Gara Dan Semesta

Gara Dan Semesta
Chapter. 01


__ADS_3

Kantin yang begitu ramai dan sangat penuh itu membuat siswa-siswi mengantri dan bersabar untuk memesan makanan. Meja dan kursi pun sudah penuh.


"Aduh... gimana ya, gue laper banget woy!" Ujar Mila agak berteriak.


"Ya sabar lah. Mau gimana lagi, orang kanti nya penuh gini" Timpal Sina.


Mila mencebik kan bibirnya. "Run, emang Lo nggak laper?".


Arun menatap nya. "Gue laper sih... tapi masih bisa ketahan kok" Tukasnya.


"Kok bisa, sih? Kenapa gue nggak bisa nahan ya?" Ujarnya nampak berfikir.


"Ya Lo kan perut gentong" Papar Sina seraya tertawa kecil.


Karena sudah tidak tahan lagi menahan lapar sejak tadi. Mila memesan lagi dan lagi, padahal sudah beberapa kali memesan.


"Buk! Batagor tiga sama teh nya tiga!" Teriak Mila.


Arun menggelengkan kepalanya pelan, ia tak habis pikir dengan kelakuan nya itu. "Mil... Mil... emang ya Lo kalo soal makanan nggak pernah bisa sabar".


"Setuju, gue" Papar Sina.


Akhirnya makanan yang di tunggu-tunggu sejak tadi pun datang. Bu kantin yang membawa nya agak kerepotan, tangan kanan dan kirinya memegang nampan.


"Ini neng makanan nya. Maaf yah agak lama, da maklum atuh ngantri" Ujarnya seraya menyimpan makanan di meja.


"Iya Bu nggak pa-pa. Maafin temen saya yang gak sabaran ini" Tutur Arun seraya menepuk tangan Mila.


"Iya neng gak pa-pa" Jawab Bu kantin, berlalu.


Arun dkk menikmati makanannya dengan lahap. Mereka makan agak cepat karena jam pembelajaran selanjutnya yang akan segera di mulai.


Ketika sedang asyik makan, tiba-tiba ada Bayu dan temannya datang ke meja mereka. "Run, Lo hari ini ada waktu gak?" Tanyanya yang masih berdiri di sisi Arun.


Arun mendongak. "Hari ini? Emang kenapa, kak?".


Bayu mendekatkan wajahnya ke wajah Arun, dengan gerakan cepat Arun memundurkan kepala nya ke belakang. "Eh--" kagetnya.


Bayu terkekeh geli, senyuman manis yang tak disengaja terpasang di wajah nya. "Hari ini gue mau ngajak Lo, jalan".


Arun membulatkan matanya, ia kaget dengan lontaran kakak kelasnya itu. "Em-- emm kayaknya hari ini Arun gak bisa deh".


Bayu kecewa dengan jawaban Arun. "Lho kenapa? Ada acara, ya?".


Tak di sangka, bel telah berbunyi. Itu di jadikan Arun untuk menghindari ajakan Bayu. "Eh-- kak udah masuk. Arun kek kelas dulu" Tuturnya seraya berdiri dari duduknya.


Arun berjalan dengan agak cepat, Mila dan Sina yang melihat itu mengerutkan keningnya. Kenapa? Pikirnya.


"Eh Run tungguin, dong!" Teriak Sina.


"Eh kak Bayu... kita ke kelas dulu ya, by" Ujar Mila sambil melambaikan tangan.


Sina bernapas kasar melihat kelakuan temannya ini. "Ayo... masuk!" Ujarnya seraya menarik tangan Mila.


Bayu hanya menggeleng kan kepalanya pelan. Tak habis pikir dengan Arun yang menolak ajakannya. Padahal, jika yang di ajak wanita lain pasti mereka akan mau.


"Lo kayak tantangan buat gue" Batinnya.


"Cabut!" Ujarnya kepada temannya.


...***...


Di depan pagar yang menjulang tinggi itu, Arun berdiri seraya melihat ke kiri dan kanan, seperti sedang menunggu seseorang. Sekolah yang sudah mulai sepi, membuat Arun membuang napas panjang.


"Run, Lo lagi nunggu siapa?" Tanya Bayu yang tiba-tiba ada di depan nya.


"Eh Kak Bayu. Ini... lagi nungguin Abang" Jawab Arun.


