisa kumanfaatkan sesuka hati.
“Lisa. .”
Ok, aku menyerah. Aku bohong.
“Aa-apa yang kau lakukan?.”
“Aku sedang memegang tanganmu.”
Membayangkanmu memasang wajah senang saat bersama laki-laki lain sama sekali tidak lucu. Membayangkan kau pergi begitu saja setelah urusanmu dengan selesai sama sekali tidak menyenangkan.
“Aku tahu tapi ke-kenapa?.”
“Karena aku ingin melakukannya?.”
Hari ini begitu kau tidak berangkat aku sadar. Ternyata aku sudah banyak bergantung padamu. Bukan cuma itu, aku merasa kalau kelas yang di dalamnya tidak ada kau benar-benar gersang. Aku selalu mengeluh ketika kau berangkat, tapi ketika kau tidak ada aku merasa gelisah.
“A-ada apa denganmu?.”
Wajahnya langsung jadi merah begitu aku memegang tangannya, selain itu dia juga mencoba memberontak. Tapi aku sama sekali tidak melepaskannya. Sebaliknya, aku mengeratkan peganganku ke telapak tangannya. Kalau aku serius, aku selalu bisa mengalahkannya dalam masalah tenaga tapi karena dia jarang serius menyerangku, aku tidak pernah ikut serius.
“Tidak ada apa-apa.”
“Apanya yang tidak ada apa-apa, hari ini kau benar-benar aneh. .”
“Mungkin.”
“Apa kau salah makan tadi pagi?.”
Dan penyebab semua itu adalah hal yang jauh lebih simple dari sekedar salah makan.
Kurasa aku sudah jatuh cinta pada gadis kecil ini.
Bagaimana bisa?.
Jawabannya mudah!. Karena aku ini, seperti yang sudah Lily bilang. Idiot. Bagaimana kau bisa tidak berpikir macam-macam saat ada seorang gadis manis yang selalu mencoba menempel padamu?. Memangnya laki-laki mana yang tidak senang saat seorang gadis cantik ada di dekatnya?.
Selain itu, pada dasarnya orang yang paling memperhatikanku adalah Lisa. Alasan kenapa dia memberiku perhatian lebih mungkin hanya sekedar efek samping dari tujuan utamanya untuk jadi nomor satu di sekolah. Tapi meski begitu, dia adalah orang yang paling dekat denganku sekarang adalah kenyataan.
Karena itulah si idiot ini mulai punya perasaan-perasaan aneh padanya, punya delusi dan harapan kalau ‘mungkin dia menyukaiku’ terhadap Lisa.
“Tidak penting, daripada itu bagaimana kalau kita ngobrol hal lain. . . ah. . seperti bagaimana kau bisa bertemu dengannya?.”
Banyak yang bilang kalau cinta pertama itu tidak akan terealisasi. Hanya saja aku tidak menyangka kalau kapal yang aku ingin tumpangi sudah tenggelam bahkan sebelum berlayar.
“Dengannya?.”
Karena itulah, sebelum aku benar-benar tidak bisa melepaskannya. Aku harus memaksakan diri untuk bisa membuang perasaan ini, melupakannya, dan maju lalu mengembalikan hubungan kami sama seperti sebelumnya. Sebelum aku sadar kalau aku punya perasaan khusus padanya.
“Laki-laki yang fotonya di dompetmu.”
Dan salah satu caranya adalah dengan menelan semua kenyataan pahit yang bilang kalau aku tidak punya kesempatan.
“Bagaimana? aku tidak tahu tapi yang jelas begitu aku bisa ingat sesuatu dia sudah ada. . . atau malah bisa dibilang begitu aku membuka mata dia sudah ada di dekatku.”
“Jadi dari kecil kalian sudah bersama.”
Kau punya terlalu banyak flaaaaaaggg!!!.
“Tentu saja, kami kan tinggal bersama?.”
“Karena itu kami juga main bersama, makan bersama, tidur bersama. . .”
“Tunggu-tunggu-tunggu-tunggu dulu!!! kau tinggal dengannya? kurasa ada yang aneh di sini! apa orang tua kalian tidak ada yang protes?.”
“Kenapa harus ada yang protes?.”
“Maksudku. . . . sudahlah!! yang penting tolong jangan bilang kalau kalian pernah mandi bersam. . .”
“. . . .”
“Kenapa kau diam sambil memasang wajah seperti itu Lisa?.”
“Kau sendiri yang menyuruhku jangan mengatakannya.”
“Kau seriussssss. . . .!!!!.”
Kalian sudah pernah mandi bersama?.
“Cu-cuma saat kami masih kecil.”
Tentu saja aku tahu. Tapi yang kita bicarakan di sini adalah Lisa. Gadis yang pertumbuhannya kelihatan seperti berhenti saat dia masuk SMP. Dengan kata lain, penampilannya saat dia ‘masih kecil’ dan penampilannya yang sekarang tidak jauh berbeda.
“ . . . . . . .”
Meski aku sering bilang kalau Lisa kecil, yang kumaksud bukanlah kurus. Tidak ada masalah dengan proporsinya, dengan kata lain dia hanyalah seorang gadis cantik dalam ukuran mini. Kalau harus dibandingkan dengan sesuatu, aku rasa dia itu seperti kucing. Tubuhnya seanggun saudara mereka yang lebih besar tapi dalam ukuran mini.
“Harsa!! kau sedang membayangkannya kan? kau sedang membayangkanku telanjang kan?.”
“Tidak, tidak, tidak! aku hanya sedang mengagumi keunikanmu!.”
“Kau kira aku hewan langka?.”
Kalau bicara masalah langka kurasa gadis sepertimu memang langka.
