Gara Dan Semesta

Gara Dan Semesta
Chapter. 03


__ADS_3

Secara tiba-tiba saja, Luke menambah kecepatan lajunya. Arun yang tak siap dengan itu, hampir saja terjatuh. Beruntung dengan cepat Arun memeluk tubuh kekar milik Luke dengan lebih erat lagi.


"Abang kenapa sih? Kok jadi ngebut gini? Arun takut..." Ucapnya.


Luke tak menjawab apapun. Jelas, Luke tak mendengar ucapan Arun karena ia memakai helm di tambah dengan kebisingan yang terjadi di jalanan.


Arun menenggelamkan wajahnya di punggung Luke. Ia sengaja memejamkan matanya untuk mengurangi rasa takut.


Di sisi lain. Gara yang melihat Luke menambah kecepatan lajunya, ia tersenyum miring. Sungguh, jika saja Gara tidak menahan emosinya mungkin malam itu adalah malam terakhir Luke untuk melihat dunia ini.


"Tahan. Tahan Gara, Lo harus tahan. Jangan kepancing sama emosi Lo. Lo harus inget sama rencana yang udah Lo buat!" Batin nya.


Namun ternyata arah laju Luke, Gara dkk berada di jalur yang sama. Aneh. Apa jangan-jangan tujuan mereka pun sama?


Sampailah di mall yang besar itu. Luke memarkirkan motornya. Setelah berhenti, Arun segera turun dan membuka helm nya. Rambutnya yang berantakan itu, membuat kecantikan nya bertambah.


Dan ya, Gara dkk pun memarkirkan motor mereka di tempat yang sama. Hanya saja berbeda tempat.


Luke yang melihat itu, dengan sengaja menarik kupluk Hoodie Arun untuk menutupi bagian kepalanya. Arun menyeritkan dahinya, aneh. Tak biasanya dia begitu. "Abang kenapa sih? Jadi aneh gitu".


Luke memegang pipi Arun. "Abang nggak mau kamu kedinginan. Ya udah yuk masuk!".


Arun berusaha untuk percaya. Ia dan Luke berjalan memasuki mall yang sudah berada di hadapannya. Sejak tadi, Luke menggenggam erat tangan Arun.


Damian menyeringai. "Gar! Ternyata dia ada di sini juga".


"Wah... wah... ini kebetulan atau apa?" Papar Daniel.


Gara mengangkat satu tangan ke atas. Berkode agar, diam. "Tahan emosi kalian! Gue nggak mau semuanya rusak hanya dalam sekejap!" Tegasnya.


Setelah mendengar penuturan dari Gara, Damian dkk hanya bisa terdiam dan mengangguk. Mereka pun tak ingin rencana yang telah di buat begitu rapih rusak hanya dalam satu malam saja.


Gara dkk berjalan beriringan. Beberapa langkah dari mereka ada Luke dan Arun yang sedang berjalan.


Arun yang menyadari di belakangnya ada geng motor yang tadi ia merasa gugup. Entahlah kenapa, ia sendiri pun tidak tahu. Arun mendongak. "Bang... kok mereka ada di belakang kita? Mereka ngikutin kita, ya?" Tanyanya pelan.


Luke memasang wajah datar. "Sok tahu. Kebetulan aja kali tujuan nya sama. Udah mending kita nyari dress buat mamah".


Arun melihat perubahan sikap dan wajah abangnya. Ia hanya mengangguk mengikuti langkah kaki Luke.


"Kak itu butik nya" Unjuk Arun.


Luke mengangguk. Ia berjalan, namun tatapan nya mengarah ke belakang. Ia menatap Gara dkk dengan tatapan yang sulit di artikan. Luke dan Gara bertatapan.


Dengan sengaja Gara memasang wajah datarnya. Gara bersimrk.


Akhirnya, Gara dan Luke terpisah. Luke yang memasuki sebuah butik dan Gara yang naik ke lantai paling atas, ada sebuah bar di sana.


Luke bernapas lega. Ia bukan takut, ia cuman khawatir jikalau Gara akan menyakiti atau mengetahui adik perempuan nya. Makanya tadi ia menyembunyikan wajah Arun.


