
Happy reading
❤️❤️❤️❤️
sejak hari itu Duri kecil yang mengetahui kemirisan hidup nya ia kabur dan pergi membawa sejuta luka di batin nya, dia tidak tau ke mana arah langkah nya namun Duri harus bisa kuat bangkit dan terus semangat walaupun dia sendiri pun bingung kemana arah tujuannya. Namun ini lah kehidupan enak nggak enak tetap harus di jalani bagaimana semestinya .
Sejak hari itu Duri sudah tidak lagi memikirkan dari mana asalnya dan siapa keluarga nya bagi dirinya hanya membuka luka yang sangat menyakitkan. Dan kini Duri menjadi anak yang di paksa dewasa oleh keadaan di paksa bertahan demi segalanya.
lima tahun kemudian.
"Duri cepetan kita mau ke sekolah ni... Nanti terlambat dan kita bakal jalan kaki lagi karna ga dapet tumpangan gratis sama pak kumis." Ucap Tami temen Duri satu rumah dengan gadis itu
"Sebentar , aku lagi pake baju ni soalnya tadi habis bantuin bibi di dapur" Ucap Duri dari dalam kamar
"kita ini mau ke sekolah Duri bukan mau ke mall lama banget sih?" Cicit Tami karna begitu lama menunggu temannya itu.
"Iya iya, aku tau... Ini udah selesai kok... Taraaaaa." Duri keluar dari kamarnya dengan memakai baju putih Abu-Abu nya, dan baju itu terlihat ketat di tubuhnya ,karna sudah mulai kekecilan,namun karna kendala biaya Duri pun tak mampu membeli baju sekolah , Tami melihat penampilan teman nya itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kenapa ada yang aneh?" Tanya Duri, sedangkan Bi Ema atau ibu dari tami sudah pergi ke kantin sekolah terlebih dahulu
"baju kamu itu udah kekecilan Duri, tapi terserah kamu, ya udah kita berangkat yuk."ajak Tami kepada Duri
" Nggak papa lah, yang penting masih muat."ucap Duri lagi
Mereka pun keluar dari rumah pagi itu dan menyusuri jalanan trotoar tersebut, " Gara-gara kamu lama banget, jalan kaki kan kita sekarang, pak kumis dah berangkat deh ini."ujar Tami menyalahkan Duri yang selalu lambat jika mengerjakan sesuatu padahal gadis itu lambat karna membantu ibu nya tidur membuat gorengan dan aneka kue di dapur.
"Sorry-sorry, lain kali ngga lagi deh.. Kali ini kita olahraga jalan kaki dulu ya.. Biar sehat." Ucap Duri sambil senyum-senyum.
"Dasar kau ini." Ketus Tamu sambil bermuka masam
"Laper nggak?" Tanya Duri
"Laper sih, tapi aku cuma punya uang lima belas ribu lagi Duri, nanti siang kita mau makan apa kalau ini di belanjain sekarang?kau tau kan ibuku bagaimana orangnya? " Ucap Tami menatap miris duit yang ia pegang
Duri pun mengobrak obrik isi tak kecilnya "Mana ya... Mana sih." Ucap Duri sambil tangannya mencari sesuatu didalam tas .
"Cari apa sih?" Tanya Tami
"Udah tunggu bentar,,nahh... Ini dia dapet." Duri tersenyum bahagia setelah mendapatkan uang sepuluh ribu dari tasnya dan ia perlihatkan kepada temannya.
"Lah kamu punya uang? Uang darimana itu?" Tami menatap curiga kepada Duri
__ADS_1
"Hey jangan berfikiran yang nggak-nggak ya, ini kemarin aku tu bantuin si kumis eh maksudnya pak kumis cuciin mobil angkot nya dia, aku sih ga minta upah tapi dia kasih ya udah aku ambil.... Sayang kan kalau rejeki di tolak." Ucap Duri menjelaskan asal usul uang sepuluh ribu rupiah itu
"Sama aja kau mengharap upah Non, pasti kau yang maksa mau bantuin kan?" Tuding Tami tau betul sifat temannnya itu
"Hehe...." Duri hanya terkekeh, gadis itu tidak pernah memperlihatkan lelah nya, duka nya dia hanya selalu berusaha menampilkan senyum didepan semua orang
"Ya udah tunggu disini bentar, aku mau kewarung itu untuk beli roti buat nganjel perut kitaa"gumam Duri berjalan untuk menyebrang
" Yaudah cepetan."ucap Tami sambil tersenyum
"Miris banget hidup kamu Duri, " Batin Tami melihat temennya makin menjauh ke arah warung.
"Semoga di kemudian hari kamu mendapat kan kebahagiaan itu." Batin Tami mendoakan temennya, karna Tami tau betul bagaimana ibu nya memperlakukan Duri layaknya pembantu.
