Gara Dan Semesta

Gara Dan Semesta
Chapter. 06


__ADS_3

Luke memakai jaket kesayangannya. Ia juga mengambil kunci motor barunya. Motor yang Minggu lalu ia baru beli.


Tepat pukul delapan lebih, Luke turun ke bawah seraya memainkan kunci nya di tangan. Lalu ia teringat sesuatu. Tapi ia lupa.


"Oh iya memar Arun!" pekiknya.


Akhirnya, Luke memasuki kamar Arun. Selepas ia masuk, terlihat Arun yang sedang tidur pulas. Luke menghampiri Arun, ia duduk di pinggir kasur.


"Arun... kamu lucu kalo lagi tidur gini" Ujarnya pelan, karena tidak ingin menganggu tidur Arun.


Luke lupa belum mengambil air dingin untuk mengompres sudut bibir Arun. "Kenapa gue bisa lupa si".


Arun melenguh. Ia mengerjap kan matanya. Arun kaget melihat Luke yang berada di dekatnya. "Lho. Kok Abang di sini? Ngapain?" Cicitnya terbangun.


"Liat memar kamu. Niatnya mau ngompres tapi Abang lupa bawa kompresan nya".


Arun menepuk jidatnya. "Abang... Abang ada-ada ya, kelakuannya. Ini udah di obatin kok" Papar Arun sambil memegang sudut bibir nya.


Luke membuang napas lega. "Ya udah kalo udah. Abang mau pergi dulu".


Cup, cup


Luke mencium kening dan pipi Arun lembut. Arun tersenyum tipis. "Malem-malem gini Abang mau pergi kemana?".


Luke bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia menjawabnya akan balapan. "Mau ketemu temen. Biasa nongkrong".


"Tumben. Biasanya Abang nggak gini deh. Abang boong, ya?" Cecar Arun.


Luke menggeleng cepat. "Nggak... Abang mana bisa sih bohong sama kamu".


Arun mengangguk. "Ya udah, Arun percaya. Hati-hati, and pulangnya jangan malem".


Luke mengangguk. "Iya adek Abang tersayang".


Luke berlalu. "Nggak biasanya pergi jam segini. Tapi biarin aja lah, namanya juga cowok" Batin nya.


...***...


Baru saja membuka pintu, Luke kaget papahnya yang membuka pintu duluan. Spontan Luke langsung menyalami tangan Candra.


"Pah udah pulang. Kirain nggak jadi hari ini" Ujarnya.


"Kasian mamah udah kangen" Jawab Candra asal.


"Yee papah bisa aja, bukannya papah ya yang kangen sama mamah?".


Candra tersenyum. "Iya-iya memang papah yang kangen. Lagipula kerjaan udah beres".


"Oh iya kamu mau kemana? Udah malem ini" Lanjut Candra, melihat jam tangannya.


"Biasa Pah, anak muda".


"Balapan?" Ujar Candra pelan.


Luke mengangguk.


"Kabarin papah kalo kamu memang. Nanti papah kasih hadiah".


Mendengar penuturan papahnya, mata Luke berbinar. Kebetulan ia memang ingin meminta sesuatu. "Siap bos!".


"Ya udah gih berangkat. Papah mau ke kamar mamah, Istirahat capek".


Luke mengangguk. "Ok lah Pah".


Candra berlalu. Luke memandang papahnya, umurnya yang sudah agak menua itu namun masih tetap sehat dan bugar, bahkan jiwa-jiwa anak muda nya masih ada.


Luke juga sangat senang, apabila apa yang ia lakukan bisa di dukung oleh papahnya. Tentang itu... hanya mereka berdua yang tahu. "Terkadang gue bingung, papah itu seumuran gue atau gimana. Tingkah lakunya sama kek anak muda jaman sekarang" Batinnya seraya tersenyum.


...***...


Suara bersurakan orang-orang begitu bergemuruh. Orang-orang begitu antusias dengan kegiatan malam itu. Dingin nya angin malam semakin menambah suasana yang cukup menyenangkan.


Suara derum motor tiba-tiba terdengar. "Wih... bro itu motor baru?" Tanya Mario.