“Ahah. . . kau bilang kalau kau yang dulu itu berbeda, apa yang membuatmu berubah juga dia.”
“Um. . .”
Geh . . . rasanya dadaku seperti baru saja ditusuk sesuatu.
“Bagaimana bisa?.”
“Sudah. . . aku tidak ingin membicarakannya lagi.”
Mungkin topik ini terlalu memalukan untuknya, kelihatannya dari wajahnya yang benar-benar merah.
Normalnya, aku akan menurut saja kalau dia sudah memasang wajah seperti itu. Tapi masa egoisku belum lewat. Aku masih belum ingin membiarkannya lolos dari introgasiku begitu saja. Sebab hasil dari introgasi itu penting bagiku. Sebab info itu adalah hal yang kubutuhkan untuk bisa cepat menyerah.
“Ayolah. . . tidak ada salahnya ngobrol sambil jalan kan?.”
“Aku tidak ingin ngobrol topik semacam itu!!.”
“Aku ingin. .”
“Harsa, kau benar-benar aneh. . “
“Aneh itu kata lainnya unik.”
“ . . . . .”
Dia tidak membalasku dan berjalan lebih cepat, dan tentu saja aku langsung mengikutinya dengan ikut berjalan lebih cepat. Setelah aku menyusulnya, tentu saja dia mencoba meninggalkanku lagi. Hal itu terus berlangsung sampai kami berdua setengah berlari. Hanya saja, sebab aku membawa beban tambahan di punggungku jarak di antara kami jadi semakin jauh. Cukup jauh sampai Lisa punya cukup ruang untuk memberiku senyum kemenangan padaku yang ada di belakangnya.
Dan ketika dia tidak melihat.
“Ugh. . .”
Dia gagal berhenti ketika tiba-tiba ada seseorang yang keluar dari sebuah lorong lalu menabrak orang itu dengan cukup keras.
“Hoii!!!.”
Dan orang yang ditabraknya adalah seorang pemuda tinggi dengan tubuh kekar yang aku harap namanya Yamada-kun atau Hasegawa kodaka sebab mereka cuma kelihatannya saja sangar.
“Maaf, aku tidak sengaja.”
“Ha? tidak sengaja?.”
Dari raut wajah orang yang ditabraknya, sepertinya masalah kecil ini tidak akan selesai dengan hanya permintaan maaf. Dan seakan mendukung ramalanku, dua orang sangar lain muncul dari tadi dan mulai mengerubungi Lisa yang sekarang kelihatan seperti kelinci di tengah kerumunan serigala.
“Tadi aku tidak melihat ke depan, maafkan aku.”
Lisa menundukan badannya untuk menunjukkan rasa bersalahnya, tapi sama seperti sebelumnya sepertinya tidak ada yang ingin menerima permintaan maafnya.
“Aku tidak peduli, yang jelas kau sudah menabraku, kalau minta maaf saja cukup untuk menyelesaikan semua hal tidak akan ada yang butuh polisi! jadi kau harus ganti rugi!.”
Akhirnya muncul jugaaaaaaaaaaa!!!! aku sudah mengira kalau mereka akan mencari alasan untuk memalak Lisa. Tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau mereka akan menggunakan kalimat legendaris itu!!.
“Gawat.”
Jika aku yang dipalak aku akan menyerah saja dan memberikan uang yang kumiliki mengingat aku kalah jumlah. Tapi aku tidak bisa membayangkan Lisa mau diam dan menurut saja saat di palak.
“Ha? ganti rugi? ganti rugi apa?.”
“Kau tidak lihat kalau tanganku lebam?.”
Pemuda tadi memperlihatkan tangan kanannya yang lebam, tapi orang bodohpun tahu kalau penyebabnya bukanlah tabrakan dari Lisa. Dan tentu saja gadis kecil itu tahu, karena itulah dia hanya bisa melihat ke arah pemuda tadi dengan tatapan ‘apa kau serius!’.
“Karena itulah cepat berikan aku ganti rugi!. . .”
“Kau. . .”
“Aku tidak butuh pendapatmu! cepat keluarkan saja ua. . .”
“Tunggu dulu, tunggu dulu! kalian tidak serius ingin memalak anak kecil kan?.”
“Siapa kau.”
“Aku kakaknya!.”
Aku menarik Lisa dan menempatkannya di belakangku, setelah itu aku menggoyang-goyangkan gadis kecil di punggungku agar dia bangun.
“Kalau begitu apa kau yang akan memberiku ganti rugi?.”
“Aku tidak keberatan, aku akan memberikan sebanyak apapun.”
Lisa menarik lengan bajuku dan mencoba bicara, tapi aku menutup mulutnya dan mendorongnya untuk tetap di belakangku.
“Bagus kalau begitu, sekarang ber. . .”
“Asal kurang dari 50k.”
“Kau mau main-main ya.”
“Tidak, aku serius.”
Sebab uang di sakuku hanya segitu, dan itupun banyak recehnya. Kalau hal merepotkan ini bisa kuselesaikan hanya dengan memberikan mereka recehan aku sama sekali tidak keberatan.
“Oo o o. tidak masalah, sebagai gantinya bagaimana kalau kami mengajak adikmu bermain bersama? aku janji akan mengantarnya pulang besok.”
Setelah itu mereka saling melihat satu sama lain sambil memasang senyum vulgar. Senyum vulgar yang membuatku berpikir kalau mereka sudah terlalu sering menonton film murahan. Sebab akting berandalan mereka benar-benar murahan mengingat semua kalimat yang mereka pakai adalah template dasar.
“Ya ampun, kalian mungkin kelihatan sangar tapi ternyata kalian suka anak kecil, apa kalian tidak malu saat membawanya pulang?.”
