
1
“Kak aku ingin es krim.”
“Kak foto aku.”
“Kak cepat ke sini.”
“Kak, aku ingin lihat pinguin.”
“Jangan menarik-nariku! memalukan.”
Plak.
“Jangan membentaknya! kau bisa membuatnya menangis.”
Setelah memukul kepalaku dengan menggunakan gulungan kertas yang entah dia dapatkan dari mana. Lisa Aprilia langsung pergi bersama dengan seorang gadis yang lebih kecil darinya menuju ke tempat pinguin.
Jadi, bagaimana situasiku sampai bisa jadi seperti ini. Maksudku, bagaimana bisa aku berakhir dengan seorang gadis kecil dan juga gadis yang lebih kecil lagi di kebun binatang meski padahal aku tidak pernah punya rencana liburan?.
Semuanya berawal dari ketidakberangkatan Lisa. Awalnya aku mengira dengan tidak berangkatnya macan kecil itu aku bisa sedikit lebih bersantai. Tapi ternyata sepertinya dia sudah memberikan kutukan padaku supaya aku tidak bisa bersekolah dengan tenang meski dia tidak ada.
2
Pagi ini, aku yang sudah mulai terbiasa dengan jadwal baruku bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Dan begitu aku membuka mata tiba-tiba aku diganggu oleh ponselku yang alarmnya seharusnya belum berbunyi.
Dan begitu aku memeriksanya, aku menemukan sebuah sms masuk yang pengirimnya adalah Lisa. Lalu begitu aku membaca isi pesannya, aku langsung tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Tanpa sadar aku bahkan sudah hampir mau tertawa.
Isi pesannya adalah. .
‘Aku tidak bisa menemanimu hari ini , mungkin aku juga tidak akan masuk sekolah tapi bukan berarti kau bisa malas-malasan ok!.’
Apa yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sejak hari di mana Lisa menantangku dia selalu saja menggangguku mulai dari pagi sampai sore. Bahkan ketika aku sudah kabur ke rumah pun dia masih terus menekanku untuk melakukan apa yang di mau.
Dari kalimatnya dia kelihatan buru-buru, dan orang buru-buru bisanya tidak punya banyak waktu. Itu berarti dia tidak bisa bebas mengontaku, dan jika dia tidak berangkat itu berarti di sekolah tidak akan ada orang yang menggangguku. Dengan kata lain kehidupan damaiku yang sudah lama hilang akan kembali meski hanya untuk sementara.
“Terima kasih banyak.”
Tanpa sadar aku langsung turun dari kasur dan menempelkan keningku ke lantai.
Setelah mendengar kabar itu aku tidak bisa lagi tidur. Karena hal itu aku memutuskan untuk segera ke dapur dan memasak makanan selain mie instan. Aku membuat omelet yang memerlukan waktu agak lama, tapi sebab aku bangun lebih cepat dan masih punya waktu aku tidak perlu buru-buru.
Aku bahkan menggumamkan lagi yang sudah kulupakan judulnya sambil masak. Sebahagia itulah aku.
Begitu selesai memasak aku membangun kan kedua kakak perempuanku dan menyuruh mereka langsung mandi. Dan begitu mereka selesai berganti pakaian aku langsung sarapan bersama keduanya. Sambil memasang muka senang.
“Kenapa kau belum berganti pakaian Harsa?.”
Hanya saja yang merasa senang sepertinya hanya aku saja. Entah kenapa aku merasa kalau pertanyaan kak Hany meski kedengaran biasa tapi seperti ada durinya.
“Aku masih ada urusan di rumah, hari ini aku akan berangkat lebih siang.”
Kak Hany melihatku dengan lebih tajam, dia menyipitkan matanya seakan sedang memeriksa kalau aku ini memang benar-benar aku.
“Dari tadi kau kelihatan bahagia? ada apa memangnya Harsa?.”
“Ahahaha. . tidak ada apa-apa.”
Lain dengan kak Hany yang memasang muka biasa saja tapi rasanya moodnya sedang buruk. Kak Anna memasang muka tidak peduli tapi kelihatan seperti sedang dalam mood yang bagus.
“Bukankah kau bangun lebih pagi dari biasanya? memangnya kau ingin melakukan apa?.”
Sebenarnya aku tidak akan melakukan apa-apa dan hanya berangkat siang karena ingin malas-malasan di rumah. Tapi tentu saja aku tidak bisa memberitahukan alasan semacam itu pada kakakku yang sedang menatapku dengan muka serius itu.
“Apa ada hubungannya dengan April?.”
“Begitulah.”
Karena dia tidak akan menjemputku pagi ini aku bisa memanfaatkan waktu luangku untuk bersantai. Hari seperti ini adalah hari yang sangat langka. Lisa adalah gadis yang serius, dan ketika di sedang serius dia akan mengejar tujuannya seperti orang gila.
Dan tentu saja saat dia bilang dia ingin menjadi yang nomor satu lalu mengalahkanku dia juga serius mengatakannya. Jika tidak, dia tidak mungkin akan melakukan hal-hal berlebihan seperti mengancamku dari belakang hanya untuk membuatku menuruti permintaannya.
Lalu sebab yang dikejarnya adalah nilai akademik pasti dia juga akan berusaha untuk serajin mungkin dalam melakukan kegiatan akademik. Jadi kesimpulannya, kalau bukan karena sesuatu yang benar-benar penting dia tidak akan absen dari sekolah. Oleh karena itulah aku perlu memanfaatkan waktu kosong yang kumiliki sekarang dengan sebaik mungkin.
“Apa si April sespesial itu?.”
“Ha?. . .”
Kalau masalah spesial atau tidak, kurasa dia memang spesial. Malah bisa dibilang kalau statusnya sudah sama seperti hewan langka yang perlu dilindungi pemerintah. Maksudku, kemungkinan kau bisa menemukan seorang gadis SMA berukuran mini sepertinya yang masih kelihatan imut-imut itu hanya sebesar kemungkinan kau bisa menemukan sebutir nasi di tumpukan pasir.
Selain itu, meski ukuran tubuhnya mini tapi dia punya sangat banyak energi. Kalau ada yang bilang jika dia adalah android dari masa depan yang punya reaktor higgs di dadanya. Aku akan langsung menyuruhnya menembakan koin sebagai railgun.
“Lupakan! . . . kami akan berangkat duluan.”
“Hati-hati di jalan kalau begitu.”
Kak Hany kelihatan ingin mengatakan sesuatu, tapi dia memutuskan untuk tidak bicara apa-apa dan hanya menjawab ‘hm’ sambil keluar dan berangkat bersama kak Anna.
