
"Sejak kapan lo kenal sama Eza?" Tisa bertanya setelah akhirnya mereka hanya duduk dipinggir warung menikmati segelas teh hangat.
Mereka tidak jadi berolahraga dengan sepeda. Eza ternyata hanya berolahraga gym di hotel tempatnya menginap karena merasa Tisa mungkin akan kesiangan setelah Eza lama menunggu. Kemudian, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati pagi hari di puncak minus pasangan romantis itu tentu saja. Tisa yang merasa Eza tidak dalam suasana hati yang bagus pagi itu langsung mengajak Tomi pergi. Dan disinilah mereka sekarang.
"Eza?" Tomi mengerutkan keningnya."ohh.. namanya Eza?"
Tisa bingung. "Bukannya tadi lo panggil nama LENGKAP dia ya. Gua kira lo kenal."
"Alex? Gua kenal dia dengan nama Alex bukan Eza." Tomi meminum minumannya dan mengeluarkan rokok dari kantongnya.
"Lo kenal dia dari mana?"
"Gua kenal dia dari SMP. Kita satu SMP yang sama"
"Tunggu? Apa? Terus kalian satu SMA juga?" Tisa terkejut. Bisa jadi ini takdir selanjutnya dengan menangkap banyak kebetulan seperti ini.
"Enggak, gua tetap lanjut di Aussie dan dia pindah ke Indonesia."
Tisa mengangguk-angguk dan mulai paham. Dalam hati ia mendesah lega. Tisa fikir mereka mungkin akan hanya jadi orang asing yang tidak akan bertemu lagi suatu hari. Mendengar pernyataan itu, Tisa jadi ingat ia pernah tau kalo Eza itu bukan orang Indonesia asli, ia tau dari ibunya yang ternyata mereka adalah tetangga yang pindah satu komplek dengannya. Selain itu, ternyata adalah teman satu sekolah. "Lalu?"
Tomi tertawa. "Apa yang sebenarnya mau lo tanyain?" Tomi mulai paham jalan fikiran Tisa yang mudah terbaca.
"Yaa.. Eza dan gua berteman sejak SMA, walaupun begitu, kami baru dekat sejak kuliah. Jangan tersinggung. Gua belom pernah ngeliat dia begitu sama orang lain."
Tomi mengangguk. "Gua paham maksud lo." Tomi mengepulkan asap dari mulutnya. "Gua punya sedikit salah paham sama dia. Gua fikir itu udah lama dan masa kecil juga. Ternyata dia masih begitu sama gua."
"Masalah apa?"
__ADS_1
"Gua gak mau cerita. Kalo dia emang temen deket lo, dia pasti cerita ke lo." Tomi tersenyum dan sedikit mengacak rambut Tisa.
Tisa berdecak lalu merapikan rambutnya. "Kayaknya dia marah banget sama lo. Mungkin lo harus cepet selesaiin masalahnya."
Tomi mengalihkan pandangannya ke jalan. "Cewek yang berdiri di sampingnya itu pacarnya?"
"ohh.. Alice. I..iya. Pacarnya"
Tomi menoleh pada Tisa, seketika tawanya terdengar. Tisa mengerutkan dahi. "Kenapa?" Pertanyaannya terlontar.
"Lo tau, lo kayak pacar yang cemburu." Tomi masih tertawa. "Gua pernah bilang ke lo gak sih? kalo lo itu punya wajah yang ekspresif banget. Semuanya gampang keliatan"
Tisa mendengus geli. "Gila lo ya? Gua sama dia udah temenan dari SMA, ya walaupun baru deket 2 tahun ini, gak mungkinlah gua suka sama dia." Tisa meminum tehnya. Ia mengerutkan dahi merasakan tehnya yang mulai dingin. iya dingin.
Rasa tehnya mengapa jadi begini. tidak enak
"Terserah" Tisa mengedikkan bahunya acuh. "Temen gua bukan cuma dia, gua lebih banyak berteman dengan cowok asal lo tau."
Tomi memperhatikan perubahan wajah Tisa. "Kenapa?" Tomi sebenarnya mulai paham Tisa, dari perawakannya cenderung tomboy dan realistis, tapi entah kenapa ia hanya ingin mendengar jawabannya.
"Entahlah. Cowok lebih mudah mengutarakan suaranya tanpa berbelit-belit mungkin."
Tomi mengangguk, kemudian tersenyum melihat perubahan wajah Tisa setelah dia bertanya, "Alice cantik ya?"
