
"Arun!!" Teriak Sina dan Mila secara bersamaan.
Mereka langsung berlari menghampiri Arun yang tak sengaja di pukul oleh cowok yang sedang berkelahi.
"Arun... Lo nggak pa-pa, kan?" Tanya Mila lembut.
Arun memegang rahang pipinya yang tak sengaja kena tonjok itu. Siswa-siswi yang memang berada di kantin, berkerumun untuk melihat kondisi Arun.
"Ahk!" Rintik Arun. Ia memegang ujung bibirnya yang agak robek itu.
Sina melihat ke arah laki-laki yang tak sengaja menonjok Arun. "Heh! Lo bisa ngga liat-liat orang? Makanya kalo mau ribut jangan di sini. Liat 'kan akibatnya, apa?!" Sentak Sina memegang kerah baju orang itu.
Arun berdiri, ia memegang pundak Sina. "Udah Sin, udah. Gue nggak pa-pa kok" Lirihnya.
"Nggak pa-pa, gimana? Ujung bibir Lo memar gitu!" Sentak nya tanpa melihat wajah Arun.
Mila menatap ke sekeliling. "Kalian ngapain pada kumpul di sini. Ini bukan doger monyet!" Ujar Mila.
Huuuu!!
Siswa-siswi bersurakan. Bayu yang masih berada di kantin dan melihat apa yang terjadi dengan Arun, ia menghampiri orang itu.
"Brengsek! Lo berani mukul, cewek? Huh!" Sentak Bayu.
Bug!
Bayu memukul rahang orang itu sampai dia tersungkur. "Lo apa-apaan sih! Gue ngga sengaja. Gue juga nggak tau kalo ada dia di sini!" Tegas orang itu.
"Nggak sengaja Lo bilang? Lu juga harusnya tahu, ini kantin bukan tempat ring tinju. Kalo mau berantem liat-liat tempat dulu, makanya!".
"Iya gue minta maaf. Gue emang salah".
"Minta maaf sama Arun sekarang!".
"Run sorry, nggak sengaja sumpah".
Arun mengangguk. "Nggak pa-pa kok. Mereka aja yang ngebesar-besarin" Paparnya.
Orang itu berlalu. Arun masih dengan memegang ujung bibirnya. "Ayo gue obatin di UKS" Tutur Bayu menarik tangan Arun.
"Arun nggak pa-pa kok. Ini cuman luka kecil".
"Luka kecil kalo nggak di obatin... bisa makin besar".
"Tapi Arun nggak--".
"Nggak ada penolakan" Ujar Bayu penuh dengan penekanan.
Bayu menarik tangan Arun. Arun tak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan Bayu. "Sin, Mil, gue ke UKS dulu!" Teriak Arun.
"Iya!" Jawab Sina berteriak.
"Berisik, tahu nggak?" Jutek Mila.
Sina menyeritkan dahinya. "Dih, Lo kenapa Mil? Aneh ya lu tiba-tiba. Jangan-jangan jiwa kesetanan Lo kumat lagi. Iii" Sian bergidik ngeri seraya dengan perlahan meninggalkan Mila.
"Sialan Lo! Lo ngata-ngatain gue? Woy Sina gblk lu!" Sinis Mila teriak.
...***...
Gara dkk sedang duduk di taman. Mereka tidak ke kantin karena kantin yang cukup ramai. Sedangkan mereka, menyukai tempat yang hening dan damai.
"Gar, kita kan nih sekarang udah ada di sekolah ini. Dimana katanya adik si Luke brengsek sekolah di sini" Ujar Mark.
Gara mengangguk. "Hem. Terus?".
"Nah sekarang gue tanya sama lo. Lo emangnya tahu muka dia?".
"Iya juga ya. Kok Gue nggak kepikiran sampe sana" Tutur Damian.
Gara memegang pelipis nya. "Justru itu masalah nya. Gue sama sekali nggak tahu muka cewek itu. Yang gue tahu namanya Arunika Kinara Candramawa".
Daniel meneguk minuman yang bercap badak. "Arunika? Wait, Arun bukan sih?" Celetuk nya.
Damian mengangkat wajahnya. "Nggak mungkin lah. Mana ada dari Arun bisa jadi Arunika, siapa tahu emang namanya aja yang mirip" Pendapat nya.
"Tapi menurut gue, si Arun patut di curigai. Nggak menutup kemungkinan kalo dia itu emang adik si Luke. Kek Lo ngabayangin aja Arun sama Arunika nggak beda jauh".