Setelah itu aku bersantai di rumah selama setengah jam lebih sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut berangkat ke sekolah. Sebab biasanya aku selalu dibuat berangkat buru-buru oleh April, sesekali aku ingin berjalan santai sama seperti sebelum kehidupanku dijajah oleh gadis itu.
Cuaca hari ini lumayan cerah, meski matahari bersinar terang tapi cahayanya masih belum panas dan malah terasa nyaman di kulit. Selain itu, angin sepoi yang kadang datang juga membuat udara jadi suasana jadi semakin nyaman. Jika namaku Tanaka, mungkin aku sudah tidur di jalan.
“Kak Harsa pilih yang mana? ditangkap polisi karena kasus penculikan, jadi bulan-bulanan massa karena salah paham, atau membantuku melakukan sesuatu.”
Kalau orang itu tidak bertemu dengan seorang gadis kecil yang membawa alarm portable sambil memasang wajah mengancam dan juga memberikan kata-kata yang mengancam.
“Aku tidak punya uang banyak, jadi tolong rampok orang lain saja.”
Nama gadis yang sedang menghadangku di tengah jalan adalah Lily. Umurnya sekitar sembilan atau sepuluh tahun, ketika dia lebih muda dia sering mampir ke rumahku untuk bermain dengan kak Hany dan kak Anna sebelum mereka jadi orang sibuk. Dan tentu saja, kami saling kenal satu sama lain mengingat aku masih ingat pernah dijadikan kuda olehnya.
“Jangan khawatir, aku tahu kalau kak Harsa itu selalu kekurangan tahta, harta dan wanita.”
“Kau kira aku ini apa?.”
“Pria kesepian.”
“Woi.”
“Aku butuh bantuan kak Harsa! kalau kau membantuku aku bahkan akan membayarmu!.”
“Aku menolak!, aku sibuk!”
Dilihat dari manapun, tawarannya terlalu mencurigakan. Dan bagi orang yang sudah pernah terjebak oleh tawaran mencurigakan yang pernah gadis kecil lain berikan, aku sangat yakin kalau permintaannya akan membuatku kena masalah nantinya.
Selain itu, aku agak khawatir pada Lisa dan berencana untuk mengunjungi tempatnya nanti sepulang sekolah.
“Aku paham.”
“. . .?.”
Aku sempat kaget karena dia tiba-tiba menyerah begitu saja. Tapi kalau dia paham, berarti aku tidak perlu menuruti permintaannya.
“Kalau kau mau membantuku, aku akan memanggilmu Onii-chan.”
Dia mengedipkan satu matanya padaku.
“Ha?.”
“Semua laki-laki seumuranmu pasti ingin dipanggil Onii-chan oleh seorang gadis cantik, karena itulah aku akan mengabulkan salah keinginanmu itu.”
Wow, bocah ini benar-benar sombong. Dan apa-apan informasi ngawur yang dia punya itu? meski memang benar dadaku sempat berdegup kencang ketika dia memanggilku Onii-chan dengan muka polos. Perasaan itu bukan muncul karena aku senang, tapi takut kalau-kalau ada orang yang melihat dan salah paham lalu mengira aku yang menyuruhnya memanggilku begitu.
Mengesampingkan pengetahuan penuh biasanya yang kuyakin sumbernya dari tontonannya di hari minggu, kesombongannya sama sekali bukan tanpa basis. Maksudku, dilihat dari manapun dia kelihatan manis. Aku yakin kalau di luar sana akan ada banyak orang yang berebut untuk bisa dipanggil Onii-chan.
Aku saja tidak keberatan kalau dia mau memanggilku begitu.
Kalau situasinya tidak seperti sekarang.
“Jadi bagaimana? mau membantuku tidak?.”
“Aku benar-benar sedang buru-buru Lily, kalau kau ingin main-main, cari korban lain saja!.”
Satu gadis kecil pembawa masalah sudah cukup bagiku, aku sama sekali tidak butuh bonus. Jika ada seseorang yang ingin memberiku bonus, tolong berikan aku bonus dalam bentuk xp agar aku bisa mengupgrade hit pointku yang mulai beberapa minggu yang lalu statusnya sering low.
“Aku gagal menjaring kak Anna dan kak Hany, karena itulah pilihanku cuma kak Harsa.”
Jadi, rencana awalnya dia ingin minta tolong pada kak Anna dan Hany, tapi sebab dia terlambat menghadang keduanya dia memutuskan untuk menungguku untuk dimintai tolong. Jika dia sampai rela menunggu kami, itu berarti dia menganggap kalau hanya kami yang bisa menolongnya.
Mengetahui kalau ada seseorang yang punya pendapat kalau aku bisa diandalkan agak membuatku senang, dan kalau situasinya mendukung aku juga tidak akan keberatan membantunya. Sayang sekali, aku tidak bisa membolos demi anak ini, sebab sekarang aku sedang ada dalam perang memperebutkan rengking dengan Lisa. Dan dalam perang itu, nilai dan poin dari buku raport di akhir semester itu sangat penting.
Lalu, tolong jangan menggunakan kata menjaring. Kau kira kakakku serangga.
“Jika kak Harsa tidak mau membantuku, terpaksa aku harus menggunakan kekerasan.”
Kekerasan? maaf saja. Tapi ancamanmu sama sekali tidak mengancam. Maksudku, tidak mungkin aku akan kalah dari gadis kecil yang tingginya hanya sampai perutku dalam masalah fisik. Selain itu, jika secara ajaib dia punya kekuatan selevel Lisa aku juga tidak akan menyerah begitu saja. Maaf saja tapi aku sudah menumpuk pengalaman untuk mengatasi gadis berukuran mini yang hiperaktif.
“Maju saja kalau kau berani.”
Aku memasang kuda-kuda untuk bersiap menghadap serangannya. Tapi Lily tidak bergerak dan malah hanya diam di tempatnya sambil memegang gelang berisi alarm portable di tangan kirinya. Setelah itu.
Ringringringringringringringringring!!!. . . . .
“Toloooonggg!!! Ada penc. . . .”
“Time up! Time up! Time up! Time up! aku menyerah!! aku menyerah! jadi tolong matikan personal safety alarmu sekarang juga!!!!.”
“Jadi? kau mau membantuku atau tidak? kak Harsa?.”
“Muka polosmu benar-benar menipu.”
Gadis kecil ini benar-benar licik. Aku tidak menyangka kalau dia akan benar-benar mengeksekusi ancaman yang dia katakan saat kami bertemu. Jika polisi datang maka aku akan dibawa ke pos untuk ditanyai ini dan itu, meski pada akhirnya aku yakin bisa lolos dari kejahilan Lily dengan menjelaskan situasinya waktuku yang sempit akan terbuang.