"Selamat datang... kak. Ada yang bisa saya bantu?" Ujar karyawan butik.


Arun tersenyum tipis. "Saya mau cari dress untuk acara ulang tahun, ada?".


"Ada. Bahkan banyak pilihan nya. Ini untuk mba, atau?".


"Nggak-nggak. Ini untuk ibu saya".


Karyawan butik tersenyum. "Mari saya antar untuk memilih".

__ADS_1


"Mari".


Arun mengikuti langkah kaki karyawan. Sedangkan Luke? Ia duduk di sofa dan melihat kesekeliling khawatir apabila ada Gara dkk lagi.


Karena jenuh dan bosan, Luke memainkan handphone nya. Setelah menunggu hampir satu jam, Arun sekarang berada di hadapan nya. "Udah?" Tanya Luke.


Arun mengangguk seraya menunjukkan bag yang berisi dress pilihan nya. "Udah. Ayo sekarang mau nyari sepatu? Atau mau makan dulu?".


Luke berdiri. "Nggak usah. Kita pulang sekarang".


"Huh? Nggak salah, bang? Tadi kata--".


Luke memotong ucapan Arun. "Nggak jadi. Kita cari lain kali aja, kalo perlu Abang beli online aja. Untuk makan malam, kita makan di rumah" Tegasnya.


"Tapi bang Arun--".


"Pulang" Satu kata itu, membuat Arun terdiam. Entahlah apa yang terjadi dengan abangnya itu, tapi ia ingat dengan ucapan mamahnya. "Dalam kondisi apapun, kamu harus nurut sama perkataan papah, mamah, sama bang Luke". Arun mengingat pesan itu.


...***...


Gara dkk menikmati malam itu dengan rasa senang. Senang jika di lihat dari luar, namun dalamnya? Mereka pun tidak tahu.


Minuman tersaji di meja. Entah sudah berapa gelas yang berhasil di minum oleh Gara dkk. Bahkan Gara tak berhenti untuk menenguk minuman yang berhasil membuat nya tak sadar dan pusing.


"Bunda ... Viola... " Lirih Gara.


Damian yang masih sadar, mendengar racaun dari mulut Gara. Kadang ia tertawa, sedih. Entahlah, Damian tak mengetahui pasti apa yang di alami oleh Gara.


Walaupun sahabatnya, Gara tidak terlalu terbuka jika membicarakan soal kehidupan pribadinya.


Musik yang di putar dengan suara yang begitu keras. Membuat bising dan pendengaran terganggu, namun mereka menikmati itu. Di tambah dengan adanya wanita-wanita yang memakai baju ketat, dan kurang bahan itu.


Dua orang wanita datang menghampiri meja Gara. Mereka duduk di samping kanan dan kirinya. Gara yang kala itu tak sadar, membiarkan salah satu dari mereka meraba rahang Gara. "Wow... your handsome baby".


"Baby look at me!" Suara wanita itu lembut. Bahkan ia sudah lancang meraba dada Gara.


Gara yang melihat wajah mereka, lantas menepis tangan wanita itu. Gara berdiri dari duduknya, dan menghampiri Damian.


"Damian--"


Brug!!


Tubuh Gara oleng. Untungnya Damian dengan cepat menarik Gara. Damian dengan cepat membawa Gara keluar dari sana.


Sedangkan Daniel dan Mark? Ia biarkan saja, karena tampaknya mereka sedang asyik bermain dengan wanita-wanita yang ada di sana, dengan sesekali minum.


"Hahaha... Papah gue-- papah gue" Racau Gara.


"Setelah bun-- bunda nggak ada. Vio ju-- juga ninggalin gue" Racau Gara lagi.


Damian memapahnya hingga keluar dari mall dan mencarikan nya taksi. "Taksi!" Teriak Damian seraya melambaikan tangan.


Bug!!


Pintu di tutup oleh Damian agak kencang. Ia memastikan Gara bersandar dengan nyaman. "Pak! Antar temen saya ke jalan mangu. Perumahan no 112 blok 8".


"Baik pak!" Jawab pak sopir taksi.


Damian kemudian memberikan lembaran uang warna merah. "Pastiin dia sampai masuk ke dalam rumah nya". Pak sopir mengangguk.