“Aku paham, jadi kau minta dihajar.”
“Tidak! sama sekali tidak! aku hanya ingin kalian cepat pergi dari sini dan berhenti melihat adikku dengan mata busuk kalian!.”
“Hars-sa.”
Aku juga bisa marah, aku masih bisa mentolerir kalau mereka hanya minta uang. Tapi kalau mereka ingin mengapa-apakan Lisa urusannya lain lagi. Mungkin kalian menang jumlah, tapi maaf saja aku menang resolusi. Dan dalam melakukan intimidasi, resolusilah yang paling penting.
“. . . .”
“Kenapa diam? apa kalian takut?.”
“Bajingan!!.”
“Ngomong-ngomong kalau kalian berani maju aku akan memanggil polisi, Lily!!.”
“Siap!.”
Tentu saja aku tidak punya niat untuk berkelahi dengan mereka semua, aku punya dua orang yang perlu dilindungi sedangkan mereka hanya perlu menyerang. Dilihat dari manapun posisiku sama sekali tidak menguntungkan, karena itulah aku hanya bisa mengancam.
Dan aku punya alat ancam yang lumayan efektif, safety alarm milik Lily yang siap dia hidupkan saat aku memberinya tanda.
“Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan kalau tidak ingin dapat masalah kan?.”
Kalau mereka cukup pintar, di saat seperti ini apa yang perlu mereka lakukan harusnya sudah jelas. Pergi dan melepaskan kami sebab resiko untuk jadi keras kepala dan memaksakan diri terlalu besar.
“Begitu saja? hanya begitu saja? kalau kami selesai menghajarmu sebelum ada yang datang tidak ada masalah kan?.”
Hanya saja, sepertinya mereka bertiga adalah lulusan kelas C dari sebuah sekolah elit yang terlalu bodoh untuk bisa membaca suasana. Bukannya takut, mereka malah semakin berani karena mengira kalau apa yang bisa kulakukan hanyalah menggertak.
Salah-salah, yang bisa kulakukan memang hanya bisa menggertak.
“Lily, turun! Lisa, bawa Lily pergi ke tempat yang ramai!.”
“Harsa. . .”
“Jangan banyak tanya!! kalian berdua hanya jadi liability sekarang jadi menurut saja dan pergi dari sini.”
Kalau orang-orang di depanku serius ingin main kasar, aku tidak bisa membiarkan Lily tetap di sini. Mungkin Lisa belawan, dan mungkin bisa saja dia itu kuat tapi pertanyaanya apa aku ingin kalau dia sampai terluka?. Jawabannya tentu saja tidak! sama sekali tidak!. Karena itulah aku perlu mereka berdua untuk pergi dan fokus mencari bantuan.
“Ooo mau jadi pahlawan?.”
“Bukan bodoh! aku hanya melakukan tugasku.”
Aku belum pernah jadi kakak, tapi pengalamanku sebagai seorang adik memberitahukanku kalau seorang kakak itu punya tiga tugas pokok. Menuruti permintaan tidak masuk akal adiknya, membalas orang yang berbuat nakal pada mereka, dan yang terakhir tentu saja adalah.
“Melindungi mereka dari orang-orang seperti kalian!!!.”
Lisa melepaskan tanganku, tapi aku masih bisa merasakan tatapannya di punggungku. Setelah itu, dia bilang . . .
“Kak Igna. . .”
Dengan suara lirih sebelum menarik Lily untuk pergi.
8
“Awawawawa. . . . .”
“Tahan sedikit. . . . .”
“Bagaimana kalau kau mengobati lukaku dengan sedikit lebih lembut.”
“Jangan cengeng.”
“Awawawaw . . . .”
Setelah Lisa dan Lily pergi, seperti yang kuduga ketiga berandalan yang ada dihadapanku mencoba mengejar mereka. Dan tentu saja aku tidak membiarkan mereka melakukannya. Untuk menghalangi mereka aku terpaksa harus melawan, dan hasilnya adalah sekarang aku punya luka lebam di tanganku, darah yang keluar dari bibirku, dan juga ponsel yang sudah tidak bisa dipakai lagi.
“Lagipula, dari awal kenapa kau harus melawan mereka? kukira kau orang yang lebih suka kabur daripada maju terluka.”
“Kalau kalian tidak ada, aku sudah lari terbirit-birit.”
“Pengakuanmu agak membuatku tenang, tapi kenyataan kalau kau tidak kabur tadi masih membuatku marah.”
“Maaf. . .”
Setelah itu kami berdua terdiam. Dia tahu kalau apa yang dia tuntut dariku itu tidak masuk akal mengingat kalau aku pergi mereka yang akan jadi target. Dan di sisi lain aku juga tahu kalau tuntutan Lisa itu dia buat dengan pikiran keselamatanku di dalamnya.
“Ahem!!. . . kalian tidak lupa kalau aku masih di sini kan?.”
“Ah. .”
“Ah. .”
Setelah mendengar teriakan Lily, aku dan Lisa langsung menghadap ke arah Lily yang sedang memasang muka kesal karena keberadaannya sempat hilang dari otak kami.
“Sudahlah, setidaknya kita semua selamat, berterima kasihlah padaku.”
“Terima kasih!!.”
__ADS_1
“Terima kasih!!”
Lily memasang wajah bangga begitu aku dan Lisa menundukan badan kami padanya.
Seperti yang sudah dia bilang, yang jadi penyelamat adalah gadis kecil itu. Bakatnya untuk memancing perhatian dan memaksa orang untuk menuruti permintaanya dengan akting kelas selebriti topnya mampu memancing banyak orang untuk mendatangi tempatku berada beberapa menit setelah dia pergi.