Luke membuka helm nya. "Iya bro. Seminggu kemarin gua baru beli" Ujar nya seraya ber-tos ria.


"Wih... wih... keren" Tutur Depan.

__ADS_1


"Luke!"


"Luke!"


"Luke!"


Suara-suara itu begitu terdengar jelas. Itu semakin menambah semangat yang ada dalam jiwa Luke.


Di sisi lain, Gara dkk sudah berada di tempat balapan. Ya, Gara dkk akan mengikuti balapan ini. Mereka melawan Luke.


"Gar, Lo yakin bakal turun langsung?" Tanya Damian.


Gara menatap Luke dari jauh. "Yakin gue. Udah lama gue nunggu momen ini".


Damian menepuk pundak Gara. "Inget! Lo jangan kebawa emosi. Ini di jalan" Pesan Damian.


Gara mengangguk.


Waktunya pertandingan di mulai. Ketika berbaris di garis start Luke belum menyadari bahwa ada Gara. Sedangkan Gara? Sudah sejak tadi ia menatap Luke dengan penuh kebencian.


Seorang wanita berdiri di antara mereka seraya memegang sebuah bendera. "1... 2 ... 3 ... MULAI!" Seru wanita itu.


Para peserta melajukan motornya dengan kecepatan yang sama-sama tinggi. Balapan kali ini hanya ada empat orang, Gara, Luke, dan kedua lagi dari anggota geng motor yang lain.


Ya, balapan ini hanya untuk geng motor.


Damian dan Mark yang melihat Luke mereka sempat khawatir karena menyadari ada Gara di sana. "Mark, Lo yakin kalo ini Luke menang? Secara ada Gara".


Mark memainkan gelangnya. "Gue yakin. Masa Lo ragu sama kemampuan Luke".


Damian menepuk pundak Mark dua kali. Entah itu pertanda apa.


"Luke! ... Luke! ... Luke! ..." Seru mereka.


"Yeyy!! Gue menang guys" Teriak Luke.


Ya kali ini Luke yang memenangkan pertandingan ini. Gara memukul motor nya. Ia emosi melihat Luke, orang yang di bencinya bisa-bisanya menang.


Bug


Bug


Bug


Damian dan Mark menghampiri Gara. Mereka menenangkan Gara yang sedang tersalut emosi. "Gue kalah, Damian, Mark".


"Gue tahu. Tapi Lo seharusnya nggak emosi. Justru ini pelajaran bagi Lo, gimana caranya Lo harus berlatih lebih keras lagi supaya ngalahin dia. Musuh Lo!" Sentak Damian.


Gara mengangguk. Tatapannya tak berhenti menatap Luke yang sedang tertawa bahagia bersama kedua temannya. Gara dkk akhirnya memutuskan untuk pulang.


Tak berselang lama dari situ. Mobil putih Alphard berhenti, menyita perhatian orang-orang yang ada di sana.


"Abang!" Teriak seseorang.


Semua orang yang ada di sana melihat ke arahnya. Mereka juga melihat ke arah mana yang orang itu teriakin.


Luke yang mengenal suara itu, lantas membalikkan tubuhnya.


Deg


Wajah Luke berubah menjadi pucat pasi. "Arun..." Lirihnya.


Arun melipat tangan nya di dada. "Abang keluar malem-malem gini, buat balapan?" Tanyanya.


Luke menghampiri Arun dengan berjalan pelan. "Kamu kok bisa ada di sini? Ini udah malem. Harusnya kamu tidur di rumah".


Arun mencebik kan bibirnya. "Abang bisa-bisa nya ngomong gitu ke Arun. Sedangkan Abang sendiri, malah kayak gini".


Luke mengusap kepala Arun. "Kamu cewek, Abang cowok. Jelas beda".


"Alesan".


"Bukan alesan..."


"Luke, dia adek Lo?" Tanya Mario yang tiba-tiba datang.


"Iya. Dia adik gue" Datar nya.

__ADS_1


Mario mangangguk. "Halo... gue Mario. Sahabat Abang Lo" Mario merentang kan tangan nya, bermaksud untuk berjabatan.