__ADS_1


...***...


Luke memasukkan motornya langsung ke dalam bagasi. Arun turun dari motor dengan wajah yang cemberut. Luke yang melihat itu menahan tangan Arun agar tidak masuk terlebih dahulu. "Kamu marah?" Cicit Luke.


Dengan cepat Arun menggeleng pelan. "Nggak kok. Arun mau masuk, mau makan. Laper" Tuturnya pelan.


Luke membuang napas panjang, ia merasa bersalah. "Maafin Abang. Tadi--".


"Nggak perlu minta maaf, bang".


"Tapi--".


"Tapi apa? Abang nggak salah apa-apa sama Arun. Udah ahk, Arun mau masuk".


Arun meninggalkan Luke sendiri. Luke memandang kepergian Arun dengan tatapan yang sulit di artikan. "I'am sorry. Abang hanya nggak mau kamu kenapa-napa. Abang takut" Lirihnya.


Ketika masuk, Arun langsung memasuki ruang makan. Di meja masih ada makanan, walaupun sudah dingin namun perut Arun tak bisa menahan rasa lapar lagi.


"Non mau makan? Mau bibi angetin, non" Ujar bibi.


Arun memainkan sendok nya. "Nggak usah bi. Arun makan yang ada aja. Bibi mending istirahat, udah malem".


Bibi tersenyum. "Ya udah non, bibi masuk dulu".


"Iya Bi".


Arun memakan ayam kecap dengan sedikit nasi. Arun menopang dagunya, sendok nya ia mainkan. "Kalo nggak mau makan nggak usah maksain makan" Ujar Luke yang tiba-tiba saja ada di hadapannya.


Arun mendongak. "Eh-- Abang ngagetin aja. Abang mau makan?".


Luke menggeleng cepat. "Nggak-nggak Abang lagi nggak nafsu makan".


Arun memicingkan matanya. "Abang harus makan. Kalo Abang sakit... siapa yang mau jagain, Arun?".


Luke terkekeh geli. "Kamu juga nggak makan. Kalo kamu sakit... siapa yang sedih? Abang 'kan? Makanya makan".


Arun menatap Luke jengah. Bisa-bisa nya dia membalikkan pernyataan nya. "Gini aja. Arun makan, Abang juga harus makan. Deal?".


Luke membalas jabatan tangan Arun. "Deal!" Ujar Luke.


Akhirnya Luke dan Arun makan. Makan berdua di piring yang sama, dan saling suap-menyuap. Tawa dan senyuman manis terukir di wajah cantik Arun.


"Abang akan menjaga kamu, sebagaimana papah menjaga kamu. Papah yang begitu posesif, Abang pun akan melakukan hal yang sama. Bahkan, Abang rela jika nyawa Abang di berikan untuk kamu" Batin Luke.


Selepas makan, Arun berdiri dan akan memasuki kamarnya. "Good night, Abang" Ujarnya.


"Good night" Jawab Luke.


Sebelum pergi, Luke memegang pundak Arun. Arun terdiam, ia ingin melihat apa yang di lakukan oleh Abang nya itu.


Cup


Luke mencium kening Arun cukup lama. Tak hanya itu, ia juga memeluk erat tubuh mungil Arun. Arun memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang di salurkan oleh Abang nya.


Arun mendongak kan kepala nya. Cup, ia mencium pipi dengan rahang tegas milik Luke. Luke tersenyum tipis. Dengan cepat, Arun berlari ke arah tangga.


Senyuman yang tak di rencanakan nya terulang kembali. "Arun... kamu adik terbaik yang Abang punya" Batinnya terkekeh geli.


...***...

__ADS_1


Cahaya matahari masuk ke dalam kamar gelap milik Gara. Tit... tit... tit... suara alarm terus berbunyi. Gara perlahan membuka kedua mata dan mengucek nya. "Aahk!" Rintih Gara memegang kepalanya.


Gara menekan kepalanya, berharap rasa sakit itu akan segera hilang. Napasnya pun masih bau alkohol yang ia minum tadi malam. Melihat jam dinding yang menunjukkan pukul enam lebih, Gara dengan cepat memasuki kamar mandi nya.


__ADS_2