Awalnya Lisa ingin petugas keamanan untuk dia ajak ke tempatku berada, tapi sebab dia tidak hafal dengan daerah ini usahanya tidak kunjung berhasil. Di saat itu Lily mengusulkan untuk meminta tolong pada orang-orang yang ada di jalan saja.
Aku dengar dia sempat menangis keras layaknya anak yang disiksa orang tuanya untuk memancing perhatian. Dan begitu dia mendapatkan perhatian, dia memaksa Lisa untuk mengikutinya dan memasang wajah memelas sambil bilang kalau kakak mereka sedang dihajar orang jahat.
Dengan cara itu, mereka berhasil mengumpulkan beberapa orang yang kasihan pada mereka dan ingin membantu. Setelah itu mereka mendatangi tempatku berada sambil membawa banyak orang seperti pria macho yang punya lengan sebesar kakiku, gerombolan pria berhelm kuning yang kulitnya kecoklatan, dan juga beberapa orang lain yang kelihatan jelas dengan buru-buru meninggalkan pekerjaan mereka untuk menuruti permintaan Lily.
Dalam situasi normal, orang yang melihat beberapa remaja yang saling berkelahi di jalan akan langsung berasumsi kalau mereka semua adalah berandalan yang kerjaannya membuat onar. Tapi kasus kali ini lain, dengan kehadiran Lisa dan Lily image yang muncul adalah seorang kakak yang ingin melindungi kedua adiknya sedang ada dalam masalah.
Melihat situasinya berubah, ketiga berandalan yang mencoba mengeroyoku langsung mencoba kabur tapi ketiganya dengan mudah ditangkap karena beberapa orang sudah menghadang arah kabur mereka.
Setelah menunjukan rasa terima kasih kami pada mereka semua, kami memutuskan untuk segera pulang dengan alasan tidak ingin membuat orang tua kami khawatir. Yang langsung disambut ekspresi terharu dari beberapa orang.
“Tapi ngomong-ngomong kau benar-benar hebat Lily.”
“Tentu saja.”
“Saat kau datang aku sempat berpikir kalau kau tidak berakting, wajah penuh air matamu benar-benar meyakinkan. . . .”
Ketika dia datang sambil dituntun oleh pria macho yang kusebutkan tadi, matanya masih kelihatan merah dan di pipinya masih ada banyak air mata yang mengalir. Kalau aku ada posisi mereka aku yakin kalau aku juga tidak akan bisa menolak permintaan bantuannya.
Bahkan sekarangpun, matanya masih kelihatan lembab.
“Te-tentu saja, di masa depan aku ingin jadi aktris top.”
“Anak pintar.”
Aku mengelus kepalanya, dan mungkin karena malu Lily mengalihkan pandangannya dariku. Di sisi lain, untuk suatu alasan Lisa memandangku dengan tatapan seakan aku ini orang paling bodoh di dunia.
“Ada apa Lisa?.”
“Tidak ada apa-apa, aku hanya sekedar berpikir kau itu benar-benar idiot.”
“Heh? kenapa? aku melakukan apa?.”
“Sudahlah, daripada itu aku lebih heran bagaimana bisa kau hanya mendapat luka-luka kecil seperti ini meski padahal kau melawan tiga orang.”
“Saat SMP aku sempat ikut ekstra piano dan kaligrafi.”
“Ha?”
“Ah, salah kaligrafi dan seni lukis.”
“Apa hubungannyaaaa!!!!???.”
“Tidak ada, aku hanya ingin merasakan seperti apa jadi murid jenius yang pura-pura bodoh.”
“Kauu. . . . sekarang tiba-tiba aku yang jadi ingin menghajarmu!!.”
“Maafkan aku.”
Tapi apa yang kukatakan semuanya benar, saat SMP aku memang mengikuti semua ekstra itu atau lebih tepatnya sempat mencoba semua kegiatan tambahan itu. Sebab kedua kakakku punya banyak prestasi di bidang akademik, aku juga ingin mendapatkan prestasi yang bisa kubanggakan pada kedua orang tuaku. Oleh sebab itulah aku mencoba banyak program tambahan untuk mencari tempat di mana kira-kira bakatku berada.
Hanya saja sebab sepertinya aku tidak punya bakat yang bisa dipoles, pada akhirnya aku keluar dari semua kegiatan ekstra itu. Yang salah satunya adalah bela diri. Hanya saja sebab aku sudah pernah belajar dasar-dasarnya, setidaknya aku bisa memberikan sedikit perlawanan dan mencegah aku mendapat luka yang parah.
“Jadi selama ini kau bisa melawan.”
“Melawan? melawan apa?.”
“Melawan ini.”
Lisa memukul dadaku dengan pelan. Setelah itu dia memberiku tatapan kesal.
“Aku selalu melawanmu dengan serius, meski bukan dengan fisik.:
Perjanjian di antara kami adalah, siapapun yang mendapat nilai test atau ujian punya hak untuk memberikan perintah apapun pada orang yang nilainya lebih rendah.
“Karena itulah, bersiap saja menerima balas dendamku.”
Awalnya Lisa memasang wajah bingung, tapi kemudian dia tersenyum padaku.
“Kenapa kau senyum-senyum begitu, materi kali ini lumayan susah dan bagi orang yang bolos sepertimu kesempatanmu menang dariku itu kecil.”
“Hmph!! asal kau tahu saja ya Harsa! aku sudah mempelajari semua materi sampai semester depan.”