Bayu seakan mendapatkan kesempatan untuk dekat dengan Arun. "Em... daripada Lo nunggu lama, mending Lo bareng gue aja".


Arun menatap Bayu sekilas, selepas itu ia mengalihkan pandangannya. "Nggak usah deh kak. Arun nunggu aja, paling bentar lagi juga dateng".


Bayu berusaha lebih keras lagi. "Ya udah gini aja, gue tungguin Lo sampai Lo di jemput sama Abang Lo, gimana?".


Arun nampak berfikir. Dengan ragu-ragu ia mengangguk kan kepalanya pelan. Bayu yang melihat itu, hatinya berdebar. Sungguh hanya karena itu saja hatinya begitu, apalagi jika lebih?.


Tring


Satu notif pesan masuk.

__ADS_1


...Abang Luke...


...Online...


"Dek, Lo balik sendiri aja bisa gak? Gue ada tugas tambahan nih di sekolah".


Arun mengerutkan bibir nya. Bagaimana bisa Abang nya ini mengabari setelah Arun menunggu cukup lama.


^^^"**Iii Abang... Arun udah nungguin dari tadi, juga. Tapi ya udah, Arun bisa kok pulang sendiri".^^^


"Maaf dek. Ya udah hati-hati pulang nya:)".


^^^"Iya Abang**..."^^^


Arun off


Arun memasukkan handphone ke dalam tas. Ia melangkah kan kakinya hendak pergi. Namun Bayu berhasil mencegah nya. "Lo mau, kemana?".


Arun memejamkan matanya sekejap. "Arun mau pulang".


"Pulang? Tadi katanya lagi nunggu jemputan, Abang Lo".


"Dia nya ada kelas tambahan. So, Arun pulang sendiri".


Bayu tersenyum lebar. Kesempatan yang bagus ada di hadapannya. "Mending Lo balik bareng gue aja. Gue anter sampe depan rumah Lo, tenang aja".


"Nggak usah. Arun ma--".


"Nggak ada penolakan. Naik" Tukasnya.


Tak ada pilihan lain. Lagipula ini sudah sangat sore, membuat Arun terpaksa harus menerima tawaran Bayu. "Ya udah. Tapi jangan ngebut".


Bayu mengangguk pelan. Ia membantu Arun naik ke atas motor nya yang agak tinggi itu.


Bayu melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Arun yang merasa mengantuk, mencoba untuk tidak memejamkan matanya. "Nggak, gue nggak boleh tidur. Ini 'kan di atas motor" Batinnya.


Arun menahan matanya agar tidak terpejam dengan tangan yang menarik kantong matanya ke bawah. Agar tak ngantuk, pikir nya. Kaca spion yang memang mengarah pada wajah Arun. Tak sengaja Bayu melihat kelakuan Arun, ia menahan tawanya.


"Lucu banget kalo Lo kalo gitu" Batinnya.


Di balik helem yang berwarna hitam itu, Bayu tertawa pelan. Sungguh, Bayu tak bisa menahan tawa.


Arun yang tidak bisa mendengar apapun akibat suara angin yang kencang, dan ia yang memakai helm.


"Arun gue tanya. Ngapain matanya di gituin" Tanya Bayu lagi agar keras.


Arun yang samar-samar mendengar suara Bayu pun spontan mengucapkan. "Huh? Apa kak Arun nggak denger" Ara agak berteriak.


"Lo tadi ngapain matanya di gituin?".


"Oh... tadi Ara ngantuk".


"Ngantuk? Ya udah Lo tidur aja, di bahu gue".


"Nggak deh. Tenang aja, Arun udah nggak ngantuk lagi".


Bayu mengangguk kan helm nya.


...***...


"Run udah nyampe, nii" Ujar Bayu.


Aneh. Kenapa tak ada pergerakan apapun dari Arun. Bahkan Arun tak menjawab apapun. Karena penasaran, Bayu menengok ke belakang.


Wajah Bayu dan Arun hampir saja bersentuhan. Ternyata Arun tertidur di pundak Bayu. "Kenapa gue nggak ngerasa ya, kalo Arun tidur di pundak gue" Lirihnya.


Bayu menyentuh pipinya yang agak berisi milik Arun. Perlahan, Arun membuka matanya. Refleks Bayu menurunkan tangannya dari pipi Arun.


"Eh udah nyampe, ya? Maaf-maaf Arun ketiduran kak" Ujarnya seraya turun dari motor.