Kalau yang datang adalah orang-orang di sekitar tempat tinggal kami yang kenal dengan kami berdua, aku yakin kalau mereka akan mengomeliku dan Lily selama berjam-jam karena bermain-main dengan sesuatu yang tidak boleh jadi mainan.
Dan jika yang datang adalah orang asing yang tidak tahu situasinya, bisa jadi aku akan babak belur dan masuk rumah sakit lalu terpaksa meliburkan diri entah sampai kapan.
“Terima kasih.”
Itu bukan pujian bocah!!!.
“Aku berjanji akan membantumu, tapi aku hanya bisa melakukannya setelah pulang sekolah! kau tidak keberatan?.”
“Tidak masalah, aku akan berkompromi dan menyesuaikan diri! kalau bisa aku juga tidak ingin merepotkan kak Harsa.”
Cuma perasaanku saja atau dari tadi kau sudah sangat merepotkan.
“Kalau begitu aku akan berangkat dulu, tunggu aku sepulang seko. . .”
Sebelum aku sempat berjalan, Lily menarik lengan bajuku dengan keras dan menatapku dengan serius.
“Aku ikut.”
“Hah?. .”
“Aku tidak mau kak Harsa kabur.”
“Aku tidak akan kabur!!!.”
“Aku tidak percaya jadi aku akan ikut.”
Jangan bertingkah seperti istri yang melihat suaminya akan selingkuh!!!.. Aku tidak punya julukan Ryuuou dan aku tidak ingat pernah mengajarimu main shogi untuk jadi pro!. Jadi jangan tiba-tiba memasang muka yandere sambil memegang safety alarmu!!. Aku bisa mati.
Secara sosial.
“Kali ini aku benar-benar menyerah!.”
“Anak baik.”
Dia berjinjit lalu menepuk-nepuk kepalaku. Dan sebab aku sudah tidak punya motivasi untuk melawan, aku memberikannya begitu saja. Setelah itu.
“Aku sudah capek menunggumu selama satu setengah jam, jadi aku tidak punya tenaga lagi!.”
“Lalu apa?.”
“Gendong aku Onii-chan!.”
Pagi itu, aku berlari ke sekolah sambil menggendong Lily karena tidak mau terlambat masuk kelas jam pertama. Dan di pagi itu pula, aku belajar apa arti sesungguhnya dari pepatah, ‘tenang sebelum badai.’.
3
Begitu aku menaruh Lily di UKS, aku langsung berlari menuju ke kelas. Dan untungnya, aku masih belum terlambat. Sayangnya, sebab begitu aku masuk bel langsung berbunyi, aku sama sekali tidak punya waktu untuk sedikit bersantai dan membuang rasa tidak enak dari keringat yang menempel ke pakaianku.
Sebab rasa panas di tubuhku masih belum hilang, aku tidak terlalu bisa berkonsentrasi pada pelajaran. Dan sebab guru yang mengajar di jam pertama adalah tipe orang yang hanya menyampaikan apa yang ada di buku. Kelas jadi benar-benar terasa sangat statis. Semua orang hanya melihat buku, menggambarinya, atau tidur.
Tunggu dulu! kau yang duduk tiga bangku di depanku! kau tidak perlu sestatis itu sampai harus tidur!. Maksudku, ini baru jam pertama.
“. . . .”
Aku melihat ke seluruh kelas dan merasa kalau kelas ini jadi aneh. Kelas ini bukanlah kelas yang terkenal dengan anak-anaknya yang pemalu dan penurut, tapi kelas dengan murid-murid berisik yang susah diam. Sepertinya efek dari ketidakadaan Lisa lebih besar dari yang kukira.
Jam pertama dan kedua berakhir dengan kelas tetap sepi seperti kuburan. Dan sebab aku juga sibuk memikirkan apakah Lily tidak memutuskan untuk berkeliaran sendirian di sekolah atau tidak, aku tidak bisa seratus persen fokus untuk mendengarkan penjelasan yang sebenarnya bisa dipotong jadi beberapa baris kalimat saja.
__ADS_1
Begitu bel istirahat pertama berbunyi, aku langsung pergi ke UKS untuk memeriksa keadaan Lily. Meninggalkan Arisa dan Sigra yang sepertinya ingin membicarakan sesuatu.
Dan begitu aku sampai, aku langsung menghela nafas lega. Sebab aku menemukan Lily sedang tertidur di kasur UKS dengan damainya. Jika dia tidur berarti dia tidak akan bisa membuat masalah tambahan, seperti jalan-jalan lalu tersesat dan memaksaku mencarinya lalu membolos pelajaran.
“Kurasa aku akan istirahat di sini.”
Melihat tingkahnya tadi pagi dan kenangan masa lalu yang masih sedikit bisa kuingat tentang bocah ini, aku yakin kalau Lily adalah tipe orang yang sama dengan Lisa. Seseorang yang kelebihan energi dan tidak bisa diam. Untuk memastikan kalau dia tidak tiba-tiba bangun dan seenaknya keluar, aku akan menungguinya selama istirahat.
“Ngomong-ngomong soal mirip. . “
Kalau bisa diam, mereka benar-benar kelihatan manis. Meski Lily dan Lisa sudah imut dari sananya, tapi aku agak kesulitan mengagumi keimutan mereka sebab lebih sering terlalu fokus memikirkan cara untuk mengatasi masalah yang mereka buat.
Lalu. .
Sebab tidak ada hal lain yang bisa jadi bahan perhatian, mau tidak mau perhatianku diambil alih oleh wajah Lily. Atau lebih tepatnya pipi mulusnya yang kelihatan sangat lembut. Pipi yang sama seperti yang dimiliki Lisa.
Ngomong-ngomong entah aku selalu penasaran bagaimana rasanya menyentuhnya.
“Lily. . . kau masih tidur kan?.”
Dia tidak menjawab dan raut wajahnya sama sekali tidak menunjukan reaksi kalau dia mendengar apa yang kuucapkan tadi. Aku harap dia benar-benar masih tidur dan tidak hanya pura-pura tidur hanya untuk menjebakku supaya bisa punya material untuk mengancam.
Setelah memastikan kalau Lily benar-benar tidak sadar, aku menarik kursiku untuk mendekat padanya. Setelah itu aku meletakan telapak tanganku di atas kepalanya dan membelai rambutnya. Kemudian aku menurunkan tanganku dan menyingkirkan helaian-helaian tipis rambutnya dari wajahnya dan mulai menurunkan tanganku ke pipinya.
“Sensasi ini.”
