
Beberapa hari kemudian, Tisa dijemput oleh Eza dirumahnya. Sebenarnya Tisa sudah menghubungi Nadin -pacar Riko- untuk menginap hari itu. Namun, entah kenapa Tisa seperti ragu akan menginap. Nadin memang wanita yang baik, karena begitu baik membuat Tisa segan merepotkannya.
"Lu udah bawa baju kan? Jangan sampe ketinggalan dan akhirnya balik lagi, gua udah mepet waktu mau jemput Alice" Eza berseru. Mobilnya sudah memasuki jalan raya utama. Eza terlihat luar biasa hari ini. Ia memakai kaos putih dengan celana panjang hitam. Ia menyugar rambutnya kebelakang, tak lupa jam tangan dan sepatu kets nya menambah kesan maskulin.
"Udah si, tapi gua ngerasa gak enak nih, nginep di rumah Nadin. Lu tau sendiri gua gak deket"
"Terus lu mau nginap di rumah Riko? Gila lu ya"
"ya gak gitu juga, Za!"
"Ini maksudnya gimana Sa? Lu gak mau nginap tempat Nadin terus lu mau pulang aja bilang gak jadi? Gak bisa ya, gua gak bisa batalin, Sa!" Eza menggelengkan kepalanya tegas. Nada bicaranya membuat Tisa merasa tidak enak. Bukan Tisa ingin membatalkan perjanjian ini. Hanya saja Tisa tidak terbiasa merepotkan orang seperti itu.
Eza memandang Tisa dengan tatapan lembut. "Kenapa? Apa lu mau ikut gua aja?" Tisa menggeleng. Tisa tidak mau mengganggu acara mereka. "Gua bisa hubungin salah satu temen gua untuk izin bawa satu orang lagi, atau kita bertiga bisa cari tempat sewa lain" Tisa menatap Eza lama mempertimbangkan tawarannya. Bukankah itu lebih baik daripada ia harus merepotkan Nadin. Toh ia bisa jalan-jalan tanpa menggangu acara mereka juga.
"Boleh kalo gitu, cari tempat sewa lain aja di puncak. Kalian tetap ke acara kalian, gua mungkin bisa jalan-jalan sendiri." Eza menatap Tisa lama sebelum akhinya ikut mengangguk. Eza menambah kecepatan mobilnya menjemput Alice.
Tak berapa lama mobil Eza sudah berhenti didepan rumah Alice. Eza menghubungi Alice memberitahukan keberadaannya. Sedangkan Tisa menghubungi Nadin untuk membatalkan acara menginapnya. Kemudian Tisa pindah duduk di kursi belakang begitu melihat Alice keluar dari rumah dan Eza memeluknya mesra.
Tisa melirik Alice dari dalam mobil. Alice begitu cantik dengan dress selutut berwarna merah muda. Kulitnya yang putih membuatnya makin bersinar. Riasan wajahnya yang natural serta rambut hitam lurusnya yang tergerai indah membuatnya tersihir menatapnya lama. Tisa tersenyum melihat kemesraan mereka yang begitu manis sebelum Eza membukakan pintu untuk Alice.
__ADS_1
Alice tertegun melihat Tisa yang duduk dibelakang. "Hai!" Tisa menyapa, bibirnya tersenyum dan tangannya melambai canggung.
"Hallo" Alice tersenyum membalas. Bibirnya yang tipis dengan lesung pipi di kanan wajahnya membuat Tisa tertegun. Betapa cantiknya dia. Tisa tiba-tiba merasa minder. Eza masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan kendaraan kesayangannya itu. Alice menatap Eza penasaran.
"Maaf belum memberitahumu." Eza memulai. "Sepertinya Tisa akan ikut kita, ada masalah kecil yang terjadi. Mungkin kita akan menyewa tempat lain di Puncak. Apa tidak apa-apa?" Eza meminta pengertian Alice. Alice terdiam sebelum akhirnya mengangguk pelan. Tisa mendesah lega. Tisa fikir mungkin Alice tidak akan setuju. Namun, ternyata salah.
