
Kepala Tisa rasanya sudah mau pecah, ini mungkin yang dikatakan oleh orang banyak tentang apa itu kuliah. Jangankan menulis skripsi, menulis judul pun belum ada yang ketemu. Tak ada satu pun ide yang muncul di kepalanya. Tisa kebingungan.
"Hahh.. Aku menyerah!!" Gerutunya kesal.
Handphone Tisa berdering. Tisa mengintip pelan. Nama Eza terus menyala di layar. Muncul ide bagus dikepalanya. Dengan semangat Tisa mengangkatnya.
"Ada apa?" Sahutnya, tak perlu berbasa-basi.
"Gua liat martabak kesukaan lu jadi keinget lu. Mau gak? Gua beliin?"
Tisa tertegun. Nah.. rencananya semakin mulus.
"Boleh. Buruan ke rumah gua. Sekalian gua minta bantuan nih!"
Eza memang lelaki yang baik. Ah. tidak. Terkadang dia baik. Terkadang juga tidak. Mungkin dia ingin meminta bantuan dengan Tisa hingga dia tiba-tiba membelikan Tisa makanan. Entahlah, isi kepalanya susah ditebak.
Sekitar setengah jam Tisa menunggu di kamarnya. Benar-benar berharap Eza akan datang. Tisa tau, Eza pasti akan membantunya membuat judul skripsi, hingga ia tidak perlu susah payah mencari lagi.
Eza ini bisa dibilang lelaki yang hampir mendekati sempurna. Ia tampan dan pintar juga kaya. Mereka berteman sejak SMA. Namun, baru dekat sebagai sahabat, sejak menginjak bangku kuliah. Eza bukan lelaki yang dingin tapi lelaki yang supel. Ia punya banyak teman dan pembawaannya yang tegas membuatnya sering jadi ketua di acara yang diselenggarakan organisasi kampus.
Tisa sering bermain ke rumahnya. Bertemu kedua orang tuanya sudah menjadi hal biasa, begitupun dengan Eza. Mereka saling mengenal akrab. Beberapa kali keluarga Tisa memiliki acara, keluarga Eza pasti akan diundang begitupun sebaliknya. Orang tua mereka pernah menganggap mereka pacaran. Namun, tentu saja dibantah dengan tegas oleh Eza bahwa mereka hanya teman. Eza sempat mendiamkannya waktu itu, bukan artinya Tisa senang dikatakan begitu, hanya saja mereka hanya sebatas teman. Iya teman. Tisa cukup paham dan tahu diri dengan kegusaran Eza. Tisa juga merasa aneh dengan pandangan orang tua mereka. Tisa ini biasa saja tidak mungkin bisa bersanding dengan Eza yang luar biasa.
Tisa mendengar suara ketukan pintu kamarnya disusul dengan suara ibunya dari luar. "Tisa, Eza datang tuh! cepet kebawah!"
__ADS_1
Tisa berlari keluar dari kamarnya dan turun ke ruang tamu. Tisa dapat melihat Eza yang sedang duduk sambil memainkan handphonenya.
"Eza, bantuin gua dong! Gua lagi butuh inspirasi judul skripsi nih!" Tisa mendekat dan duduk berhadapan dengan Eza.
"Lu yakin gak mau ikut bareng gua dan Alice"
"Ya kali, gua jadi kambing budeg bareng kalian"
"Ya enggak kali, kita tuh studi kasus, bukannya pacaran" Eza membantah sambil memakan martabak didepannya.
"Pokoknya cariin gua judul yang cocok, gua mau studi sendiri aja"
"Boleh, tapi ada syaratnya" Eza menyeringai. Tisa menggelengkan kepala, sudah bisa ia tebak kenapa Eza mau membantunya.
"Mau atau enggak? Gak mau juga gapapa si, ya lu kan lebih butuh dari gua" Eza kembali menyeringai iblisnya.
"Oke boleh, apa syaratnya?"
"Gua butuh izin dari nyokap untuk pergi acara camp di puncak"
"Terus? kenapa butuh izin dari gua? kan lu bisa bilang sendiri" Tisa heran dengan permintaan Eza, setaunya Eza tipe anak baik dan penurut. Setidaknya itu didepan orang tuanya. Jadi tidak mungkin Eza tidak diizinkan. Kecuali..