Kau serius? kau sudah mempelajari materi yang sebanyak itu? kapan kau melakukannya? jangan bilang kalau begitu pulang dari sekolah kau langsung marathon dan belajar lagi sampai tidur. Kalau iya kurasa kau harus mengurangi intensitas belajarmu itu. Sebab otak itu perlu banyak energi untuk bekerja. Bagaimana kalau energi yang kau perlukan untuk bisa jadi lebih tinggi malah dipakai oleh otakmu?. Apa kau tidak keberatan pendek selamanya?.
“Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi yang jelas kau sedang melihatku dengan tatapan tidak sopan.”
“Cuma perasaanmu saja. . . ngomong-ngomong siapa yang kau panggil tadi sebelum pergi?”
“Ka-kau mendengarnya?.”
“Um. . . selain itu kenapa kau memanggilnya?.”
“Kak Igna. . . dia itu kakak laki-lakiku, dan kau mengingatkanku padanya.”
“Bagaimana bisa?.”
“Dia juga sering mengatakan hal-hal bodoh sepertimu!.”
“Kapan-kapan aku ingin bertemu dengannya.”
“Dia itu orang sibuk jadi aku tidak tahu kapan kau akan punya kesempatan menemuinya.”
“Begitu ya. . .”
Kakak laki-laki ya, aku selalu mengira kalau Lisa itu anak tunggal. Sebab perilakunya mirip sekali dengan Lily yang memang adalah anak tunggal. Punya tendensi untuk melakukan sesuatu sendiri tapi tahu batasnya, egois tapi punya toleransi yang normalnya tidak diperlihatkan, dan kemampuan mereka untuk memaksakan kehendak mereka pada seseorang yang benar-benar tinggi.
“Hanya saja aku agak kesulitan membayangkan penampilannya. .”
“Membayangkan? bukankah kau sudah melihatnya?.”
“Hah? kurasa kami belum pernah bertemu.”
“Kalian memang belum pernah bertemu, tapi kau sudah melihatnya.”
“Di mana?.”
“Di dompetku.”
“Ooo. . . jadi dia kakakmu. .”
“Kukira kau sudah tahu?.”
“Tentu saja belum. . eh? tunggu dulu!!! orang yang bersamamu di foto itu kakakmu?.”
“Um.”
“Se-serius?.”
“Kenapa aku harus bohong?.”
“. . . “
“Harsa?.”
Aku berdiri dan menjauhi Lily dan Lisa, setelah itu aku memegang kepalaku dengan menggunakan kedua tanganku. Kemudian.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. . .”
Bodoh!, bodoh!, bodoh!, bodoh!, bodoh!, bodoh!, bodoh!, bodoh!, bodoh!, memalukan!, memalukan!, memalukan!, memalukan!, memalukan!, memalukan!, memalukan!, memalukan!. Aku ingin menggali lubang lalu masuk ke dalamnya sekarang juga!!!!.
“Kak Harsa!.”
Lily, yang sepertinya tahu apa yang sedang kupikirkan mengacungkan jempolnya padaku sambil tersenyum.
“Kau kenapa Harsa? apa ada yang sakit?.”
“Tidak ada masalah, aku hanya baru ingat kalau aku ini orang idiot.”
“Ha? Lily ada apa dengan Harsa?.”
“Kak Harsa hanya lega karena ternyata kak Lisa masih singmmmmmmm.”
Sebelum Lily sempat menyelesaikan kalimatnya, aku berhasil membungkam mulut gadis kecil itu. Hanya saja Lily langsung menggigit jariku lalu kabur dan berlindung di belakang Lisa, sambil membisikan sesuatu ke telinganya.
Dan setelah itu. .
“Pa-pa-pa-pacar? aku tidak punya sesuatu seperti itu! aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal semacam itu!!.”
Setelah itu Lisa melihatku dengan tatapan bertanya dan untuk menjawabnya aku hanya bisa mengalihkan pandanganku ke tempat lain.
“Bagaimana kau bisa berpikir sampai ke situ?.”
“Tentu saja kak Harsa berpikir begitu, aku yakin kalau penampilanmu lain dari yang biasa kak Harsa lihat dan dilihat dari manapun kak Lisa kelihatan seperti gadis yang akan kencan.”
“Aku cuma tidak ingin membuat kakakku malu saat dia datang, apa penampilanmu terlalu mencolok?.”
“Sama sekali tidak, kau cantik, kalau kak Lisa sering memperlihatkan kecantikanmu ini pada kak Harsa aku yakin dia tidak akan salah paham lagi nanti.”
Setelah itu Lisa melihatku dengan tatapan bertanya. Dan aku, sama seperti sebelumnya hanya bisa mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Sebab tidak mungkin aku bisa mengkonfirmasi kesimpulan Lily.
Memang benar aku tidak keberatan kalau Lisa berpenampilan wah di depanku, tapi tidak mungkin kan aku terang-terangan bilang ‘berdandanlah untukku!’. Memangnya aku siapanya?.
“Kurasa kita perlu cepat pulang, sebentar lagi akan gelap.”
Di saat kau tidak tahu harus melakukan apa, pilihan yang paling aman adalah kabur.
“Ahh. . aku akan pulang sendiri, kak Harsa antara saja kak Lisa.”
“Heh? kenapa? bagaimana kalau ada orang seperti mereka lagi?.”
“Um! aku setuju dengan Harsa, kurasa akan lebih aman kalau kami mengantarmu duluan.”
“Tidak usah khawatir, di area ini semua orang adalah temanku! kalau ada masalah semua akan langsung buru-buru mendatangiku!.”
“Apa kau yakin Lily?.”
“Yakin! kau tidak pernah diculik orang saat kecil kan kak Harsa?.”