"Makasih bibi.." Setelah membeli roti dua bungkus tanpa air minum Duri pun kembali merapikan tas nya dan berjalan ke arah jalan untuk menyebrang kembali ketempat Tami temennya namun saat ia hendak menyebrang
"aaagggghhhhhh.. " Duri kaget dan berteriak karna dari arah jauh sebuah mobil sedang melajukan mobilnya begitu kencang hampir menabrak dirinya dan gadis itu langsung menutup wajah nya dengan pelastik berisikan roti yang ia beli tadi.
Ciiittttt......
Mobil itu langsung mengerem mendadak.
"Kau bisa menyetir tidak, Ren." Ketus Sang pemilik mobil yang duduk dikursi tengah dibelakang mengemudi
"Sebentar bos ku, aku lihat wanita itu sebentar." Reno pun pamit keluar dari dalam mobil sedangkan Sang bos masih sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya.
"Kau baik-baik saja, Dik. " Reno bertanya langsung menyadarkan Duri yang ketakutan dan menutup matanya.
"Aku belum mati?" Tanya Duri sambil membuka matanya
Reno melihat wajah Duri seketika ia termenung, begitu cantik paras wanita itu bahkan sangat alami dan tak bosan memandangnya.
"Ehmm..om, apa aku belum mati? Apa ini arwah ku?" Tanya Duri menyadarkan lamunan Reno
"Ehm... Eg hemm.. " Reno langsung berdehem dan kembali berdiri dengan tegap di hadapan wanita didepan nya itu.
"Maaf dik, kenapa kau berdiri di tengah jalan? Kau membahayakan pengendara yang melintas Dik." Ucap Reno memanggil Duri dengan panggilan adik karna Duri memakai pakaian anak SMA,dengan suara tegas nya Reno mencoba santai.
"Mana ada aku berdiri di tengah jalan om, aku ini mau menyebrang.. Aku ini masih waras ya." Ucap Duri sambil berkacak pinggang tidak Terima jika dirinya di salahkan
Renomenahan tawa melihat gaya sok premannya seorang gadis SMA di hadapannya itu ,apalagi dirinya dipanggil om oleh gadis itu."Jangan seprti itu dik, kau bikin orang lain terutama laki-laki khilaf." Ucap Reno menutup mulut menahan tawa nya.
__ADS_1
"Cih... Kau menertawakan aku." Gerutuk Duri dihadapan Reno
Namun saat Duri saling tatap dengan Reno tiba-tiba klakson mobil Reno berbunyi dengan begitu nyaring nya.
Tin.......
Tin.....
Tin.....
Bunyi klakson panjang sampai tiga kali itu langsung membuat Reno hendak berlarian ke arah mobil namun seketika tuannya pemilik mobil tersebut turun terlebih dahulu.
"Bos ku." Panggil Reno memberikan hormat kepada bos nya dan sedikit membungkukan tubuhnya dihadapan orang yang baru turun dari mobil itu. Sedangkan Duri hanya memperhatikan dua orang laki-laki muda juga tampan itu yang sedang saling tatap dan menghormat.
"Aku memberi mu gaji bukan untuk melakukan hal tidak penting seperti ini, Ren. " Ucap pria itu bersuara dingin dan berwajah datar tanpa ekpresi sama sekali namun sangar nya tetap kelihatan jelas.
"Siap, bos ku. santai." Ucap sopir pribadi nya itu begitu gamblang berbicara kepada bos nya
"Kau hanya membuang waktu ku saja untuk hal tak sebeguna ini." Ketus pemilik mobil itu lagi
"Maafkan aku bos ku, aku hanya mau memastikan jika adik ini baik-baik saja. " Ucap Reno kepada bos nya sambil menunjukan Duri yang ada di hadapan mereka.
Laki-laki yang di panggil bos itupun melihat kearah Duri dengan tatapan tajam nya "tak berharga." ketus si bos itu dengan penuh ke arogan depan Duri
Duri hanya diam dengan mengepal kan tangannya, laki-laki itu langsung mengambil dompet di saku celana belakang nya lalu mengeluarkan uang ratusan ribu sekitar sepuluh lembar.
"Ambil, "laki-laki itu meletakan dengan begitu kasar uang tersebut di tangan Duri
" Dasar kampungan, ayo Ren.. Aku ada kepentingan pagi ini."ucap nya setelah menghina Duri
"Tunggu."panggil Duri dan laki-laki itu langsung menghentikan langkahnya tanpa melihat wajah gadis itu, Duri berjalan mendekati Tuan sok berkuasa dan paling kaya itu.
Buuurrrrr......
Uang itu Duri lempar tepat di dada tuan arogan tersebut dan berhamburan di kakinya.
"Maaf, saya memang kampungan saya juga miskin harta... Tapi tidak dengan harga diri... PAHAM ANDA." ketus Duri dan langsung pergi dari tempat itu
Bersambung....
Tungguin terus ya update author setiap hari
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️