"iya, Alice sangat cantik"
~
__ADS_1
Tisa kembali ke hotel tempatnya menginap. Mereka harus kembali lebih awal karena Tomi ada urusan mendadak dan Tisa memilih kembali ke hotel untuk tidur. Kepalanya masih terasa pusing karena terburu-buru bangun.
Tisa mencari handphonenya sebelum akhirnya merebahkan diri ke kasur. Ia mengusap layar dan menemukan pesan w*atsapp dari nomor tak dikenal.
ini gua Tomi.
Tisa tersenyum. Setidaknya ia tidak kembali bodoh untuk meninggalkan Tomi begitu saja tanpa nomor handphone. Tisa memang tidak berniat bertemu lagi dengannya. Namun, ia tidak bisa menampik pertemuan mereka benar-benar menyenangkan. Tisa mengetik balasan singkat. Kemudian tangannya membuka foto profil milik Tomi. Hanya sebuah gambar sepatu dengan warna gelap dan sedikit efek blur. Foto profil yang aman bila dia seorang buaya.
Tisa terkekeh. Tangannya kemudian membuka sosial medianya. Ia sebenarnya bukan tipe anak gaul yang suka dengan sosial media. Ia membuatnya karena merasa perlu bila ada seseorang bertanya. Setidaknya ia tidak dikatakan kuno. Postingan terakhirnya saja hampir setahun yang lalu. Tangannya menscroll berbagai gambar di berandanya. Kemudian berhenti di postingan Eza.Alexndr, itu sekitar 5 menit yang lalu dan sudah banyak like serta beberapa komentar. Itu foto wanita yang mengenakan jumpsuit biru menghadap undakan rumput asri dengan cahaya matahari sendu. Sudah dipastikan itu pasti Alice. Namun, tidak ada caption. Hanya beberapa teman Eza yang ia kenal berkomentar prihal hubungan mereka. Cukup informasi, ini adalah pertama kalinya Eza memposting foto seorang wanita. Tisa kenal Eza dengan banyak wanita entah pacar atau bukan. Tapi bisa dikatakan hubungan kali ini sangat serius.
Tisa memandang kosong jendela kamarnya yang cukup lebar. Ia sengaja menyibak tirai hingga matahari mengenai wajahnya. Tubuhnya masih susah digerakkan diatas kasur hingga tanpa terasa matanya terpejam.
~
Eza mengepulkan rokoknya ke udara malam yang dingin. Ia dan Alice baru saja kembali dari acara ulang tahun temannya itu. Sebenarnya acara seperti ini sudah banyak ia datangi dan menurutnya kali ini acaranya sama saja datar. Seperti pesta pada umumnya. Tidak ada yang menarik. Kalau bukan ini adalah teman dekat mereka berdua, mungkin dia tidak berencana hadir.
Eza memandang datar pemandangan dengan lampu-lampu indah di hadapannya sampai sepasang tangan merangkulnya dari belakang. Eza tersenyum kecil. Itu Alice.
"Lo gak tidur?" Eza mengelus tangan di lehernya. Eza merasakan gelengan kepala halus.
"Kenapa disini?" Alice bersuara, yang membuat Eza kaget suara seraknya begitu menggoda.
"Mencari udara segar. Mau ngerokok." Eza menoleh kepalanya kekanan dan menemukan pipi putih bersih Alice. Eza menciumnya. Eza merasakan harum Alice yang begitu lembut. Seperti roti dengan lelehan krim diatasnya. Tanpa disadari, entah siapa yang memulai Eza dan Alice berciuman. Ciuman yang awalnya kecil berubah tergesa-gesa. Eza menarik tangan Alice untuk duduk dipangkuannya dan terus mencium. Tangannya sedikit meremas pinggang Alice frustasi. Alice membalasnya dengan mengacak rambut. Cukup lama berciuman hingga Alice melepaskan ciuman mereka dengan enggan. Eza mengerutkan dahi, ia menatap Alice sendu.
Eza paham dengan tatapan Alice. Mereka saling menginginkan. Eza berdiri menarik tangan Alice untuk masuk ke dalam hotel. Sepasang mata melihat mereka dari jauh, matanya hanya bergerak-gerak, dengan tubuh masih diatas kasur seperti mati rasa. Tubuhnya hanya merespon dengan kedipan melihat adegan didepannya. Lampu kamarnya mati hingga tidak disadari oleh pasangan itu dari jauh.
Tisa paham situasinya dan ia sudah dewasa untuk mengerti kearah mana pasangan itu berlanjut.
__ADS_1