Gara Dan Semesta

Gara Dan Semesta
Chapter. 04


__ADS_3

Keluar dari kamar mandinya, Gara mengeringkan rambut dengan handuk. Otot perut begitu terlihat, berkotak-kotak. Selepas kering, barulah ia memakai seragamnya.


Seragam baru. Sekolah baru. Gara melihat dirinya di cermin. Ia sedikit merapihkan rambutnya, ia juga mengusap-usap pipinya yang putih itu.


"Saat nya untuk bermain" Ujar Gara bersimrk.


Gara menggendong tas nya, ia juga mengambil kunci motor dari atas meja. Tring tiba-tiba saja ada pesan masuk.


...Group GD²M...


...Online...


Damian: Kalian udah siap?


Daniel: Woy... masih pagi ya elah. Gue baru bangun.


Mark: Ngaret Lo! Cepetan gue udah mau otw.


^^^Gara: Gue tunggu di pertigaan jam tujuh.^^^


^^^Gara: Kalo telat? Tunggu aja hukuman dari gue.^^^


Daniel: Serem banget pak ketua.


Daniel: Tobat deh gue tobat.


Mark: Cepetan Lo Daniel. Malah negbacot nggak jelas, anj.


Gara off


Gara sudah berada di bawah. Ia melihat Marcello dan Shania yang sedang sarapan berdua. Gara menatap keduanya jengah. Gara melangkahkan kakinya. "Gara! Sarapan dulu" Teriak Marcello, tiba-tiba.


"Sini Gar. Mamah udah buatin nasi goreng, ada roti juga" Sambung Shania.


Langkah Gara terhenti. "Nggak laper" Jawabnya dengan acuh. Kemudian berlalu.


Marcello berdecak kesal. Selalu saja begitu, Gara yang cuek, acuh, bahkan mungkin sudah tak akrab lagi dengannya. Bahkan untuk mengobrol pun sangat jarang.


Di bagasi, Gara memanas kan motor ninja nya terlebih dahulu. Menunggu agak lama, ia langsung saja memakai helm nya dan mengendarai dengan kecepatan tinggi.


...***...


"Arun mau berangkat sendiri aja" Ujar Arun sembari sarapan.


Luke menyeritkan dahinya. "Lho kenapa? Kan ada Abang atau bisa di antar sama supir".


Naura mangangguk. "Bener apa yang di bilang sama Abang mu itu. Lebih baik kamu di antar sama dia, ya?".


Arun mencebik kan bibirnya. "Ya udah Arun mau di anter sama Abang. Tapi nanti jangan sampe sekolah, cuman boleh sampe belokan aja yang ada tukang ojeg".


"Ok. Abang setuju".


"Kamu kok nggak mau di anter sampai gerbang. Emang kenapa?" Tanya Naura penasaran.


"Arun takut cewek-cewek di sana pada caper sama Abang... hhe".


Luke menggeleng cepat. "Kamu ini ada-ada aja. Nggak heran sih, orang Abang ganteng gini".


Arun menatap Luke jengah. "Ii Abang mengpede sekali".


"Udah-udah... abisin sarapannya, terus berangkat nanti telat".


"Siap bos" Serempak Luke dan Arun.


Setelah sarapan. Kini Luke dan Arun sudah siap untuk berangkat ke sekolah. "Mah berangkat dulu!" Teriak Arun.


"Iya hati-hati" Jawab Naura tersenyum lebar.


Di perjalanan, Arun menatap sekitar. Ramainya kendaraan, asap di mana-mana, macet, sudah biasa di alaminya. Arun menatap ke arah matahari yang memang saat itu sudah naik. "Selamat pagi matahari!" Teriaknya.


Orang-orang yang mendengar itu mereka tertawa pelan. Membuat sang empu menahan malu. "Ceria banget adek Abang" Ujar Luke agak keras.


Arun mengangguk cepat. "Nggak tahu kenapa, hari ini Arun kek bahagia aja gitu".


"Eh bang..." Lanjut Arun.


"Hum?" Tanya Luke.


"Abang kenapa sih nggak satu sekolah sama Arun? Kan kalo satu sekolah seru aja gitu... bisa kemana-mana bareng, apa-apa bareng".


"Soalnya Abang emang mau sekolah di sekolah Abang yang sekarang. Dulu mana mikirin mau satu sekolah sama kamu... bahkan kepikiran pun nggak mungkin".