"Lu mau ajak Alice? Kalian pergi berdua?" Tisa berseru kaget. Eza dengan cepat membekap mulut temannya itu. Takut-takut orang tuanya mendengarkan. Terlihat raut wajah Eza gugup. Jarang sekali Tisa melihat keadaan dia yang seperti itu. Tisa yang mulai paham situasinya dan mulai berbicara dengan perlahan.
__ADS_1
"Lu gila ya? Lu mau ngapain berdua, jangan bilang, Za, jangan!"
"Suara lu besar banget Sa! Enggaklah gila aja gua berdua doang. Ini tuh acara ulang tahun temen gua. Gua emang berinisiatif mengajak Alice dan kebetulan aja dia mau. Ini gak seperti yang lu fikirin" Eza membantah keras. Eza memang bukan lelaki yang sangat alim tapi dia tidak mungkin secara terang-terangan mengaku yang tidak-tidak. Lagipula ini memang hanya acara ulang tahun. Gak akan lebih.
"Terus lu bakal nginep gitu? Berapa malem?" Tisa tau bila menginap satu malam saja Eza tidak mungkin meminta bantuannya. Ini pasti lebih dari satu malam, makanya harus ada yang menjadi tumbal.
"Acaranya sih minggu besok, malem minggu, tapi gua mau sekalian jalan dulu sama Alice. Jadi ya Sabtu dan minggu lah" Eza berucap santai dengan mengibaskan tangannya. Tisa hanya mengangguk mengerti. Tisa mungkin bisa pura-pura ikut dan beralasan dengan orang tua Eza untuk mengizinkan mereka menginap karena acara ulang tahun teman mereka. Toh, itu tidak terlalu berbohong kan. Tisa bisa numpang menginap ditempat Nadin -pacar Riko- agar orang tua Eza tidak curiga. Berbohong sekali tidak akan kena masalah kan, Tisa butuh menyelesaikan skripsinya untuk syarat kelulusan.
"Baiklah. Aku setuju" Eza tersenyum senang mendengar jawaban Tisa. Tidak berapa lama, Tisa mengambil laptop dikamarnya dan mereka mulai mencari bahan untuk judul skripsi dan beberapa bab awal.
~~
Tisa sudah duduk di ruang tamu rumah Eza. Ia menunggu dengan sabar sang pemilik rumah sambil mencari kata yang tepat agar begitu meyakinkan. Eza sudah menepati janjinya untuk membantunya mencari judul skripsi, bahkan hingga dosen pembimbingnya dengan mudah mengacc judul yang ia kirimkan. Kemampuan otak Eza memang patut diacungi jempol.
"Tisa dan Eza mau kemana? Eza udah cerita ingin pergi bareng kamu ke acara temannya?" Ibu Eza muncul dengan minum ditangannya, disampingnya sudah berdiri Eza sambil memainkan mata.
"hmm.. Anu tante.. mau ke acara ulang tahun temanku di Bandung, acaranya 2 hari gitu. soalnya capek kalo harus bulak balik di hari yang sama. Tisa dan Eza kan bantu nyiapin acaranya" Tisa agak gugup mengatakan hal itu. Jujur saja, Tisa sangat jarang berbohong apalagi ini dengan orang tua. Sedangkan Tisa melirik Eza yang sudah duduk di depannya dengan santai.
"iya sudah, tante percaya kok sama kalian. Kalian kan memang tidak pernah aneh-aneh." Tisa merasa hatinya tercubit mendengar penuturan ibu Eza. Bagaimanapun juga ibu Eza sudah seperti ibunya sendiri. Sebelum ini Tisa juga sudah berbicara dengan orang tuanya. Entah dosa apa yang akan Tisa terima.
"Tante ke dalam dulu ya" Ibu Eza pamit dengan Tisa. Tisa mengangguk dan tersenyum membalas. Beberapa menit Ibu Eza pergi. Tisa berujar kesal pada lelaki didepannya.
"Lu jangan macem-macem ya, besok-besok gak mau deh gua begini. Takut gua bohong gitu sama orang tua"
__ADS_1
"Kita kan udah sepakat. Mending sekarang lu telpon deh Nadin, lu mau nginep tempat dia kan?" Eza membalas acuh perkataan Tisa. Tisa terkadang heran dengan fikiran Eza yang sesimple itu mengahadapi masalah. Tisa jadi penasaran apa yang bisa membuat isi kepala Eza berfikir keras.