Arun menatap Luke. "Arun" Singkat nya tanpa menoleh ke arah Mario, bahkan jabatannya tak ia balas.


Mario menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia menjadi malu sendiri melihat adik dari sahabat nya yang tak merespon dirinya.


"Arun... ayo pulang. Abang juga udah mau pulang" Ajak Luke seraya melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh lebih.


"Arun mengangguk. Ia pergi meninggalkan Luke di sana. Luke melihat Arun yang menaiki mobilnya. "Huh... gimana caranya dia bisa tahu gue ada di sini" Lirihnya.


"Adek Lo aneh. Jabatan gue aja nggak dia bales" Ujar Mario.


"Padahal dia cantik" Lanjut nya.


Luke menatap jengah wajah Mario. "Didikan gue bos!" Savage nya.


Mario membuang napas kasar.


...***...


"Dari mana kamu? Jam segini baru pulang!" Sentak Marcello. Yang melihat Gara baru saja pulang. Entah dari mana.


"Kalo papah lagi ngomong tuh di jawab! Bukan diem aja" Ucap nya lagi, berdiri dari duduknya.


"Balapan" Singkat Gara, membenarkan jaket hitam nyam.


Marcello membuang napas kasar. "Kamu maunya apa sih? Tiap malem balapan, keluyuran ngga jelas. Belajar ngga! Mau jadi apa kamu, huh?!".


Gara terdiam. Ia ingin meninggalkan Marcello sendiri. "Kamu ngomong apa sama mamah kamu? Sampai dia nangis ke papah?" Ujar Marcello, ia berhasil membuat langkah Gara terhenti.


"Tanya aja sama dia. Oh dan ingat! Dia bukan mamah saya" Datarnya.


Marcello berdecak kesal.


"Dia mamah ka--"


"Mamah saya sudah ngga ada!" Dingin Gara memotong ucapan papahnya, lalu pergi meninggalkan Marcello.


Marcello mengepalkan tangannya kuat. Sungguh ia tidak tahu bagaimana caranya lagi supaya Gara menjadi anak laki-laki seperti dulu. Anak laki-laki Marcello yang ia kenal.


Di kamar, Gara mengguyur dirinya di bawah shower. Matanya ia pejamkan, tangan dan kepalanya ia sandarkan pada dinding. Kemudian, Gara membuka baju nya. Tubuh atletis begitu terlihat.


Tak terasa air matanya lolos begitu saja. Entah apa yang di sembunyikan dan di rasakan oleh Gara, yang jelas ia terlihat sangat sakit dan rapuh, di balik sikapnya yang seperti itu.


...***...


"Jawab dulu, Abang! Kamu tahu Abang ada di sana dari siapa?" Ujar Luke.


Arun memberhentikan langkah nya. "Abang ngga perlu tahu, siapa orangnya. Yang jelas, Arun ngga suka liat Abang kayak gitu".


"Balapan. Buat apa coba? Itu hanya membuat orang-orang yang sayang sama Abang khawatir!" Lanjut nya lagi.


"Tapi kan Abang udah biasa. Abang juga ngga kenapa-napa kok".


"Iya sekarang emang ngga pa-pa. Lah kalo nanti? Abang bisa jamin kalo Abang bakalan baik-baik aja? Ngga kan?".


"Iya deh iya... Abang minta maaf. Abang salah".


"Arun bakalan maafin kalo Abang berhenti balapan".


"Loh ngga bisa gitu dong".


"Terserah Abang deh. Arun capek!".


"Ish Arun..."


Karena tidak ingin beradu mulut dengan Abang nya, Arun memutuskan untuk pergi ke dalam kamar.


Ketika berjalan menuju kamar nya yang paling ujung, papahnya keluar dari kamar yang memang berdekatan. "Mantap anak papah!" Ujarnya seraya mengajung kan jempolnya.


Arun menyipitkan matanya. "Sama-sama papah" Cengengesan Arun.


"Tidur gih udah malem. Makasih udah bantuin papah" Paparnya.


"Sama-sama. Tapi jangan lupa apa yang di janjiin papah buat Arun" Arun tersenyum manis.


"Pasti ngga akan lupa".

__ADS_1


__ADS_2