Mendengar jawaban abangnya, Arun menyeritkan dahinya. "Lah kenapa?".

__ADS_1


"Karena emang pengen beda aja sekolah nya".


Arun hanya mengangguk saja.


...***...


Gara dkk sudah memasuki halaman sekolah. Mereka menjadi pusat perhatian dalam sekejap. Bagaimana tidak? Di mulai dari sepatu, jaket, motor, helm pun sama. Bahkan mereka juga memakai kacamata hitam.


"Itu siapa woy! Gila cogan semua njir".


"Kok ada yang orang seganteng dia... kyaaaa".


"Fiks itu calon pacar gue. Tapi gue inget muka... muka gue nggak memadai njir!".


"Histeris dah cewek-cewek. Lebay tahu nggak?".


"Tahu... bukan mereka aja yang ganteng, tapi kita juga woy!".


Lontaran-lontaran itu Gara dkk dengar. Mereka hanya tersenyum miring. "Berasa artist gue. Gimana nggak, jadi pusat perhatian gini coy!" Celetuk Daniel.


"Dihh...!!" Siswi-siswi bersurakan.


Damian dan Mark menahan tawanya. Gara? Ia hanya memasang wajah datar dan dingin.


"Arun!" Panggil Sina dengan berteriak seraya melambaikan tangan nya, Sina berada di gedung sekolah. Spontan Gara dkk menengok ke arah lambaian tangan Sina.


Arun yang baru saja memasuki gerbang, ia melambaikan tangan nya seraya tersenyum. Gara dkk terdiam melihat senyuman indah itu. Gadis cantik dan mungil.


Arun berjalan ke arah Sina. Pandangan nya lurus ke depan. Sungguh sangat cantik.


"Itu siapa anj. Gila cantik banget bro!" Ujar Mark.


"Bisa kali ya gue gebet. Biasa butuh pacar gue" Timpal Daniel.


"Sadar muka, bro. Mana mungkin orang secantik dia bisa suka sama orang modelan lu" Sinis Damian.


"Tampang aja pas-pas san" Lanjut nya lagi.


"Emang terlalu pahit jika melihat kenyataan" Papar Daniel.


Mark terkekeh geli mendengar penuturan Daniel, temannya itu.


"Beautiful" Batin Gara.


Gara tersenyum tipis. Kemudian ia menyembunyikan senyuman nya. Namun senyuman yang tidak di rencanakan itu terukir kembali. Entahlah, jantung nya kini sedang berdegup kencang.


Menatap sekilas. Arun kembali mengubah arah pandangan nya.


...***...


Ramai dan begitu gaduh. Maklum belum ada guru. "Mungkinkah... aku meminta kisah kita selamanya..." Ujar salah satu siswi, memulai bernyanyi.


"Kamu terlintas dalam benakku" Sambung yang lain.


"Bila hari ku tanpa mu..." Lanjut sekelas.


Mereka begitu menghayati. Memang lagu yang lagi hits itu di gemari oleh remaja. Arun dkk hanya mendengarkan saja, walaupun suara begitu beragam.


"Selamat pagi anak-anak" Sapa Bu Rina.


"Pagi Bu..." Serempak. Mereka langsung diam dan duduk rapih jika melihat Bu Rina masuk. Maklum guru killer, sebutan murid-murid.


Tatapan mereka mengarah pada empat orang laki-laki yang tadi berada di area sekolah. Mereka yang sudah membuat sekolah ini gempar dan heboh.


"Bu mereka siapa?" Tanya Mila.


"Mil--" Jengah Sina.


Arun hanya tersenyum tipis melihat temannya bertingkah seperti itu.


"Mereka murid baru di kelas ini. Ada empat orang sama-sama pindahan dari SMA Pelita" Jelas Bu Rina.


Semua murid ber-oh ria. "Silahkan perkenalkan namanya terlebih dahulu" Ujar Bu Rina pada Gara dkk.


"Halo... gue Damian" Ujarnya tersenyum tipis.


"Halo Damian..." Serempak.


"Btw senyuman Lo manis!" Ceplos salah satu murid.


Damian menunduk ke bawah untuk menyembunyikan ekspresi nya. "Huuu!!" Semuanya bersurakan.


"Halo gue Mark" Datar.

__ADS_1


"Halo Mark..." Serempak.


"Gila ganteng banget, jir" Bisik cewek-cewek.


"Halo gue Daniel".


"Halo Daniel..." Serempak.