Berhubung aku tidak punya saudara yang lebih muda, aku tidak pernah punya kesempatan mencubit pipi seseorang. Malah bisa dibilang yang sering terjadi adalah sebaliknya, dulu kedua kakakku lah yang sering mencubit pipiku.
Saat itu aku tidak tahu alasan kenapa mereka melakukannya, tapi sekarang aku paham. Pipi anak kecil ternyata benar-benar enak untuk dipegang. Tanganku rasanya dimanjakan oleh kulit mulus dan texture kenyal layaknya jeli yang pipi Lily miliki.
“Ehehe. . .”
Kurasa tidak ada salahnya mencoba yang satunya juga.
Dan begitu aku mencoba berdiri untuk memegang pipi Lily yang sebelahnya, tiba-tiba pintu ruangan UKS terbuka dan memperlihatkan dua sosok yang ku kenal. Arisa dan juga Sigra, yang sekarang sedang memasang wajah seakan mereka baru saja menemukan pelaku tindak kriminal.
“Sigra, cepat telpon polisi.”
“Ok.”
“Tunggu dulu!!!!.”
2
“Jadi apa pembelaanmu tuan Harsa?.”
“Pembelaan apa Arisa? aku hanya ingin mencubit pipinya?.”
“Jangan percaya Arisa! dari wajahnya aku yakin kalau dia sedang berpikir mesum tadi.”
“Kau bisa diam tidak Sigra.”
“Kau yang diam! ini adalah pengadilan jadi mohon tenang.”
Sejak kapan UKS sekolah ini punya fungsi tambahan sebagai pengadilan. Lalu tolong berhenti mengayun-ayunkan stetoskop yang kau pegang itu Arisa, aku tidak mau disuruh bertanggung jawab kalau-kalau benda itu sampai rusak.
“Jadi, siapa dia? kau tidak selingkuh di belakang April dengan gadis kecil lain kan?.”
Berhenti bilang kecil-kecil-kecil, apa kau tidak sadar kalau kau juga kecil Arisa?. Selain itu, jangan memperlakukan April seperti anak kecil. Dia memang kecil, tapi yang kecil cuma badannya, bukan umurnya. Dan apa maksudnya dengan selingkuh? aku bahkan tidak punya hubungan semacam itu dengan gadis itu.
“Lalu yang terakhir, berhenti memperlakukanku seperti kriminal!!!.”
“Lalu dari mana kau mendapatkan gadis kecil itu?.”
“Aku hanya ingin membantunya melakukan sesuatu, berhubung aku tidak bisa paginya aku menyuruhnya menungguku sampai pulang sekolah.”
“Mencurigakan.”
Tidak ada yang mencurigakan dari apa yang kulakukan. Malah kau harus memujiku karena mau ditipu anak kecil untuk melakukan apa yang dia mau. Jika ada sesuatu yang mencurigakan hal itu adalah permintaan tolongnya. Lily bilang dia ingin meminta bantuanku, tapi aku sendiri tidak tahu yang ingin dia lakukan.
“Kalau begitu tanya saja pada orangnya.”
Aku menepuk wajah Lily dan menggoyang-goyangkan badanya agar dia bangun. Dan setelah beberapa saat menunggu, akhirnya dia bangun juga. Sambil mengucek-ngucek matanya yang rasanya mungkin masih lengket, dia memeriksa keadaan di sekitarnya.
“Lily, jelaskan pada orang-orang ini kenapa kau ada di sini.”
Sudah jadi rahasia umum kalau kalimat perempuan dan anak kecil jauh lebih dipercaya daripada kata-kata laki-laki. Karena itulah, daripada terus bicara dan tidak pernah didengarkan isinya, lebih baik kalau orang yang bersangkutan saja yang menjelaskan kalau aku ini cuma tetangga baik hati yang sama sekali tidak terpaksa membawanya ke sekolah agar bisa membantunya.
“Jangan takut gadis kecil, bicara saja yang sebenarnya.”
Arisa, kau bisa tidak berhenti memperlakukanku seperti kriminal.
“Um. . . . . .”
Lily memiringkan kepalanya, mungkin sedang mencoba memahami situasinya sekarang. Dia melihatku, Sigra, dan Arisa yang sedang memasang wajah layaknya detektif di tv secara bergantian. Setelah itu, dia tersenyum dan bilang. . .
“Kak Harsa bilang akan melakukan apapun yang kuminta kalau aku mau dia ajak ke sekolah.”
Tiba-tiba keadaan jadi tenang, atau malah bisa dibilang tiba-tiba UKS yang sudah sepi jadi tambah sepi layaknya kuburan. Dan sambil diam, Sigra dan Arisa berjalan mundur menjauhiku seperti hantu.
“. . “
“. . “
“Tunggu dulu! tunggu dulu!!! jangan melihatku dengan tatapan ‘mati saja kau’ seperti itu!! kalian tidak serius percaya dengan apa yang dikatakannya kan?.”
Meski secara teori apa yang dikatakan Lily itu benar, aku yakin kalau apa yang dikatakannya bisa diartikan ke arah yang Sigra dan Arisa pikirkan. Sebab sambil mengatakannya Lily memasang wajah senang dan juga senyuman, sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau dia datang ke sini dengan terpaksa. Selain itu.
Kalau mereka berdua benar-benar serius percaya kalau aku ini melakukan tindakan kriminal aku benar-benar akan menangis.
“Jadi kalian punya urusan apa ke sini.”
Kalau kalian tidak ingin berhenti sendiri maka aku akan mengganti topik dengan paksa. Dan kalau kalian tetap ingin melanjutkan topik sebelumnya, aku tidak punya pilihan lain kecuali mengusir mereka keluar dari ruangan ini atau kabur.
“Ah. . . .”
Arisa menghela nafas panjang. Sepertinya dia paham dengan apa yang coba kulakukan. Kalau kami terus bercanda urusan mereka juga tidak akan selesai-selesai.
“Kau tahu sekarang hari apa?.”
“Senin, lalu?.”
“Piket, hari ini adalah giliranmu!.”
“Ah. . sepertinya aku lupa.”
“Maaf. . .”
Aku benar-benar lupa. Sepertinya aku sudah terlalu sering mengandalkan Lisa sebagai alarm dan tanpa sadar menganggap kalau dia diam berarti tidak ada yang perlu kulakukan.
Tunggu dulu. Kenapa rasanya aku jadi seperti anjing peliharaannya?.
“Gah. . .”
Sepertinya cara keras April malah efeknya terbalik dari apa yang dia inginkan. Dia bilang ingin membuatku jadi orang yang bisa jadi rivalnya, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Aku jadi sadar kalau aku terlalu mengandalkannya. Jika ini kubiarkan saja, lama kelamaan aku akan terlalu bergantung padanya.