"Gue setuju sama ucapan Lo Mark" Ujar Gara.
__ADS_1
"Fiks gue harus tanya nama asli si Arun. Siapa tahu aja emang bener dugaan Lo berdua" Gara menatap Mark dan Daniel.
Bagai di berikan kemudahan dalam melaksanakan rencananya itu, Daniel melihat ada siswi yang memang satu kelas dengan mereka. Dan yang pasti, mereka sudah tahu Arun seperti apa.
Jarak dari Daniel dkk dengan siswi itu cukup jauh. Sehingga ia memanggil nya dengan suara yang agak keras.
"Heh Lo yang lagi baca buku" Ujar Daniel.
Siswi yang sedang membaca buku itu, menoleh ke arah sumber suara. "Gue?" Tanyanya seraya menunjuk pada dirinya sendiri.
"Iya Lo. Siapa lagi" Tegas Daniel.
Gara dan yang lain bingung dengan Daniel. Karena Daniel tidak mengucapkan apapun. "Lo mau pdkt an sama dia?" Tanya Mark.
Damian terkekeh geli. "Daniel. Gue aneh sama selera Lo, kenapa tiba-tiba jadi rendah gitu dah?".
"Liat aja apa yang gue lakuin. Pasti abis ini kalian akan berterima kasih sama gue" Ujarnya yakin.
"Lo mau ngapain sih?" Datar Gara.
Tak berselang lama, siswi itu kini sudah berada di hadapan Daniel dkk. Daniel dkk menatap siswi itu dengan tatapan yang aneh. Bagaimana tidak, ia berkacamata bulat, rambut di kuncir dua.
"Kamu teh panggil, saya?" Tanyanya seraya tersenyum. Gara dkk yang melihat senyuman itu bergidik ngeri.
"Iya. Gue cuman mau tanya sama Lo. Lo pasti tahu Arun 'kan?" Tanya Daniel.
Siswa itu menggaruk kepalanya. "Arun? Arun kelas 10 IPA¹? Ya tahu atuh. Itu teh kan teman sekelas saya".
"Huh! Teh? Maksudnya dia apaan dah?" Tanya Daniel pada Gara dkk dengan suara yang pelan.
Mereka mengangkat bahunya. "Mana kita tahu. Makanya kalo mau nyari informasi cari ke orang yang bener, bukan ke--" Mark menatap ke arah siswi itu.
"Ok gini aja, biar nggak kemana-mana. Gue cuman mau nanya, nama asli Arun?".
Siswi itu membenarkan kacamata nya. "Nama Arun? Ngapain atuh nanya-nanya soal itu?".
"Ya gue cuman pengen tahu aja".
"Iii aneh kamu mah. Kenapa atuh nggak tanya sendiri aja ke orangnya".
"Gue-- gue 'kan murid baru di sini".
Daniel menepuk jidatnya. "Bisa gila gue" Lirih nya. Gara dkk hanya diam seraya menahan tawa mereka. "1... 2 ... 3 ... CABUT!" Teriak Daniel berlari kencang. Spontan Gara dkk pun ikut berlari.
Sepanjang koridor Gara dkk berlarian. Keringat membasahi kening, leher, dan pundak mereka. Siswi-siswi yang melihat itu terpesona di buatnya.
Mereka lebih kelihatan seksi jika begitu.
Gara dkk bermaksud ingin segera memasuki kelas nya. Mereka berjalan dengan beriringan, seraya mengelap keringatnya.
Bug!!
Tubuh Gara dan Arun bersentuhan. Gara yang tak melihat jalan, sedangkan Arun yang terburu-buru. "Eh sorry" Refleks Gara. Ia mendongakkan wajahnya.
Deg!
Jantung nya kembali berdegup lebih kencang. Gara menelan ludahnya ketika melihat bibir ranum milik Arun. Arun yang saat itu sedang tidak mood untuk berbicara langsung saja pergi.
Gara yang melihat itu, entahlah perasaan nya kini campur aduk. Terasa di abaikan, tapi itulah yang membuat seorang Arun menarik di matanya.
"Khemmm" Deheman Daniel.
"Pak ketua auto buchin nih" Ujarnya dengan tertawa pelan.
"Apaan sih Lo" Datar Gara.