Aku masih agak khawatir, tapi memang benar kalau kawasan di sekitar rumah kami itu aman. Setidaknya sampai sekarang. Jadi kurasa membiarkan Lily pulang sendiri bukan sebuah masalah, daripada gadis kecil itu aku lebih khawatir pada gadis kecil yang baru saja mengelap darah di mulutku alisa Lisa.
Rumahnya masih lumayan jauh dan kemungkinan dia baru akan sampai saat hari sudah gelap. Aku tidak tahu situasi keamanan di sana jadi aku ingin mengantar Lisa sampai depan rumahnya.
“Baiklah kalau begitu.”
“Aku pulang dulu kak Hars. . “
“Tunggu dulu!.”
“Apa?.”
“Kalau kau ditanya macam-macam oleh kedua orang tuamu, bilang saja kalau aku yang mengajakmu.”
“Kak Harsa . . . kau. . .”
Lily itu pintar, aku yakin kalau dia paham apa maksud dari perintahku itu. Jika dia bilang aku yang mengajaknya, misalkan kedua orang tuanya marah karena dia pulang sangat sore, yang akan jadi tersangka utama adalah aku. Dengan begitu Lisa harusnya tidak akan dicecar oleh keduanya.
“Jangan bertingkah sok keren!!.”
“Eh?. . . .”
Kukira dia akan langsung setuju begitu saja, maksudku dia bisa membuatku jadi kambing hitam dan lolos dari omelan kedua orang tuanya. Hanya saja sepertinya dia punya pikiran lain.
“Kalau mereka sampai berani mengomeliku, akan akan balas mengomeli mereka.”
Lily memberiku senyum yang sangat manis sebelum berlari ke arah rumahnya, dan aku yang dia tinggal hanya bisa tertawa.
“Kalian membicarakan apa?.”
“Bukan apa-apa! ayo kita jalan.”
9
Setelah menyadari kalau semua perkiraan buruk yang kubuat hanya sebuah kesalahpahaman, sekarang aku tahu kalau aku masih punya kesempatan. Lalu, apa langkah yang harus kuambil selanjutnya?.
Tidak ada, untuk semantara aku tidak akan melakukan hal yang berbeda dan berinteraksi dengannya seperti biasa. Perasaanku untuk Lisa, untuk saat ini kurasa akan lebih baik kalau gadis kecil ini tidak mengetahuinya.
Sebab seperti yang sudah dia katakan sebelumnya, dia tidak punya waktu untuk memikirkan masalah cinta-cintaan. Kalau aku mengutarakan perasaanku padanya hal itu hanya akan jadi pengganggu usahanya untuk jadi nomor satu. Dan aku tidak mau kalau impian dari gadis yang kusukai terganggu gara-gara keegoisanku.
Aku akan menunggu sampai aku merasa sudah pantas bersamanya. Diriku yang saat ini cuma akan jadi beban, karena itulah aku akan menunggu sedikit lebih lama lagi.
“Harsa, kenapa kau bengong lagi?.”
“Bu-bukan apa-apa!.”
Bohong!! semua alasan yang kusebutkan tadi itu bohong. Aku hanya tidak ingin merusak hubungan yang kami miliki saat ini. Aku tidak ingin dia menjauhiku karena aku menembaknya di dada. Aku takut kalau dia sampai tidak mau lagi melihat ke arahku.
“Sambil jalan bagaimana kalau kita ngobrol, rumahmu masih jauh juga kan?.”
“Ngobrol? ngobrol topik apa?.”
“Kakakmu!.”
“Kenapa topiknya balik lagi ke situ?.”
“Karena aku ingin tahu orang seperti apa kakakmu itu.”
“Kenapa kau ingin tahu?.”
“Untuk persiapan di masa depan.”
“Persiapan masa depan? pe-persiapan macam apa?.”
“Lupakan jawabanku tadi!! yang jelas aku ingin tahu tentang kakakmu! dari caramu bicara orang yang membuatmu berubah juga kakakmu kan? mungkin aku bisa belajar sesuatu darinya.”
“Belajar?. . .”
Sepertinya kata belajar berhasil memancingnya.
“Baiklah kalau begitu, kakakku itu pada dasarnya orang yang bisa kau sebut jenius.”
“Jenius . . .”
Bagiku, kata itu punya arti lain. Dan arti lainnya adalah, sakit.
Setelah itu, Lisa mulai menceritakan tentang kakaknya yang dari kecil sudah bisa melakukan banyak hal bahkan sebelum yang lain bisa melakukan apa-apa. Bagaimana dia bisa mendapatkan banyak prestasi di banyak bidang, dan bagaimana semua orang sangat bangga terhadapnya.
Secara singkat, posisi kakaknya pada dasarnya tidak berbeda jauh dari posisi kedua kakakku saat ini. Dan dari caranya gadis kecil di sampingku ini menceritakannya, posisinya juga tidak jauh berbeda dari posisiku dulu. Di bawah bayangan saudara kami yang lebih tua.
Hanya saja ada yang aneh.
“Hey Lisa, apa kau tidak membenci kakakmu?.”
“Hah? kenapa aku harus membencinya?.”
Perbedaanya adalah, ketika membicarakan sehebat apa kakak laki-lakinya dia memasang wajah senang dan bangga. Bukannya wajah terluka dan kalah. Jauh berbeda dariku yang selalu merasa kalau kedua kakakku adalah musuh yang sudah membuat hidupku jadi buruk.
“Maksudku, apa kau tidak pernah dibandingkan dengannya? dihina saat gagal menirunya, dilabeli tidak kompeten saat tidak bisa melakukan apa yang dia bisa, dan hanya dianggap hanya sebagai versi lebih buruk dari kaka. . . .”
“Harsa. . .”
Begitu aku bicara tanpa pause sedikitpun, Lisa memegang tanganku dan menatapku dengan pandangan khawatir.
