
Seseorang mahasiswi duduk sendiri di kantin menanti makanannya. Sebelumnya ia memesan mie ayam dan teh botol. Makanan kesukaannya selama tiga tahun ini. Entah kenapa ia lebih bisa menerima makanan ini dibandingkan dengan makanan lainnya di kampus. Mahasiswi itu baru saja menyelesaikan kelasnya. Ia mengambil jurusan Hukum di universitas yang terbilang cukup terkenal di Indonesia.
"Hey Sa, gila lo! makan gak ngajak lagi!?" seorang lelaki tiba-tiba saja menepuk pundaknya kasar dan duduk di sebelahnya. Orang yang dipanggil hanya menyernyitkan dahi. "Anjirr, gua abis ujian soalnya susah banget, mana gua abis rapat lagi tadi malem. lo ngapain sih? Tumben banget lu sendirian, mana Eza?"
"Entah, gua lagi males nih masuk kelas hari ini"
Pelayan kantin meletakkan mie ayam dan teh botol di depan meja mereka, membuat Riko yang tak tau diri meminumnya. "Kenapa lo? ada masalah sama Eza?"
"Enggak" perempuan itu menggelengkan kepala sambil mulai memakan mi ayamnya perlahan. "Tadi sih di sini, gak tau sekarang kemana, palingan sama pacar barunya itu."
"eh, Tisa, lo juga udah denger ya? keren ya si Eza, berani deketin Miss University kita satu itu"
Tisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penuturan Riko. Masih dengan pelan memakan mie ayamnya. Menurutnya juga sahabatnya Eza itu cukup hebat dan berani mendekati Alice seorang mahasiswi populer, cantik, pintar sefakultasnya. Alice ini juga merupakan anak salah satu profesor di universitas mereka yang terkenal galak.
"Menurut lo bisa bertahan berapa lama Sa?"
"Menurut gua kali ini pasti lama, siapa yang mau ngelepasin Miss University kita kan?" Bener kan apa yang dikatakan Tisa, tidak ada yang salah juga dengan Eza. Walaupun dia sering berteman dengan lelaki, tapi Tisa sangat paham kalo Eza ini tidak bisa dikatakan jelek, berbeda dengan dirinya perempuan yang kulitnya gelap, Eza ini memiliki kulit yang putih. Sangat putih membuat dirinya sebagai perempuan minder. Eza juga memiliki badan yang tinggi dan porposional. Ia memiliki rahang yang tegas, hidung yang mancung dan alis yang tebal. Tatapannya sangat tajam. Hingga terkadang ia sebagai sahabatnya sering merasa salah paham dengan cara dia menatap.
__ADS_1
Tidak berapa lama Eza masuk ke area kantin bersama wanita cantik yang baru saja disebutkan Alice. Semua memandang ke pasangan fenomenal satu itu. Tangan Eza dan Alice bertautan mesra. Terlihat mata Eza mencari seseorang sebelum akhirnya menemukan Riko dan Tisa di bangku paling ujung kantin. Eza tersenyum dan mengajak Alice ke arah mereka. Tisa dapat melihat perawakan Alice. Putih, langsing, pakaian yang dikenakannya pun sangat modis.
"Abis dari mana lo?" Riko bertanya sambil tersenyum melihat kedua pasangan itu. Eza dan Alice duduk dengan santainya di hadapan mereka.
Tisa merasakan perasaan tidak nyaman melihat Alice. Bagaimana tidak, Alice dengan jarak dekat cukup cantik. Tidak. Bahkan sangat cantik. Wajahnya benar-benar mulus dan lembut. Sepertinya Riko pun merasakan hal yang sama karena Riko tak berhenti melihat wajah Alice.
"Abis jemput Alice di kelasnya. Makan apa Sa? Lo gak makan, Ko?" Eza bertanya dengan seringai jahilnya, tangannya masih menggenggam tangan sang pujaan hati.
"Gua baru mau pesen nasi goreng, kalian mau pesen juga? Biar gua yang pesenin." Riko baru akan mau beranjak sebelum Eza menahan tangannya.
"Biar gua aja, Eh. kenalin dulu, Alice ini temen gua, dia Tisa dan ini Riko" Tisa dan Riko bergantian menyalami tangan Alice. Sebelum Eza akhirnya pergi untuk memesan makanan.