Namun pada kenyataannya, ucapan itu sungguh berbeda dengan hati dan pikirannya."Iya gue lama-lama bisa buchin sama dia. Cewek yang cuek tapi kelihatan lugu" Batinnya.
...***...
"Arun pulang!" Seru Arun agak berteriak.
Naura yang pada saat itu sedang berada di dapur, mendengar suara dari Arun Naura lantas menemui nya. "Sayang... udah pulang" Ucapnya.
"Eh tunggu!" Ucap nya lagi.
Arun mengerutkan keningnya, tanda ia tak mengerti. "Kenapa, mah?".
Naura memegang pipi Arun. Matanya terbelalak melihat wajah Arun yang memar. "Kamu ini kenapa? Kok bisa memar gini?".
__ADS_1
Arun memegang pipinya. Ia cukup berfikir untuk mencari alasan agar mamah nya ini tidak khawatir. "Em-- ini karena--".
"Ada apa ini? Pada ngomong di depan pintu" Papar Luke tiba-tiba yang baru saja pulang sekolah.
"Ini adik kamu, kok memar gini" Ucapnya seraya menunjuk sudut bibir Arun.
Luke membulatkan matanya. "Huh? Mana coba Abang liat".
Luke melihat sudut bibir Arun yang memang agak memar. Arun bingung sekarang harus mencari alasan apa. Melihat Naura dan Luke se- khawatir itu. "Arun nggak pa-pa kok. Ini tadi nggak sengaja ke pukul orang" Jujurnya.
"Huh! Di pukul? Sama siapa?" Tanya Luke.
"Kelas sebelah Arun. Tapi dia nggak sengaja".
"Nggak sengaja gimana? Orang ini memar gini".
"Bang... beneran deh ini tuh nggak sengaja. Tadi ada temen Arun yang berantem. Terus--" Arun menggantung kan omongan nya.
"Terus?" Tanya Naura.
"Terus... nggak tahu kenapa jadi kena Arun. Karena mungkin Arun yang kebetulan lagi jalan plus orang yang mau di pukul itu ngehindar".
"Ada-ada aja kamu. Untung nggak pa-pa".
"Walaupun nggak sengaja... tapi tetep harusnya temen kamu itu tahu sekolah bukan tempat buat perkelahian. Gelud kok di sekolah".
Arun mengangkat bahunya. "Udah ah Arun mau ke kamar".
...***...
Di kamar Luke sedang memainkan handphone nya. Lalu ia kepikiran dengan ucapan Arun tadi. Terbersit dalam hatinya ingin membalas perbuatan orang itu.
Tapi Luke tahu Arun tidak akan menyukai ini. Bisa-bisa adiknya itu akan sangat marah padanya. Masalah sepele, di besar-besarkan.
Tring satu pesan masuk.
Mario: P
Mario: Bro jadi kan malem ini?
^^^Luke: Jadi apaan, dah? Lu kalo ngomong suka nggak jelas anj-^^^
Mario: Yee lu mah. Jangan sampe gua tampol lu
Mario: Itu lho soal balapan
^^^Luke: Oh.. harus jadi lah^^^
^^^Luke: Ini mah yang gua tunggu-tunggu^^^
Mario: Ya udah gua tunggu Lo di tempat biasa
Mario: Inget jam sembilan
^^^Luke: Ok sipp^^^
Luke off
Karena ini masih sore, Luke memutuskan untuk bermain game yang berada dalam handphone nya.
...***...
"Gara! Semalam kamu mabuk?" Tanya Shania.
Gara yang baru saja pulang, lalu di tanya oleh Shania rasanya membuat mood Gara tak baik. "Bukan urusan Anda!" Datar Gara.
Shania membuang napas panjang. "Kamu sampai kapan sih, nggak suka sama saya?".
Gara memainkan jam tangan nya. "Sampai kapanpun" Dingin nya.
Shania berjalan mendekati Gara. "Jangan mendekat!" Sinis Gara.
Shania menghentikan langkahnya. "Apa salah saya sama kamu? Apa saya kurang baik sebagai ibu sambung kamu? Apa sa--".
Gara memotong ucapan Shania. "Jangan tanya saya tentang banyak hal. Anda hanya cukup diam dan--" Ucapannya menggantung.
"Jangan pernah mencari simpati atau perhatian dari saya. Karena samp--" Ucapannya terhenti.
Shania mengaitkan kedua alisnya. Lalu Gara pergi begitu saja tanpa menerus kan perkataan nya. Membuat Shania penasaran.
__ADS_1