“Kau kelihatan pucat lagi. .”
“Posisku dan posisimu harusnya tidak berbeda jauh, tapi bagaimana bisa kau masih bisa membicarakan kakak laki-lakimu dengan wajah senang seperti itu?
“Harsa kenapa kau menanyakan hal seperti itu?. .”
“. . . . Maafkan aku. . aku. .”
Sejak lahir aku sudah jadi bahan perbandingan oleh Ibuku terhadap kedua kakakku. Dan sebab mereka itu orang-orang yang lahir dengan hadiah khusus, semua hal yang kulakukan selalu saja tidak ada harganya. Sebab jika aku bisa melakukan sesuatu, kedua kakakku pasti bisa melakukannya dengan lebih baik. Di sisi lain, apa yang kedua kakakku lakukan adalah sesuatu yang hanya bisa kubayangkan untuk bisa kucapai.
Sebelum dua tahun yang lalu, aku selalu berusaha untuk mengejar mereka, mencoba memanjat level mereka berada, dan meniru apa yang mereka lakukan. Karena dulu aku berpikir, asal kau bekerja cukup keras kau bisa melakukan apapun. Dan kalau aku berhasil, maka Ibukupun akan bilang kalau aku juga adalah anaknya yang hebat.
Tapi sayangnya orang yang punya bakat itu lain. Mereka ada di level lain dari orang-orang biasa sepertiku. Banyak sekali usaha yang kulakukan hanya menghasilkan kegagalan, dan seperti investor yang tidak lagi punya harapan banyak orang mulai meninggalkanku karena merasa kalau aku tidak lagi punya kesempatan, kemampuan, atau tenaga untuk bisa terus maju dan mendapat hasil.
Di saat itulah aku menyerah dan berhenti berusaha.
Kau tidak bisa kalah kalau kau tidak ikut perang. Dengan motto itu, aku mulai hanya fokus untuk mengejar nilai minimum untuk menghindari dibandingkan dengan kedua kakakku yang jauh di atas awan.
“Harsa. . . semua hal yang kau beritahukan padaku itu normal. . .”
Mereka sudah bekerja jauh lebih keras dari kita, mereka sudah melakukannya jauh lebih lama daripada aku maupun kau. Karena itulah normal kalau mereka lebih hebat dari kita, normal kalau kita yang mulai belakangan tertinggal dari mereka.
“Harsa, saat kau bekerja keras dulu! kau melakukannya untuk siapa?.”
“Untuk siapa?. .”
Setelah dipikir-pikir untuk siapa aku dulu bekerja sekeras itu? untuk Ibuku agar dia mengakuiku? untuk orang-orang yang bahkan tidak kukenal agar mereka tidak membandingkanku dengan kedua kakakku? atau aku melakukannya hanya sekedar ingin balas dendam pada semua orang yang sudah meremehkanku.
“Aku belajar untuk diriku sendiri, aku bekerja keras untuk diriku sendiri, aku ingin jadi orang hebat sep[erti kakakku demi diriku sendiri. . . .”
Karena itulah dia tidak peduli dengan cecaran dari luar yang dia terima. Sebab opini mereka tidak ada gunanya, tidak artinya, tidak penting, dan jelas tidak perlu dipikirkan. Hidupnya adalah miliknya, apapun yang dia ingin capai adalah hak miliknya pribadi. Dia tidak merasa punya kewajiban mengikuti opini orang lain yang tidak tahu seberapa keras dia sudah berusaha.
“Setelah kau tahu untuk siapa, untuk apa kau berjuang yang kau perlu lakukan hanyalah fokus pada hal itu!.”
“Tapi keinginanku hanyalah tujuan koto. . .”
“Tidak ada bedanya, tidak ada pengaruhnya, yang paling penting adalah hasil. . . kau ingin balas dendam? tidak masalah! kau ingin pamer? bukan masalah! kau ingin mempermalukan orang lain? lakukan saja!!.”
“Lisa . . .”
“Semuanya tidak penting kecuali hasil, tidak! bahkan hasilnya pun sebenarnya tidak terlalu penting sebab. .”
“Sebab?. .”
“Meski kau ataupun aku gagal, kakakku masih kakakku, kakakmu masih kakakmu, aku masih adiknya, dan kau masih adik mereka, kita semua masih saudara.”
“Ah. . . .”
Aku tidak tahu harus bicara apa. Tapi setidaknya aku sekarang tahu kalau pada dasarnya aku ini cuma anak kecil cengeng yang akan menangis hanya karena orang lain bilang kalau aku ini buruk dalam melakukan sesuatu. Aku cuma orang lemah yang tidak tahan terhadap tekanan. Mentalku hanya kurang keras.
Apa yang terjadi padaku sama sekali tidak ada hubungannya dengan seberapa hebat kedua kakakku atau seberapa bodohnya aku. Semua yang hal buruk yang kualami beberapa tahun di belakang hanyalah akibat dari aku tidak punya hati sebesar Lisa.
“Lisa. .”
“Apa?.”
“Pidatomu benar-benar kedengaran idiot!!.”
“Hmph. . .”
Tapi meskipun begitu, pidato idiotnya itu sudah cukup kuat untuk membuatku sadar akan sesuatu hal yang sangat sederhana.
Kalau kau gagal kau tinggal perlu mencoba lagi, kalau cara yang kau gunakan tidak berhasil kau tinggal mengganti metodenya, dan kalau ada anjing yang berisik di pinggir jalan lempar biarkan saja mereka menggonggong.
“Ahahahaha. . . . entah kenapa aku merasa jadi tambah idiot. . . ugh. . .”
