
"Nama gua Tomi, lo?" Lelaki yang baru saja duduk disebelah Tisa mengulurkan tangan. Tisa menyambut tangannya dan mereka berkenalan.
"Tisa" Tisa tersenyum, melihat sepasang mata berwana coklat terang di hadapannya. Tisa menilik penampilan lelaki yang dipanggil Tomi itu dengan seksama. Tomi memiliki rambut pirang yang cocok dengan wajah tampannya. Ia punya hidung yang mancung, rahang tegas, dan alis yang tebal. Terdapat bintik-bintik melintang dari hidung hingga pipi. Bila tidak berbicara bahasa Indonesia mungkin ia tidak akan paham Tomi adalah orang Indonesia.
"Lo sering kesini?" Tomi mengambil buku menu diatas meja dan mulai memesan minuman pada pramusaji yang lewat.
"Hanya beberapa kali, tidak sering"
"Benarkah? wajah lo keliatan gak asing"
Tisa terkekeh "Lo bercanda, disini gak ada yang mirip wajah gua." Hanya beberapa menit duduk disini Tisa paham hanya sedikit yang memiliki wajah biasa sepertinya. Bahkan bisa dibilang hampir tidak ada. "Lagi apa lo disini? Ada acara atau cari cewek cantik?"
Tisa sudah hafal dengan tipe-tipe lelaki seperti ini. Tisa sudah banyak kenal dengan berbagai tipe lelaki. Bahkan yang paling polospun terbiasa dengan dunia yang seperti itu. Wanita bisa dalam arti segalanya.
Sekarang gantian Tomi yang terkekeh. "Apa jelas kelihatan?" Pramusaji datang ke meja mereka dan meletakkan minuman diatas meja. Pramusaji itu mengedipkan sebelah matanya pada Tomi dan dibalas senyum olehnya.
Tisa mendengus. "Kayaknya lo udah dapat satu"
"Haha.. gak gak.. gua kesini pengen ilangin penat aja. Lo sendiri?" Tomi meminum minumannya.
"Terjebak dalam romantisme pasangan indah sejagad kampus."
Tomi tertawa keras. Tisa merasa tidak enak meja sebelah mereka menatap sinis. "Kalau begitu mungkin kita bisa menghabiskan waktu bersama selagi pasangan romantis sejagad kampus menikmati hari mereka" Tomi mengusulkan. "By the way, lo orangnya asik juga ya, tipe wanita realistis kayaknya."
"wah wah, seorang pangeran lagi ngajak gua kencan nih kayaknya."
"Hell no! Bukan kencan. Cuma jalan-jalan biasa. Siapa tau bisa jadi temen dekat."
"It's okay" Tisa terkekeh menyetujui. Lagipula mereka hanya bertemu di Puncak. Dunia luas ini tidak mungkin semudah itu bertemu lagi. Kecuali bila mereka berada dalam kampus yang sama. Itu juga masih kemungkinan kecil bisa bertemu lagi.
__ADS_1
"Besok pagi gua ada plan mau sepeda sekitar hotel. Mau ikut?"
Tisa mengangguk.
"Lo nginep di hotel mana? Biar gua jemput. Kita bisa ke rental sepeda bareng"
Tisa menyebutkan tempat hotelnya menginap. Mereka terus berbincang santai sambil menikmati musik akustik yang disediakan resto itu. Angin semilir menerpa wajah keduanya membuat rasa nyaman. Suasana resto itu sangat sejuk. Begitu banyak pasangan yang menikmati kedamaian malam itu.
Tak terasa waktu semakin malam. Tisa merasa Tomi benar bahwa mereka memiliki sefrekuensi humor dan pandangan yang sama. Begitu nyaman berbincang dan berteman dengan cara pandang yang sama denganmu. Dirimu akan merasa dipahami orang lain.
Tisa melirik jam tangannya. Pukul 11.45 malam. Tisa beranjak dari duduknya. "Udah malem nih.. Kayaknya gua balik duluan deh"
"Gua anter gimana, jalannya searah kok sama hotel gua nginep. Gua bawa mobil juga" Tomi menawarkan.
"Gak.. gak ush gak apa-apa. Gua kira lo mau hunting wanita lagi."
Tisa mencebik mendengar godaan Tomi kemudian tersenyum. Mereka berjalan ke kasir untuk membayar sebelum akhirnya Tomi mengantar Tisa ke hotel tempatnya menginap.