“Kenapa kau Harsa?.”
“Tidak apa-apa, aku hanya baru sadar kalau aku sudah jadi orang yang agak tidak berguna.”
“Syukurlah kalau kau sadar.”
“Woi!!.’
“Kau bisa introspeski diri nanti, tapi sekarang kembali ke kelas dan lakukan tugasmu.”
“Um.”
Aku pergi bersama Arisa dan Sigra setelah memperingatkan Lily untuk tidak jalan-jalan sembarangan. Memastikan kalau dia tahu dimana kelasku supaya punya tujuan jelas kalau-kalau dia dapat masalah, dan juga memberitahukan kalau dia bisa minta diantarkan pada kak Hany atau Anna misalkan tidak ada yang kenal dengan namaku.
4
Jam pelajaran selanjutnya adalah bahasa oleh bu Dian. Dan untuk mengikutinya kami perlu pindah ke kelas bahasa di mana ada banyak peralatan yang petugas piket hari ini periksa dan siapkan. Setelah peralatan audio visual siap baru pelajaran akhirnya bisa dimulai.
Dan begitu pelajaran dimulai suasana yang ada pada jam sebelumnya kembali muncul. Masih sama seperti sebelumnya semua orang masih bertindak statis. Normalnya hal semacam ini tentu saja bukan hal yang buruk, teman-teman sekelasku banyak yang memperhatikan pelajaran. Biasanya itu saja sudah cukup.
Tapi untuk pelajaran kali seorang murid perlu aktif dan ikut bicara. Mengingat ruangan ini dibuat dengan tujuan agar murid bisa berinteraksi dengan mudah.
Setelah sekitar setengah jam menjelaskan tentang rumus bahasa, pengaplikasiannya, dan juga beberapa contohnya guru di depan berhenti untuk melihat murid-muridnya.
Dengan muka bingung.
Selama pelajaran diberikan tidak ada yang mendiskusikannya, begitu contoh diberikan tidak ada yang bertanya, lalu ketika dia selesai menjelaskan semua yang ada di agendanya tidak ada yang bilang paham atau tidak paham. Dengan begitu, guru yang ada di depan sepertinya kesulitan menentukan sebenarnya murid-muridnya itu termasuk aku, itu benar-benar mendengarkan atau tidak.
“Ok, let’s have a quiz.”
Jika seseorang tidak mau maju dan bertanya dengan suka rela, maka cara paling tradisional yang bisa digunakan oleh seorang guru adalah membuat pertanyaan dan memaksa muridnya menjawab dengan menunjuknya satu persatu. Membuat semua orang harus menyiapkan diri kalau-kalau dia disuruh menjawab.
“Yang menjawab tanpa harus Ibu tunjuk akan dapat nilai plus.”
Dalam situasi seperti ini, biasanya Lisa akan langsung berdiri paling pertama dan mengangkat tangan. Tapi begitu dia tidak ada, penawaran yang diberikan oleh bu Dian jadi seperti sesuatu yang tidak ada nilainya. Kebanyakan murid hanya melihat satu sama lain dalam diam.
“Aneh. .”
Sejak masuk ke kelas ini baru pertama kali kelas ini terasa sesepi ini. Meski tidak bisa dibilang kelas dengan orang-orang yang paling terang otaknya sebab pengaturan kelas tidak berdasarkan ranking, tapi kelas ini bahkan terkenal sebagai kelas yang lumayan aktif. Sebutan agak sopan dari ‘kelas yang susah diam’.
Aku melihat ke arah Arisa mengingat dia adalah seseorang yang lumayan dekat dengan Lisa secara sifat dan juga prestasi. Dan juga postur. Dia adalah pemegang kursi rangking ujian masuk ke lima, jadi kukira mungkin dia akan tertarik dengan penawaran nilai plus.
“. . . .”
Tapi dia langsung mengalihkan pandangannya dariku setelah melihatku sekilas.
“Eh?. .”
Apa artinya aku juga tidak bisa bergantung padanya untuk membuat suasana kelas ini jadi sedikit lebih baik?.
“Someone please answer this question.”
Bu Dian menampilkan sebuah pertanyaan singkat di proyektor, setelah itu diam dan memberikan waktu untuk seseorang mengangkat tangannya secara sukarela.
Pertanyaan yang diberikan tidak sulit. Yang perlu kami lakukan hanyalah mencari bagian yang salah kalimat“She is five years old, wearing T-shirt and having length hair and blue eyes”dan mengganti kata yang salah dengan kata lain yang lebih cocok.
“ . . .”
Sekali lagi aku melihat ke sekitarku dan memperhatikan teman-teman sekelasku. Arisa masih menyibukan diri dengan bukunya, Sigra sedang melakukan hal yang sama sepertiku memperhatikan suasana di sekitarnya. Dan masih sama seperti sebelumnya, aku masih tidak menemukan orang yang kelihatannya ingin mengangkat tangan dan menjawab.
“Tunggu dulu. . .”
Selain pembicaraan umum seperti ‘kau saja-kau saja’ yang bisa kudengar dari sana-sini. Ada banyak murid yang membicarakan jawabannya secara langsung. Menunjukan kalau kebanyakan dari mereka paham dengan pelajarannya dan tahu jawaban dari pertanyaan yang diberikan.
“Ahh. . aku paham.”
Mereka tidak menjawab bukan karena mereka tidak tahu, mereka diam bukan karena mereka tidak tertarik dengan tawaran yang guru berikan. Alasan kenapa mereka bertindak pasif itu sama sekali tidak rumit. Semua itu bisa terjadi karena mereka itu sama sepertiku yang kemarin-kemarin sebelum bertemu dengan Lisa.
Tidak ingin bertindak mencolok dan menarik perhatian, tidak berani bicara karena merasa canggung, atau merasa kalau nilai yang ‘cukup’ saja sudah cukup.
“Jadi begitu.”
Kalau masalahnya hanya itu berarti penyelesaian dari masalah, yang biasanya tidak ku anggap masalah ini sangat simple. Mereka perlu pemicu, mereka perlu seseorang untuk diikuti, dan mereka seseorang untuk mendorong mereka mengambil langkah pertama.
Mereka membutuhkan orang seperti Lisa.
Sama sepertiku.
Sebelum Lisa datang dan mengobrak-abrik jadwal kehidupanku, aku juga sama seperti mereka. Tidak, aku malah lebih buruk dari mereka. Selalu mengincar posisi paling minim karena takut gagal saat mengincar sesuatu, selalu menempatkan diri di bawah radar karena takut dihina begitu gagal melakukan sesuatu, dan juga selalu mundur sebelum bertarung karena merasa sesuatu terlalu sulit untuk dilakukan.