Tisa wanita tulen tentu saja. Ia menyukai lelaki. Hanya saja Tisa hanya sering bergaul dengan lelaki dibandingkan dengan perempuan. Dahulu, sebelum kuliah, ia lebih banyak bergaul dengan wanita, namun ada insiden yang cukup membuatnya sakit hati hingga akhirnya dia memilih untuk berteman dengan lelaki. Menurutnya lebih baik ia berteman dengan lelaki. Mereka cenderung lebih terus terang. Alhasil, Tisa menjadi wanita yang tidak bisa dikatakan lembut. Badannya yang kurus dan giginya yang tidak rata menambah nilai minus dalam dirinya. Belum lagi kulitnya yang sawo matang hingga sering dijuluki gelap.
Tidak berapa lama Eza datang membawa teh botol dan makanan untuk mereka sambil tersenyum. Tisa dapat lihat penampilan Eza. Kaos Putih, celana jeans hitam dan jam tangan G-Sh*ck serta sepatu v*ns. Biasa tapi, Eza terlihat luar biasa. Eza dipasangkan dengan Alice? Benar-benar pasangan yang serasi.
"Lo udah ajuin judul?" Riko tiba-tiba bertanya pada Tisa dengan santai ditengahnya menyeruput minuman teh botol didepan kami.
__ADS_1
"Belom, masih belom ada ide gua, lo?"
"Udah, mau gua bantuin?" Riko bicara sambil mengedipkan mata pada Tisa. Tisa mencebik, ia mengerti dan paham dengan Riko hanya menggodanya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Riko memang mahasiswa yang pintar di jurusannya. Riko bahkan masuk universitas dengan bantuan nilai-nilainya yang menurut Tisa ajaib hingga bisa lulus tanpa tes di universitas sebagus ini.
"Bukannya harus udah mulai ya judul mahasiswa udah masuk Kaprodi?" Alice ikut menyahut dengan suaranya yang lagi-lagi selembut sutra.
"Iya, mungkin nanti malam aku mulai mengerjakan judul dan bab-bab awal, agar tidak ketinggalan" Tisa meringis. Kemampuannya dalam pelajaran memang tidak begitu bagus dibandingkan dengan kedua temannya ini. Ia bahkan bingung mengapa ia bisa berteman dengan otak-otak encer seperti mereka. Nilai akademik dia cenderung biasa dan membosankan.
"Lo sendiri gimana?" Tisa bertanya dengan Eza.
"Gua ikut proyek nih bareng dengan Alice juga, lo mau gabung?" Eza menjawab dengan santai sambil mengunyah makanannya. Tisa tidak kaget dengan itu, bahkan ia sudah menduga sebelumnya. Bukan perkara aneh dengan kedekatan mereka sekarang. Tapi bukan berarti Tisa mau bergabung dengan mereka. Tisa hanya tidak enak, apalagi bila nanti mungkin ia akan dilupakan.
"Tidak terimakasih"
"eh, gua duluan ya, cewek gua udah kelar nih." Riko berdiri dengan cepat mengambil tasnya yang ia letakkan diatas meja. Tanpa menunggu ia sudah pergi meninggalkan mereka. Tisa hanya mengangguk diikuti dengan Eza dan Alice.
Tisa paham dengan Riko. Riko ini termasuk tipe bucin kalo kata anak millenial. Dia sangat sayang dengan pacarnya. Pacarnya kuliah di Universitas ini dengan fakultas yang berbeda. Walaupun penampilan Riko yang cenderung santai, tapi dia ini tipe lelaki yang setia. Riko dan pacaranya Nadin sudah berpacaran lebih dari 5 tahun. Entah apa yang dilakukannya selama itu hingga dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Tisa sendiri bahkan belum pernah berpacaran, walaupun dia sering berteman dengan lelaki. Itu terkadang yang membuatnya heran. Apa mungkin karena wajahnya?
__ADS_1
Entah berapa lama Tisa hanya terdiam mematung melihat kemesraan Eza dan Alice. Tak jarang Alice memerah karena malu ditatapi olehku atau mungkin seisi kantin. Mereka jadi pusat perhatian. Ia bahkan tidak mengerti mengapa masih bertahan ditempat itu. Mereka berdua terlihat serasi. Terkadang terbesit di benaknya ia ingin merasakan hal keromantisan seperti itu. Tapi entahlah, trauma masa lalu juga membuatnya takut untuk mendekati lelaki yang ia sukai.