~
Tisa mengerjapkan matanya perlahan merasakan sinar matahari yang masuk. Seketika ia duduk dan tersadar. Astaga. Tisa kesiangan. Ia beranjak cepat mandi dan bersiap-siap turun kebawah. Tisa menggerutu pelan. Kepalanya hampir terhantuk pintu karena terlalu terburu-buru. Seharuanya Tisa memberikan nomor handphonenya pada Tomi. Atau paling tidak memberikan nomor kamarnya dan membiarkan Tomi mengetuk membangunkannya. Betapa bodohnya ia.
Tanpa sadar Tisa hampir terjatuh menabrak seseorang didepannya bila orang itu tidak memegang lengannya keras. "Lo mau kemana? Kenapa buru-buru?" terdengar nada sarkasme.
Tisa mengangkat wajahnya berniat meminta maaf. Itu Eza. Disampingnya berdiri Alice dengan bingung. Eza masih memegang lengannya. Tisa dengan cepat melepasnya dan berdiri tegak. "S..Sorry gua buru-buru. Temen gua nunggu dibawah"
Eza melepaskan dengan enggan. Alisnya terangkat sebelah melihat tingkah aneh Tisa. Tak butuh waktu lama Tisa berlari cepat menuju lobby.
Tisa tidak menemukan siapapun di lobby. Tisa menyesal dengan kebodohannya tidak meninggalkan nomor handphone atau apapun. Ia melirik jam tangannya. Pukul 07.00. Bodoh. Bersepeda apa jam segini di Puncak pula. Tisa bertanya pada satpam yang berjaga didepan. Mereka mengatakan seorang lelaki itu sudah pergi dari satu jam yang lalu. Itu artinya Tisa terlambat 1 jam.
__ADS_1
Dengan wajah lesu Tisa akhirnya duduk di sofa lobby. Ia berharap Tomi akan datang. Tisa sangat menghargai janji. Menurutnya janji adalah hutang. Ia kembali merutuki kebodohannya. Tisa tidak tau di hotel mana Tomi menginap dan ia tidak bertanya. Sungguh berlipat ganda hari ini.
Tak berapa lama pasangan romantisme yang sering Tisa sebut itu keluar dari lift. Eza merangkul Alice dengan mesra, sedangkan Alice tersenyum. Pagi itu Alice begitu manis dengan jumpsuit biru dengan kaos sabrina berwarna putih. Sepatunya berwarna senada dengan kaosnya. Eza pun memakai kaos putih dengan logo polo dipojok kanan atas. Mereka seperti memakai pakaian pasangan meskipun dengan hanya dengan warna yang sama.
"Sedang apa?" Eza menyadari Tisa duduk di lobby dan tak berbasa-basi lagi. "Dimana teman lo?" Alice melanjutkan.
"oo..oh sebentar lagi sampai" Entah mengapa Tisa merasakan euforia menegangkan disitu. Ia melihat tatapan mengeras Eza padanya. Alice masih dengan senyum. Mungkin hanya Tisa yang menyadarinya.
Ada apa?
"Lo udah lama menunggu?" Tisa menengok ke kanan. Melihat seorang lelaki tinggi yang mengantarkannya semalam. Tisa mendesah lega kemudian tersadar untuk menggeleng.
"Ti.. Tidak" Tisa melihat Tomi yang tampan itu memakai training dan kaos hitam serta sepatu berwarna senada berdiri dihadapannya. Sepertinya ia sudah bersepeda, terlihat dari peluh di keningnya yang putih bersih.
"Lo udah lama nunggu pagi ini? Gua minta maaf buat lo nunggu." Tisa melanjutkan.
"It's okay" Tomi hanya tersenyum mengacak rambut Tisa pelan.
"oo.. oh.. kenalkan, ini teman-temanku. Ini Eza dan ini Alice." Tisa memperkenalkan mereka setelah tersadar dari keterkejutannya pagi ini akan sikap Tomi yang mendadak aneh itu.
Tomi melihat Alice dan Eza sesaat. Tomi tersenyum. Ia mengangkat tangannya sambil mengucapkan "Hai"
Alice balas menyapa "Hai". Sedangkan Eza masih menatap Tomi lebih lama. Ia terdiam mematung. Tisa merasa tidak enak dengan Tomi yang menyambut mereka ramah. Eza tidak seperti biasanya seperti ini. Eza selalu supel dengan siapapun. Ia tidak pernah menunjukkan ketidaksukaannya pada siapapun karena ia cenderung tidak peduli pada urusan mereka. Tisa merasakan suasana tidak enak disekitarnya.
Ada apa?
Tomi akhirnya terdiam. Eza dan Tomi saling pandang sebelum akhirnya ucapan Tomi membuat mereka tertegun sesaat.
"Hai Eza Alexander Tedja, Apa kabar?"
__ADS_1