Mencari prestasi itu sia-sia.
Adalah apa yang selalu kupikirkan.
Tapi sekarang lain. Aku haru mendapat nilai tinggi, aku harus mendapat rangking sebab jika aku tidak bisa mengalahkan skor seseorang, ada gadis kecil yang akan selalu menempel dan terus-terusan menendangku setiap hari.
Dan dengan suasana yang seperti ini aku tidak merasa bisa menyerap semua pelajaran yang diberikan.
“Apa boleh buat.”
Lisa tidak berangkat hari ini, itu berarti hari ini adalah hari di mana aku punya banyak kesempatan untuk bisa mencuri nilai darinya. Bahasa adalah salah satu mata pelajaran yang lumayan kukuasai, jika aku bisa menambah nilaiku dengan bonus yang diberikan oleh bu Diana kurasa menang dalam pelajaran ini dari April bukan sesuatu yang tidak mungkin.
“Bersiaplah Lisa.”
Sebab sepertinya aku akan menang di ujian bahasa yang selanjutnya.
“Bu! yang salah dari kalimat tadi adalah length, harusnya kata itu diganti long.”
“Bagus, Ibu akan berikan tambahkan nilai plus ke tugasmu.”
“Terima kasih.”
Bu Dian mengalihkan pandangannya pada murid lain untuk mendorong murid lain ikut menjawab dengan suka rela.
__ADS_1
“And for the question number two.”
Aku melihat ke belakang dan melihat Arisa menghela nafas dan berdiri lalu mengangkat tangannya.
“Aku bu Dian, should dari ‘should you mind if I open the window’ salah dan perlu diganti ke would.”
“Ok, thanks Arisa. . . . and for number three. .”
“I! my! me!!.”
“Yes Sigra.”
“Yang salah dari ‘It’s the more popular store in town so the products are quite good’ adalah ‘quite’ sebab kata itu artinya tenang, dengan kata lain gak nyambung.”
“Um . . .It’s wrong, but I’ll give you a plus for your bravery.”
“Maksudnya Bu?.”
“Artinya, Sigra itu murid yang sangat pintar.”
“Ehehe. . . terima kasih.”
Setelah itu sebagian besar murid di kelas tertawa lepas. Membuat suasana yang tadinya sepi jadi kembali cerah, kemudian pada akhirnya tidak perlu memaksa satu muridpun untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Sebab begitu ada yang sudah memulai, yang lain langsung berlomba untuk ikut berlari.
Pelajaran berakhir dengan perginya bu Dian yang diiringi sorakan kecewa dari teman-teman sekelasku setelah tiga jam berlalu. Dan untuk suatu alasan, ketika teman-teman sekelasku akan keluar begitu jam istirahat kedua berbunyi, beberapa dari mereka menepuk punggungku.
Ketika aku tanya kenapa mereka melakukannya, mereka hanya menjawabku dengan ‘bukan apa-apa’.
“Aneh.”
“Maksudmu kau?.”
Selain Lisa dan Sigra, normalnya di sekolah ini tidak ada orang lain yang berjalan bersamaku kecuali kalau dipaksa. Tapi begitu keluar kelas, untuk suatu alasan Arisa tetap bersamaku dan bahkan mengikutiku yang mencoba ke kantin setelah mendapat SMS kalau Lily sedang bersama kedua kakakku di sana.
Aku mendengar pengumuman kalau dia dipanggil kepala sekolah, dan memang benar dia bisa pergi ke sana menggunakan jalur yang kugunakan. Tapi dengan menggunakan jalur itu, pada dasarnya dia harus berputar-putar.
“Sejak kapan ketua kelas punya hobi menguping?.”
“Kau aneh itu sudah jadi rahasia umum.”
“Lalu kenapa kau mendekati orang aneh sepertiku?.”
“Karena orang normal biasanya suka menjauhimu, sebab itulah sepertinya kau itu orang yang aman untuk digunakan sebagai tempat bersembunyi.”
“Dari?.”
“Keramaian.”
“Kau . . . tidak suka jadi bahan perhatian?.”
“Mungkin kau akan susah percaya, tapi sebenarnya aku agak iri dengan cara hidupmu.”
“Kau iri padaku?.”
Bagaimana Arisa yang dari arahku kelihatan seperti punya segalanya bisa iri padaku. Maksudku, meski tidak pernah mengatakannya aku bisa merasakan kalau dia dibesarkan di lingkungan yang baik dan berkecukupan. Dia punya kemampuan sosialisasi yang tinggi dan punya banyak teman, penampilan manis yang membuat banyak orang ingin membelanya tanpa banyak tanya, serta otak pintar yang bisa membawanya dalam rangking yang cukup tinggi bahkan di sekolah yang kurasa terlalu kompetitif ini.
“Arisa, aku yakin kau masih ingat pepatah lama tentang rumput tetangga yang kelihatan lebih hijau.”
Kalah kau bisa iri padaku itu berarti kau segera perlu periksa mata. Sebab dilihat dari sisi manapun, rumput yang ada di halaman depan rumahku itu jelas-jelas lebih gresang daripada yang ada di tempatnya.
“Justru karena itulah aku iri padamu.”
Selalu diperhatikan oleh orang tuamu dan diberikan perlakuan terbaik itu, bisa juga diartikan kalau mereka memiliki ekspektasi besar terhadapmu. Dan kau tidak punya pilihan lain kecuali menjawab ekspektasi itu.
“Dan hal yang seperti itu lumayan menekan.”
Kau bisa punya banyak kenalan, tapi seseorang yang bisa kau sebut teman jumlahnya akan selalu sedikit. Kebanyakan orang yang maju mendekatinya dan bilang untuk jadi temannya adalah orang-orang yang hanya ingin memanfaatkanmu. Memanfaatkan kemampuanmu. Dengan kata lain, mereka mendekatimu bukan karena kau adalah kau. Tapi karena mereka membutuhkan bagian menguntungkan yang mereka butuhkan.
Menjadi orang yang bisa diandalkan mungkin kedengaran enak di telinga. Tapi di saat yang sama, hal itu juga berarti kalau ada banyak orang yang akan bergantung padamu.
Teman adalah seseorang yang bisa diajak saling membantu. Tapi kebanyakan orang yang melabeli dirinya dengan sebutan ‘teman Arisa’ pada dasarnya hanyalah beban.
“Lalu, beban-beban itu sama sekali tidak ringan.”