Dan ya terakhir Gara. "Gue Gara" Dingin, dengan suara yang agak berat.


Kyaaaaa


"Datar, dingin fiks idaman gue" Bisik salah satu siswi.


"Tipe gue bet dah lu" Lanjut yang lain.


"Diam! Liat cogan aja pada kecentilan. Udah ngerjain pr belum?" Sentak Bu Rina.


"Udah Bu..." Serempak.


Bu Rina yang melihat Arun sejak tadi diam merasa aneh. Pasal nya Arun adalah salah satu muridnya yang aktif di kelas. "Arun. Kamu baik-baik saja?" Tanya Bu Rina. Semua yang ada di kelas lantas menoleh ke arah Arun.


Arun yang kaget di panggil, refleks mendongak. "Saya Bu?" Balik bertanya.


"Iya... kamu baik 'kan? Kalo sakit masuk UKS aja".


"Nggak kok Bu, Arun baik-baik aja".


Bu Rina mengangguk. "Kalian. Damian, Mark, Daniel dan Gara. Silakan cari bangku yang kosong".


Gara dkk melihat ke bangku yang kosong. Damian duduk dengan Sina. Daniel duduk dengan Mila. Mark duduk dengan siswi lain. Dan Gara, ia duduk di bangku Arun. Mereka semua berada di barisan kedua.


"Halo gue Damian" Ujarnya.


Sina menatap tangan Damian. "Sina" Singkat nya. Sina sama sekali tidak melihat wajah Damian ataupun membalas jabatan tangan Damian.


"Menarik" Batinnya seraya duduk.


Gara? Ia langsung saja duduk tanpa memulai pembicaraan apapun. Arun yang sibuk dengan bukunya, membuat Gara begitu tertarik untuk memandang nya. Apalagi jarak mereka sangat dekat.


"Cantik" Batin Gara.


...***...


"Eh Lo gimana duduk sama murid itu? Kalo gue sih biasa aja. Dianya nggak asik" Ujar Mila. Seperti biasa ia berbicara seraya berkunyah.


Sina meminum teh nya. "Gue sih biasa aja. Nggak ada yang spesial".


Mila mangangguk. "Kalo Lo, Run gimana?".


"Nggak gimana-gimana. Toh dia duduk ya tinggal duduk aja, beres".


"Aneh ya dia orang nya. Siapa, di Gara". Tutur Mila.


"Bukan aneh. Tapi orangnya emang kaya gitu" Papar Sina.


Tiba-tiba saja, Bayu dan temannya datang menghampiri meja Arun dkk. "Run gimana, Lo mau balik bareng gue lagi nggak? Kaya kemaren" Ujar nya.


"Kalo Lo mau... gue juga bisa anter Lo balik" Ujar Dito pada Sina.


Sina mengacuhkan ajakan Dito. "Diem aja Lo. Jangan jutek-jutek kaki... kalo nggak ada yang mau baru tahu rasa" Tutur Dito.


"Dih! Apa urusannya sama Lo? Hidup-hidup gue, kenapa Lo yang repot!?" Sinis Sina.


"Biasa aja kali" Jawab Dito.


"Kalo Kak Dito mau nganterin pulang, mending Mila aja... soalnya Mila hari ini lagi nggak ada yang jemput" Ujarnya spontan.


"Mila..." Geram Sina. Sungguh Sina sudah sangat cepek menghadapi sikap Mila yang polos dan lugu itu.


"Gimana?" Tanya Bayu lagi setelah menunggu jawaban nya lama.


"Nggak deh Kak. Hari ini Arun di jemput sama Abang" Jawab Arun.


Jlebb!!


Sungguh jawaban yang di berikan oleh Arun membuat suasana hati Bayu tak enak. Namun apa daya, ia juga tak bisa memaksa Arun untuk mengikuti keinginannya.


"Kak kita ke kelas, duluan" Ujar Arun.


Arun menatap Sina dan Mila seraya mengangkat alisnya. Seolah berkode, 'ayo ikut gue ke kelas' . Sina yang mengerti itu langsung menarik tangan Mila untu segera meninggalkan kantin.


"Sin-- Sina Lo kenapa sih? Gue belum selesai makan" Ujar Mila di sela-sela jalan nya yang mengikuti langkah kaki Sina.

__ADS_1


Bug!!!


"Auhhk!" Rintih seseorang begitu terdengar jelas. Terdengar dari suara yang sangat menahan rasa pilu dan rasa sakit.


__ADS_2