Bukan sekali dua kali Tisa mengenal pasangan Eza. Eza sudah sering gonta ganti pacar dan mengenal Tisa serta kedekatan mereka. Tak jarang pacar-pacarnya cemburu melihat kedekatan mereka. Padahal bukan itu. Tisa merasa mereka dekat karena mereka berteman lama, lagipula bukan hanya dengan Eza, Riko pun sama seperti Eza. Mungkin karena sering berada disekitar Eza hingga pacarnya merasa cemburu. Tapi sungguh aneh, bila dilihat mereka dengan Tisa sungguh tidak sebanding. Tisa yang wajahnya biasa aja, yang terkadang dijuluki gigi rusak itu tidak mungkin bisa berpasangan dengan Eza. Mustahil.
Entah sudah berapa lama mobil melaju, perjalanannya cukup panjang hingga Tisa merasa bosan. Sesekali Alice bertanya hal-hal kecil pada Tisa, Tisa menjawab semua yang ia tau. Alice lebih banyak bertanya tentang Eza kemudian dilanjutkan ledekan Eza pada Alice. Mereka benar-benar membuat Tisa merasa menjadi kambing budeg.
"Tisa apa tidak apa-apa bila kami tinggal sendiri?" itu suara Alice, pertanyaan yang akhirnya keluar dari bibirnya, setelah mengijakkan kaki di kamar sewa di puncak. Mereka akhirnya mendapatkan kamar itu, padahal biasanya sangat mustahil tersisa kamar dihari weekend seperti ini. Mungkin mereka memang sedang beruntung.
Mereka memesan 3 kamar di hotel. Fasilitasnya cukup bagus dan pemandangannya begitu asri. Tisa akan betah disini, tidak mungkin kesepian. Ia sudah merencanakan hal-hal seru tentu saja. Alice tersenyum mendengarnya.
"Ini kunci kamarku dan Alice. Ini kunci kamar mu Sa, kamar kami beda lantai dengan mu, apa tidak apa-apa?" Eza berjalan ke arah mereka dan memberikan kunci Tisa.
"It's okay"
~
__ADS_1
Tisa sampai dikamarnya, ia membuka pintu dan langsung disuguhi pemandangan indah dari jendela kaca yang begitu besar didepannya. Gorden dikanan kirinya berwarna beige dan begitu cantik dipasangkan dengan kamar nuansa putih hijau. Tisa langsung merebahkan dirinya di kasur, perjalanan yang panjang membuatnya lelah dan mengantuk.
Ting
Suara notifikasi handphone Tisa berdenting tepat begitu Tisa menyadari dirinya ketiduran. Itu dari Eza.
aku akan keluar membeli makan dengan Alice.
Itu suatu pernyataan bukan pertanyaan, ingatkan dia akan itu. Untuk apa Eza repot mengabarinya bila tidak menawarinya. Tisa menggerutu. Ia mandi dan berganti pakaian, sepertinya perutnya memang lapar.
Tisa keluar dari hotel menggunakan celana panjang dan sweater big size nya. Hari sudah malam begitu ia keluar. Pantas saja Eza tidak repot-repot menawarinya mencari makan. ini kan malam sabtu, besok malam adalah acaranya kan. Kapan lagi mereka berdua punya waktu.
Tisa berjalan kaki semampunya melangkah. Begitu banyak tempat makan disekitar hotel. Hingga akhirnya Ia menemukan tempat makan dengan musik akustik dan lampu kecil kuning mengelilingi tulisan Welcome. Ia masuk dan duduk, mulai memesan makanan ditemani musik "Luka yang Kurindu". Hingga tak butuh waktu lama, tempat mulai ramai dikunjungi orang terutama yang berpasangan. Tisa begitu menikmati alunan musik pelan-pelan dan merasakan hembusan angin semilir menerpa wajahnya.
"Permisi, boleh aku duduk sini?"
Seorang lelaki tiba-tiba datang ke meja Tisa. Tisa terperanjat tak percaya. Dia masih manusia kan, mengapa ada malaikat disini? Wajahnya tampan. Seperti bukan orang Indonesia, rambutnya pirang, hidungnya begitu mancung dan bibirnya berwarna merah manis. Rezeki apa yang ada di hadapannya, mengapa ia bertemu dengan lelaki tampan seperti ini.
Tanpa Tisa sadari ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh. Seorang lelaki yang duduk bersama wanita cantik menghadap undakan-undakan tanah yang asri.
__ADS_1