Dan untuk hal tidak enak macam apa yang dibawa oleh penampilan menariknya tidak perlu dipertanyakan lagi. Di dunia ini selalu ada pro dan kontra, dan tentu saja saat ada seseorang yang menyukaimu pasti ada juga yang membencimu dengan sepenuh hati. Aku bahkan bisa dengan mudah membayangkan ada anak-anak nakal yang menyembunyikan pensil atau penghapusnya karena iri padanya.
Sekarang aku paham kenapa dia tidak mengambil kesempatan yang diberikan oleh bu Dian di kelas tadi. Dia ingin jadi normal, dan salah satu bagian jadi orang normal adalah mengikuti arus.
“Arisa. . . kalau misalkan kau perlu ba. . .”
“Ah. . . Aku duluan.”
Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, Arisa membalikan badannya dan segera berjalan ke arah lain setelah melambaikan tangannya padaku. Dilihat dari manapun dia sengaja mengalihkan perhatian agar aku tidak melanjutkan topik tadi.
“Hm. . .”
Sama sepertiku yang tidak mau dibandingkan dengan kedua kakak ku meski aku ingin jadi seperti mereka. Mungkin, Arisa tidak benar-benar ingin meminta bantuan atau dikasihani meski memberikan banyak komplain.
Kami Pun berpisah, dan begitu aku sampai di kantin untuk suatu alasan kak Hany melambaikan tangannya padaku dengan muka bahagia. Membuat orang-orang yang tidak tahu kalau aku adalah adiknya menembakan tatapan-tatapan menyakitkan yang isinya mungkin pertanyaan ‘siapa kau?’ padaku.
“Hah. . . .”
Aku menghela nafas dan mencoba tidak memperdulikan mereka semua. Biasanya, di saat seperti ini aku akan komplain pada kak Hany untuk tidak melakukan hal seperti tadi. Hal yang bisa memancing perhatian ke arahku.
Tapi setelah mendengar cerita Arisa, aku agak merasa bersalah kalau harus menuntut terlalu banyak dari kedua kakakku. Sebab tanpa tuntutan darikupun, mereka sudah menerima banyak tekanan. Dulu aku ingin jadi seperti mereka, tapi setelah mengetahui kalau rumput di depan rumah mereka hanya kelihatan hijau dari tempatku berada, rasanya aku mulai merasa kalau gaya hidupku yang sekarang sebenarnya jauh lebih menyenangkan.
“Ada apa Harsa? kenapa kau melihatku dengan tatapan aneh begitu?.”
“Bukan apa-apa, ngomong-ngomong dimana Lily?.”
“Sedang mengambil makanan bersama kak Anna.”
Kalau begitu aku tidak punya pilihan lain kecuali menunggunya. Yang membawanya ke sekolah adalah aku, jadi rasanya tidak enak kalau aku menyerahkan urusan gadis kecil itu pada kedua kakakku.
Setelah aku duduk di depan kak Hany, dia langsung melihat ke kanan dan ke kiri seakan sedang mengecek keadaan. Tempat ini ramai, jadi pada dasarnya tindakannya sama sekali tidak ada gunanya mengingat semua orang bisa melihat apa yang dilakukannya. Dengan kata lain, dia malah menarik perhatian.
“Ada apa?.”
“Di mana April?.”
“Dia tidak berangkat hari ini, dia bilang ada urusan keluarga, ada apa memangnya?.”
“Aku ingin minta maaf padanya.”
Dari interaksi di antara mereka sampai saat ini. Hubungan kak Hany dan April itu kelihatan seperti Ibu tiri dan anaknya. Yang mungkin disebabkan oleh perlakuan sparta April yang menganggap kalau aku terlalu malas.
Sebelum ada tembok tidak terlihat di antara kami bersaudara, aku sangat dekat dengan kak Hany. Dan dia adalah tipe orang yang akan marah duluan ketika ada anak-anak yang menjahiliku. Kami semua, termasuk aku sudah bukan lagi anak kecil. Tapi mungkin, di matanya aku masih adik kecil yang perlu dia lindungi dari sesuatu.
“Awalnya aku tidak suka dengan gadis kecil itu, tapi kak Anna bilang dia itu gadis baik dan aku juga melihat sendiri kalau sekarang kau lebih sering kelihatan senang karena itulah aku ingin minta maaf dan mencoba jadi temannya.”
“Be-begitu ya.”
Sebenarnya aku sedikit berharap kalau Kaka Hany tetap menjaga jarak dengan Lisa. Meski memang benar gadis kecil membawa banyak hal positif di kehidupanku yang kemarin-kemarin lebih banyak elemen negatifnya, tapi cara yang dia gunakan lumayan menyakitkan. Maksudku, aku sama sekali tidak bisa menikmati tendangan dan pukulan yang sering April berikan padaku sebagai ‘pelajaran’ tambahan.
Kak Anna yang sudah jadi sekutu Lisa tidak akan memberikan komentar meski aku minta tolong padanya. Hanya saja kak Hany lain, jika dia melihat Lisa melakukan kekerasan domestik padaku dia akan protes dan menyuruh gadis mini itu berhenti. Jika sampai Kak Hany juga ikut jadi sekutu si Lisa, siapa lagi yang bisa kujadikan tameng saat gadis itu tiba-tiba korslet otaknya?.
“Kak Hany.”
“Apa?.”
“Aku tidak keberatan kak Hany baikan dengannya, tapi tolong tetap jadi sekutuku.”
“Sekutu?.”
“Ya, sekutu, sebab satu-satunya orang yang bisa kuandalkan hanya kak Hany saja.”
Di antara semua orang yang kukenal di sekolah ini. Satu-satunya orang yang bisa kuharapkan untuk membelaku saat ada argumen antara antara aku dan Lisa hanya kak Hany saja. Jadi kuharap, meski hubungan mereka bisa jadi lebih baik setelah kak Hany meminta maaf pada gadis mini itu. Kak Hany masih tetap jadi orang yang ada di pihakku.
“Beg-begitu ya. . . hehehe. .”
Setelah itu, Kak Hany tersenyum dengan polos layaknya anak kecil yang senang setelah diberi permen. Dan senyumnya itu sangat manis sampai yang saudaranya saja sempat jadi grogi dan terpaksa mengalihkan pandanganku ke tempat lain.
Beruntungnya, aku bisa melihat Lily dan kak Anna yang sedang berjalan ke arahku dan kak Hany. Dengan begitu, aku tidak perlu menghabiskan waktu dengan kak Hany dalam diam sebab aku tidak tahu harus bicara apa.
Begitu menyadari keberadaanku, kak Anna langsung memberikan sapaan.
“Harsa? kenapa kau ada di sini?.”
“Menjemput bocah itu.”