Aku merasa kalau Lisa sedang memperhatikanku, tapi aku tidak bisa balas melihatnya sebab aku sedang memasang wajah yang tidak ingin kuperlihatkan padanya.
“Harsa. . .”
Hanya saja meski aku sudah menghindar dia berhasil mendekatiku dan melihat air mata yang coba kusembunyikan darinya.
“Jangan mengintipku!!.”
Dan dengan begitu, aku memeluk Lisa agar dia tidak bisa melihatku.
“H-Ha-Harsa. . apa yang kau lakukan?.”
“Aku sedang memelukmu bodoh!!.”
“Lepaskan aku. . .”
“Tidak mau!!.”
Selama beberapa saat Lisa terus mencoba melawan, tapi sepertinya dia memutuskan kalau moodnya tidak tepat dan akhirnya menyerah lalu balas memelukku sambil bilang ‘cup-cup-cup’ seperti sedang mendiamkan anak kecil yang ditinggal Ibunya.
Normalnya aku akan protes diperlakukan seperti anak kecil, tapi kali ini yang keluar dari mulutku hanya ucapan. .
“Terima kasih. .”
10
Begitu selesai mengantar Lisa pulang, aku langsung pulang ke rumahku sendiri dengan buru-buru. Alasan utamanya adalah karena aku tidak ingin disambut omelan Ibuku kalau dia sudah pulang dan alasan kedua adalah karena aku ingin segera bertemu kedua kakakku dan minta. .
“Harsa, ada apa dengan badanmu?.”
“Kenapa kau ada di sini kak Hany?.”
Tempat di mana kami bertemu masih lumayan jauh dari rumah jadi aku agak heran bagaimana dia ada di sini, mengingat dia tidak membawa apapun yang kelihatannya seperti belanjaan.
“Tentu saja menunggumu, aku agak khawatir karena kau masih belum pulang sampai sesore ini!.”
“Maaf.”
Untuk kak Hany sudah tahu ke mana aku pergi sehingga tidak ada proses introgasi.
“Lalu kenapa kau . . . Sudahlah, yang penting kau selamat.”
“Terima kasih.”
“Jangan bertingkah jauh begitu, kalau ada kau ada masalah serahkan saja pada onee-chan!.”
“Entah kenapa imageku tentang kak Hany banyak sekali yang mulai luntur.”
Selain itu, aku baru tahu kalau ternyata kau suka menonton anime tentang gadis-gadis manis yang bekerja di kafe. Mungkin, kapan-kapan kami perlu nonton bareng. Dan kuharap dia tidak punya masalah dengan fanservice.
“Image macam apa yang kau bicarakan Harsa?.”
“Image kalau kedua kakakku itu sempurna, dan selain memasak, kalian itu bisa melakukan apapun.”
“Apa-apaan image bodoh itu? Mana ada orang seperti itu? Kau terlalu banyak baca manga shoujou!.”
“Ahahah benar, imageku tentang kalian memang benar-benar bodoh.”
Dan karena image bodoh itu aku sempat menganggap kalau mereka itu bukan orang biasa, bukan orang yang pantas berinteraksi dengan ku, dan juga orang yang jaraknya perlu kujaga dariku. Gara-gara semua itu, hubungan kami jadi kering dan hampir seperti orang asing.
Gara-gara hal bodoh itu aku jadi lupa hal sederhana yang seharusnya selalu kuingat.
Seperti yang Lisa bilang.
Apapun yang terjadi, aku adalah adik mereka dan mereka adalah kakakku. Sampai kapanpun hal itu tidak akan berubah.
“Kak Hany mau es krim tidak?.”
Karena terlalu banyak hal sudah terjadi, aku sampai lupa kalau aku masih menyimpan es krim yang kubelikan untuk Lily.
“Terima kasih, ah aku jadi ingat dulu.”
“Dulu?.”
“Ya, kau masih ingat tidak kalau yang biasanya punya tugas membeli es krim untuk kita semua adalah aku?.”
“Ahhh benar juga, dan . . .”
Kak Anna punya tugas untuk jadi pengawas kami berdua, sedangkan tugasku adalah membawa masalah untuk kami bertiga dan membuat Ibu kami memarahi kami bertiga karena pulang dengan pakaian kotor.
Setelah berjalan selama beberapa menit sambil mengingat kenangan menyenangkan kami yang ternyata banyak, akhirnya aku dan kak Hany sampai di rumah. Lalu, tepat sebelum kami masuk, aku menghentikan kak Hany.
“Kak Hany, aku minta maaf atas perbuatanku selama ini.”
Untuk minta maaf.
Selama dua tahun ke belakang sudah berapa banyak tindakan tidak menyenangkan yang sudah kutunjukkan pada kedua kakakku? Aku tidak tahu tapi yang jelas jumlahnya pasti banyak. Karena itulah aku ingin segera minta maaf pada mereka.
Aku harap kak Hany dan kak Anna masih bisa memaafkanku.
“Minta maaf untuk apa? Aku tidak merasa pernah kau nakali.”
“Kak Hany. . . .”
“Selain itu, kalau kau memang punya salahpun aku sudah lamaaaa memaafkannya.”
Kak Hany menunjukan senyum manis khasnya, dan senyuman tulus itu sudah cukup untuk membuat mataku jadi basah bahkan tanpa debu.
“Terima kasih.”
Akupun memeluknya dengan erat. Tapi tidak seperti Lisa, dia langsung menerimaku dan hanya bilang.
“Sama-sama.”
__ADS_1
Sebelum balas memelukku.
Hari itu, hubungan kami bersaudara yang sudah lama rusak akhirnya kembali terjalin. Dan kali ini, lebih kuat dari sebelumnya.