
Tisa membuka gerbang rumahnya, dan mulai melangkah masuk. Seorang wanita paruh baya menyambutnya dengan senyum. "Sudah pulang?"
Tisa mengangguk, ia melangkah ke meja makan kemudian menarik kursi untuk duduk. "Ah.. rasanya sangat lapar, ibu masak apa?"
"Pergilah cuci tangan sebelum makan, dimana Eza? Dia gak mampir?"
Tisa menggerutu, "enggak, dia hanya titip salam. Lagipula kenapa dengan Eza bu, kenapa ibu selalu tanya dia?"
Sang ibu tersenyum. "Ibu hanya bersikap baik dengan anaknya teman ibu, lagipula dia baik, ibu suka dengannya."
Tisa memutar bola matanya. Tisa bosan selalu itu jawaban yang ibunya berikan, bukan Tisa bodoh. Ia paham ibunya menyukai Eza tapi tentu saja mereka hanya teman, tidak lebih. Tak lama seorang gadis kecil turun melewati tangga rumah dan berlari ke arah mereka. "Apa sudah waktunya makan siang?" Gadis itu tersenyum meledek melihat kehadiran Tisa. "Ciee yang habis kencan"
"Siapa yang kencan?" Tisa mendelik.
"Sudah cepat makan, Risa!" Ibunya menginterupsi anak-anaknya sebelum mereka mulai bertengkar.
~~
Tisa menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Ia menatap langit-langit kamar. Fikirannya terbayang kejadian malam itu. Ia melihat sendiri bagaimana Eza mencium Alice dengan mesra sebelum akhirnya mereka memutuskan masuk ke dalam hotel. Sudah bisa ditebak apa yang mereka lakukan. Sungguh bodoh bila Tisa masih suka dengan lelaki itu. Sangat jelas Eza dan Alice bukan hanya main-main, terlihat bagaimana Eza memandang Alice dengan tatapan memuja. Belum pernah ia melihat tatapan Eza seperti itu pada seorang wanita.
Kisah yang memang diawali dengan pertemanan akan terus menjadi teman. Kisah ini cukup hanya Tisa yang tau, begitupun dengan perasaannya dengan Eza. Ia akan simpan rapat-rapat didalam hatinya.
Tisa memejamkan matanya, berusaha melupakan segala perasaannya saat ini, hingga suara handphone di sakunya berdering keras. Tisa mengambil handphone dan mengetuk layarnya. Itu Riko.
"Iya, ko, kenapa?"
"Kumpul yuk, lo dimana? gua denger lo pergi sama Eza?"
Tisa beranjak duduk, kepalanya pusing karena bangun tiba-tiba. "Ehmm.. iya, gua bantuin dia aja kok, gua dirumah sekarang. Mau kumpul dimana?"
"Gua sekarang di Rosse Cafe sih sama Nadin, gua telpon Eza gak bisa. Ayok kumpul!"
Tisa menimbang, Eza tidak datang, ia mungkin bisa mengalihkan fikirannya sejenak. Matanya melirik jam di dinding kamarnya. pukul tiga sore. "iya gua kesana, sejam lagi ya, gua mandi dulu"
Tak butuh waktu lama sambungan telponnya terputus dan Tisa bergegas untuk mandi dan bersiap. Tisa memutuskan mengenakan kaos putih pendek bertuliskan KILLIN' IT dan skiny jeans hitam serta sepatu kets putih.
__ADS_1
~~
"Heyy" Riko melambaikan tangannya pada seorang wanita yang baru saja turun dari taksi.
Tisa terseyum dan menghampiri Riko dan seorang wanita yang duduk sebelahnya ikut tersenyum. Itu Nadin. Begitu cantik dengan kacamata bulat membingkai wajahnya.
"Hai" Tisa bersalaman pada Nadin.
"Pesenlah dulu, kita udah pesen cemilan sih tadi" Riko melanjutkan.
Tisa menarik kursi dan duduk, ia mengambil buku menu dan membukanya. "Sorry ya gua ganggu acara kalian"
"Apaan sih lo, kalo ganggu lo gak gua ajak kumpul kali" Riko meminum minumannya. "Jadi? Gimana acaranya?"
"Acara apa?"