“Kau tidak perlu menjemput kak Harsa, aku bukan anak kecil.”
Lalu, Lily yang berada di sampingnya langsung menembaku dengan wajah sebal yang malah kelihatan lucu dan membuatku ingin mencubit pipinya.
“Kalimatku tadi kedengaran seperti kata-kata anak kecil yang ingin kelihatan dewasa.”
“Humph. . setidaknya aku cukup dewasa untuk bisa tahu kalau mencari kak Harsa itu buang-buang waktu.”
Jadi alasan kenapa dia bisa langsung bersama kedua kakakku begitu bel istirahat berbunyi adalah karena dia bahkan tidak berusaha mencariku.
“Lily, perasaanku saja atau kau baru saja bilang kalau tidak ada orang yang kenal padaku di sekolah ini?.”
“Maaf saja kak Harsa, tapi aku sudah bisa membayangkan semua orang akan bilang ‘hah? Harsa siapa?’ saat aku menanyakan keberadaanmu.”
“Geh. . .”
Kata-katanya benar-benar menusuk. Dan hal yang lebih menusuk lagi adalah kalau apa yang dia katakan pada dasarnya adalah kenyataan. Di sekolah ini, orang yang kenal denganku bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari.
“Jangan khawatir Harsa, masa depanmu masih panjang.”
Kak Hany, kau tidak perlu melakukan follow up. Sebab follow upmu rasanya malah membuat lukaku yang sudah sakit jadi tambah perih.
Setelah semua orang berkumpul, aku juga ikut memesan makanan sebab tidak enak hanya melihat orang yang makan. Sedangkan Lily, makan dengan lahapnya tanpa mempedulikan apapun. Dari cara makannya, sepertinya dia benar-benar lapar. Yang mungkin disebabkan karena dia harus berangkat buru-buru untuk menghadang kedua kakakku meski pada akhirnya gagal.
“Lily, lihat ke sini.”
Makannya yang buru-buru itu membuatnya jadi agak berantakan, tapi sebab untuk suatu alasan kak Anna bertingkah seperti seorang Ibu yang sedang mengawasi anaknya yang baru belajar makan.
Saat ada makanannya yang jatuh ke meja, kak Anna akan membersihkannya. Saat mulutnya blepotan maka kak Anna akan mengelapnya. Dan ketika dia kesulitan menelan, maka dengan sigap kak Anna akan menyediakan minuman.
“Terima kasih.”
Lily yang diperlakukan dengan manja oleh kak Anna tanpa rasa malu memanfaatkan kesempatan itu dengan penuh dan bertingkah semakin manja sambil memasang wajah senang.
“Kak Anna, kurasa kau perlu berhenti.”
“Kenapa? aku selalu ingin punya adik perempuan yang imut.”
Lily memang imut, luarnya. Tapi dia itu licik. Kalau kau tidak percaya kau bisa menanyakannya padaku. Sebab aku adalah salah satu kelicikannya. Selain itu, bukankah kau sudah punya adik perempuan?.
Kak Hany, gadis manis yang duduk di samping kananmu itu adik perempuanmu kan?.
“Jadi siapa di antara kalian yang mau kuperlakukan seperti Lily?.”
Kak Hany langsung memalingkan wajahnya. Mungkin merasa malu membayangkan bagaimana pemandangan Kak Anna menyuapinya di depan umum. Jika aku ada di posisinya aku juga tidak akan mau jadi bahan tontonan seperti itu.
Hanya saja kalau yang jadi subjek adalah Lily, semuanya akan kelihatan normal. Pemandangan seorang gadis cantik mengelap mulut seorang gadis kecil imut itu malah bisa jadi obat penyembuh kelelahan pikiran. Tapi kalau yang jadi subjek adalah kak Anna dan kak Hany. Mungkin tempat ini akan jadi rumah sakit darurat sebab murid laki-laki yang ada di sini pikirannya akan ke mana-mana membayangkan sesuatu yang disensor.
“Tidak ada kan? jadi jangan protes tapi kalau. . .”
Kalau?
“Kalau kau , Harsa, mau membawa April pulang setiap hari dan meminjamkannya padaku aku akan berhenti.”
Secara postur, Lisa tidak berbeda jauh dari Lily. Karena itulah aku paham kenapa hasrat kak Anna untuk memanjakan gadis kecil bisa dipenuhi. Hanya saja, tolong jangan membicarakan Lily seakan dia itu hewan peliharaan atau mainan.
“Kenapa kau memasang wajah seperti itu Harsa?.”
“Wajah seperti apa?.”
“Wajah yang bilang ‘diam kau perempuan tidak tahu diri, Lisa itu milikku’ seperti itu.”
“Sejak kapan aku yang ada di pikiran kak Anna jadi bajingan seperti itu?.”
“Kau tidak perlu khawatir Harsa, aku hanya akan meminjamnya saat siang malamanya kau masih bisa membawanya ke kamarmu.”
“Dengarkan akuu!!!!!.”
Kak Anna tidak mendengarkanku dan malah tertawa setelah melihat reaksiku. Dan hal itu membuatku berpikir.
Apakah kedua kakakku tidak sesempurna yang aku pikirkan?. Maksudku, kau dengar sendiri apa yang baru kak Anna katakan kan?, Imajinasinya kedengaran agak terlalu liar. Aku harap dia tidak menyembunyikan novel erotis di balik buku pelajarannya seperti guru ninja mesum yang suka telat mengajar.
Bagiku keberadaan mereka itu sama dengan tembok besar yang menghalangi jalanku. Bagiku mereka adalah NUMBER ONE HERO, yang kakinya bahkan tidak bisa kusentuh. Seseorang yang berada di balik awan. Membuatku merasa kalau aku ini sangat kecil, lemah dan bodoh.
Tapi. . .
Saat ini aku melihat mereka bertingkah seperti anak kecil, mendengar mereka membicarakan hal-hal bodoh, dan merasakan kalau mereka ternyata tidak jauh berbeda dari teman-teman sekelasku yang lain. Orang-orang yang tidak diberi label ‘jenius’ oleh siapapun.
Termasuk aku.
Pada akhirnya, Lily kembali ke UKS bersamaku. Kak Anna menawarkan untuk membantu Lily menggantikanku. Tapi aku menolak sebab yang membawanya ke sini adalah aku. Dan membiarkan orang lain menyelesaikan masalah yang kau bawah kedengaran tidak etis.
__ADS_1
Aku memang ingin memeriksa keadaan Lisa, tapi hal itu bukanlah sesuatu yang urgent dan masih bisa kutunda. Bel kembali berbunyi dan akupun segera bergegas ke kelas.