Bayu menatap intens Arun. "Iya nggak pa-pa kok. Maaf tadi gue udah pegang pipi Lo".


"Huh?" Arun mengangkat satu alisnya, ia tak mengerti dengan ucapan Bayu.


"Iya tadi gue nggak sengaja pegang pipi, Lo".


"Oh-- ya udah sans aja. Makasih ya tumpangannya, Arun masuk dulu".


"Iya sama-sama".

__ADS_1


Melihat Arun yang sudah memasukinya rumahnya. Bayu kembali melajukan motornya dengan kecepatan penuh.


...***...


Di sebuah kafe, terlihat meja yang di penuhi dengan kacang-kacangan dan minuman. Cangkang kacang yang berserakan di mana-mana, dan ada kaki yang sengaja di simpan di atas meja.


Orang-orang menatap mereka aneh. Baju saja memakai seragam sekolah, namun attitude nya tidak ada.


"Gar, turunin kek kaki Lo. Orang-orang pada natap Lu noh" Ujarnya memerhatikan sekitar.


"Biarin aja" Acuhnya.


"Udah lah, Damian Lo jangan ngatur-ngatur Gara. Dia kan orang nya emang gitu" Papar Mark.


Damian membuang napasnya kasar. "Ya gue cuman mau ngingetin dia aja".


Daniel terkekeh. "Damian. Emang ya, dia aja yang paling bener di antara kita".


"Eits Lo salah! Justru kita itu bener. Cuman akhlak aja yang kurang" Tukas Mark.


Damian menggelengkan kepalanya pelan.


"Eh Gar, besok jadi kita pindah sekolah? Lo yakin" Tanya Mark.


Gara menurunkan kakinya. Kini ia duduk tegak, mukanya serius. "Besok. Besok adalah awal dari segalanya. Gue nggak akan pernah berhenti, sampe balas dendam adek gue terpenuhi" Tegasnya.


"Gue setuju. Kita harus bantai abis orang brengsek itu!" Timpal Damian.


"Lo yakin rencana ini bakalan berhasil? Secara sasaran Lo adik perempuan nya" Ragu Mark.


"Harus berhasil. Gue akan hancurin orang brengsek itu secara perlahan-lahan. Bahkan kalo perlu harus lebih menyakitkan daripada sakit yang di alami adik gue".


"Setuju" Papar Daniel.


"Pokoknya besok kita ketemu di pertigaan jalan" Ujar Gara yang bangkit dari duduknya.


Damian yang melihat Gara bangkit dan memakai jaket nya lantas bertanya. "Lo mau cabut? Tumben".


Gara berdecak. "Bokap ama nyokap ada di rumah".


Damian mengangguk. "Ya udah. Eh, nanti melem jadi 'kan?".


"Jadi" Singkat Gara yang keluar dari kafe.


Damian, Mark, dan Daniel pun ikut meninggalkan kafe itu.


...***...


"Arun... mau ikut Abang, nggak?" Teriak Luke dari luar pintu kamar.


Arun yang sedang membaca buku merasa terganggu dengan teriakan Abang nya itu. Ia pun membukakan pintunya. "Ikut kemana?".


Luke memasuki kamar Arun begitu saja, lalu dia duduk di pinggir kasur Arun. "Ikut Abang nyari sepatu".


Arun berjalan menghampiri Abangnya itu. "Sepatu? Sepatu buat apa? Bukannya udah banyak yang Abang punya".


"Ish ini tuh sepatu bukan buat abang. Tapi--" Luke dengan sengaja menggantung perkataan nya.


"Tapi??" Arun penasaran.


"Buat cewek yang lagi Abang deketin".


Arun membulat kan matanya, ia kaget dengan lontaran Abang satu-satunya itu. Ia tak percaya, apa ia salah dengar?


"Huh? Cewek? Siapa?".


"Ada deh. Mau ikut nggak?".


Ara nampak berfikir. "Ya udah Ara ikut. But ada syarat nya".


Luke menatap jengah Arun. "Kebiasaan. Apa?".


"Abang... harus beliin semua yang Ara mau. Pokoknya nggak boleh nolak".


"Tapi jangan banyak-banyak. Nanti uang Abang abis".


"Nggak kok, sama sekali nggak banyak".


"Ok deh".

__ADS_1


__ADS_2