"Sorry ya gua jadi bilang ke Riko kalo lo gak jadi nginep dirumah gua" Nadin menyahut.
Tisa terkekeh. "It's okay, gak ada yang disembunyiin juga kok."
"Apa? Kencan apa? Kayak gak tau aja kerjaan Eza, gua cuma dijadiin alibi aja ke keluarganya biar dia dibolehin keluar" Tisa berdehem mempertahankan suaranya agar terlihat tenang.
Tak berapa lama pramusaji datang membawa makanan ringan ke meja mereka. Tisa menyebutkan pesanannya.
"Acara apa? bareng Alice?" Kali ini Nadin bertanya.
"Iya, acara ulang tahun katanya, gua sih cuma ikut nginep aja. Tapi gua gak ikut acaranya."
Riko dan Nadin mengangguk paham. "Gimana skripsi lo, Ko? Kapan seminar?" Tisa kembali bertanya.
"Tinggal cocokin jadwal aja sih gua, lo gimana? udah dapet judulnya?"
"Udah, dibantu Eza sih. Udah buat juga tinggal ajuin sampe acc deh"
Riko memakan ceminal di atas meja dengan santai. "Gua duluan nih ya kayaknya seminar usul, soalnya gua liat Eza sih masih revisi juga"
__ADS_1
Tisa terkekeh. "Iya lo kan ngebet pengen cepet nikah kan lo?"
Nadin bersemu merah. "eh, guys, by the way, gua udah mau pembukaan cafe gua nih, Tisa bisa dateng dong?"
"oh ya, kok gua baru tau by, kapan pembukaannya?" Riko bertanya kaget. Nadin memang merencanakan akan membuka cafe didaerah rumahnya, tapi Riko baru tau akan segera dibuka karena kekasihnya itu tidak pernah membicarakan apapun mengenai rencananya.
"Iya by, ini baru mau aku omongin, sekalian Tisa juga tau, mama papa udah setuju kok sama ide aku. Tempatnya di tempat yang waktu itu kita datengin. Udah dikonsep juga, jadi tinggal atur pembukaannya aja."
"Terus apa yang perlu dibantu?" Tisa bertanya.
"Gua masih butuh orang lagi sih untuk pegang kasir, ini masalah uang sih ya jadi ya, krusial banget. Kalo bisa ya bantu cariin."
"Selain itu? yang lain udah kan? Terus acara pembukaannya mau kapan?" Riko bertanya sambil merapikan rambut Nadin yang tidak sengaja jatuh ke dahinya.
"Tanggal 10 Bulan November deh kayaknya. Kalo udah dapet kasirnya minggu ini." Nadin menggenggam tangan Riko.
"Gua boleh jadi kasir toko lo? Yah, sekalian bantu juga kan gua juga ngisi waktu, sks gua udah tinggal yang wajib aja kok, jadi senggang." Tisa menyahut, tangannya menggenggam keripik dan memakannya santai.
"Boleh, lo mau? wah malah bagus sih kalo orang deket, jadi gua juga gak perlu khawatir kan."
"Lo yakin sa, gak ganggu kuliah lo kan?"
Tisa mengangguk mendengar Riko bertanya. Ia paham Riko khawatir, Tisa bukan orang dari ekonomi yang tinggi tapi Riko tau kalau keluarga Tisa termasuk keluarga yang cukup. Bekerja mungkin malah mengganggu kuliahnya alih alih mendapatkan uang yang tidak seberapa.
"Untuk bayarannya tidak bisa dikatakan besar sih, apa gak apa-apa?" Nadin ikut bertanya ragu.
"Tenang aja, gua gak mengharapkan gaji besar kok, gua cuma mau bantu aja sambil gua kuliah yang jarang ini. Ya cari kegiatanlah."
Nadin mengangguk setuju. "Oke deh, berarti aku gak perlu nyari susah lagi ya by, kamu setuju gak?" Nadin bertanya pada Riko antusias.
Riko mengangguk. "Iya, gak apa-apa kok, kalo Tisa niat kerja" Riko terkekeh mengejek.
"Kenapa? gua ini cewe yang tangguh loh! Gak percaya?" Tisa menantang Riko dengan kesan bercanda.
Riko tertawa "Haha iya paham"
__ADS_1